Blog kawan

Dokumen

Statistik

INFO

DALAM RANGKA TAHUN BARU MASEHI #2012: BLOG SEDANG DIPERMAK ULANG.

Tampilkan postingan dengan label lainnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lainnya. Tampilkan semua postingan

Bapak-Ibu Guru pilih kelompok siswa yang mana?

Written By Informasi singkat tentang saya on Sabtu, 23 Mei 2009 | 13.27

Saya teringat akan sebuah cerita dari salah seorang dosen tamu di kampus. Pengalaman dan pengetahuannya tak perlu diragukan lagi bagi saya. Beliau pernah bercerita sewaktu memberikan ceramah di depan sejumlah peserta yang semuanya adalah para guru. Guru dari sekolah umum dan Islam. Pak Dosen itu kemudian bertanya kepada para guru tersebut.

"Bapak Ibu sekaliyan. Saya mau bertanya kepada Anda semuanya. Menurut Bapak-Ibu guru, Anda lebih memilih mana apabila ada dua kelompok murid. Kelompok pertama, anaknya pintar-pintar. Kalau diberi tugas, pasti mereka selesaikan sesuai dengan penugasan yang diberikan. Pokoknya manut-manut semua." cerita Bapak Dosen itu...

Sambil diam sejenak, Bapak Dosen kembali melanjutkan ceritanya. "Sedangkan kelompok kedua..." katanya. "Mereka justru sebaliknya. Sudah bodho-bodho (bodoh_red), diberikan tugas jarang dikerjakan, dikasih tahu susah, dan lain-lain."

"Kira-kira Anda semua sebagai guru milih yang keompok mana?" tanya Bapak Dosen.

Setelah Bapak Dosen bertanya di depan forum, Bapak Dosen pun terkejut.

Kira-kira kalau Anda menjadi guru pilih kelompok yang mana?







Kenapa Bapak Dosen terkejut?Karena hampir seluruhnya para guru menjawab memilih kelompok pertama. Bapak Dosen pun lantas berkata, "Anda-Anda itu tidak pantas jadi guru!"

"Gleg!"

"Kenapa?" lanjutnya, " Karena guru adalah seorang pendidik. Pendidik itu mendidik siswa dari yang tidak bisa menjadi bisa. Dari tidak bisa berhitung menjadi bisa berhitung. Dari bodoh menjadi pandai. dan seterusnya."

***

Yap, sekilas saja flasback cerita masa lalu. Sewaktu masih menjadi mahasiswa dulu. Diakui atau tidak memang sebagian besar dari guru tugasnya adalah mengajar. Mengajar, menyampaikan mata pelajaran apa yang menjadi tugasnya. Jarang ditemukan guru yang mampu memberikan dan memasukkan nilai-nilai moral ataupun mendidik siswa menjadi lebih terdidik.

Tak ayal lagi, ketika banyak siswa yang masih terjadi tawuran, bullying, bolos sekolah, dan sebagainya. Bahkan kekerasan yang menurut paradigma lama bisa menjadi "senjata" untuk mendisiplinkan siswa pun masih banyak guru yang melakukannya.

Pernah saya berdiskusi dengan salah seorang pimpinan sebuah lembaga konsultan keuangan, beliau juga konsen di pendidikan. Kata beliau, di Indonesia ini yang bobrok dan perlu diperbaiki adalah moral gurunya dulu. Karena dari gurulah akan lahir murid-murid didikannya. Kalau guru tidak mendidiknya dengan baik, maka seperti itulah produknya. Begitu sebaliknya.

So, bagaimana dengan Anda yang menjadi guru atau bercita-cita menjadi guru? Semoga Anda termasuk guru-guru yang memilih jawaban kelompok kedua.
13.27 | 5 komentar | Read More

Ingatkan Saja!

Written By Informasi singkat tentang saya on Sabtu, 21 Maret 2009 | 22.51

Minggu lalu, seperti biasa kami berkumpul untuk saling memberikan nasihat. Ya, tidak seperti biasanya memang, baik tempat maupun jumlah anggotanya. Biasanya ada 5, tapi saat itu yang bisa hadi hanya bertiga.

Nampak lelah wajah kawanku satu ini. Meski demikian, wajahnya melempar senyum kepada kami berdua ketika datang. Kami, saya dan satu kawan saya yang hadir lebih dahulu pun menyambutnya dengan senyum. Eh, ternyata setelah ada DS katanya. Seragamnya pun masih belum diganti.


Acarapun dimulai, taujih pun dipresentasikan. Awalnya berencana menggunakan slide power pint, tapi karena formatnya pake 2007, akhirnya nggak jadi deh. Maklum laptop yang dibawa masih 2003.


Kalimat per kalimat pun mengalir, meski agak-agak lupa dan ingat. Acara berjalan lancar. Hingga tak ada lagi rasanya yang disampaikan. Diskusi pun dimulai dan dibuka.


Kawan 1: Bercerita tentang case yang terjadi pada dirinya dan pemimpinnya di sebuah organisasi. Pada intinya, adanya konflik karena ketidakpercayaan seorang jundi kepada sang qiyadah. Sabab Musababnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena karakteritik sang pemimpin yang lebih suka bekerja individu daripada tim. Seorang sang jundi merasa kemampuan dirinya tidak diakui.


Kawan 2: Bercerita perihal case seorang jundi juga yang hampir saja mangkir dari "barisan". Karena minimnya SDM yang ada serta karakteristik pemimpin yang tidak jauh beda dengan cerita di kawan 1 di atas. Selain itu, rapat-rapat yang hanya membahas persoalan dan target. Tidak ada selainnya.


