SALAH BERDOA


Oleh: Arvan Pradiansyah*)


Seorang pria bermimpi masuk ke sebuah toko baru di pasar, dan terkejut menemukan Tuhan di dalam toko.
"Engkau menjual apa di sini?" ia bertanya
"Apa saja yang menjadi keinginan hatimu," jawab Tuhan.
Hampir tak percaya pada apa yang didengarnya, pria itu memutuskan untuk meminta hal-hal terbaik yang diinginkan seorang manusia.
"Aku minta uang yang banyak, jabatan yang tinggi, istri yang cantik, kawan-kawan yang setia dan kesehatan yang prima," katanya.

Mendengar hal itu, Tuhan pun tersenyum, "Kukira, engkau salah menafsirkan Aku," kata-Nya.
"Kami tidak menjual buah di sini. Yang kami jual adalah benih.”


Pembaca yang budiman, tahukan Anda mengapa Tuhan tidak mengabulkan doa kita? Karena, kita SALAH BERDOA. Ada 3 hal yang membuat doa kita salah. Pertama, karena ketika berdoa kita meminta buah, bukannya benih. Buah adalah akibat, sementara benih adalah sebab. Berdoa yang benar adalah meminta sebab, bukannya akibat.

Kita sering meminta kesuksesan, jabatan, kekayaan dan ketenaran. Padahal, Tuhan tak akan mengabulkan permintaan seperti ini karena bertentangan dengan hukum alam. Bagaimana mungkin Anda akan sukses jika Anda tidak menguasai prinsip-prinsip kesuksesan? Bagaimana mungkin Anda akan mempunyai uang yang banyak bila Anda tidak meningkatkan kemampuan Anda untuk mencari uang? Bagaimana mungkin Anda akan mendapatkan banyak pelanggan kalau Anda tidak menghubungi lebih banyak orang dan meningkatkan kemampuan persuasi Anda? Bagaimana Anda bisa dihargai dan dihormati orang lain kalau Anda tidak meningkatkan kemampuan komunikasi Anda?

Jadi, yang harus kita minta kepada Tuhan adalah "kemampuan kita menghasilkan". Adapun "hasilnya" haruslah kita usahakan sendiri. Karena bukankah dunia malah akan menjadi kacau balau kalau Tuhan mengabulkan doa orang-orang yang sekedar meminta "hasil" ini?. Bukankah pengabulan doa yang meminta hasil seperti ini hanya akan menjerumuskan manusia menjadi orang malas, manja dan bodoh? Padahal nantinya akan banyak manusia yang tidak pernah meningkatkan kemampuannya, tetapi hanya hidup dengan mengandalkan doa?

Yang lebih buruk lagi adalah karena cara seperti ini tidak akan ada lagi perbedaan antara orang yang punya kemampuan dan yang tidak. Kalau doa semacam ini dikabulkan, bukankah dunia justru akan berjalan dengan tidak adil? Bila tidak ada lagi beda antara orang yang kompeten dan yang tidak, bukankah yang terjadi hanyalah kehancuran?

Lagi pula, bukankah sering ketika berdoa kita meminta sesuatu yang juga diminta oleh orang lain padahal yang kita minta itu hanyal ada dalam jumlah yang terbatas? Bayangkan saja, kalau ada 3 kandidat beserta para pengikutnya berdoa untuk jabatan presiden, padahal jabatan presiden itu hanya satu dan ketiga orang tersebut berdoa dengan sangat khusyuk. Doa siapakah yang akan dikabulkan Tuhan? Kalau hanya ada satu orang yang doanya terkabul, hal apakah yang dapat membuat Tuhan mengabulkan doa orang ini dan bukan orang yang lain?

Alasan kedua mengapa doa kita tidak terkabul adalah karena doa tersebut tidak punya tujuan lain selain untuk kepentingan kita sendiri. Anda ingin sukses, tetapi kalau sudah sukses, apa rencana Anda? Anda ingin kaya, tetapi kalau sudah kaya, lantas mau apa? Ini yang masih tidak jelas. Dan karena ketidakjelasan ini, doa kita bertentangan dengan asas manfaat.

