Blog kawan

Dokumen

Statistik

INFO

DALAM RANGKA TAHUN BARU MASEHI #2012: BLOG SEDANG DIPERMAK ULANG.

Fenomena Geng Nero=Perilaku Bullying

Written By Informasi singkat tentang saya on Sabtu, 28 Juni 2008 | 22.14

Pertengahan Juni 2008 lalu, media sempat dikejutkan dengan salah satu berita mengenai kekerasan yang dilakukan oleh para remaja putri di Pati, Jawa Tengah. Kelompok yang menamakan dirinya dengan Geng Nero (neko-neko dikeroyok) ini semuanya masih duduk di kelas 1 SMA. Mereka masih tergolong remaja.

Kekerasan yang mereka lakukan cukup mengerikan mungkin bagi kita, yang sebelumnya tidak pernah mengira bahwa akan ada kekerasan yang dilakukan oleh remaja putri. Kekerasan yang dilakukan oleh anak laki-laki, mungkin sudah biasa bagi kita, bahkan tawuran pelajar kerap mewarnai berita-berita di media masa atau telinga kita. Namun, geng ini sepenuhnya adalah perempuan.

Hanya karena persoalan sepele, ada sedikit kesalahan, atau ingin menjadi anggota geng ini, anak kerapkali mendapat ujian atau hukuman. Kenapa bisa sampai sedemikian? Video yang menunjukkan rekaman hukuman serta kekerasan yang dilakukan cukup mengejutkan dan menjadi salah satu bukti polisi untuk melakukan penangkapan terhadap para pelaku atau anggota geng Nero. Video bisa diklik di sini.

Fenomena Geng Nero, lebih banyak diberitakan di media sebagai bentuk kekerasan diantara remaja putri. Banyak pula yang berpendapat bahwa mereka adalah anak yang kurang perhatian, anak yang perlu dijauhi. Bahkan ada yang tidak percaya jika yang melakukan hal ini adalah para remaja putri dan ada juga yang merasa heran, kenapa hanya masalah sepele saja bisa sampai sedemikian rupa?

Perlu diketahui bahwa, banyak macam kekerasan yang ada di sekitar kita. Kekerasan bisa berbentuk fisik (memukul, menendang), verbal (melecehkan, menghina, memberi julukan), ataupun psikologis/sosial. Kekerasan yang biasa kita temui di sekitar kita adalah berupa kekerasan yang nampak atau kebanyakan berupa pemukulan, yakni tawuran antar pelajar. Itu kekerasan yang seringkali kita temui.

Bahkan adanya tawuran pelajar ini, pemerintah sendiri pun nampaknya sudah mulai mengeluarkan kebijakan-kebijakan terkait dengan pencegahan tawuran pelajar. Meskipun, di lapangan tawuran masih kerap terjadi. Dan biasanya memang karena dipicu oleh hal-hal yang sepele, karena persoalan cewek, mengejek, atau lainnya.

Salah satu kekerasan di sekitar kita yang terjadi, selain tawuran, muncul sebuah istilah lain, yakni bullying. Istilah ini, sebenarnya sudah lama ada dan dipakai terutama di luar negeri. Sudah banyak kajian-kajian, diskursus yang membahas perihal bullying di luar negeri. Namun, di Indonesia sendiri masih jarang. Bahkan penelitian pun masih terbatas. Salah satu LSM yang konsen melakukan penelitian ini adalah Yayasan SEJIWA (Semai Jiwa Amini).

Di Indonesia, kadang istilah ini disebut dengan gencet-gencetan, senioritas, dijejer, dll. Namun, menurut Iqbal, 2008 (mantan anggota SEJIWA), kata bullying tidak bisa mewakili istilah-istilah tersebut. Karena bullying ini sifatnya lebih luas. Sehingga pengenalan pun akan tetap menggunakan istilah ini.

Bullying diartikan sebagai bentuk-bentuk perilaku di mana terjadi pemaksaan atau usaha menyakiti secara psikologis ataupun fisik terhadap seseorang ataupun sekelompok orang yang lebih 'lemah', oleh seseorang atau sekelompok orang yang lebih 'kuat' (Ma, Stein & Mah, 2001; Olweus, 1991; Rigby, 1999). Menurut akademis Australia, Ken Rigby menyatakan bahwa tindakan bullying itu termasuk bertujuan untuk melukai, adanya tindakan untuk melukai, kekuatan yang tidak seimbang, biasanya terjadi berulang-ulang, ketidakadilan kekuasaan, kesenangan dinikmati oleh agreasor dan pada umumnya perasaan tertekan ada pada korban (Rigby, 2002).

Sedangkan menurut Besag (1989), bullying atau peer-victimization didefinisikan sebagai sebuah situasi di mana seorang anak atau sekelompok anak secara berulang-ulang melakukan tindakan kekerasan yang disengaja melukai orang lain dalam hubungan kekuatan yang tidak seimbang. Menurut Mellor, 1928 bullying itu sebagai kekerasan jangka panjang, baik mental maupun fisik, yang dilakukan oleh individu atau kelompok terhadap individu yang tidak mampu mempertahankan dirinya sendiri dalam situasi yang tiba-tiba (actual situation).

Secara umum, kesimpulannya sebuah perilaku termasuk dalam perilaku bullying apabila:
  1. Perilaku tersebut dimaksudkan untuk melukai;
  2. Perilaku tersebut dilakukan secara berulang-ulang, baik suatu waktu tertentu atau random tetapi dalam satu rangkaian;
  3. Adanya ketidakseimbangan kekuatan (imbalance power) antara pelaku dan korban;
  4. Pelaku dan korban bisa satu atau kelompok;
  5. Munculnya pengalaman terlukai oleh korban, baik eksternal (fisik) dan/atau internal (psikologi).
Dari kasus geng Nero di atas, kenapa seorang remaja bisa sedemikian sensitif dan sedemikian kejamnya? Ada beberapa aspek yang berhubungan dengan hal ini.