Baik, entah kenapa juga mereka begitu bingung merasanya. Saya pun hanya tersenyum dan mengendalikan diri untuk tidak terburu-buru menjawab. Alhamdulillah pengalaman kehidupan berinteraksi dalam sebuah kelompok/jamaah/tim sudah banyak didapat. Entah kenapa juga seolah mereka ruwet untuk mencari jalan keluarnya. Ya, barangkali mereka kurang banyak persoalan hidup yang didapat. (Maaf ya, barangkali saja begitu)


***


Karakteristik pemimpin memang berbeda-beda, terutama gayanya dalam memimpin pasukannya. Ada yang demokratis, otoriter, maupun egaliter. Ada yang memiliki karakter komunikatif, mudah diajak kerja tim, keras kepala, ngalahan, nrimoan, pendiam, atau nggak terlalu peduli pun pasti ada. Karena memang mereka adalah manusia biasa yang senantiasa bisa salah.


Sebagai seorang bawahan atau jundi tentulah banyak belajar memahami dan mengidentifikasi karakter pemimpinnya. Kapan mereka harus bersikap begini dan begitu. Tidak dibenarkan juga ketika pimpinanya salah, lalu dibiarkan. Tidak dibenarkan juga ketika pimpinannya diam, keras kepala, otoriter, lalu sebagai bawahan atau anggota cenderung mbendol mburi alias sukanya membicarakan di belakang. Tidak selalu salah juga sikap otoriter pemimpin itu 100% salah dan tidak dibenarkan. Anggota harus paham itu.


Gaya masing-masing pemimpin memang beda. Yang terbaik adalah mereka mampu menggunakan style itu di saat kondisi yang tepat. Tidak dibenarkan seorang pemimpin menggunakan style demokratis terus dalam semua kondisi. Begitu juga otoriter. Ada kalanya perlu otoriter, ada kalanya demokratis, dan ada kalanya egaliter. Dan sekali lagi sebagai bawahan harus paham itu.

Kembali cerita di atas, semuanya itu saya hanya mencoba untuk berpikir sederhana. "Ingatkan Saja!" Ketika roda untuk saling mengingatkan maka Insya Allah gerak dakwah akan senantiasa terus berjalan dengan sehat. Tentu gaya dan caranya pun berbeda. Gaya guyonan persahabatan biasanya lebih baik digunakan. Karena dirasa lebih mendekatkan dan mengakrabkan bahasanya.


Mangkirnya seseorang dari sebuah barisan, bisa jadi karena alasan kecewa, bosan, stress tinggi, males, atau karena kondisi stagnan. Yah, sarannya sederhana juga, adakan saja "Gathering". Sesekali senang-senang sesama tim. Karena tim punya hak juga untuk menyenangkan anggota seperti halnya hak tubuh untuk refreshing.


=========== just intermezo





22.51 | 1 komentar | Read More

Apa jadinya kalau orang psikologi ngurusi website?

Written By Informasi singkat tentang saya on Jumat, 12 Desember 2008 | 01.21

Apa jadinya kalau orang psikologi pegang website? Wadewww... pusingnya gak kelar-kelar. Memang sih, dulu inginnya masuk Informatika. Tapi karena belum kesampaian akhirnya masuk psikologi. Lama-lama belajar psikologi, dapat amanah menggarap website. Pusing nggak kelar-kelar bos!

Tapi nggak mengapa. Selama kita bertekad menjadi manusia yang senantiasa open experience. Suka dengan hal-hal baru, apa yang diberikan selama tidak "mengganggu" profesi utamaku dilakukan saja. Toh, bisa tahu bahasa pemrograman juga karena dari belajar.

Belajar Otodidak. Itulah yang saya lakukan, ketika mendapat amanah untuk menggarap website. Jika dipikir, kenapa tidak diberikan kepada anak informatika saja? Nah, itulah pertanyaannya. Otokritik juga, terkadang keinginan untuk sekedar menempatkan orang tanpa melihat potensi/kemampuannya juga menjadikan salah kaprah dalam sebuah organisasi. Sehingga tidak heran jika sebuah organisasi tidak maju-maju karena kendala ketidakmampuan personal dalam menjalankan amanah yang diembannya.

The right man, the right place. Seharusnya prinsip ini bisa dipegang. Sehingga sudah tidak terjadi pembejalaran yang salah dan berulang-ulang. Keterbatasan SDM terkadang juga menjadi kendala untuk bisa menempatkan orang pada tempat yang tepat. Namun, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah, bahwa modal utama orang itu harus dimiliki, yakni open experience tadi. Menyukai hal-hal yang baru. Tentu setiap orang juga berbeda. Ada yang suka hal-hal barunya jika berhubungan dengan main konsep pemikiran, politik yang tidak suka berhubungan dengan hitung menghitung. Tapi ada yang sebaliknya. Dan ini perlu dicermati, terutama sebagai seorang atasan/leader.

Baik, di sini saya cukupkan otokritiknya. Saya hanya ingin membantu mempromosikan buku yang tengah saya pelajari secara otodidak itu. 7 Jam Belajar DREAMWEAVER MX 2004. untuk Orang Awam. Itulah judul yang saat ini senantiasa saya baca, bolak balik untuk membantu saya dalam pengerjaan website. Saya akui tidak terlalu pandai dan ahli dalam pengerjaannya. Sehingga kesulitan pastilah selalu ada dalam pengerjaannya. Mencoba untuk menyanggupi setiap permintaan terkait dengan website adalah satu hal yang biasanya saya lakukan. Entah nanti bingung trus bertanya kepada siapa ya nggak tahu. Yang penting mengiyakan. Karena Insya Allah, pastilah ada jalan keluarnya.

Buku terbitan Maxikom karya Wahidin ini alhamdulillah cukup membantu kerja saya. Meski belum sepenuhnya lengkap. Tapi, ya paling tidak mudah untuk dipelajari. Cerita ini saya tulis dan angkat di blog ini, karena kerjaan yang belum kelar-kelar untuk menggarap website. Kendala sakit, loading kantor tinggi menjadi hambatan tersendiri. Akan tetapi, ya begitulah. Orang optimis itu katanya menjadikan hambatan sebagai tantangan.

Sebenarnya terkejut juga ketika, ada orang yang hendak mengajak soal ke-psikologi-an yang menyangkut teori-teori. Al hasil, banyak yang lupa. Waduwww... Malu campur bin instropeksi diri, karena gelar S1 yang didapatkan susah payah, dengan mudahnya terlupakan. Tapi paling tidak itu menjadi kritikan untuk kembali pada jalan yang benar.

