Saya teringat akan sebuah cerita dari salah seorang dosen tamu di kampus. Pengalaman dan pengetahuannya tak perlu diragukan lagi bagi saya. Beliau pernah bercerita sewaktu memberikan ceramah di depan sejumlah peserta yang semuanya adalah para guru. Guru dari sekolah umum dan Islam. Pak Dosen itu kemudian bertanya kepada para guru tersebut.
"Bapak Ibu sekaliyan. Saya mau bertanya kepada Anda semuanya. Menurut Bapak-Ibu guru, Anda lebih memilih mana apabila ada dua kelompok murid. Kelompok pertama, anaknya pintar-pintar. Kalau diberi tugas, pasti mereka selesaikan sesuai dengan penugasan yang diberikan. Pokoknya manut-manut semua." cerita Bapak Dosen itu...
Sambil diam sejenak, Bapak Dosen kembali melanjutkan ceritanya. "Sedangkan kelompok kedua..." katanya. "Mereka justru sebaliknya. Sudah bodho-bodho (bodoh_red), diberikan tugas jarang dikerjakan, dikasih tahu susah, dan lain-lain."
"Kira-kira Anda semua sebagai guru milih yang keompok mana?" tanya Bapak Dosen.
Setelah Bapak Dosen bertanya di depan forum, Bapak Dosen pun terkejut.
Kira-kira kalau Anda menjadi guru pilih kelompok yang mana?
Kenapa Bapak Dosen terkejut?Karena hampir seluruhnya para guru menjawab memilih kelompok pertama. Bapak Dosen pun lantas berkata, "Anda-Anda itu tidak pantas jadi guru!"
"Gleg!"
"Kenapa?" lanjutnya, " Karena guru adalah seorang pendidik. Pendidik itu mendidik siswa dari yang tidak bisa menjadi bisa. Dari tidak bisa berhitung menjadi bisa berhitung. Dari bodoh menjadi pandai. dan seterusnya."
***
Yap, sekilas saja flasback cerita masa lalu. Sewaktu masih menjadi mahasiswa dulu. Diakui atau tidak memang sebagian besar dari guru tugasnya adalah mengajar. Mengajar, menyampaikan mata pelajaran apa yang menjadi tugasnya. Jarang ditemukan guru yang mampu memberikan dan memasukkan nilai-nilai moral ataupun mendidik siswa menjadi lebih terdidik.
Tak ayal lagi, ketika banyak siswa yang masih terjadi tawuran, bullying, bolos sekolah, dan sebagainya. Bahkan kekerasan yang menurut paradigma lama bisa menjadi "senjata" untuk mendisiplinkan siswa pun masih banyak guru yang melakukannya.
Pernah saya berdiskusi dengan salah seorang pimpinan sebuah lembaga konsultan keuangan, beliau juga konsen di pendidikan. Kata beliau, di Indonesia ini yang bobrok dan perlu diperbaiki adalah moral gurunya dulu. Karena dari gurulah akan lahir murid-murid didikannya. Kalau guru tidak mendidiknya dengan baik, maka seperti itulah produknya. Begitu sebaliknya.
So, bagaimana dengan Anda yang menjadi guru atau bercita-cita menjadi guru? Semoga Anda termasuk guru-guru yang memilih jawaban kelompok kedua.
"Bapak Ibu sekaliyan. Saya mau bertanya kepada Anda semuanya. Menurut Bapak-Ibu guru, Anda lebih memilih mana apabila ada dua kelompok murid. Kelompok pertama, anaknya pintar-pintar. Kalau diberi tugas, pasti mereka selesaikan sesuai dengan penugasan yang diberikan. Pokoknya manut-manut semua." cerita Bapak Dosen itu...
Sambil diam sejenak, Bapak Dosen kembali melanjutkan ceritanya. "Sedangkan kelompok kedua..." katanya. "Mereka justru sebaliknya. Sudah bodho-bodho (bodoh_red), diberikan tugas jarang dikerjakan, dikasih tahu susah, dan lain-lain."
"Kira-kira Anda semua sebagai guru milih yang keompok mana?" tanya Bapak Dosen.
Setelah Bapak Dosen bertanya di depan forum, Bapak Dosen pun terkejut.
Kira-kira kalau Anda menjadi guru pilih kelompok yang mana?
Kenapa Bapak Dosen terkejut?Karena hampir seluruhnya para guru menjawab memilih kelompok pertama. Bapak Dosen pun lantas berkata, "Anda-Anda itu tidak pantas jadi guru!"
"Gleg!"
"Kenapa?" lanjutnya, " Karena guru adalah seorang pendidik. Pendidik itu mendidik siswa dari yang tidak bisa menjadi bisa. Dari tidak bisa berhitung menjadi bisa berhitung. Dari bodoh menjadi pandai. dan seterusnya."
***
Yap, sekilas saja flasback cerita masa lalu. Sewaktu masih menjadi mahasiswa dulu. Diakui atau tidak memang sebagian besar dari guru tugasnya adalah mengajar. Mengajar, menyampaikan mata pelajaran apa yang menjadi tugasnya. Jarang ditemukan guru yang mampu memberikan dan memasukkan nilai-nilai moral ataupun mendidik siswa menjadi lebih terdidik.
Tak ayal lagi, ketika banyak siswa yang masih terjadi tawuran, bullying, bolos sekolah, dan sebagainya. Bahkan kekerasan yang menurut paradigma lama bisa menjadi "senjata" untuk mendisiplinkan siswa pun masih banyak guru yang melakukannya.
Pernah saya berdiskusi dengan salah seorang pimpinan sebuah lembaga konsultan keuangan, beliau juga konsen di pendidikan. Kata beliau, di Indonesia ini yang bobrok dan perlu diperbaiki adalah moral gurunya dulu. Karena dari gurulah akan lahir murid-murid didikannya. Kalau guru tidak mendidiknya dengan baik, maka seperti itulah produknya. Begitu sebaliknya.
So, bagaimana dengan Anda yang menjadi guru atau bercita-cita menjadi guru? Semoga Anda termasuk guru-guru yang memilih jawaban kelompok kedua.
13.27 | 5
komentar | Read More