Padahal, pengabulan doa kita oleh Tuhan selalu berkaitan dengan asas manfaat. Bukankah Tuhan menjalankan alam semesta ini berdasarkan asas manfaat? Bukankah tidak ada segala sesuatu_sekecil apapun_yang diciptakan Tuhan yang tidak memiliki manfaat?

Karena itu, segala sesuatu yang tidak memberikan manfaat senantiasa bertentangan dengan hukum-hukum Tuhan. Nah, ketika kita berdoa meminta kekayaan dan kesuksesan tanpa renca yang jelas, berarti kita telah gagal menyakinkan Tuhan mengenai manfaat dari apa yang sednag kita minta. Ini tentu saja akan membuat doa kita tidak terkabul.

Pembaca yang budiman, prinsip ini sangatlah penting bagi terkabulnya doa kita. Karena itu, bila sudah menguasai rumus ini, ketika berdoa kepada Tuhan kita harus senantiasa menyertakan rencana kita yang jelas mengenai bagaimana kita akan memanfaatkan segala yang kita peroleh bukan untuk kepentingan kita sendiri, melainkan untuk kepentingan banyak orang
Agar doa kita berhasil, kita harus mampu menyakinkan Tuhan bahwa kita mencari kekayaan karena kita mempunyai rencana untuk orang banyak. Kita ingin menyekolahkan orang lain, membangun sekolah, rumah yatim piatu, dan melakukan berbagai hal bagi kemaslahatan orang banyak. Sayangnya, dalam berdoa sering motif kita hanya untuk kepentingan diri sendiri. Bahkan, untuk diri sendiri pun kita masih tidak mengetahui apa yang akan kita lakukan bila doa kita terkabul.

Alasan ketiga mengapa doa kita tidak terkabul adalah karena kita kerap salah meminta kepada Tuhan. Kita meminta diberikan "ketenangan", padahal kita sedang manghadapi sesuatu yang "bisa kita ubah". Sebaliknya kita meminta diberikan "keberanian", padahal yang sedang kita hadapi itu adalah sesuatu yang "tak bisa kita ubah". Doa semacam ini terbalik, karena itu tidak aneh kalau Tuhan tidak mengabulkannya.

Padahal, ketika menghadapi sesuatu yang "bisa kita ubah", bukankah yang seharusnya kita minta adalah "keberanian"? Dan bukankah ketika menghadapi sesuatu yang "biasa kita ubah", kita justru perlu meminta "ketenangan?"

Pembaca yang budiman, doa adalah alay yang paling mujarab yang telah terbukti keandalannya dari masa ke masa. Doa yang benar senantiasa mengandung kekuatan yang luar biasa karena dengan berdoa kita sedang meminjam kekuatan Yang Maha Kuasa. Bahkan, dengan berdoa kita sebenarnya seda ng berusaha mempengaruhi keputusan Tuhan. Bukankah Tuhan sendiri sudah menjanjikan, "Mintalah kepada-Ku nanti akan Aku kabulkan."?

------------------
*) Penulis best seller The 7 Laws of Happiness
Tulisan diambil dari Majalah SWA edisi 19/XXV/3-13 SEPTEMBER 2009. Dapetnya pas matkul kuantitatif. Thx to Prof Chol.

[+/-] Selengkapnya...

Personal market di FB (tanggapan, refleksi, dan pesanku)

Saya menjadi kembali merenung dan berevaluasi diri. Ketika saya mendapat sebuah email dari milist tentang hati-hati menggunakan FB. Saya juga mensharekan tulisan itu di FB saya. Awal, saya tak ingin buat FB. Dulu pun seperti FS (Friendster) tak pernah mau buat. Pernah dibuatkan sama adik angkatan (itupun agak dipaksa), akhirnya saya hapus.


Sejak ada pemilihan caleg lalu, saya pun akhirnya mencoba create FB dan FS, karena ada keperluan politik di situ. Mau nggak mau agak terpaksa dikit lah buat. Meski dengan account yang lain, yang hanya sedikit orang yang tahu klo account itu punya saya. Akhirnya pasca pesta itu berakhir, saya pun berinisiatif membuat, dengan harapan bisa menyambung silaturahim dgn kawan-kawan lain, karena ada planning go out from Surabaya. Sampelah sekarang FB saya masih ada.