Satu istilah lagi yang kemudian saya temukan, psycoformatic. Psikologi yang digabungkan dengan Informatika. Ide-ide bermunculan ketika ada yang memberi masukan penggabungan psikologi dengan informatika. Pembuatan software-software psikologi dengan ilmu informatika. Akankah bisa saya wujudkan? Padahal ilmu informatika yang saya miliki amat sangat terbatas. Mau sekolah ambil jurusan informatika, duitnya? Mau S2 jurusan informatika, dasarnya sangat minim. Psikologi mau dikemanakan? Semoga ada yang membantu saya dalam pengerjaan kelak, kalau idenya terlaksana. Hidup ide baru!!!!

Terima kasih buat kawan-kawan yang telah membantu saya ngurusi website itu ya. Semoga tidak takut untuk saya kejar-kejar karena minta bantuan ini dan itu.
01.21 | 2 komentar | Read More

Ngomong-ngomong soal isi blog niy...

Written By Informasi singkat tentang saya on Rabu, 12 November 2008 | 17.26

Memang manusia itu berbeda. Berbagai karakteritisk yang diberikan Allah menjadikan saya bersyukur. Apalagi latar belakang seorang sarjana psikologi. Mendapati berbagai karakteritik orang rasa-rasanya sudah hal yang biasa. Bahkan harus biasa dan tak perlu kaget. Terkadang di saat pikiran mandeg atau sedang stress atau sedang jenuh, saya biasanya browsing untuk menambah pengetahuan. Membaca berita, mencari jurnal, membuka-buka blog atau website dan kadang juga membaca blog-blog teman-teman saya.

Kadang saya suka tersenyum, ketika membaca tulisan di blog yang bertemakan melankolis. Terutama para ikhwan. Lucu dan tersenyum ketika mendapati cerita yang menarik dan membuat tertawa. Kadang saya suka pengen membaca isi pikiran orang yang bersangkutan ketika membaca blognya. Orang selevel ini, seperti apa siy kualitas tulisannya? Sekedar perjalanan hidup saja yang ditulis? Kisah-kisah romatisme hidup? Cinta? Atau seputar tanggapan atau analisa terkait dengan fenomena yang terjadi di negeri ini?

Namun, seringnya saya berpikir, kenapa ya teman-teman lebih senang menuliskan dan menuangkan unek-unek dan kekesalannya atau bahkan kisah cinta yang dia rasakan suka di tulis di blog? Padahal mereka aktivis dakwah? Yah, saya sadari bahwa mereka adalah manusia biasa yang masih saja terus belajar. Bukan sebuah kesalahan saya kira, ketika mereka menuliskan itu. Toh, membuat blog itu juga ada kepentingannya masing-masing.

Pernah saya mendapati sebuah blog milik salah seorang teman. Dan kemudian saya berpikir, "melo" banget?, terus ada yang lain lagi, "wah kok ngenes banget? yang ditulis tentang kesedihan dan kesakitan terus?". Meski saya tidak terlalu suka menuliskan perihal-perihal yang mengundang turunnya semangat atau hanya sekedar mengenang romantisme saja, namun saya tetap hargai mereka-mereka yang masih saja produktif menuliskan seluk beluk yang ada dipikiran mereka. Barangkali menjadikan terapi tersendiri untuk menyalurkan emosinya. Dan barangkali blog bisa dijadikan sebagai salah satu sarana untuk itu.

Ada lagi yang bilang, "aku gak bisa nulis mbak?" Yah, yang pastinya semua itu harus diitikadi dan diniati untuk bisa lah. Tidak mungkin seorang bayi normal akhirnya bisa berjalan dengan baik, tanpa adanya semangat dirinya dan (mungkin) ibunya untuk mengajarinya berjalan, bisa berjalan.

Dan terakhir, banyak sekali sebenarnya topik yang akan saya tuliskan di blog saya ini. Tapi, rasanya untuk menuangkannya butuh bahan dan wacana yang cukup dan juga konsentrasi yang cukup. Klo tidak, ya seperti ini. Apa yang mengalir di kepala bisa saja dituliskan. Tapi terkadang atau sering menjadi kurang bermakna atau "taste" berasa. Meski hambar rasanya, no problem. Sekedar mengupdate blog. Nanti bila tiba saatnya akan kembali mengudara.
17.26 | 0 komentar | Read More

Senyum di bibirmu, kebahagiaan kami

Written By Informasi singkat tentang saya on Selasa, 21 Oktober 2008 | 12.59

" Kamu pasti bisa. Sesungguhnya skripsi yang sesungguhnya adalah ketika karya kita ditaruh di toko-toko buku " sambil tersenyum dia mengatakan itu.

Kalimat itulah yang masih kuingat padamu. Ketika mataku berkaca-kaca karena merasakan pusingnya menyelesaikan tugas akhirku. Kondisi keharusan selesai semester waktu itu dan konsekuensi penurunan standart mutu tugas akhirku harus kulakukan. Tugas kantor bertambah banyak. Kebetulan waktu itu kami ada proyek kerjasama dengan perusahaan nasional di negeri ini. Kerjasama sosial dalam serangkaian acara bertemakan "Pekan Bakti Kesehatan Sampoerna". Teman-teman biasanya menyebut dengan istilah PKS dikala mengundang rapat atau koordinasi.

Di ujung waktu kegiatan ini, akupun hanya termenung dan pikiranku serasa tertimpa sebuah beban yang cukup berat. Maklum waktu itu konsep yang harus dipikirkan otakku cukup lumayan memeras energi. Apalagi tugas akhir yang kurang ini dan itu, masih ngurus ini dan itu untuk lulus, ngonsep di organisasi, dan sebagainya.

Teman sejati adalah ikut merasa senang ketika saudaranya senang dan sedih ketika saudara juga dalam kondisi kesedihan. Begitulah kira-kira. Bagiku dia adalah teman yang baik dan partner yang menyenangkan bagiku. Banyak hal yang kudapatkan dari dia terutama ketika aku dalam kondisi stress abiz. 