1. Anggota Geng Nero adalah Remaja

Masa remaja merupakan masa sensitif. Bisa dibilang seperti itu. Pada masa ini, remaja mengalami kebingungan dalam mencari identitas. Menurut Erikson, tahapan remaja usia 12-20 tahun sedang berada pada tahap pencarian identitas vs kebingungan peran (ego identity vs role confusion). Menurut Faudzil Adhim, anak remaja seharusnya tidak perlu kehilangan identitas apabila sewaktu kecil mereka sudah dididik sejak dini untuk menemukan identitasnya. Kelak seperti apa mereka besar. Penanaman moral akhlak dan nilai-nilai (value) keluarga harus sudah tertanam sejak dini. Aspek yang akan diulas dalam hal ini adalah aspek emosi dan sosialnya.

Aspek emosi. Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosi yang tinggi. Mencapai kematangan emosional merupakan tugas perkembangan yang sangat sulit bagi remaja. Proses pencapaiannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-emosional lingkungannya, terutama lingkungan keluarga dan kelompok teman sebaya. Dalam menghadapi ketidanyamanan emosional tersebut, tidak sedikit remaja yang mereaksinya secara defensif, sebagai upaya untuk melindungi kelemahan dirinya. Reaksi yang diberikan biasanya tampail dalam tingkah laku maladjustment, seperti: (1) agresif: melawan, keras kepala, bertengkar, berkelahi dan senang mengganggu; dan (2) melarikan diri dari kenyataan: melamun, pendiam, senang menyendiri, dan meminum minuman keras atau obat-obatan terlarang. (Santrock, 2002).

Aspek Sosial. Pada masa ini, juga berkembang sikap “conformity”, yaitu kecenderungan untuk menyerah atau mengikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran, atau keinginan orang lain. Peer group, pembentukan kelompok, membuat kelompok-kelompok yang sama dengan karakteristik dirinya, ingin menonjolkan kelompok mereka, merupakan masa perkembangan di usia-usia ini. Keinginan untuk bisa sama dengan yang lain, untuk bisa diterima oleh suatu kelompok cukup tinggi. Maka, tidak heran jika terkadang seseorang akan bersedia melakukan apapun, selama ia bisa diterima oleh kelompok tersebut. Karena rasa ingin diakui cukup tinggi pada masa-masa ini. Karena bagi sebagian orang, mereka yang akan dikucilkan oleh kelompok merupakan hal yang dapat menyebabkan stress, frustasi, dan rasa sedih (Santrock, 2001).

2. Aspek yang mempengaruhi adanya perilaku bullying
Ada beberapa aspek yang mempengaruhi perilaku ini. Dilihat dari teori Ekologi Bronfenbrenner, bahwa individu itu, dalam perkembangannya selalu dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Begitu juga orang-orang yang terlibat didalamnya (pelaku, korban, penonton/bystander) senantiasa selalu dipengaruhi oleh lingkungannya. Menurutnya, lingkungan itu terbagi menjadi 5, yakni: (1) Mikrosistem. Merupakan level yang paling dasar dan paling sering anak berinteraksi. Misalnya keluarga. Dalam hal bullying, mencakup status anak dalam kontinum bully-korban. (2) Mesosistem. Antara elemen-elemen di mikrosistem saling berkaitan. Misalnya adanya hubungan antara orang tua dengan pihak sekolah dalam meonitor anak. Dalam hal ini adanya kesamaan berpikir antara pihak sekolah dan orang tua dalam melihat perilaku bullying. (3) Eksosistem, termasuk pengaruh dalam konteks lainnya, misalnya efek dari kebijakan bullying yang dimiliki pemerintah atau keikutsertaan orang tua dalam sistem sekolah. (4) Makrosistem. Pengaruh dari aturan-aturan budaya, seperti sikap masyakarat terhadap perilaku bullying. dan (5) Kronosistem, lebih luas dari itu.

Sistem yang paling banyak diteliti adalah level mikrosistem. Karena bagian ini adalah bagian paling dasar. Dalam mikrosistem, ada keluarga, ada sekolah, ada lingkungan sekitar/tetangga. Pola asuh dalam keluarga bisa menjadi salah satu pemicu munculnya perilaku ini. Apakah nantinya kelak anak akan menjadi individu yang agresif atau tidak. Kurangnya perhatian kasih sayang terhadap anak, modelling dari perilaku agresif di rumah, serta kurangnya pengawasan terhadap anak akan memungkinkan munculnya perilaku agresif dan bullying pada anak (Suderman, Jaffe, & Schiek, 1996).

Maka dari itu, kita harus menyadari bahwa sebenarnya perilaku ini sudah sering berada di sekitar kita. Kasus Geng Nero, bagi kita mungkin hal biasa. Akan tetapi apabil kita tidak wasapa, dan bahkan mengabaikan atau menjadi bagian yang mengacuhkan, maka secara tidak disadari kekerasan tersembunyi seperti ini hingga akhirnya sampai ke kriminal dimungkinkan.

{tulisan tentang bullying bersambung lagi Insya Allah}
22.14 | 3 komentar | Read More

Ustadh Anis Matta bicara soal uang {1}

Seorang da’i bicara uang bisa jadi menjadi pro kontra tersendiri. Berikut ini saya rangkumkan ceramahnya ustadh Anis Matta, Lc, yang katanya menjadi pro kontra diantara para kader. Lumayan banyak sebenarnya isinya. Jika dibaca sendiri mungkin adakan menimbulkan diskusi yang cukup panjang dan lama. Mungkin diantara pembaca ada yang berpendapat pro, tapi ada yang kontra. Silahkan disikapi masing-masing pribadi. Yang pastinya, Allah harus selalu di hati :)

Ada 3 poin yang disampaikan Ustadh Anis terkait dengan UANG.

1. Mengapa Islam menyuruh kita kaya?
2. Mencari penjelasan tentang mengapa kita miskin?
3. Bagaimana kita mulai merekonstruksi kehidupan finansial kita.


Ibnu Abid Duni menjelaskan beberapa alasan tentang mengapa kita semua diperintahkan menjadi kaya dalam Islam.