Masih banyak yang menolak adanya FB dari kawan2 moslem. Dengan alasan Yahudi mine, tidak terlalu bermanfaat, dsb. Bahkan Ponpes Tebu Ireng pun mengeluarkan "fatwa" haram kepada para santrinya untuk menggunakan FB. Pasalnya, santri2nya menggunakan FB untuk pacaran dengan lawan jenis via dunia maya ini. Lain lagi ceritanya, dengan Barack Obama. Yang melarang warga AS untuk memanfaatkan FB. Meski orang no.1 Negeri Paman Sam ini yg memproduksi, namun dia melarang dengan alasan banyak perusahaan mendeteksi dan menelusuri histori seorang calon pelamar dari FB. Apakah pernah kena narkoba atau tidak. Seperti apa kepribadian si calon pelamar, dsb. Lain pula ceritanya dengan "negeri seragam coklat" alias PNS. Adanya pelarangan juga para karyawannya mengakses FB di saat mereka bekerja. Karena alasan tidak produktif/menurunkan tingkat produktivitas bekerja. Begitu juga dengan area kampus-kampus. Banyak kampus yang memblock situs ini di saat jam kuliah berlangsung. Biasanya sampe sore, sekitar jam 16 atau 17. DI atas itu bisa diakses.


MUI (Majelis Ulama Indonesia), terakhir kali yang saya baca, belum/tidak mengeluarkan fatwa haram menggunakan FB. Dengan alasan, masih digantungkan pada pemanfaataanya pada masing-masing orang. Jika untuk kebaikan, dakwah tentu masih batas yang diperbolehkan. Sebaliknya jika untuk keburukan, pacaran, selingkuh, dll tentu akan jadi haram hukumnya.

Sudah banyak orang yang mengetahui, khususnya para aktivis dakwah. Bahwa FB ini siapa yang punya dan siapa yang memproduksi. Tp entah kenapa masih banyak juga yang menggunakan. Bahkan levelnya ustad pun banyak juga yang membuat (meski bukan beliau sendiri yang membuatnya seh..). Termasuk saya sendiri yang juga masih make :) . Entah dan entah, seolah tak alasan, kecuali just for interest, refreshing. Atau bahkan bisa jadikan sarana diskusi, share informasi, dll.

Sebagai orang psikologi, ketika saya melihat comment-comment yang nangkring di dinding halaman (wall) kawan-kawan atau status yang mereka tulis atau keterangan-keterangan lain mengenai dirinya secara persoal, bisa mencerminkan. Siapa dan bagaimana si facebooker ini. Bagaimana kawan-kawannya. Bagaimana ia mengomentari yg lain. bahasanya, kalimatnya, bahkan kepribadiannya bagaimana sekian persen bisa dilihat dari sini. Melankolis, sanguinis, phlegmatis, atau kholeris. Atau kepribadian yang lain pun bisa sedikit banyak dilihat...

Tak salah Obama melarang warganya memanfaatkan FB utk memammpang dirinya. Yah, meski sebenarnya tak masalah lah.. Biar perusahaan tahu si calon karyawan memang perlu diterima atau ditolak saja. Hehehe...

Beberapa minggu lalu, saat kuliah kuantitatif. Dosen saya juga berkomentar, bahwa FB bisa dijadikan ajang untuk cybersex, ajang untuk selingkuh. Bagaimana tidak? orang yang satu baru diajak ngobrol, tidak tahu kan, jka dia juga lagi "mengobral" cintanya dengan yang lain.

Selain itu, renungan buat diri saya juga, ketika membaca tulisannya MH Anggana tentang "Fenomena di Balik Facebook". Saya lagi-lagi tertegun dan berpikir ulang lagi. Memang semuanya adalah sarana/tools tinggal kita saja menggunakan/memanfaatkannya bagaimana. Setelah saya amat-amati, memang benar. Mayoritas, kawan-kawan facebooker menuliskan statusnya di dinding tentang apa yang dia pikirkan, apa yang dia kerjakan, dan apa yang dia inginkan. Dan juga, seperti apa keadaannya. Bahkan rasa-rasa mengeluh, merindu, mencinta, sebel, emosi lainya, bahkan hal yang tabu dan seharusnya bersifat pribadi pun ditulisnya. Bahkan lagi, gambar atau foto-foto mereka dipajang dengan vulgarnya. Dan mohon maaf pula, khususnya bagi para aktivis da'wah. Khususon akhwat. "Kenapa kalian masih saja suka memampang foto kalian secara terbuka di sana?" Apakah tidak cukup berita-berita, kasus akhwat sebuah DPD yang diambil orang, lalu disalahgunakan. Di copy dan diedit dengan Photoshop, lalu ditaruh di gambar wanita lain yang sedang beraksi PORNO?. Saya pun tak habis pikir tentang itu.

