Blog kawan

Dokumen

Statistik

INFO

DALAM RANGKA TAHUN BARU MASEHI #2012: BLOG SEDANG DIPERMAK ULANG.

Teruslah berjalan hingga kamu merasa sudah tidak ada kekuatan lagi untuk berjalan!

Written By Informasi singkat tentang saya on Sabtu, 29 Maret 2008 | 19.58

Menarik, ketika Jumat (28/3) lalu peristiwa di kantor. Seperti biasa hari Jumat adalah hari di mana program Inspiring Day (klo guyonanannya temen-temen kantor, sepiring day). Meski program baru di kantor, namun dirasa cukup untuk mendekatkan rasa kekeluargaan dan ukhuwah diantara karyawan.

Peristiwa Jumat lalu, sebenarnya hal biasa. Namun, oleh kita-kita dibuat berbeda. Karena adanya momen "pelepasan" salah seorang relawan yang masa kontraknya segera habis, yaitu akhir Maret ini. Okey, di sini saya tidak akan banyak mengulas soal itu. Ada satu hal yang kemudian ingin saya tuliskan di sini terkait dengan apa yang disampaikan oleh salah seorang Asdir di kantor kami. Beliau memberikan sebuah cuplikan film, yang saya pun tidak tahu dan tidak bertanya apa judul film itu.

Cuplikan film berkisah sebuah tim pemain baseball (klo tidak salah) yang bernama Giants. Tim ini bisa terbilang tim yang kader-kadernya banyak yang kurang mumpuni dalam bidangnya. Rada-rada susah di atur sama pelatihnya. Hingga suatu saat, ada berita akan diadakan perlombaan untuk meraih juara tingkat daerah. Sang pelatih pun akhirnya berusaha keras untuk melatih para anak buahnya.

Seringkali sang pelatih memberikan bimbingan rohani pula kepada anak buahnya. Dalam bimbingannya, sang pelatih pun sering mengingatkan kepada anak buahnya bahwa semuanya adalah kehendak Tuhan, sehingga kita semua harus memuji dan bersyukur kepada-Nya. Keberhasilan sebuah kemenangan pun juga berasal dari Tuhan. Dan satu pertanyaan yang kemudian ditanyakan sang pelatih dan semuanya terdiam adalah, "untuk siapa kalian hidup?".

Meski wajah para anak buahnya nampak sekali tak terlalu suka dengan itu semua, sang pelatih merasa optimis dan yakin atas apa yang disampaikannya.
***

Pada suatu latihan, seperti biasa anak buahnya diharuskan latihan merangkak, tangan di bawah, kaki diangkat, dan di atasnya ditumpangi oleh orang lain. Dan mereka diminta untuk berjalan secepatnya. Nampak salah seorang anak buah yang bernama Brock. Anak dengan berat badan yang berlebih ini, seringkali diejek oleh teman yang lainnya. Dia dijadikan ketua tim oleh sang pelatih, namun teman-temannya nampak kurang menyukainya.

Akhirnya, sang pelatih pun meminta dia untuk latihan, mata ditutup, dan satu anak menunggangi di atas badannya (dengan berat badan 73 kg). Brock diminta untuk berjalan merangkak dengan siku kaki diangkat dengan start awal ujung lapangan (luas lapangan kurang lebih sama dengan luas lapangan sepak bola). Brock pun berkata, "paling aku hanya basa 30 yard.". Sang pelatih pun berkata, "aku ingin kau sampai 50 yard.". Dan berkali-kali Brock mengatakan, "aku tidak bisa pelatih. Aku tidak bisa sampai segitu." Dan sang pelatih pun kembali memotivasinya, "berikan usaha terbaikmu untukku."

Akhirnya, sang pelatihpun memaksanya untuk bersedia menjalani latihan itu dari ujung lapangan. Sang pelatih pun, nampak tak habis-habisnya mengatakan, "Brock, berikan usaha terbaikmu. Aku ingin usaha terbaikmu Brock. Kamu adalah pemimpin!". Namun, nampak Brock begitu kelelahan, hingga akhirnya Brock pun berkata, "Pelatih, aku tidak kuat lagi. Sudah sampai berapa aku pelatih?". Dan sang pelatih, "Brock, kamu adalah pemimpin. Berikan usaha terbaikmu Brock. aku ingin usaha terbaikmu. Hiraukan kamu sudah sampai mana, berikan usaha terbaikmu. Lakukan terus Brock, hingga kamu sudah tidak punya tenaga lagi untuk berjalan."