Pertama, karena harta itu tulang punggung kehidupan. Makanya orang kalau tidak punya harta punggungnya rada bungkuk sedikit. Antum lihat orang-orang Amerika kalau datang ke sini tegap-tegap semua kan, karena punya duit. Pejabat-pejabat keuangan kita kumpul di CGI tunduk-tunduk semua, karena mau pinjem duit. Allah mengatakan “Janganlah kamu berikan harta-harta kamu kepada orang-orang bodoh (orang-orang yang tidak sehat akalnya) yaitu harta-harta yang telah Allah jadikan kamu sebagai yang membuat punggung tegap”. Jadi hidup kita tidak normal begitu kita tidak punya uang. Kita pasti punya banyak masalah begitu kita tidak punya uang.


Kedua, Peredaran uang itu adalah indikator kesalehan dan keburukan masyarakat. Apabila uang itu beredar lebih banyak di tangan orang-orang jahat, maka itu indikasi bahwa masyarakat itu rusak. Apabila uang itu beredar di tangan orang-orang shaleh, maka itu indikasi bahwa masyarakat itu sehat. Masyarakat Indonesia ini rusak salah satu indikasinya karena orang-orang shalehnya sebagian besar adalah para fuqara wa masakin. Ahlul masjiddi negeri ini terdiri atas fuqara wa masakin. Bahkan, sebagian besar orang mungkin mengunjungi masjid bukan karena benar-benar ingin ke Masjid. Melainkan karena tidak punya tempat untuk dipakai mengaktualisasikan diri. Antum lihat orang-orang tua yang datang ke masjid biasanya orang yang kalah dalam pergaulan sosial. Kalau dia tentara, biasa setelah pensiun baru dia ke masjid. Kalau dia pedagang biasanya setelah dia bangkrut baru dia ke masjid.

Salah seorang saudara saya cerita, waktu itu ada seorang kaya, sangat kaya di daerah Indonesia. Orangnya masih hidup sekarang. Dia punya private jet. Saking kayanya, dia suka main judi ke London. Pesawat private jet itu jenis Boeing. Jadi kalau pergi dia membawa rombongan, biasanya dia parkir di sana 1 minggu atau 2 minggu. Itu kalau parkir, kan bayar. Selama dia main judi, dia dipersilahkan teman-temannya yang ingin pakai pesawatnya. Seperti layaknya meminjamkan mobil. Sekali main, biasanya bisa rugi sampai 5 juta dollar. Meskipun kadang-kadang untung 8 juta dollar. Sekali waktu mereka main ke sana, sudah beberapa hari kangen dengan Nasi Padang. Dia bilang ke pilotnya tolong ke Singapore beli Nasi Padang terus balik lagi ke London. Begitulah cara mereka menggunakan uang.

Kalaupun orang kaya itu muslim, tidak berjudi, tapi dia tidak punya visi dakwah, dan dia tidak hidup untuk satu misi besar dalam hidupnya. Dia pasti akan menggunakan uangnya untuk kesenangan pribadi, seperti perhiasan dan seterusnya. Saya punya kawan, kalau dia pakai seluruh perhiasannya kira-kira sekitar 2 juta dollar dibadannya, cincinnya 1 juta dollar. Mobilnya 1/2 juta dollar, jam tangannya bisa sampai 2 milyar. Adalagi temannya kira-kira punya 200–an jam tangan. Sebuah jam tangan itu harganya kira-kira 2 milyar.

Lebih buruk lagi, kadang-kadang orang kaya yang tidak baik memakai uangnya untuk memerangi kebaikan. Itulah yang terjadi ketika orang-orang Yahudi memegang kendali keuangan dunia. Maka dari itu, menjadi kaya bagi kita adalah satu keharusan, untuk mengembalikan keseimbangan sosial, kehidupan di tengah-tengah kita.


Ketiga, Terlalu banyak perintah syariah yang hanya bisa dilaksanakan dengan uang. Antum lihat 5 rukun Islam, syahadat tidak pakai uang, sholat tidak pakai uang, puasa tidak pakai uang, tapi zakat dan haji pakai uang. Kalau 200 ribu orang umat Islam Indonesia tiap tahun pergi haji, rata-rata mengeluarkan 5.000 dollar. Coba antum kalikan berapa banyak uang yang beredar untuk melaksanakan satu ibadah. Belum lagi jihad. Jadi kita tidak bisa, berjihad kecuali dengan uang. Misalnya kita di Indonesia sekarang mau pergi ke Palestina untuk pergi berperang, tenaga kita tidak diperlukan karena tenaga sudah cukup dengan ada yang di sana. Rasul mengatakan, “Siapa yang menyiapkan seorang bertempur maka dia juga dapat pahal perang”.

Jadi, banyak sekali perintah-perintah Islam yang memerlukan uang. Waktu Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, di antara hadits-hadits pertama yang beliau sampaikan pada waktu itu adalah afsussalam wa ath’imu tho’am. Jadi, mentraktir itu tradisi nabawiyah. Sering-seringlah mentraktir karena itu perintah Nabi, dan ini turunnya di Madinah pada saat menjelang mihwar daulah. Kira-kira di jaman kita inilah, di mihwar dakwah sekarang. Washilul arham dan sambung silaturahim. Antum akan melihat nanti di akhir penjelasan saya nanti bahwa ciri-ciri orang maju itu salah satunya adalah kalau belanjanya dalam 3 hal lebih besar daripada belanja kebutuhanlauk-pauknya, salah satunya belanja komunikasi. Jadi kalau biaya pulsa kita lebih tinggi itu indikator yang baik. Itu artinya silaturahim kita jalan. Jangan missed call , suruh orang telpon balik.


Keempat, Karena harta itu adalah hal-hal yang dibanggakan oleh manusia sehingga menentukan strata sosial. Antum akan lebih berwibawa dan didengar orang kalau punya uang. Apabila tidak punya uang, biasanya kita juga jarang didengar orang. Misalnya, dalam keluarga. Antum bersaudara ada 7 orang. Kalau kontribusi finansial antum dalam keluarga itu tidak banyak dan bila antum satu-satunya da’i dalam keluarga, dakwah antum juga kurang didengar oleh keluarga. Karena disamping ingin mendengarkan nasihat yang baik orang juga ingin mendapatkan uang yang banyak. Hadiah-hadiah pada hari lebaran, infak-infak, dst dan itu biasanya melancarkan dakwah kita.