Teringat lagi waktu itu, malam hari ba'da magrib, kitapun membuat janji untuk saling bertemu di sebuah rumah makan. Bagiku harga di rumah makan itu untuk sekarang masih cukup mampulah jikalau hanya untuk membayarkan biaya makan berdua saja. Barangkali ketika masa mahasiswa yang belum mandiri ekonomi dulu, mungkin cukup mahal. Tapi alhamdulillah, belum lulus sudah dapat kerja, dan memang ujian orang yang memiliki harta adalah memberi.

Kubiarkan dia pesan apa yang dikehendakinya. Kita pun berbincang-bincang persoalan yang kuhadapi dan sesekali dia pun sharing atas apa yang pernah menimpanya. Usianya yang sudah menginjak 30 ke atas itu, tidak nampak di wajahnya bersedih karena jodoh yang tak kunjung menyapanya. Perbincangan akhirnya selesai sekitar pukul 20.00 lebih. Meskipun makan malam itu dirasa begitu saja, namun melalui dia Allah memberikanku pertolongan berupa terbukanya pikiranku dan minimal sedikit meringankan pikiranku yang terkadang keinginan untuk mencapai kesempurnaan suatu tugas itu seperti sebuah keharusan untuk diraih. Yang akhirnya terkadang atau sering membuat pikiranku berat sendiri dan mengalami stagnasi dalam berpikir.

Namun, Ya Allah... kini dia jatuh sakit. Allah telah mengujinya dengann beberapa penyakit yang menimpanya. Aktivitasnya pun kini terhenti. Setelah aku meraih gelar Sarjana senyumnya dan cerita-ceritanya sudah tak kudengar lagi. Orang yang senantiasa mengingatkanku untuk senyum setiap saat ini, akhirnya harus beristirahat beberapa bulan lamanya. Awalnya penyakit tipes yang dideritanya. Setelah kurang lebih satu bulan lamanya, perkembangan baik meliputi hati-hati kami dan keluarga. Namun, sejalan dengan itu, perkembangan buruk pun juga turut menyusul. Kabarnya dia diuji Allah dengan penyakit lain, yakni paru-parunya sakit. entah bronkitis atau apalah, dan juga liver. Ya Allah... 

Namun, alhamdulillah akupun turut tersenyumm ketika aku dan teman-teman bisa menjenguknya di rumah. Dengan nafas tersengal-sengal dia pun masih tetap mau bercerita dan tersenyum lebar sewaktu mendengat cerita-cerita dari kami semua. Satu kalimat yang dia ungkapkan kepada kami sewaktu kami menjenguknya adalah, "alhamdulillah kalian ke sini. Karena biasanya yang ke sini hanya wajah-wajah keluarga saja" tandasnya sambil tersenyum. Kurang lebih 1 jam, kita bercanda dan bercerita menghiburnya. Kita pun akhirnya berpamitan dengan dia yang sudah nampak kurus itu.

Di perjalanan, kami semua yang ikut menjenguk ternyata mendapatkan SMS yang sama. "Jazakumulloh. habis ini gentian teler. mau periksa".

“Aku memohon kepada Allah yang Maha Besar, aku memohon kepada Allah yang Maha Besar, Tuhan 'Arsyi yang Maha Agung, mudah-mudahan Dia memberikan kesembuhan kepadamu”

Untuk mbak Menik, semoga Allah memberikanmu kesabaran dan kesembuhan. Dan mudah-mudahan ujian sakit ini sebagai penebus dosa dan pengurang dosa. Teman-teman kantor menanti kesembuhamu dan cerita-cerita darimu. Terutama Pak Aries yang lagi bingung, partnernya sakit :)

12.59 | 0 komentar | Read More

M(udik)ku yang penuh cerita 3: Kisah pohon dan bendera

Written By Informasi singkat tentang saya on Kamis, 16 Oktober 2008 | 00.45

Sebuah pohon berkata kepada bendera.
Pohon: Heh, bendera kenapa kamu datang ke sini? Merusak pemandangan saja kamu itu datang ke sini.

Bendera: Heh, emang kenapa pohon? Emang nggak boleh aku disini?
Pohon: Heh, bendera sebenarnya nggak apa-apa kamu datang ke sini. Jika kamu adalah si merah putih. Tahu nggak? Aku itu lebih suka si merah putih daripada kamu.
Bendera: Emang apa hebatnya si merah putih itu?
Pohon: Ya hebat dong. Dia nggak nyakitin aku. Nggak kayak kamu yang sukanya nempel ke aku dan teman-temanku. Udah gitu kamu pake paku lagi nempel ke akunya. Atau kalau enggak pake kawat atau pake tali dan diikat kencang ke batangku. Kalau si merah putih itu simbol kenegaraan. Udah gitu kalau masang nggak di sini. Sono no... ada tempatnya sendiri. Dan dia biasanya pakai tiang sendiri. Lha kamu? dateng-dateng nggak diundang. Udah gitu melukai diriku. Dateng-dateng kalau pas mau pilihan-pilihan melulu. Kalau udah kepilih, aku dilupakan. Boro-boro diingat. Liat tuh, negara kita pada udah nggak ijo lagi. Gara-gara aku gak diurusin. Paling-paling kalau diurusin ya kayak gini niy. Menjelang pilihan-pilihan baru diurusi.
Bendera: Heh, pohon. Tahu juga nggak kamu? Aku itu ke sini dan nempel ke kamu gara-gara tuh manusia. Kamu jangan marahin aku dong! Tuh manusia yang nempelin aku ke kamu pake paku biar nancepnya kuat. Emang mereka ngerti apa ma kamu? Hehehe... kalau aku sih, seneng-seneng aja. Kan aku bisa berkibar-kibar. Paling nggak manusia-manusia bodoh itu liat aku di sepanjang jalan. Aku kan keliatan gagah. Kalau aku keliatan gagah, pasti mereka pilih aku. Meskipun niy... aku tahu kalau manusia yang nencepin aku tadi tuh... habis dapet duit gede buat kayak gini-ginian ma dibuat nyebarin ke manusia-manusia bodoh biar milih bendera aku.
Pohon: Heh, kamu jangan ngajak berantem ya! Bilangin tuh sama manusia. Liat-liat dong kalau nancepin! Enak aja. Emang aku nggak sakit apa ditancepin pake paku gitu. Eh bendera, kamu harus tahu ya... aku tuh bisa berdoa sama yang Maha Pencipta. Biar mereka-mereka yang nggak mengindahkan aturan untuk tidak melukaiku bakalan nggak mendang deh. Termasuk kamu!
Bendera: Lhoh? kok malah gitu? Doakan dong. Biar aku semakin gagah.
Pohon: Eh, bendera. Kamu harus tahu ye... perang aja ada adat istiadatnya yang harus dipenuhi. Salah satunya nggak boleh merusak tanaman yang ada. Aku niy... termasuk tanaman. Tahu nggak kamu? Jangan macam-macam kamu sama aku. Aku sebenarnya sedih. Ketika para manusia-manusia yang diliputi nafsu itu seenaknya aja menancapkan kamu ke batangku. Kenapa sih, sama sekali tidak mengindahkannya?