Motivasi-motivasi yang keras terus diucapkan sang pelatih. Namun, sekali lagi Brock kembali mengatakan, "Sakit." dan akhirnya Brock pun berhenti sejenak, dan dia bilang, "aku butuh istirahat pelatih. Sakit." Namun, sang pelatihpun tidak mengijinkannya, "Brock, berikan usaha terbaikmu. Masih 50 langkah lagi. Berikan usaha terbaikmu dan jangan berhenti sebelum kamu merasa sudah tidak ada energi lagi untuk berjalan. Brock....". Sang pelatih terus saja menyemangati, dan berulangkali pula Brock mengatakan, "Sakit."

Hingga akhirnya, Brock mengatakan, "aku sudah tidak kuat lagi..." Dan ternyata, apa kata pelatih? "Brock, kamu tahu berapa panjang kamu berjalan. Sekarang kamu sampai di ujung lapangan."
***

Subhanallah... sebuah film yang cukup bagus untuk diambil ibrohnya. Betapa kita seringkali mudah mengatakan, "aku capek, aku lelah, aku tidak bisa, aku tidak mampu". Padahal... sebetulnya kita sendiri masih banyak energi atau kekuatan yang masih harus digunakan semaksimalnya.

Kita tahu bahwa, manusia diperintahkan untuk teruslah bekerja, karena Allah dan Rasul-Nya akan melihat pekerjaanmu itu. Dalam artian memang kita diminta untuk beramal sebaik mungkin dan semaksimal mungkin. Kalau dalam cuplikan film itu, jangan berhenti sebelum kamu merasa sudah tidak punya kekuatan/energi lagi.

Sesungguhnya Allah juga memberikan amanah dan ujian kepada hamba sesuai dengan kemampuan kita. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa sejauh mana kemampuan kita? apakah ketika kita merasa lelah berarti hanya sampai di situ sajalah kemampuan kita? Lalu, bagaimana pula dengan adanya janji Allah, bahwa ujian itu disesuaikan dengan kapasitas masing-masing orang. Dalam hal ini, pemikiran saya adalah bahwa ketika seseorang lulus ujian, maka dia akan diberikan ujian yang lebih tinggi tingkatannya. Begitu seterusnya. Dan faktor penyumbang terbesar adalah kekuatan ruhiyah, hubungan vertikal kita kepada Sang Penggenggam Jiwa.

Ini berarti, bisa saya katakan, sebenarnya kemampuan atau kekuatan kita itu bisa jadi tak terbatas. Karena dengan kondisi kita saat ini, diberikan ujian Allah X misalnya dan ternyata lulus, maka kita akan naik ke jenjang berikutnya. Dan begitu seterusnya. So, kenapa kita sangat mudah mengatakan, "sakit", "aku tidak kuat lagi?" Sudah benarkah apa yang kita katakan itu? Karena terkadang atau sering manusia lebih memilih berada pada kondisi yang perlu dikasihani dan dimaafkan. Kondisi yang enak dan sebenarnya belum maksimal.
19.58 | 0 komentar | Read More

MUSLIM NEGARAWAN DAN PERSPEKTIF UMMAT ISLAM DALAM MENGELOLA NEGARA

Written By Informasi singkat tentang saya on Kamis, 06 Maret 2008 | 13.34

Oleh Purwo Santoso*1) dan Nasiwan*2)

Penulis memiliki hipotesis bahwa spirit dari acara ini adalah untuk menghapuskan hegemoni diskurusus muslim bukan partisipan, orang Islam (komunitas Islam) memiliki hak yang sama dengan elemen bangsa lainya untuk memakai predikat negarawan, yang disebut sebagai ’muslim itu negarawan’. Spirit tersebut dalam dibaca sebagai standing position untuk melakukan ikhtiar dekonstruksi terhadap diskursus yang selama ini sudah mapan.Diskursus yang diproduk oleh negara dan para aktor negara yang selama beberapa periode berkempatan mengelola negara Indonesia.

Ikhtiar dan kerja-kerja intelektual untuk melakukan pembongkaran terhadap diskursus yang sudah mapan sangat penting untuk memberikan payung intelektual bagi membuka keterlibatan Muslim dalam menggunakan dan mengelola negara yang bernama Indonesia. Basis argumentasi yang mapan bagi keterlibatan dan hak moral Orang Islam dalam menggunakan negara atau bekerja dalam rangka negara sangat penting dan strategis. Hal tersebut antara lain dikarenakan selama Indonesia berdiri ada semacam diskursus yang tidak balance, tentang penggunaan kata negarawan, seolah-olah bukan untuk para aktivis Islam, mengapa?