Ulama-ulama kita juga meriwayatkan bahwa ternyata diantara hal-hal yang disenangi oleh wanita kepada laki-laki salah satunya adalah uangnya. Perempuan itu katanya menyenangi pada laki-laki kalau dia lebih pintar daripada si perempuan, kalau dia lebih kaya daripada perempuan, lebih kuat daripada perempuan. Dan kepemimpinan itu kan diberikan kepada laki-laki salah satu sebabnya karena kewajiban memberi nafkah itu. Kalau kita ingin berwibawa di depan istri tolong kewajibannya ditunaikan dengan sempurna. Itu akan menaikan wibawa kita di depan istri. Seorang istri itu tidak hanya membutuhkan seorang suami yang romantis tapi juga seorang suami yang romantis dan realistis. Ada seorang akhwat berkata kepada saya, saya sebenarnya tidak materialistis tapi masalahnya kita realistis karena kita tidak bisa hidup tanpa materi. Dan kalau materi kita sedikit maka hidup kita juga akan tidak akan nyaman. Sedikit banyak itu juga penting.


Kelima, harta itu salah satu sebab yang dapat membuat orang itu bisa bahagia di dunia. Jangan lagi pernah bilang “biar miskin asal bahagia”. Sekarang perlu kita balik, “biar kaya asal bahagia”.

Saya ingat guru saya waktu SD selalu mencari kamuflase, bahwa walaupun kita miskin tetap bisa bahagia. Memang bisa, tapi susah. Adalagi yang bilang “uang tidak bisa membeli cinta”. Memang tidak bisa, tapi kalau kita jatuh cinta dan punya uang itu lebih enak. Rasulullah SAW realistis sekali ketika dia mengatakan bahwa diantara yang membuat orang itu bahagia adalah: Pertama, istri yang sholehah, Kedua, rumah yang luar. Dalam hadits lain disebutkan kamar-kamar yang banyak. Menurut Syeikh Qordhowy yang disebut kamar-kamar itu minimal enam kamar. Satu buah kamar untuk suami istri, sebuah kamar untuk anak laki-laki, sebuah kamar untuk anak perempuan, sebuah kamar untuk pembantu, dua buah kamar lainnya untuk kerabat suami dan istri yang datang menginap di rumah. Itu 6 kamar tidak termasuk dapur, ruang makan, ruang keluarga, ruang tamu, perpustakaan keluarga dan mushollah. Kelanjutan dari hadits itu, dan kendaraan yang nyaman.


Kira-kira itu 5 alasan mengapa kita harus kaya. Memang, walaupun kita miskinkita masih bisa bahagia, tapi itu jauh lebih susah. Bahkan terkadang kekayaan itu lebih mendekatkan orang kepada Allah SWT dibanding kemiskinan. Makanya Rasul mengatakan tentang minum susu, makan habatussauda’, madu. Coba kalau antum, misalnya, tidur di atas kasur yang empuk dalam ruangan ber-AC, tidur 2 jam itu bisa sangat nyenyak. Apalagi minum susu hangat sebelum tidur. Bangun pagi minum madu campur habatussauda’.

Saya kira perlu memperbaiki dan melihat kembali pemahaman keagamaan seperti ini secara benar. Sehingga kita jangan menganggap kemewahan itu justru melelahkan orang tapi bikin nyaman. Inilah 5 alasan mengapa harus kaya.

Sekarang saya ingin lebih jauh menembus kembali mengapa kita miskin selama ini. {bersambung}
21.55 | 0 komentar | Read More

Hati-hati Terapkan Pola Asuh ke Anak!

Sore itu, terasa panas. Meski sebenarnya awan lagi mendung. Di ruangan yang kecil, hanya berukuran sekitar 4x5 meter itu, terlihat berkumpul 4 orang didalamnya. Termasuk saya di situ. Perbincangan serasa menghangat ketika ada salah satu diantara kami yang berkata, “Anak itu tidak dididik dan diajari untuk menjadi susah”. katanya.


Ya, pembicaraan kami adalah mengenai kejadian salah seorang anak binaan kami yang cenderung dimanjakan oleh orang tuanya. Secara ekonomi, katanya kekurangan. Namun, secara penampilan nampak berlebihan bila dibandingkan dengan anak binaan lainnya. Entah apakah memang benar-benar tidak mampu dan hanya style, gaya hidupnya saja yang konsumtif ataukah memang sebenarnya kaya? Keinginan untuk terus menelusuri latar belakang ekonomi, terus kami coba lakukan.


“Aku aja dulu pernah disuruh keluar sama guruku, gara-gara aku nggak beli buku. Kan waktu itu, guruku bilang suruh beli buku. Dan aku nggak punya duit klo suruh beli buku. Akhirnya aku pinjem ke kelas sebelah. Kan gurunya punya listing siapa yang beli dan siapa yang nggak beli buku. Akhirnya aku suruh keluar. Ya sudah suruh keluar, ya keluar. Suruh pulang, ya aku pulang. Lha apa korelasinya antara beli buku sama kepandaian. Kan nggak ada?” kata salah seorang dari kami.


“Gak tahu ya, anak-anak jaman sekarang itu semua serba terfasilitasi. Sehingga daya juangnya itu kurang. Aku dulu itu punya sodara. Jadi dia itu apa-apa terfasilitasi. Mau nyuci ada pembantu. Mau nggarap PR, aku dulu yang kerjain itu. Maunya dia beres. Orang tuanya itu pengennya masuk sekolah favorit. Enak orangnya, akunya yang stress. Tapi, itu menjadi sebuah semangat bagiku untuk berjuang.” katanya lagi


Yah, mau tidak mau, sadar ataukah tidak. Kadang orang tua itu serba memfasilitasi anak sesuai dengan apa yang diinginkan anak. Bahkan saking pengennya anak itu menjadi sesuai dengan apa yang diinginkan orang tua, yang tidak diinginkan anak pun kadang diberikan. Dengan alasan, kasihan, biar tidak gaptek, biar senang, dsb.