***

Hehehe... cerita di atas hanya sekedar anekdot saja. Saya sempat berpikir kok ya sembarangan sekali sih, para tim sukses itu memasang dan manancapkan bendera-benderanya saat mau kampanye ke pohon-pohon? Sewaktu saya dalam perjalanan menuju ke Jogja. Saya melihat pohon-pohon yang ditanam untuk menambah keindahan tengah jalan, sudah tidak sedap lagi dipandang. Pasalnya, pohon-pohon itu ditancapi dengan bendera. Baik menggunakan paku maupun hanya sekedar pengait saja (kawat/tali). Dan yang membuat saya heran. Lha kok ya, setiap tanaman yang berjajar pasti ada bendera partainya. Ada beberapa partai yang memasang di situ. Bukankah ketika zaman Rasulullah, para sahabat diperingatkan untuk dilarang menebang/merusak tanaman sewaktu perang? Jika dianalogkan, kampanye menuju 2009 termasuk perang juga. Lalu, apakah norma untuk tidak merusak tanaman itu kita langgar? Barangkali ketika dilanggar dan tanaman-tanaman (pohon) itu kita lukai dan kita rusak, mereka akan marah. Dan bukankah mereka adalah ciptaan Allah yang bisa beribadah juga?

Ini hanya sekedar renungan bagi juru kampanye, timsukses, dan orang-orang partai yang hendak memenangkan pilpres 2009 esok. Hati-hati. Bahwa sebuah kemenang dan keberkahan itu bisa jadi datang dan hadir karena tindakan kecil yang kita lakukan. Siapa tahu dengan tidak merusak tanaman itu tadi, kemenangan dan keberkahan dihadirkan Allah. Karena hal tersebut menambah point dalam menjalankan etika perang. Karena menancapkan bendera dengan paku, tali, atau kawat merusak pohon dan pemandangan.
00.45 | 0 komentar | Read More

M(udik)ku yang penuh cerita 2: Eh, di Reuni SMA pengantin baru pake pin PKS

Akhirnya hari reuni itu datang juga. Kebetulan kedua reuni berada pada tanggal yang sama. Eng ing eng... ternyata tak diduga hari itu ada 3 agenda pertemuan yang harus didatangi. Satu agenda baru diketahui sewaktu datang di reuni Rohis. Yah, akhirnya dengan beberapa teman akhwat satu persatu acara itu didatangi. Hanya sekedar nongol saja, kecuali di reuni SMA, yang lainnya hanya prasyarat bahwa kita hadir di acara itu. Saya datang di reuni dengan beberapa akhwat ke sana. Kita datang bersamaan. Wah..wah.. ternyata lumayan rame juga. Kita pun lebar-lebarkan senyuman sewaktu bertemu dengan teman-teman SMA kita dulu. Dalam hati, saya pun merasa senang dan ternyata teman akhwat saya pun juga senang dan gembira. Meskipun, acaranya yang nyetting dan mbuat bukan kita-kita.

Banyak wajah yang lama (ya iya lah, kan teman lama SMA). Lalu, apanya yang baru? Ternyata banyak hal yang baru yang bisa kita amati. Selain bertemu, senyum, sapa, dan salam, kita pun mendapati beberapa teman-teman kita yang sudah menikah, yang masih lajang, yang alhamdulillah pada jilbaban, pada jadi ikhwan dan akhwat, ada yang udah S2 (ckk...ckk... kita-kita aja S1 baru lulus, bahkan ada temenku yang belum lulus), ada berita ada yang mau dapet beasiswa ke Al Azhar Kairo, ada yang mau ke Brunei Darussalam melanjutkan studinya, dan sebagainya. Subahanallah. Senang rasanya.

Salah satu hal yang membuat kita-kita semakin tersenyum dan agak sedikit heran, kita mendapati salah seorang ikhwan yang barusan menikah sebelum ramadhan kemaren, eh dia pake baju kok putih berlogo PKS dan menggunakan jaket hitam di sebelah kanannya pake pin PKS. Ckk..ckk.. belum 2009 sudah kampanye terselubung duluan. Tapi emang orangnya adalah orang partai. Jadi wajar juga kalau dia memanfaatkan momen itu untuk mengenalkan PKS dengan bahasa non-verbal via aksesoris. Hehe...

Adzan dhuhur pun berkumandang. Namun, kita masih beberapa saat menunggu acara berakhir dan beralih makan. Tapi ternyata belum beralih makan. Akhirnya kita-kita sholat dulu. Suara anak-anak yang menyanyikan lagu pop terbaru pun mulai ramai. Nggak gitu tahu saya soal lagu-lagu yang mereka nyanyikan. Tapi sempat salah satu penyanyi, yang dulu emang jago anaknya. Sempat menyebut nama "Changcuter". Yah, barangkali yang dinyanyikan itu kali ya. Saya nggak gitu-gitu tahu soal lagu-lagu itu.