Dalam kontekstasi antar ideologi yang hidup di suatu bangsa, khususnya untuk konteks Indonesia dalam waktu yang panjang demikian jika Islam diposisikan sebagai ideologi, sementara itu juga ada idoelogi lain seperti nasionalisme, sosialisme, maka kemusliman-keislaman seseorang sering kali menjadi barier untuk tampil dalam politik Indonesia.

Ideologi Islam yang biasanya dipadankan dengan perjuangan menegakkan syariah Islam (piagam Jakarta), yang diangkat oleh para aktivis Islam khsusnya partai-partai Islam, seolah-olah menjadi langkah untuk membentuk citra tidak berhak atau setidak-tidaknya dipertanyakan jika para aktivisnya memakai sebutan negarawan. Pendek kata Pintu syariah versus non syariah dalam wacana hampir selalu dimenangkan oleh kelompok non syariah. Para aktivis yang mengusung non syariah seolah lebih berhak menjadi negarawan.

Probelematika negara Islam? berkaitan dengan isu syariah Islam, hal ini ada kaitannya dengan problematika Negara Islam. Yakni dengan lebel negara Islam tidak serta merta ajaran Islam dan ummat Islam menjadi semakin berkualitas, jika Islam itu hanya dijadikan sebagai komoditas saja. Maksudnya Islam hanya dijadikan sebagai mobilisasi loyalitas umat dalam momen-momen politik.

Masuk pada pertanyaan mendasar yang menjadi tema sentral diskusi menurut penulis perlu dipertanyakan, Muslim negarawan mungkinkah? Jawabannya adalah Mengapa tidak? Persoalanya pada sisi empiris politik di Indonesia, oleh berbagai kekuatan politik yang ada, dijumpai suatu realitas politik yang menyatakan kurang lebih bahwa Politik Islam selalu dipersepsikan sebagai partisisan, faksional.

Pertanyaan berikutnya berkaitan dengan wacana peminggiran politik Islam mengapa wacana -- pengetahuan kolektif-- masyarakat Indonesia berpandangan bahwa Islam itu partisan kelompok tertentu bukan aktor yang pantas mewakili negara. Sekiranya ada aktor dari kalangan Islam yang mewakili negara atau masuk bekerja dalam ranah negara tetap saja ada semacam gugatan atas kenegarawannya. Tetap ada tanda tanya?

Mengapa wacana itu melekat?
Hal tersebut antara lain dapat dijelaskan melalui struktur pemaknaan politik Islam yang diposisikan hanya sebagai sub dari politik negara, gambaran tersebut antara lain terlukiskan dalam buku klasik karya Lance Caslte dan Herbet Fieth, “Pemikiran Politik Indonesia”, dan karya –karya para sarjana lain yang datang sesudahnya, berbeda dengan pandangan komunitas Muslim dalam banyak pengkajian yang berkeyakinan ‘ Islam kaffaah ‘ fakta empirisnya belum sejalan dengan keyakinan umat Islam.

Padahal sebagaimana diketahui Wacana itu merupakan software untuk menggiring perilaku konkrit. Hal tersebut didukung oleh adanya kenyataan banyak orang merasa tidak bersalah memiliki pandangan atau setuju dengan pandangan bahwa politik Islam adalah sub dari institusi lain, itu bukti bahwa wacana mengendalikan perilaku.

Warisan sekulerisme hadir di Indonesia dan mengkerangkai cara berfikir kita tentang negara. Bukti adanya kekuatan sekularisme dapat dilacak pada adanya kenyataan terjadinya ketegangan Islam dan nasionalis pada tahun 1950-an yang efeknya masih terasa sampai hari-hari ini. Dalam kontestasi ini ternyata Ummat Islam tidak bisa mengendalikan frame yang digunakan untuk mengarahkan masyarakat Indonesia, khususnya para elitnya.