Minta HP diberi, minta ini diberi, minta itu diberi. Padahal, jika kita tahu. Pola asuh orang tua yang salah akan bisa berakibat negatif bagi si anak yang bersangkutan. Bahkan bisa fatal akibatnya. Beberapa jenis pola asuh yang biasa ada di sekitar kita antara lain:


1. Pola Asuh Otoriter.


Pola asuh ini biasanya orang tua menginginkan anak mutlak seperti apa yang diinginkan orang tua. Peraturan dan keinginan bersifat top down. Jadi nggak ada ceritanya orang tua menerima usulan dari anak. Semuanya bener-bener dari orang tua. Mulai dari A-Z nya. Yah, kayak konvensional gitu lah.


Produknya, biasanya anak akan menjadi orang yang ekstrim. Baik ekstrim ke kanan, maupun ekstrim ke kiri. Ke kanan, anak akan cenderung menjadi pemberontak, tidak taat, penentang. Atau kalau tidak, akan ekstrim ke kiri. Anak cenderung pendiam sekali.


2. Pola Asuh Demokratis


Nah, pola asuh ini biasanya orang tua menyerap aspirasi juga dari anak-anak. Orang tua pandai memposisikan anak tidak hanya sebagai anak saat ini, akan tetapi orang tua menyadari bahwa ke depan, tidak selamanya anak menjadi anak-anak. Dia akan tumbuh remaja dan dewasa. Sehingga, tidak selalu keinginan yang diinginkan akan diturutinya. Orang tua pandai dalam memilah-milah, mana yang baik untuk masa depan anak, mana yang tidak. Tentunya dengan memberikan penjelasan yang baik.


Produknya, biasanya anak yang seperti ini, kemandirian cenderung sudah terbangun sejak dini. Sehingga tidak perlu khawatir bagi mereka yang menjadi orang tua. Daya juang lebih baik. Dan biasanya mampu menerima semua sudut pandang yang ada dan bisa berlaku lebih bijak.


Tapi, hati-hati juga. Dalam dunia nyata, meski pola asuh demokratis diterapkan, ternyata orang tua ada yang terjebak ke dalam memanjakan anak. Dan ini sangat berbahaya bagi kemandirian anak nantinya.


3. Pola Asuh Permisif.


Pola ini adalah lawan dari otoriter. Orang tua cenderung mengacuhkan. Anak mau berbuat apa terserah. Orang tua tidak terlalu ambil pusing dalam hal ini.


Kembali pada topik pembicaraan di atas. Intinya, dari cerita di atas, sang anak binaan ini seringkali meminta ibunya untuk menemaninya. Di taruh di asrama, tidak sampai 1 bulan, meminta ibunya untuk datang. Bahkan setiap kali ibunya datang, makanan pun dibawakan banyak. Bahkan HP pun dibawakan. Huih… ck..ck… Al hasil, si anak pun masih saja dianggap bahwa dia anak-anak. Padahal dia sudah remaja. Sampai di sini dulu. Insya Allah, jika ada kesempatan disambung lagi.

12.40 | 2 komentar | Read More

Waktu adalah...

Written By Informasi singkat tentang saya on Jumat, 27 Juni 2008 | 12.06

Apa yang ada di benak Anda ketika di minta untuk melengkapi pertanyaan. "Waktu adalah... "
Tentu tiap orang akan berbeda-beda. Orang yang memiliki value materialis, kapitalis, tentu lebih memilih waktu adalah uang. Karena ke sana ke mari uang adalah di atas segala-galanya. Mungkin kira-kira begitulah. Berbeda tentunya ketika pertanyaan itu diberikan kepada orang yang memili latar belakang religi yang baik. Mungkin jawabannya akan lain. Apa jawaban Anda, ketika ditanya waktu adalah..........
12.06 | 0 komentar | Read More

Tidak Ada Salahnya Membangun Semangat dengan Mengenang Keberhasilan Masa Lalu

Entah kenapa suasana tidak panas, tidak dingin. Akan tetapi hari-hari rasanya panas namun tidak ada semangat. Problema yang dihadapi semakin banyak. Pikiran melayang kemana-mana dan entah kemana. Entah kenapa dirasa beberapa minggu terakhir, raga serasa sehat tapi pikiran serasa sakit.

Semangat terdalam (inner spirit) pun dirasa tiba-tiba meredup. Tapi syukurlah masih ada baranya. Minimal dikipasin lagi masih bisa nyala lagi. Siang yang panas, saya masuk di sebuah ruangan kecil. Alhamdulillah ada AC lah di ruangan itu. Minimal bisa mendinginkan fisik, meski bukan hati dan pikiran. Perbincangan ngalor-ngidul dimulai. Biasa bicara about our office. Dan sesekali bicara mengenang keberhasilan dalam hidup.

"Kadang saya itu turun semangate pak. Piye sih iso kembali lagi gitu?" tanya saya

"Aku mengenang pengalaman-pengalamanku dulu." kata orang itu
"Bagaimana aku dulu itu nggak punya apa-apa. Aku mlarat. Tapi itu yang kemudian kujadikan spirit untuk terus berjuang." lanjut dia

"Tapi pak, kadang kita itu kan, suka naik turun. Opo maneh yen turun banget. Wis, semangate ilang." tanyaku lagi

"Iya. Kenang pengalaman jaman mbiyen. Ambil spiritnya. Bahwa dulu nggak nduwe opo-opo dan alhamdulillah sekarang sudah bisa begini. Bahkan aku yen perkoro materi, saya bisa cari perusahaan lain yang lebih. Bahkan saya sudah dapat beberapa tawaran kerja di perusahaan besar." katanya

***

Yah, sedikit percakapan di atas adalah percakapan saya dengan salah satu atasan saya di kantor. Memang, semangat orang itu naik dan turun. Dan itu pun tidak menentu. Seharusnya kita bersyukur bahwa ketika semangat itu turun, minimal bara dalam dada masih ada. Jangan sampai menjadi arang. Karena kalau sudah menjadi arang, akan susah nantinya untuk menyalakan lagi. Butuh effort yang lebih besar lagi tentunya. Apalagi, sekarang BBM (Biaya Buat Menghidupi) kan juga semakin meninggi. Jasa psikolog juga pastinya nggak murah. Kecuali punya teman yang dari psikologi, trus konseling ke sana, bisa murah. Kayak ke saya gitu, hehehe.... (just joke)

Rasulullah sendiri juga mengingatkan kepada kita bahwa, senantiasa kita diminta untuk perbaharui iman kita. Agar hati-hati kita kembali tersaring dan bisa bersih lagi. Paling tidak, semangat itu juga kembali menyala-nyala.