Ketika ada seorang kawan ikhwan, berbalik tanya dengan saya. Lalu, kalo gambar ikhwan bagaimana? Saya jawab juga. Bagi saya, seharusnya sama saja. Klo disamarkan atau dimodifikasi samar, bolehlah... Tapi memang lebih rawan perempuan, jika yang dipajang adalah gambar mereka. Bagi beberapa akhwat kawan dekat saya, biasanya saya tegur, jika saya tahu karakteristiknya mau ditegur. Jika mmg karakternya susah dikasih tahu, ya biasanya masih saya diamkan. Cukup dengan "ocehan" saya lewat FB di dinding/wall saya saja.

Tidak ada tema barangkali tulisan saya ini, Hanya sebagai refleksi saya untuk semua. Khususnya diri saya sendiri. Buat apa dan untuk apa, memang diri kita yang bisa menjawabnya. Haram atau halal, atau makruh, saya rasa tergantung penggunaannya juga. So, memang semua dikembalikan pada diri sendiri. Cuman, pesen saya. jangan sering-sering menggambarkan diri di FB tentang hal-hal yang sifatnya pribadi atau bahkan yang jorok, buruk, atau hal yang perlu dijauhi lainnya.

Ada kawan saya seorang maniak facebooker, bahwa kadang tulisan yang sifatnya serius jarang mendatangkan comment. Justru yang nyleneh gitu-gitu, malah banyak yg comment. Secara teoritis, memang benar. Sesuatu yang berbeda, tentu akan terlihat lebih menonjol juga. Lebih mendapat perhatian. Hanya saja, etika, norma, dan perkiraan value itu pun perlu ditimbang-timbang. Kecuali valuenya memag suka yg vulgar-vulgar dan pegen menceritakan about his/her self. About his/her activity, etc. Agar pengen diketahui orang lain. Tp tetaplah hati-hati....

n Then... hati-hati dengan FB. Kiamat tak jauh lagi (bahkan sekarang sudah sering kita melihat fenomena kiamat itu did depan mata kita). Manfaatkan sarana dengan baik. Termasuk saya sendiri :D

(http://www.facebook.com/note.php?created&&suggest&note_id=180564290188)

[+/-] Selengkapnya...

Ternyata Identitas itu Perlu

Marhaban Yaa Ramadhan!

Ramadhan tlah tiba. Dah lama juga saya tidak kembali bercerita melalui blog ini karena banyaknya aktivitas dan bingungnya menuliskan pemikiran atau cerita yang saya miliki.



Seperti biasa, lembaga kami YDSF setiap tahunnya ada 2 event besar yang menyita waktu banyak. Salah satunya ya ini, Ramadhan nan berkah. Kami biasanya membuka gerai-gerai di mall-mall untuk meningkatkan penghimpunan dan donasi. Serta berkontribusi untuk dakwah melalui lembaga kami di mall-mall, dengan memanfaatkan moment-momen tertentu.

Suatu ketika, di saat kami juga lelah dan ribet sak karepe dewe, adalah sebuah keluhan dari seorang relawan. Keluhan terkait dengan identitas, yakni seragam. Biasanya kami ada seragam yang bisa dijadikan sebagai identitas. Namun, karena ada kendala teknis, seragam di awal-awal Ramadhan belum bisa kami berikan. Akhirnya, ada yang belum mengenakan seragam.

Hal ini ternyata mengundang pertanyaan dan akhirnya didatangi oleh petugas mall. Minta surat dan sebagainya. Yah... barangkali tidak percaya kalau memang orang-orang itu adalah relawan kami.

***

Dari situ, saya teringat kembali bahwa identitas itu memang perlu. Sekalipun seragam. Meski pernah saya berdiskusi kecil dengan salah satu dosen saya, bahwa tidak perlulah atribut-atribut itu. Meski pelayanan sekalipun. Karena yang terpenting adalah konsistensi dari pelayanan itu sendiri.