Dengan demikian tidak salah kiranya jika dinyatakan bahwa Muslim negarawan itu merupakan perjuangan pada arus lembut (software) untuk perjuangan diaras lain, seperti ekonomi, politik, kebudayaan, dan aspek-aspek kehidupan lainnya. Jika umat Islam tidak berhasil membongkar hegemoni pemikiran – diskursus—yang selama ini bercokol dalam benak pemikiran masyarakat Indonesia maka keberhasilan perjuangan pada aspek lainya menjadi sempit peluang keberhasilannya. Dalam jangka panjang ketika secara akumulatif diskursus politik kenegaraan tertutup bagi peran-peran aktivis Muslim, maka tinggal soal waktu peran –peran secara real dalam politik kenegaraan akan tertutup.

II
Bagaimana cara membongkarnya? Pembongkarannya dapat dirunut dengan membaca ulang secara kritis bahwa kehadiran negara kebangsaan ’nation state’ yang pada saat nanti menjadi pijakan –lapangan bermain (kompetisi) antara berbagai aktor yang menisbahkan dirinya dengan negara, dalam kehidupan politik modern dikerangkai dengan tatanan sosial yang disebut demokrasi. Dengan kata lain pintu masuk untuk bisa menggunakan instrumen negara secara syah adalah hanya melalui tatanan demokrasi (the only one game in town).

Dalam frame nation state yang dirangkai dengan tatanan demokratis, peluang pintu masuk untuk menggunakan instrumen negara bagi berbagai kelompok masyarakat, termasuk masyarakat Islam adalah melalui partai politik. Tidak banyak tersedia pilihan lain kecuali lewat partai politik. Disinilah titik persoalan dan dilema mulai ditemukan.

Mengapa yakni karena muslim harus lewat pintu partai, dalam memasuki ranah negara, oleh karennya menjadi berpeluang dan diberi cap partisan.Tidak merupakan wakil seluruh warga bangsa dan karena hal tersebut menjadi banyak kendala untuk lahir menjadi Muslim negarawan dari kalangan aktivis Partai Islam di IndonesiaMenghadapi kondisi yang komplek ini, kita perlu bertanya masih adakah secercah harapan untuk memulai langkah-langkah dekonstruksi? Dalam pandangan penulis sebenarnya dalam sejarah gerakan Islam di Indonesia cukup tersedia eksperimen yang bisa menjadi inspirasi untuk melakukan dekonstruksi hegemoni yang meminggirkan Islam. Eksperimen yang dimaksud adalah adanya strategi gerakan dakwah politik kultural yang lebih populer dengan istilah kembali ke khittah NU 26. Dalam konteks pembahasan ini gerakan kembali ke khitah 26 dapat dibaca sebagai benih-benih pemikiran agar keislaman seseorang tidak menjadi barier untuk menjadi negarawan di Indonesia ( Islam subtansial). Demikian juga langkah yang sama dilakukan oleh Muhammadiyah dengan kembali ke khittoh 1971, serta gerak Dewan Dakwah Indonesia pada era pemerintahan Orba dalam batas tertentu dapat dibaca sebagai untuk melakukan dekonstruksi hegemoni yang memonopoli pengelolaan negara untuk kelompok tertentu.

Mempertimbangkan dilema dan kompleksitas persoalan yang dihadapi oleh ummat Islam mungkin bermanfaat untuk dipertimbangkan suatu pandangan bahwa Keislaman itu tidak harus dinilai dari syariah, tetapi keislaman itu dapat dimulai dari sisi akhlak, yang kemudian menjadi kenyataan sosiologis, menjadi perilaku masyarakat yang kemudian pada tahapannya menjadi norma, lembaga, dan sruktur sosial, ekonomi dan harus diakomodasi dalam berbagai kebijakan negara.

Partai-partai Islam seperti halnya PKS, PPP dll berada dalam posisi unik karna pada satu sisi masuk wilayah partai siap untuk dicap sektarian tetapi inline untuk menjadi negarawan, dengan demikian tingkat kesulitan yang dihadapinya menjadi lebih rumit. Pintu masuk ke wilayah negara bisa melalui organisasional (semisal partai, ormas) dengan demikian kehadirannya dalam ranah negara bukan hanya kebetulan tetapi by desain, dengan segala perlengkapan intelektual yang dibutuhkan.

Dalam konteks ini maka kaderisasi pemimpin perlu dilakukan dengan dua wajah, yakni melalui partai, agar tahu medan politik (keakuan) sebagai kelompok umat, tetapi juga pada saat lain menduduki jabatan simbolik sebagai representasi negara, supaya muncul ’kekamian’ keindonesiaan?Apakah parta partai Islam (PKS,PPP,PBB) dan lainnya sudah melakukan pengkaderan model itu.

