INFO

DALAM RANGKA TAHUN BARU MASEHI #2012: BLOG SEDANG DIPERMAK ULANG.

Pilihlah Ladang Gersang daripada Ladang Subur

Written By Informasi singkat tentang saya on Minggu, 13 Januari 2008 | 07.41

Teringat akan sebuah cerita dari seorang dosen di fakultas saya. Beliau bercerita pernah beliauanya diundang oleh para guru dalam acara sebuah seminar. Di situ sang dosen pun bertanya, “Bapak-bapak, ibu-ibu, kalau seandainya saya bertanya kepada semuanya, anda pilih yang mana diantara dua kelompok ini. Ada dua kelompok siswa. Kelompok pertama anak-anaknya pandai, berprestasi, mudah diatur, dan penurut. Pokoknya anak-anaknya sudah baik-baik. Kelompok yang kedua, sebaliknya. Anak-anaknya susah di atur, nggak penurut, prestasi rendah. Kira-kira dari dua kelompok ini, bapak ibu guru pilih yang mana? Kelompok pertama atau kelompok kedua?” Tanya sang dosen kepada para guru itu sambil meminta mereka tunjuk jari bagi yang memilih kelompok pertama atau kedua.

Tenryata setelah ditanya, sang dosen pun kaget. Kenapa? Karena hampir semua guru menjawab, mereka memilih kelompok pertama. Sontak kemudian sang dosen berkata, “Kalau seperti itu, bapak ibu bukan guru!” Jawab dengan tegasnya. “Iya, bapak ibu bukan guru.”

Kira-kira dari sini ada yang berpikir dulu, tidak melanjutkan membaca, danmencoba untuk merenungkan. Kira-kira kenapa sang dosen berkata seperti itu dengan tegasnya kepada para peserta (guru-guru)?

Yap, jawabannya adalah mudah saja. Seorang guru adalah seorang pengajar. Seorang guru adalah seorang pendidik. Pendidik dan pengajar adalah mendidik dan mengajari siswa yang semula tidak bisa menjadi bisa. Yang semula tidak bisa membaca, menjadi bisa membaca. Yang semual tidak bisa berhitung, menjadi bisa berhitung, dan seterusnya. “Itulah guru. Pendidik dan pengajar.” Lugasnya.

Dari cerita di sini, saya pun akhirnya teringat lagi. Sebuah cerita tentang pembandingan saya antara pilihan kerja di kantor dengan di tempat kerja yang lain yang notebennya sudah kuat, settle. Saya pernah berkata bahwa, di satu sisi memang enak ketika kita berada di kondisi, lingkungan, organisasi, lembaga, ataupun perusahaan yang notebennya sudah kuat dan baik daripada yang masih perlu perjuangan. Itu wajar bagi setiap orang. Akan tetapi, disadari ataukah tidak sebenarnya kita justru memilih area yang sulit untuk menunjukkan kontribusi kita.

Coba saja kita berpikir sejenak. Ketika kita berada di kondisi yang belum kuat dan penuh perjuangan, memang effortnya cenderung lebih besar, energi besar pun harus dikeluarkan mau tidak mau untuk menopang semuanya. Akan tetapi, justru inilah peluang dan kesempatan besar kita untuk turut bekrontribusi dan mempelrihatkan kontribusi kita di situ. Usaha kecil dan terwujud akan sangat kelihatan penilaian bahwa kita berkontribusi di situ daripada ketika kita berada di kondisi yang sudah kuat. Misalnya saja, dalam pembangunan sebuah masjid, misalnya saja begitu. Masjid belum ada, dan akan diadakan. Akan tetapi dana belum ada, dan harus dicarikan. Ketika berada dalam kondisi ini, sebut saja Fulan mencoba untuk mencarikan dana dengan mengajukan proposal ke sebuah lembaga sosial dan akhirnya diperoleh bantuan. Seratus persen dibantu misalnya.

Dari yang belum ada, menjadi ada. Dari dana yang kekurangan dan belum mencukupi menjadi ada, mencukupi, dan masjid pun jadi. Hingga akhirnya dapat dikembangkan menjadi pusatnya kegiatan masyarakat misalnya. Hal ini tentu akan menjadi catatan sejarah tersendiri bagi fulan. Penilaian kontribusi akan lebih kentara. Daripada, misalnya mencari dana di saat masjid sudah terbentuk. Pencarian dana hanya sampingan saja. Di saat masukan dana dari beberapa donatur atau penyumbang sudah ada misalnya.

Pilihlah ladang yang kering daripada yang subur. Adalah dimaksudkan, bahwa memilih area yang pelru pembangunan dan perjuangan seharusnya dapat disambut dan dimaknai sebagai sebuah ajang peluang besar untuk kita turut menunjukkan kontribusi kita di area itu. Terutama ketika sesuatu yang belum ada itu, kitalah yang mengadakan.

Hmm... inget cerita lain lagi niy. Nggak papa yah, untuk pembaca semoga tambah seneng aja dengan cerita-ceritanya. Saya teringat cerita temen kantor. Mengenai sebuah daerah di Sulawesi (kalau nggak salah, agak lupa-lupa ingat gitu deh...). Daerahya tergolong cukup terpencil. Waktu itu, desa tersebut termasuk dalam daftar daerah yang terkena bencana gempa dalam tekanan yang cukup tinggi. Tim kemanusiaan kantor pun turun ke lapangan dan sampailah ke daerah ini dan memberi bantuan. Dan ternyata, tim kantor kita adalah lembaga yang pertama kali memberikan bantuan dan pertolongan pertama.

Alhasil, setiap kali daerah ini terkena bencana dan mendapatkan bantuan dari lembaga-lembaga lain, pasti mereka mengira dan menganggap lembaga yang membantu mereka itu adalah kantor kita. Sekalipun sebenarnya bukan kita. Subhanallah. Pertolongan dan perjuangan di saat kondisi krisis adalah masa-masa di mana kita akan di kenang. So, jadilah yang pertama di masa-masa krisis ini yah. Jangan terlalu menyesalkan dan justru patah semangat di saat menghadapi ladang yang kering. Petani yang dengan sabarnya mengolah tanah, menanami bibit unggul, menyianginya, dan memupuk akan menuaikan hasil yang memuaskan tentunya, terlepas dari adanya ujian di luar kemampuan manusia.

0 komentar:

Poskan Komentar