Suara semakin rame dan lagu seolah semakin seru sewaktu kita sholat dhuhur. Konsen campur ga konsen sholat dilaksanakan. Saya pun akhirnya mencoba untuk konsentrasi. Entah kenapa saya ingin meneteskan air mata mendengar hingar bingar lagu yang mereka nyanyikan itu. Saya teringat apa yang disampaikan Rasulullah. Sebuah kalimat pendek. "Sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti." Itu berarti tugas kita-kitalah yang harus mendakwahi mereka. Ya Allah semoga Engkau memberikan hidayah kepada mereka ya Allah...
00.10 | 0 komentar | Read More

M(udik)ku yang penuh cerita 1: Prolog (Merasa kangen sama kawan-kawan lama)

Written By Informasi singkat tentang saya on Rabu, 15 Oktober 2008 | 23.08

Ngomong-ngomong soal mudik, saya pun teringat salah satu mata kuliah di semester awal dulu. Mata kuliah kewarganegaraan. Setelah saya ingat-ingat, saya pun nggak terlalu ingat item-item apa saja yang ada di soal itu. Hanya satu yang saya ingat. Itupun sewaktu sang dosen melemparkan pertanyaan kepada para mahasiswanya. Mungkin terlalu pasif atau terlalu nggak aktif alias pada pendiem semua kali ya, akhirnya sang dosen kasih tugas seabreg ke kita-kita.

Pertanyaannya waktu itu sederhana sekali. "Kenapa orang kok senang mudik? dan dibela-belani berjubel-jubel naik bis atau kereta hanya untuk pulang ke desanya? Bahkan ada yang rela naik atap kereta api. Kenapa sih?"

Sederhana memang, tapi ternyata dalem jawabannya. Itu aja suruh njlentrehkan seabreg. Udah gitu suruh tulis tangan di kertas folio bergaris.

Kata mudik berasal dari kata "udik". Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti sungai di sebelah atas (arah dekat sumber) atau (daerah) di hulu sungai. Kata itu mengandung makna positif, yaitu bagian atas sungai atau bagian kepala sungai yang dekat sumber mata air, sehingga jernih dan belum terkena polusi.

Mudik di sini memiliki makna secara psikologis maupun sosiologis. Secara psikologis, orang yang mudik menginginkan suasa yang berbeda dan fresh. Rata-rata mereka yang tinggal di kota, akan merasa senang ketika melepas lelah dengan mudik, kembali pulang ke desa. Karena di rasa, desa adalah tempat yang (mendekati) sumber kesegaran, hijau (bagi daerah yang mash hijau sih), dan melepas lelah (kalau di desa nggak banyak masalah). Secara sosiologis, dengan adanya acara saling bersilaturahim, bermaaf-maafan, saling memberi pitrah (Jawa) atau ang paw (Cina kali ya) atau apalah itu namanya... menjadikan hubungan di antara sesama tambah deket dan saling membantu dan bertemu. Kira-kira gitu kali ya... Waduh nggak terlalu ahli amat di sosiologi aku.

Anyway, apapun itu saya ingin bercerita perjalanan mudik saya yang (menurut saya) penuh cerita dan warna.

Kedua kalinya saya pulang ke halaman desa (biasanya kan kampung halaman, sekarang di tulisanku tak ganti) menaiki kereta api. Biasanya naik bis. Naik kereta pertama kali sewaktu musibah banjir. Waktu itu jalur bis daerah Ngawi terputus. Sehingga saya nggak bisa pulang ke Sragen naik bis. Akhirnya alhamdulillah beberapa hari berikutnya alur darat bisa dilewati tapi dengan kereta. Meskipun terkesan seperti orang ndeso poll, karena sempat bingung mau keluarnya sewaktu dah nyampe Sragen hingga akhirnya turun Solo, gara-gara bingung buka pintu mo turun. Waduuuh...

Dengan mengucap Bismillah, semoga hal itu tidak terulang kembali di edisi kedua saya naik kereta. Dengan membawa bekal secukupnya dan tanpa oleh-oleh apapun untuk keluarga kecuali krupuk-krupukan oleh-oleh dari mitranya kantor tak bawa. Entah kenapa sewaktu naik kereta saya merasa ada sesuatu yang membuat gelisah. Seperti ada sesuatu yang hilang dari diri saya. Tapi saya coba hanya beristighfar saja. Barangkali itu adalah godaan syetan. Eh salah, syetan kan lagi dipenjara. Pikiranku saja. "Sudahlah, lupakan saja!" pikirku.

Kereta terus berjalan. Pikiranku serasa penuh sekali dengan pikiran-pikiran yang harus dipikirkan. Seolah-olah diminta untuk diam sejenak, nggak mau. Maunya berkeliaran terus di otakku. Sesekali saya melihat HP GSM ku. Sebuah SMS nangkring di sana. Eh salah. Bukan GSM tapi fleksiku. Dua undangan dari temen-temen SMA, panitia reuni SMA N 2 Sragen, dan satunya lagi reuni anak-anak Rohis (yah, meski dulunya bukan anak Rohis, tapi mereka nganggap orang Rohis. Nggak apa-apa lah. Rejeki). Beberapa kali, otakku kembali berpikir. Mudik kali ini akan seneng deh. Udah libur kantor dikasih 2 minggu, ada undangan reuni rohis, ada undangan reuni SMA lagi.

"Merasa kangen sama kawan-kawan lama!". Mungkin kalimat itu yang kemudian beberapa kali terbersit dalam hati dan pikiranku. Rindu sudah sama memori-memori jaman dulu yang rame lah, anak-anaknya gokil-gokil lah tapi polos, yang contekan lah, yang nggak mau nyontek lah, yang difitnah mo demo lah, apalah... Menyenangkan mengingat masa-masa jaman ra enak dulu.