Perlu disadari bahwa negara yang demokratis tidak akan terwujud jika setiap faksi behenti dan selesai pada berfikir model faksi”keakuan ’saja, melupakan berfikir kekamian. Memperkuat pernyataan diatas dapat disimak bahwa agenda reformasi yang telah dikumandangkan menjadi berceceran karena hampir setiap orang berfikir keakuan saja ( banyak orng membuat partai hanya dalam kerangka keakuannya kelompoknya saja) dan ini cermin miskinnya negarawanan di Indonesia. Kecenderungan praktek politik sekarang lebih banyak memperagakan pintu politik yang faksionalis

Bagaimana dengan aktor politik yang disebut ’Tentara’, tentara dilihat dari historisnya itu berasal dari gerakan rakyat. Oleh karenanya TNI legitimet berpolitik atas nama negara, tetapi ketika berpolitik berubah menjadi faksi yang menyusup melalui DPR pada jaman Orde Baru. Dan baru pada era reformasi sampai sekarang kembali ke barak. Di era pasca reformasi kalau kembali berpolitik tentara berpolitik dengan politik ”negara”.

Patut dicermati pula bahwa ada sinyalemen bahwa tentara seolah -olah membagi peran yakni pensiunan masuk politik sebagai katup pengaman, jika terjadi perkembangan yang tidak dikehendaki tentara sudah ada yang berada dalam wilayah politik. Terkait dengan peran sentral tentara pelu dicermati ulang bahwa tawaran format menjadi negarawan ala orde baru, yang berlangsung sekitar 30 tahun adalah bukan melalui partai. Bahkan dengan cara melumpuhkan partai. Seakan memperagakan bahwa keutuhan Indonesia dikelola oleh tentara melalui lembaga yang zatnya partai tetapi namanya bukan partai, karena tatanan seperti itu tidak diterima secara luas maka tentara diminta kembali ke barak, tentara profesional tapi juga menghadapi masalah baru tidak punya anggaran.

Bagaimana negarawan secara real ada dalam politik indonesia? Kiranya dapat dinyatakan bahwa negarawan tidak bisa lepas dari politik. Siapapun yang akan menjadi negarawan harus mampu mengarungi medan politik. Sampai sejauh ini Muslim belum bisa menjadi icon negarawan, karena terjebak politik identitas, politik muslim, dipertontonkan lebih untuk menggalang mobilitas loyalitas secara periodik untuk kursi, politik muslim tersesat loyalitas kelompok, tidak menggarap nilai substansi Islam, termasuk politik identitas negara Islam.

III
Muslim negarawan adalah mengelola negara dengan akhlak Islam. Dalam konteks berfikir negara maka mensubsidi orang miskin melalui birokrasi, melalui data based yang jelas, melalui anggaran,yang kemudian hadir dalam kebijakan, serta standar operasional. Orang bisa menjadi Indonesia (nasionalis, negarawan) dan menjadi muslim yang baik. Kecuali ada eksepsi dalam hal aqidah.

Birokrasi selama ini belum bekerja untuk menjadi instrumen negara menjadi orang Islam menjadi negarawan, kalau ada isntrumen negara untuk menjalankan membela orang Miskin dan sejenisnya maka berimpit dengan nilai-nilai Islam. Kemudian berujung pada kebijakan publik, tidak disadari oleh partai, seharusnya materi pengkaderan partai menuju agar birokrasi menjadi insrtumen bagi pembela orang miskin. Negara bisa menjadi instrumen. Bisa di nilai dengan nilai-nilai apapun. Hal teresebut menjadi mungkin jika aktivis partai juga nenjadi sosial movement dan motor sosial movement bisa dari kalangan partai, betapa indahnya negeri ini kalau menjadi penggerak memproduk nilai.

Ada kerangka advanted politik dan penguatan negara. Dengan merujuk pada pespektif diatas kiranya perlu disadari bahwa Negara Islam bisa terjatuh pada perilaku membajak negara untuk kepentingan Islam. Kalau akhah Islam ada referensi sosiologis dulu baru dibuat pasalnya, selama ini diberi nama dulu sementara itu secara sosiologis belum ada.