Mengenang masa lalu, terkadang pahit bagi sebagian orang yang memiliki pengalaman-pengalaman pahit dalam hidupnya. Apalagi pernah mengalami peristiwa yang membuat dirinya traumatis. Wow... keren.
Akan tetapi kawan, tidak perlu bersedih akan semua itu. Roda selalu berputar. Dan tidak selamanya kita akan di bawah, begitu pula, tidak selamanya kita bisa di atas terus. Kadang kita akan diletakkan oleh Yang Maha Kuasa di atas, kadang juga di bawah. Tergantung diri kita, kuat apa tidak dan lolos ataukah tidak. Tentu jika satu tangga kita berhasil, maka Insya Allah akan dinaikkan ke tangga berikutnya.

Menyakini dan mempercayai bahwa setiap manusia memiliki potensi positif adalah sebuah keharusan yang ditanam dalam-dalam di pikiran kita. Agar, ketika semangat kita mulai turun, kita bisa mengingat usaha-usaha yang luar biasa yang pernah kita lakukan. Dan saya yakin, diantara kawan-kawan, pasti akan berucap "ternyata saya bisa ya!"

Kalau misalnya diantara kawan-kawan ada yang membaca ini dan pas bertepatan dengan anda seringkali memiliki pengalaman negatif, maka relaksasi dan ingat-ingatlah usaha besar yang akhirnya pernah membawa kawan-kawan berhasil itu apa.Yakinilah bahwa pasti ada sisi-sisi atau celah-celah kecil usaha keras yang pernah membuat anda berhasil atau minimal membuat bahagia.

Selamat berjuang dan mari refleksi dengan mengenang usaha keras kita di masa lalu yang positif. Semoga bermanfaat.

Salam semangat baru.
namovanma
12.06 | 0 komentar | Read More

Bersikap asertif dengan mengatakan kata "TIDAK"

Written By Informasi singkat tentang saya on Minggu, 22 Juni 2008 | 21.53

Beberapa hari lalu, saya sempat bersua kembali dengan solmed saya yang di Purwokerto. Meski via YM, bagi saya cukup senang lah bisa kontak kembali. Singkat cerita, dia kemudian curhat ke saya terkait dengan amanahnya. Maklumlah orang psikologi, bisa dijadikan tempat konseling. Mumpung bolo dewe, gratisan ae...

Salah satu hal yang kemudian ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa teman saya mengatakan bahwa, dirinya sulit untuk mengatakan kata "TIDAK" ketika diberikan amanah. Ternyata ketika dia menceritakan amanahnya, luar biasa sekali bahwa amanahnya cukup banyak. Sampai-sampai garapan skripsinya nya pun mbuh bagaimana kabarnya.

Kawan, bisa jadi juga perihal di atas menimpa diri kita juga. Ketika diberikan amanah tugas sulit untuk kemudian mengatakan kata "TIDAK". Kalau guyonannya katanya karena orang Jawa itu biasanya bilangnya cuman nggih-nggih, tapi nggak kepanggih (iya-iya, tapi tidak kesampean). Bisa jadi juga siy karena itu, tapi kalau yang ini saya belum melakukan analisa lebih lanjut.

Berbicara soal sulit untuk mengatakan kata "TIDAK", jadi ingat akan sebuah istilah dalam psikologi, yakni "asertif". Asertif adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Dalam bersikap asertif, seseorang dituntut untuk jujur terhadap dirinya dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhan secara proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan atau pun merugikan pihak lainnya (Rini, 2001.

Berikut di bawah ini saya copikan beberapa hal tentang asertif. (Sumber: http://www.e-psikologi.com/dewasa/assertif.htm).

Mengapa orang enggan bersikap asertif ?

Kebanyakan orang enggan bersikap asertif karena dalam dirinya ada rasa takut mengecewakan orang lain, takut jika akhirnya dirinya tidak lagi disukai ataupun diterima. Selain itu alasan “untuk mempertahankan kelangsungan hubungan” juga sering menjadi alasan karena salah satu pihak tidak ingin membuat pihak lain sakit hati. Padahal, dengan membiarkan diri untuk bersikap non-asertif (memendam perasaan, perbedaan pendapat), justru akan mengancam hubungan yang ada karena salah satu pihak kemudian akan merasa dimanfaatkan oleh pihak lain.

Seberapa asertif-kah Anda ?

Di bawah ini ada beberapa pertanyaan yang bisa Anda tanyakan pada diri Anda sendiri yang dapat menjadi indikator asertivitas.


Apakah Anda terbiasa mengekspresikan secara jelas perasaan atau pandangan Anda pada orang lain ?

Apakah Anda meminta tolong pada orang lain pada saat Anda memang membutuhkan pertolongan ?

Apakah Anda mampu mengekspresikan kemarahan atau pun rasa tidak enak Anda secara proporsional pada pihak lain yang telah membuat Anda merasa sakit hati ?

Apakah Anda suka bertanya pada orang lain pada saat menghadapi kebingungan ?

Apakah Anda mampu memberikan pandangan secara terbuka saat Anda merasa tidak sepaham dengan pendapat orang lain ?

Apakah Anda sering berbicara di depan kelas/umum ?

Apakah Anda mampu untuk berkata “tidak” pada saat Anda tidak ingin melakukan pekerjaan tersebut ?

Apakah Anda berbicara dengan sikap percaya diri, serta berkomunikasi secara hangat ?

Apakah Anda memandang wajah lawan bicara Anda pada saat Anda berbicara dengannya ?