Alhamdulillah akhirnya aku nyampe juga di Sragen. Alhamdulillah... Perasaanku bertambah senang ketika sudah bertemu dengan keluargaku, dan alhamdulillah pada sehat semua. Tambah senang lagi, pikirku mau ikutan i'tikaf di Sragen. Eh, ternyata setelah SMS mantar MR saya, katanya "dek, i'tikafnya udah pada selesai semua." Ha? Hari ke-27 udah pada selesai!. Waduuh.. reduplah hatiku wis... mau i'tikaf nggak jadi.
23.08 | 0 komentar | Read More

Bottled water has contaminants too, study finds

By JEFF DONN, AP National Writer | Tests on leading brands of bottled water turned up a variety of contaminants often found in tap water, according to a study released Wednesday by an environmental advocacy group.

The findings challenge the popular impression — and marketing pitch — that bottled water is purer than tap water, the researchers say.

However, all the brands met federal health standards for drinking water. Two violated a California state standard, the study said.

An industry group branded the findings "alarmist." Joe Doss, president of the International Bottled Water Association, said the study is based on the faulty premise that a contaminant is a health concern "even if it does not exceed the established regulatory limit or no standard has been set."

The study's lab tests on 10 brands of bottled water detected 38 chemicals including bacteria, caffeine, the pain reliever acetaminophen, fertilizer, solvents, plastic-making chemicals and the radioactive element strontium. Though some probably came from tap water that some companies use for their bottled water, other contaminants probably leached from plastic bottles, the researchers said.

"In some cases, it appears bottled water is no less polluted than tap water and, at 1,900 times the cost, consumers should expect better," said Jane Houlihan, an environmental engineer who co-authored the study.

The two-year study was done by the Washington-based Environmental Working Group, an organization founded by scientists that advocates stricter regulation. It found the contaminants in bottled water purchased in nine states and Washington, D.C.

Researchers tested one batch for each of 10 brands. Eight did not have contaminants high enough to warrant further testing. But two brands did, so more tests were done and those revealed chlorine byproducts above California's standard, the group reported. The researchers identified those two brands as Sam's Choice sold by Wal-Mart and Acadia of Giant Food supermarkets.

In the Wal-Mart and Giant Food bottled water, the highest concentration of chlorine byproducts, known as trihalomethanes, was over 35 parts per billion. California's limit is 10 parts per billion or less, and the industry's International Bottled Water Association makes 10 its voluntary guideline. The federal limit is 80.

Wal-Mart said its own studies did not turn up illegal levels of contaminants. Giant Food officials released a statement asserting that Acadia meets all regulatory standards. Acadia is sold in the mid-Atlantic states, so it isn't held to California's standard. In most places, bottled water must meet roughly the same federal standards as tap water.

The researchers also said the Wal-Mart brand was five times California's limit for one particular chlorine byproduct, bromodichloromethane. The environmental group wants Wal-Mart to label its bottles in California with a warning because the chlorine-based contaminants have been linked with cancer. It has filed a notice of intent to sue.

Wal-Mart spokeswoman Shannon Frederick said the company was "puzzled" by the findings because testing by suppliers and another lab had detected no "reportable amounts" of such contaminants. She said Wal-Mart would investigate further but defended the quality of its bottled water.

The researchers recommend that people worried about water contaminants drink tap water with a carbon filter.

___

On the Net:

Environmental Working Group: http://www.ewg.org

Sumber: http://news.yahoo.com/s/ap/20081015/ap_on_sc/impure_bottled_water

22.14 | 0 komentar | Read More

Bondo Nekat ke Ausi: Semoga Menyemangati

Written By Informasi singkat tentang saya on Kamis, 28 Agustus 2008 | 00.42

Tanggal 24 adalah hari wisuda. Beberapa teman bertanya, "eh kamu mau nglanjutin lagi ga?". Dari satu pertanyaan ada dua jawaban. Satu jawab nglanjutin, satunya enggak dengan pertimbangan duit. "Klo kita dapet berapa potongan berapa ya? enak tuh anak, IPK tertinggi bisa dapet gratis biaya awalnya. Lha klo kite?, gue dapet berapa?" kata salah seorang teman di deket saya, yang kebetulan dia juga sudah double job alias bekerja sebelum lulus juga di salah satu bank di Surabaya sewaktu mendengarkan salah seorang dosen berceramah menyampaikan informasi mengenai potongan yang diberikan pihak fakultas bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan magister profesinya di kampus yang sama.


"Gila... lima juta bo!" lagi-lagi kata teman saya di samping.

Pasca lulus S1, sejauh saya melihat yang jadi pertimbangan adalah antara melanjutkan S2, bekerja, atau menikah dulu. Dalam hati, mau melanjutkan S2 kok duitnya banyak kali ya? Tapi emang harus optimis sih. Barangkali Allah berkehendak, maka jadilah. Salah satu cara untuk bisa melanjutkan magister profesi tanpa banyak biaya atau yang biayanya nggak cukup adalah dengan cari beasiswa. Biasa... beasiswa ke luar negeri bos! Dalam negeri agak suseh carinye... Tapi di luar negeri juga agak susah gampang juga siy.


Teman-teman, sekilas di atas jadi prolog dari tulisan saya. Ada satu cerita yang akan saya tuliskan di sini. Barangkali menginspirasi atau menyemangati bagi kamu yang mau ke Ausi yang sedikit modal.


Salah seorang teman bercerita. Kebetulan dia punya teman yang kuliah melanjutkan ke Australia. Keluarga anaknya termasuk level menengah lah. Punya sawah di desa. Adik-adiknya tidak ada yang bersedia untuk dikuliahkan. Akhirnya biaya yang dimiliki ortunya, dia minta untuk biaya kuliah S2 ke Australia.


"Tahu nggak, dia tuh nekat ke Australia dengan modal Bahasa Inggris pas-pasan. Anaknya nggak pinter-pinter amat siy." kata teman saya


"Lha terus mbak? kok dia bisa lolos gitu?" tanya saya


"Ya.. dia bukan beasiswa. Biaya sendiri ke sana. Dia tuh di sana ceritanya lucu-lucu coba... Dia kan cerita klo ditanya sama orang sana itu, dia hanya menjawab 'oh... yesss....', 'oh... no....' " katanya sambil kita tertawa semua mendengar cerita itu.