Ya, barangkali itu benar. Karena kita memang berbeda paradigma. Meski demikian, saya lagi-lagi berpikir bahwa identitas itu masih cukup perlu. Misalnya saja, sekarang fenomenanya pemerintah sedang mencari-cari yang namanya terorisme. Identitas-identitas yang mencirikan seorang terorisme seperti yang pemerintah sampaikan pun dijadikan patokan penangkapan (yah, semoga tidak hanya sekedar asal tangkap dari tebakan-tebakan aja). KTP bisa 2 dengan nama dan TTL yang berbeda.

Yah, meski kecil adanya identitas itu cukup perlu ya. Hatta sidik jari sekalipun. Oke, saya hanya ingin sekedar memenuhi blog saya sejenak. Bercerita dan menulis saja...

[+/-] Selengkapnya...

Bapak-Ibu Guru pilih kelompok siswa yang mana?

| 4 komentar

Saya teringat akan sebuah cerita dari salah seorang dosen tamu di kampus. Pengalaman dan pengetahuannya tak perlu diragukan lagi bagi saya. Beliau pernah bercerita sewaktu memberikan ceramah di depan sejumlah peserta yang semuanya adalah para guru. Guru dari sekolah umum dan Islam. Pak Dosen itu kemudian bertanya kepada para guru tersebut.

"Bapak Ibu sekaliyan. Saya mau bertanya kepada Anda semuanya. Menurut Bapak-Ibu guru, Anda lebih memilih mana apabila ada dua kelompok murid. Kelompok pertama, anaknya pintar-pintar. Kalau diberi tugas, pasti mereka selesaikan sesuai dengan penugasan yang diberikan. Pokoknya manut-manut semua." cerita Bapak Dosen itu...

Sambil diam sejenak, Bapak Dosen kembali melanjutkan ceritanya. "Sedangkan kelompok kedua..." katanya. "Mereka justru sebaliknya. Sudah bodho-bodho (bodoh_red), diberikan tugas jarang dikerjakan, dikasih tahu susah, dan lain-lain."

"Kira-kira Anda semua sebagai guru milih yang keompok mana?" tanya Bapak Dosen.

Setelah Bapak Dosen bertanya di depan forum, Bapak Dosen pun terkejut.

Kira-kira kalau Anda menjadi guru pilih kelompok yang mana?







Kenapa Bapak Dosen terkejut?Karena hampir seluruhnya para guru menjawab memilih kelompok pertama. Bapak Dosen pun lantas berkata, "Anda-Anda itu tidak pantas jadi guru!"

"Gleg!"

"Kenapa?" lanjutnya, " Karena guru adalah seorang pendidik. Pendidik itu mendidik siswa dari yang tidak bisa menjadi bisa. Dari tidak bisa berhitung menjadi bisa berhitung. Dari bodoh menjadi pandai. dan seterusnya."

***

Yap, sekilas saja flasback cerita masa lalu. Sewaktu masih menjadi mahasiswa dulu. Diakui atau tidak memang sebagian besar dari guru tugasnya adalah mengajar. Mengajar, menyampaikan mata pelajaran apa yang menjadi tugasnya. Jarang ditemukan guru yang mampu memberikan dan memasukkan nilai-nilai moral ataupun mendidik siswa menjadi lebih terdidik.

Tak ayal lagi, ketika banyak siswa yang masih terjadi tawuran, bullying, bolos sekolah, dan sebagainya. Bahkan kekerasan yang menurut paradigma lama bisa menjadi "senjata" untuk mendisiplinkan siswa pun masih banyak guru yang melakukannya.

Pernah saya berdiskusi dengan salah seorang pimpinan sebuah lembaga konsultan keuangan, beliau juga konsen di pendidikan. Kata beliau, di Indonesia ini yang bobrok dan perlu diperbaiki adalah moral gurunya dulu. Karena dari gurulah akan lahir murid-murid didikannya. Kalau guru tidak mendidiknya dengan baik, maka seperti itulah produknya. Begitu sebaliknya.

So, bagaimana dengan Anda yang menjadi guru atau bercita-cita menjadi guru? Semoga Anda termasuk guru-guru yang memilih jawaban kelompok kedua.

[+/-] Selengkapnya...