Tips untuk bersikap assertif

Tips untuk mampu mengatakan “tidak” terhadap permintaan yang tidak diinginkan


Tentukan sikap yang pasti, apakah Anda ingin menyetujui atau tidak. Jika Anda belum yakin dengan pilihan Anda, maka Anda bisa minta kesempatan berpikir sampai mendapatkan kepastian. Jika Anda sudah merasa yakin dan pasti akan pilihan Anda sendiri, maka akan lebih mudah menyatakannya dan Anda juga merasa lebih percaya diri.

Jika belum jelas dengan apa yang dimintakan pada Anda, bertanyalah untuk mendapatkan kejelasan atau klarifikasi.

Berikan penjelasan atas penolakan Anda secara singkat, jelas, dan logis. Penjelasan yang panjang lebar hanya akan mengundang argumentasi pihak lain.

Gunakan kata-kata yang tegas, seperti secara langsung mengatakan “tidak” untuk penolakan, dari pada “sepertinya saya kurang setuju..sepertinya saya kurang sependapat...saya kurang bisa.....”

Pastikan pula, bahwa sikap tubuh Anda juga mengekspresikan atau mencerminkan “bahasa” yang sama dengan pikiran dan verbalisasi Anda...Seringkali orang tanpa sadar menolak permintaan orang lain namun dengan sikap yang bertolak belakang, seperti tertawa-tawa dan tersenyum.

Gunakan kata-kata “Saya tidak akan....” atau “Saya sudah memutuskan untuk.....” dari pada “Saya sulit....”. Karena kata-kata “saya sudah memutuskan untuk....” lebih menunjukkan sikap tegas atas sikap yang Anda tunjukkan.

Jika Anda berhadapan dengan seseorang yang terus menerus mendesak Anda padahal Anda juga sudah berulang kali menolak, maka alternatif sikap atau tindakan yang dapat Anda lakukan : mendiamkan, mengalihkan pembicaraan, atau bahkan menghentikan percakapan.

Anda tidak perlu meminta maaf atas penolakan yang Anda sampaikan (karena Anda berpikir hal itu akan menyakiti atau tidak mengenakkan buat orang lain)...Sebenarnya, akan lebih baik Anda katakan dengan penuh empati seperti : “ saya mengerti bahwa berita ini tidak menyenangkan bagimu.....tapi secara terus terang saya sudah memutuskan untuk ...”

Janganlah mudah merasa bersalah ! Anda tidak bertanggung jawab atas kehidupan orang lain...atau atas kebahagiaan orang lain, bukan.....

Anda bisa bernegosiasi dengan pihak lain agar kedua belah pihak mendapatkan jalan tengahnya, tanpa harus mengorbankan perasaan, keinginan dan kepentingan masing-masing.(jr)
21.53 | 0 komentar | Read More

Cak To figur pengemis yang jadi jutawan. Siapa yang mo nyusul?

[ Kamis, 12 Juni 2008 ]
Bos Pengemis Tinggal Nikmati Hidup

Cak To, begitu dia biasa dipanggil. Besar di keluarga pengemis, berkarir sebagai pengemis, dan sekarang jadi bos puluhan pengemis di Surabaya. Dari jalur minta-minta itu, dia sekarang punya dua sepeda motor, sebuah mobil gagah, dan empat rumah. Berikut kisah hidupnya.
---

Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto untuk harian ini. Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan ''karir''-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya.

Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong.

Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.

Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang.

Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004.

***

Tidak mudah menemui seorang bos pengemis. Ketika menemui wartawan harian ini di tempat yang sudah dijanjikan, Cak To datang menggunakan mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik.

Meski punya mobil yang kinclong, penampilan Cak To memang tidak terlihat seperti ''orang mampu''. Badannya kurus, kulitnya hitam, dengan rambut berombak dan terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara, orang juga akan menebak bahwa pria kelahiran 1960 itu tak mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah menamatkan sekolah dasar.

Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia, pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli. ''Yang penting halal,'' ujarnya mantap.

Cak To bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usia sepuluh tahun. Menurtu dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI.

Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. ''Dulu awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,'' ungkapnya.

Karena mengemis di Bangkalan kurang ''menjanjikan'', awal 1970-an, Cak To diajak orang tua pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan. Tempat tinggal mereka yang pertama adalah di emprean sebuah toko di kawasan Jembatan Merah.

Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis di Surabaya. Ketika remaja, ''bakat'' Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat.

Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa membela keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. ''Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,'' ungkapnya bangga.

Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Cak To berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau jika uangnya dirampas. Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. ''Wis tak nampek. Mon la nyalla sebet (Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet, Red),'' tegasnya.

Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP. ''Kami berpencar kalau mengemis,'' jelasnya.

Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.

***

Cak To tergolong pengemis yang mau belajar. Bertahun-tahun mengemis, berbagai ''ilmu'' dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya.

Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ''Pokoknya sudah enak,'' katanya.

Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah. ''Saya pernah beli oleh-oleh sebuah tape recorder dan TV 14 inci,'' kenangnya.

Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah.

Cerita tentang ''keberhasilan'' Cak To menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. ''Kasihan, panen mereka gagal. Ya sudah, saya ajak saja,'' ujarnya enteng.

Sebelum ke Surabaya, Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Surabaya Barat. ''Kali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu saudara di kampung,'' tegasnya.

Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke Surabaya Timur.

Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ''pos khusus'', Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan.

Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri.

Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To mengakhiri masa lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cak To terus menunjukkan peningkatan...

***

Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan kepada Cak To. Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap hari.

Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu, Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan.

Menurut Cak To, dia tidak memasang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. ''Ya alhamdulillah, anak buah saya masih loyal kepada saya,'' ucapnya.

Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada masjid dan musala di mana dia singgah. Dia juga tercatat sebagai donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. ''Amal itu kan ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,'' katanya.

Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku tinggal mengejar satu hal saja. ''Saya ingin naik haji,'' ungkapnya. Bila segalanya lancar, Cak To akan mewujudkan itu pada 2010 nanti... (ded/aza)

sumber: http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=5373
21.10 | 0 komentar | Read More

Karena kita punya potensi, patoklah dengan harga maksimal!