"Terus pernah tuh anak, di kereta ketemu sama orang Indonesia juga. Tapi dia sudah lama tinggal di Australia. Bapaknya itu ngajak ngomong anak itu. Bicara... bicara gitu. Trus, kok Bapaknya itu menawarkan anak laki-lakinya kepada temenku itu. Katanya mau nggak klo nikah sama anaknya. Pas itu si bapak itu bawa fotonya juga. Tahu nggak kata temenku itu. Katanya sebenarnya klo diliat materi, anaknya udah mapan banget siy. Tapi kalau liat wajahnya, kok huelek banget yo... Terus akhirnya temenku itu ada yang kasih tahu, klo si bapak itu tuh penipu. Lha pas di bandara gitu, kan si temenku itu mo janjian mau dinikahi gitu lho. Cuman orang tuanya nggak bisa dateng. Nikahnya itu mo di tempat lain gitu, naik pesawat. Setelah dikasih tahu klo bapaknya itu penipu, apa yang dilakukan coba? lari... lari anak itu. dari bandara coba. Sampe si bapak itu nyari-nyari.. Wis pokoke lucu kok anak itu di sana. Klo pas kuliah itu tuh, dia cerita, 'aku tuh di sana nggak paham apa yang diomongkan tuh' (soalnya modal Bahasa Inggris terbatas, ditambah lagi logat orang sana beda ma Indonesia_red). Wis.. embuh kok arek iku." katanya.


STOP PRES!


Sepenggal cerita di atas, hanya sebagai gambaran saja. Bagi anda yang ingin ke Australi cari beasiswa, optimis saja. Mudah-mudahan Allah memberi kemudahan untuk bisa mewujudkan cita-cita ke sana. Pelajaran yang bisa diambil, modal nekat saja bisa kok sampe ke Ausi. Apalagi dengan banyak persiapan. Beasiswa ke Ausi lebih mudah caranya, TOEFL min hanya 500 aja. Terus nanti ada pendidikannya dulu sebelum terbang ke Ausi untuk memantapkan Bahasa Inggrisnya itu. Waah, enak kan? Hayo ke Ausi rame-rame cari beasiswa kalee...
00.42 | 2 komentar | Read More

Ternyata Kami Diwisuda Bareng

Written By Informasi singkat tentang saya on Senin, 25 Agustus 2008 | 23.29


Setelah menjalani proses pengerjaan tugas yang cukup panjang, sampe terkena psikosomatis segala. Mulai sakit perut sampai sakit kepala. Akhirnya hari itu datang juga. Hari yang dinantikan oleh seorang mahasiswa yang ingin mengakhiri proses panjangnya. Antara spesial dan tidak spesial. Hanya ritual dan pesta sesaat sebenarnya wisuda itu. Tapi, begitulah Indonesia. Konon kabarnya (eh sekarang masih ding) kalau nggak hadir di acara wisuda nggak boleh atau kalau nggak dipersulit ambil ijasahnya. Nggak tahu lah... Bersyukur, senang, bangga, tapi... kok ya biasa saja. nothing special. "Ngene tok to?" pikir saya. Kirain ada apanya gitu. Ya, tapi it's okey lah, yang penting bisa lulus. Biar psikosomatisnya nggak kepanjangan. Bisa berabe dan masuk rumah sakit nanti saya, klo nggak selese-selesai dan psikosomatis kepanjangan.

Sekitar seribu lebih mahasiswa diwisuda, mulai tingkatan diploma sampai doktoral. Rame, meriah, dan cukup aman. But, i go to auditorium alone... tidak bersama orang tuaku. Hiks... hiks... Perjuangan panjang, tapi mereka yang kusayangi nggak bisa hadir T_T. Akhirnya orang kontrakan 2 orang tak colong semua buat nemenin.

Kami diwisuda dihari yang sama.

Wisuda maknanya banyak siy. Kalau kata dosen penguji saya bilang, wisuda itu bisa berarti menikah, wisuda bisa berarti pensiun. Yah, memang rejekinya. Kami diwisuda di hari yang sama, antara menikah dan wisuda peletakan jabatan mahasiswa. For my brother: Barokallahulaka wa baroka 'alaina wa jama'abayna kumma fii khoir. Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk dan hidayah-Nya.

Yah, karena bersamaan itu akhirnya saya wisuda without my parents. Kata temen saya, nggak jadi soal ukh, yang penting do'anya dan keridhoan mereka.

Jazakumulloh, matursuwun, thaks, atas semuanya, atas doa, semangat, dan motivasinya. Akhirnya bisa lulus juga, meski standart diturunkan sangat drastis, karena untuk prioritas yang lain dan berbagai pertimbangan. Buat teman-teman saya, semoga Allah memberi pembalasan yang baik buat kalian semua dan semoga kebarokahan itu selalu hadir di setiap keikhlasan dan amal yang kita lakukan. Buat temen-temen kantor, sepurone kabeh... beberapa hari kantore tak tinggal. n then buat mbak menik. Kuingat selalu kalimatmu "skripsi yang sesungguhnya adalah ketika hasil karya kita diletakkan di toko-toko buku dan bukan hanya di perpustakaan". Ya... mudah-mudah i can do it!. Bersama Allah kita bisa!

Maap ya pembaca, kali ini blog tak buat curahan hati. Yah, in memoriam lah...
23.29 | 1 komentar | Read More

Waktu adalah...

Written By Informasi singkat tentang saya on Jumat, 27 Juni 2008 | 12.06

Apa yang ada di benak Anda ketika di minta untuk melengkapi pertanyaan. "Waktu adalah... "
Tentu tiap orang akan berbeda-beda. Orang yang memiliki value materialis, kapitalis, tentu lebih memilih waktu adalah uang. Karena ke sana ke mari uang adalah di atas segala-galanya. Mungkin kira-kira begitulah. Berbeda tentunya ketika pertanyaan itu diberikan kepada orang yang memili latar belakang religi yang baik. Mungkin jawabannya akan lain. Apa jawaban Anda, ketika ditanya waktu adalah..........
12.06 | 0 komentar | Read More