IV
Disatu sisi ada nilai nilai konsep yang abstrak disisi yang lain ada kenyataan bahwa kepemimpinan yang diterima adalah kepemimpinan intelektual leadership, karena itu perlu ada prosedur yang dibakukan, dioperasionalkan. Islam menjadi manifest sebagaimana negara lain tetapi tidak harus diberi label Islam. Contoh tentang budgeting sebagai kholifah para aktivis Islam maka membuat anggaran negara yang memihak kaum dhu’afa, menjaga lingkungan, yang perlu dijabarkan dalam operasionalisasi di birokrasi. Untuk keperluan itu maka analisis dampak lingkungan perlu dipertimbangkan menjadi materi pengkaderan.

Pada akhir tulisan ini kiranya perlu ditegaskan pernyataan bahwa Teologi Islam menjadi referensi dan negara menjadi intrumen untuk menwujudkan, negara bukan untuk sekedar diduduki. Agenda tersebut kalaupun tidak langsung dilakukan oleh partai, tetapi bisa menjadi supporting agenda setting. Siapa aktornya???? apakah dosen ataukah mejelis syuro, terbuka banyak pilihan.

Simpulan mewujudkan Muslim negarawan agenda yang perlu dikawal kedepan. Cara mengawal dengan mempraktekan hal-hal yang bisa diwujudkan, mengakutualkan ajaran Islam secara kontekstual. Supaya kenegarawan Muslim terus bisa dipertahankan maka yang dilakukan bukan hanya mendudukan tokoh Islam tetapi reproduksi wacana Islam yang operasional, semua itu bisa terwujud jika menyepakati framework intelektual leadership, bukan merujuk pada orang tetapi dipimpin oleh ide intelektualitas.

=====================
1 Dosen FISIPOL UGM, dan Pasca Sarjana, Pembantu Dekan bagian Akademik FISIPOL
2 Dosen FISE UNY, Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Politik UGM.
13.34 | 0 komentar | Read More

Vitalitas

Written By Informasi singkat tentang saya on Selasa, 04 Maret 2008 | 11.39

Oleh: Ustadh Anis Matta, Lc

Para pahlawan mukmin sejati selalu unggul dalam kekuatan spiritual dan semangat hidup. Senantiasa ada gelombang gairah kehidupan yang bertalu-talu dalam jiwa mereka. Itulah yang membuat sorot mata mereka selalu tajam, dibalik kelembutan sikap mereka. Itulah yang membuat mereka selalu penuh harapan di saat virus keputusasaan mematikan semangat hidup orang lain. Itulah vitalitas.

Tidak pernahkah kesedihan menghinggapi hati mereka?
Tidak adakah jalan bagi ketakutan menuju jiwa mereka?
Pernahkah mereka tergoda oleh keputusasaan untuk mengendurkan diri dari pentas kepahlawanan?
Adakah di saat-saat dimana mereka merasa lemah, cemas, dan merasa tidak mungkin memenangkan pertempuran?

Para pahlawan itu tetaplah manusia biasa. Semua gejala jiwa yang dirasakan oleh manusia biasa juga dirasakan para pahlawan. Ada saat dimana mereka sedih. Ada saat dimana mereka takut. Jenak-jenak kelemahan, keputusasaan, kecemasan, dan keterpurukan juga pernah mendera jiwa mereka.

Tapi yang membedakan dengan manusia biasa adalah bahwa mereka selalu mengetahui bagaimana mempertahankan vitalitas, bagaimana melawan ketakutan-ketakutan, melawan kesedihan-kesedihan, bagaimana mempertahankan harapan di hadapan keputusasaan, bagaimana melampaui dorongan untuk menyerah dan pasrah di saat kelemahan mendera jiwa mereka. Mereka mengetahui bagaimana melawan gejala kelumpuhan jiwa.

Vitalitas hidup biasanya di bentuk dari paduan keberanian, harapan hidup, dan kegembiraan jiwa. Tapi ketiga hal ini dibentuk paduan keyakinan-keyakinan iman dan talenta kepahlawanan dalam diri mereka. Dari sini saya kemudian menemukan bahwa para pahlawan mukmin sejati selalu memiliki tradisi spiritual yang khas. Mereka mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang khas di bentuk oleh keyakinan yang unik terhadap keghaiban. Dengan cara itu mereka mereka mempertahankan stamina perlawanan yang konstan. Kebiasaan-kebiasaan yang khas itu biasanya berbentuk ibadah mahdhah, tapi biasanya disertai dengan perilaku-perilaku tertentu yang sangat pribadi. Misalnya dua contoh berikut ini :

Dalam suatu peperangan kaum Muslimin menemukan betapa kekuatan Ibnu Taimiyah melampaui para mujahidin lainnya. Mereka pun menanyakan rahasia kekutan itu pada Ibnu Taimiyah. Beliau menjawab:"Ini adalah buah dari Ma'tsurat yang selalu saya baca di pagi hari setelah shalat subuh sampai terbitnya matahari. Saya selalu menemukan kekuatan yang dahsyat setiap setelah melakukan wirid itu. Tapi jika suatu saat saya tidak melakukannya, saya akan merasa lumpuh pada hari itu."

