INFO

DALAM RANGKA TAHUN BARU MASEHI #2012: BLOG SEDANG DIPERMAK ULANG.

Epistemologi pendidikan

Written By Informasi singkat tentang saya on Kamis, 20 Desember 2007 | 20.13

Pada dasarnya kurikulum adalah sebuah elemen yang juga memiliki peran penting dalam output yang akan dihasilkan dunia pendidikan nantinya. Namun, aplikasi yang benar dan perhatian yang serius akan menjadi bahan kajian serta kritikan ketika konsep kurikulum ini justru tidak seperti apa yang diharapkan. Terlebih menyimpang atau tidak sepenuhnya sesuai kebutuhan peserta didik. Dalam membuat sebuah kurikulum, kita perlu memperhatikan bagaimana kondisi peserta didik itu. Kemudian bagaimana kita menyampaikannya? Apa saja yang sesuai untuk bisa diberikan kepada siswa? Apakah sesuai ataukah tidak? Semuanya itu perlu diberikan sebuah kajian tersendiri. Pada makalah ini, akan diulas terkait dengan kurikulum pendidikan di Indonesi dilihat dari epistemologi.


Epistemologi diperlukan dalam pendidikan antara lain dalam hubungannya dengan penyusunan dasar kurikulum. Pengetahuan apa yang harus diberikan pada anak didik, diajarkan di sekolah dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan dan cara menyempaikannya seperti apa? Semua itu adalah epistemologinya pendidikan. Lahirnya KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) adalah salah satu usaha baik dari pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Baik dari segi kognitif, afektif, dan psikomotor. Di mana pendidikan yang sebelumnya lebih mengarahkan siswa pada aspek kognitif saja. Akan tetapi apa aplikasinya? Munculnya KBK justru membuat kebingungan tersendiri di kalangan para pengajar. Pada peserta didik sebagai subyek pendidikan, mereka menjadi “korban” dari KBK ini. Kejenuhan, kebosanan, merasa tidak ada waktu untuk bermain merupakan reson dari akibat peserta didik yang merasakan kurikulum ini. Pada kenyataannya siswa juga tidak jauh berbeda dengan penerapan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Aspek kognitif yang ditekankan. Secara konseptual, KBK memang diakui bagus. Akan tetapi dalam tataran aplikasi? Masih sangat jauh sekali.


Salah satu contohnya adalah, adanya Ujian Nasional. Ujian Nasional yang diadakan setiap tahunnya menuai kritik dari mereka yang kontra dengan adanya Ujian Nasional. Pasalnya, setiap tahunnya nilai maksimal standart kelulusan UN selalu mengalami kenaikan. Rencananya tahun 2007 ini, nilai standart UN akan dinaikkan menjadi 5.00. Berbagai respon yang dialami siswa beragam. Stress, siswa pandai tidak lulus, membakar gedung sekolahan dsb sebagai upaya menunjukkan ekspresi kekesalan pada diri mereka karena tidak lulus. Mereka yang memiliki keahlian dalam sepak bola atau basket misalnya, dan mengalami kesulitan dala perhitungan, bagaimana dia bisa lulus? Jika kemampuan matematikanya lemah? Di sisi lain prestasi anak terkait dengan basket atau sepak bola membumbung tinggi. Begitu pula dalam tataran Perguruan Tinggi. Artikel yang ditulis Achmad Sjafii dalam Surat Kabar Harian Kompas berjudul “Pengangguran Intelek da Kurikulum PT” cukup membuka mata kita, bahwa ternyata kurikulum (menurut Achmad) yag dibuat Perguruan Tinggi belum mencukupi kebutuhan yang diingikan pasar. Kebanyakan lulusan Perguruan Tinggi lebih berpikiran global daripada tataran teknis.


Melihat kondisi ini, dilihat dari sudut epistemologi adalah seharusnya pengetahuan apa yang harus diberikan kepada anak didik?. Hal ini tentu terkait dengan pengetahuan kita akan kebutuhan yang diperlukan anak didik. Harus mengetahui dan memahami berbagai kemampuan atau kelebihan atau kecerdasan yang dimiliki anak. tidak bisa semua siswa diberlakukan sama. Sebagai contoh perlakuan antara siswa yang memiliki kemampuan intelektualitas tinggi dengan yang standart. Bagi mereka siswa yang memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata justru akan memilih keluar atau tidur daripada mendengarkan guru mengajar karena merasa bosan, ketika guru memberikan materi yang sebenarnya levelnya disampaikan kepada mereka yang memiliki intelektualitas rata-rata. Mereka harus difasilitasi dengan sesuatu yang lebih. Adanya kelas akselerasi yang notebenennya usaha untuk memfasilitasi anak-anak yag seperti ini teryata menuai pro kontra tersendiri pada beberapa kalangan. Adanya aspek kesenjangan sosial dan adanya pembedaan-pembedaan menyebabkan kontranya sistem ini.