Sebuah cerita mengalir dari mulut seorang adik angkatan di kampus saya. Secara detail dia bercerita tentang kisah temannya beberapa hari yang lalu. Singkat cerita sang teman ini hendak pergi ke kampus. Jarak rumah dengan kampus cukup jauh, masih harus menempuh dengan naik 2 lyn (angkot). Pada kesempatan pertama (lyn 1), yakni arah dari rumah ke Joyoboyo (terminal lyn 1). Tidak disangka, ternyata hari itu adalah hari yang bertepatan dengan para sopir angkot di Surabaya hendak berdemonstrasi menentang kenaikan BBM. Singkatnya, para sopir angkot pun berduyun-duyun demonstrasi dan tidak ada satu pun angkot di Surabaya mengangkat penumpang, kecuali hendak ikut demo.

Walhasil, sang teman ini pun tidak bisa pergi ke kampus dengan naik lyn lagi. Padahal jaraknya masih cukup jauh. Kira-kira 10 kilometer. Tidak menelpon orang tuanya, tidak naik becak, tidak pula menelpon temannya yang di kampus untuk menjemputnya. Tapi motivasi yang cukup tinggi, dia akhirnya menyusuri jalan dengan kedua kakinya untuk pergi ke kampus. Wah, luar biasa ya.

Usut punya usut sang adik angkatan saya kemudian bertanya, apa alasannya dia membela untuk ke kampus?Kuliah pun juga tidak banyak mata kuliah pas hari itu. Bahkan sudah terlambat. Namun, jawaban yang diberikan pun singkat. "Karena aku sudah janjian sama teman untuk kerja kelompok di kampus".

Sang adik kelas pun berbilang, "Wah mbak, mungkin yen aku ngono, mending mulih."

Ini adalah cerita pertama.
Cerita ke dua: Dalam sebuah organisasi. Tepatnya adalah organisasi yang menampung para mahsiswa yang menamakan dirinya aktivis. Pada suatu kesempatan, dikatakan bahwa dia banyak mengeluh akan amanah yang diembannya. Bukan karena amanahnya yang sudah setumpuk, bukan pula karena masalah yang dihadapinya menggunung. Tapi merasa bahwa dirinya tidak mampu melakukan. Padahal, jika dilihat usaha dan hasil pun belum banyak dilakukan.

Dari dua cerita di atas, sebuah hikmah terbesar yang bisa kita dapatkan adalah, bahwa kita seringkali mematok diri kita lebih pada harga/batasan minimal daripada maksimal dan optimal. Why? Alasan-alasan yang sebenarnya tidak masuk akal, alasan-alasan yang sebenarnya hanya karena urusan demotivasi, like-dislike, dsb seringkali dijadikan sebagai sebuah kambing hitam dalam menjalankan sebuah tugas/amanah.

Padahal Allah sendiri berjanji bahwa tidak akan mungkin seorang hamba itu diuji melebihi batas kemampuannya. Sehingga, seharusnya kita memahami betul apa yang dimaksud Allah di sini. Pernahkan kita bertanya, sebatas mana kemampuan kita? Sebatas mana kekuatan kita? Padahal jangan sampai kita berbilang bahwa kita beriman, bahwa kita tidak mampu, tidak bisa sebelum Allah menguji kita. Sebelum kita mencoba apa yang sedang kita hadapi.

Entah kenapa, manusia atau bahkan diri kita sendiri seringkali mematok harga minimal itu. Setiap manusia yang diciptakan Allah, tidak mungkin tidak ada yang bermanfaat dan tidak mungkin tidak memiliki potensi. Terlepas apakah potensi kebaikan atau keburukan. Bolehlah kita rendah hati, tapi bukan berarti merendahkan harga hati itu sendiri. Harga hati untuk memunculkan spirit seharusnya dipatok maksimal. Karena hati bisa dijadikan sebagai spirit untuk melakukan perjuangan dalam hidup. Hati yang menggerakkan anggota tubuh untuk mau melakukan ataukah tidak.

Dari cerita di atas, apakah kita sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa pasti berjalan sekitar 10 kilometer tidak akan kuat, padahal belum dicoba? Boro-boro dicoba, niat untuk bisa saja belum, apalagi usaha.

Kenapa juga kita seringkali beralasan tidak bisa dan tidak mampu padahal kita belum mencoba? Menarik ketika melihat sebuah cuplikan film (Facing the Giants) yang juga pernah saya tulis di blog ini. Sebuah kalimat dari sang pelatih yang cukup memotivasi anak buahnya untuk melakukan latihan rangkak maut yang akhirnya mampu mencapai garis start awal lapangan hingga pojok lapangan adalah, "Berikan usaha terbaikmu! Jangan berhenti sebelum merasa maksimal tidak punya tenaga lagi!".

Sekali lagi, manusia dibekali dengan segenap potensinya. Kenali diri dan potensi untuk bisa mengembangkan diri kita. Sehingga kita mampu berkontribusi untuk umat ini. Jangan mudah terperdaya dengan ketidakmampuan/ketidakberdayaan kita. Dan jangan mudah mengatakan bahwa "saya menyerah" atau "saya tidak mampu" dengan begitu saja, sebelum mencoba. Sungguh Allah tidak memberikan batasan yang pasti akan kemampuan seseorang. Yang pastinya, Allah memberikan ujian adalah sesuai dengan kadar keimanan seseorang. Ketika seseorang lulus dari tangga pertama, maka Allah akan memberikan kelulusan dan mengangkatnya ke tangga kedua. Di sini dia akan diberikan ujian lagi sesuai dengan kemampuannya. Jika lulus, maka Allah akan menaikkannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Begitu seterusnya, begitu seterusnya.

So, positif thinking saja kepada Allah. Kalau kita yakin bahwa Allah memberi ujian kepada kita adalah sesuai dengan kemampuan diri kita. Maka pahamilah itu, bahwa seberat apapun ujian kita rasakan, bahwa sesungguhnya menurut Allah kita itu mampu untuk mengahadapinya! Seberat apapun itu. So, tidak mungkin kalau menurut Allah kita tidak mampu, Allah memberi ujian itu! So, patoklah harga maksimal. Dan jangan mudah merasa puas atas karya dan kontribusi yang sedang dan pernah kita berikan. Semakin banyak menjelajah, sudah seharusnyalah semakin ingin berkembang dan melebarkan sayap untuk kontributif.
20.38 | 0 komentar | Read More