Suatu saat - dalam perang Yarmuk - Khalid bin Walid menyuruh dengan marah beberapa pasukannya untuk mencari topi perangnya yang hilang dari kepalanya. Beberapa saat kemudian pasukannya muncul dan melaporkan kalau topi Khalid tidak berhasil ditemukan. Khalid pun marah dan menyuruh mereka mencarai kembali. Akhirnya mereka menememukannya. Tapi Khalid merasa perlu menjelaskan sikapnya yang unik itu. "Dibalik topi perang saya ini ada beberapa helai rambut Rasulullah SAW. Tidak pernah saya memasuki suatu peperangan dan memakai topi ini melainkan pasti saya merasa yakin bahwa Rasulullah SAW selalu mendoakan kemenangan bagi saya."

Itu hanyalah sebentuk hubungan yang sangat pribadi dengan Rasulullah yang pernah menggelarinya "Pedang Allah Yang Senatiasa Terhunus."
11.39 | 0 komentar | Read More

"Ben tak pajange ae (parcele)".

Ingin senyum dan terharu rasanya. Beberapa kali saya mengucapkan kata tasbih. Setelah mendapatkan cerita ini dari salah seorang teman kantor. Meski ceritanya sudah lama, Ramadhan 2007 lalu, tapi tak apalah. Seperti biasa, setiap Ramadhan dan dalam rangka menyambut Idhul Fitri, kantor seringkali mengadakan program sebar parcel kepada para mustahik di seluruh titik di Jawa Timur. Semuanya merupakan daerah-daerah yang menjadi binaan kantor saya.

Suatu hari, ada salah seorang warga masyarakat yang mendapatkan kejutan parcel dari kantor. Satu rumah sekitar 4 orang yang mendapatkan parcel ini. Maklum kaum marginal biasanya tinggal di tempat sempit dan banyak orang pun nggak jadi soal. Yang penting bisa makan dan berteduh. Waktu itu kondisinya bisa dibilang tak berpunya, karena rata-rata sudah usia senja. Klo kita bilang, wis mbah-mbah. Memang ada yang masih separo baya, namun penghasilannya sebagai kuli rendahan pun tak membawa banyak penghasilan.

Empat parcel untuk empat orang di keluarga itu. Betapa senang dan bahagianya ketika mereka mendapatkan parcel-parcel itu. Saya tidak ikut waktu itu ke sana. Namun, mungkin rasa terharu itu ada karena bantuan yang kita berikan. "Mbah, ndang cepet dibuka parcele." kata salah seorang teman kantor yang pada waktu itu penanggung jawab distribusi parcel di daerah tersebut.

Beberapa minggu setelah parcel diberikan, penanggung jawab dari kantor tadi pun datang kembali ke rumah keluarga itu. Dan ternyata, sungguh kaget ketika melihat parcelnya masih utuh dan sama sekali rapi di dalam plastik, lengkap dengan hiasannya. Kawan kantor pun bertanya, "mbah, kok gak di buka parcele? ndang di buka... selak mambu. Isine ndang dienggo, ndang di pangan. Selak bosok mbah!"

Dan, apa kata mbah itu, "ben, tak pajange ae... (parcele).". Gubrag! Waaah...waaah... begitu ya mereka itu. Mungkin saking senangnya mendapatkan kejutan parcel seperti itu. Betapa hari-harinya belum pernah mendapatkan gratisan semacam itu. Baru sekali eh... kok nggak segera dibuka dan di makan dengan alasan mau dipajang aja, biar awet. Luar biasa dan subhanallah. Ya Allah, semoga apa yang kami berikan kepada mereka semata-mata adalah karena-Mu dan semoga membawa manfaat dan keberkahan bagi mereka, dan kami semua. Amiin.
11.17 | 0 komentar | Read More