Siswa yang memiliki kelebihan dalam hal musik atau olahraga dan memiliki kemampuan yang minim dalam hal matematika misalnya, tentu dia akan merasa kesulitan atau bahkan tersiksa dengan adanya pelajaran ini. Kondisi ini sungguh memprihatinkan pada banyak kalangan. Pasalnya salah satu syarat kelulusan siswa untuk Ujian Nasional (UN) ternyata matematika termasuk ke dalam mata pelajaran yang diujikan. Yang perlu dipertanyakan adalah apakah kemudian siswa yang memiliki kelebihan seperti itu padahal memiliki kelebihan dalam hal musik atau olahraga termasuk siswa yang bodoh? Bagaimana bentuk penghargaan atas prestasi yang mereka raih? Sejauh ini dari pemeritah terkait dengan Ujian Nasional ini bisa dibilang mereka mash bersikukuh untuk mempertahankan ini. Wapres Jusuf Kalla mengatakan bahwa perlu adanya penghargaan kepada para siswa yang memiliki prestasi dan belajar keras dan mengabaikan yang malas terkecuali ada upaya lebih keras untuk belajar. Pada dasarnya seorang guru atau pendidik adalah memberikan pengajaran dan pendidikan kepada anak didiknya. Baik moral maupun akademis. Mereka yang tidak bisa menjadi bisa. Mereka yang malas menjadi bersemangat dan termotivasi. Mereka yang tidak percaya diri menjadi percaya diri, dan sebagianya. Jika memanga pernyataan dari Wapres seperti itu, di mana peran guru sebagai pendidik yang sebenarnya???


Dunia pendidikan saat ini tengah “digenggam” oleh penguasa kapitalisme. Dunia pendidikan menjadi sebuah ladang bisnis yang cukup menggiurkan. Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan bantuan-bantuan yang lain belum terlalu cukup untuk melakukan pengembangan dan perubahan dalam pendidikan. Daya kreativitas guru tentu juga sangat berpengaruh dalam hal ini. Pengembangan aspek kognitif tentu tidak cukup untuk mengembangakan potensi siswa secara keseluruhan.


Bagaimana cara memperoleh pengetahuan? Pada dunia pendidikan cara memperoleh pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan justru pada sekolah-sekolah swasta yang pada dasarnya tidak ingin tergantung pada kapitalisme semata. Mereka mendidik anak-anak dengan mengembangkanpotensi yang ada dengan harapan anak-anak bisa berkembangan secara maksimal. Cara tradisional, guru dianggap sebagai pusat segala-galanya. Guru yang paling pandai dan gudang ilmu. Siswa adalah penerima. Cara model sekarang, banyak diantaranya mengembangkan metode active learning untuk memacu kreativitas dan daya inisiatif siswa. Guru hanya sebagai fasiltator saja. Guru mengarahkan siswa. Siswa dapat memperolehnya melalui diskusi, problem based learning (PBL), pergi ke perpustakaan, belajar dengan e-learning (internet), membaca dan sebagainya. Cara-cara seperti ini akan memacu potensi siswa daripada siswa diperlakukan hanya sebagai objek yag pasif saja.


Bagaimana cara menyampaikannya?. Pertanyaan ini terkait dengan kompetensi guru serta metode atau gaya pengajaran yang mereka terapkan. Sebenarnya jaman sekarang ini model ceramah yang bersifat pasif sudahbukan jamannya lagi. Akan tetapi dibeberapa sekolah atau bahkan Pergurun Tinggi sendiri masih memberlakukan sistem pengajaran seperti ini. Salah seorang mahasiswi Unair di sebuah fakultas mengeluh karena ternyata masih ada dosennya yang mengajar dengan cara konvensional seperti ini. Cara penyampaian cukup mempengaruhi motivasi siswa dalam belajar. Salah satu contoh SD Kreatif. SD ini memberikan pengajaran yang unik. Kadang guru memberikan pendidikan dengan outbound, dengan bentuk dongeng atau cerita, atau dengan memberikan pesan moral dan mengajak untuk berpikir rasional (rasional thinking).

3 komentar:

Anonim mengatakan...

salut atas tulisan anda.

Achmad Sjafii
dosen FE Unair

Anonim mengatakan...

sootoy

asri mengatakan...

@ pak syafii: terima kasih pak. itu tugas kuliah saya dulu kok :)
@ anonim: sate :)

Poskan Komentar