Blog kawan

Dokumen

Statistik

INFO

DALAM RANGKA TAHUN BARU MASEHI #2012: BLOG SEDANG DIPERMAK ULANG.

Ingatlah Kawan by Andrey

Written By Informasi singkat tentang saya on Rabu, 30 April 2008 | 21.12

Kawan, ingatlah hidup tak selamanya indah
Tangis, tertawa, selalu ada memberi warna
Kawan, renungkanlah hidup tak selalu cerah
Hujan dan badai terkadang menegur semua

Hidup ini penuh dengan cobaan
Berpeganglah pada aturan Tuhan
Hidup ini penuh dengan ujian
Berpeganglah pada ajaran Tuhan

Kala cobaan, datang menghadang
Ingatlah pada Tuhan
ketika senang, datang menjelang
Bersyukurlah wahai kawan
oh... Ingatlah kawan

Lagu yang senantiasa mengiringi kami dalam melakukan aktivitas dan tugas-tugas, di saat kesetresan itu hadir dan di saat kepala terasa berat dan keluhpun tertahan karena ingatan sebuah perjuangan.
21.12 | 0 komentar | Read More

Puisi tak beraturan di tengah lingkaran

Entahlah bingung dan resah rasanya
Ingin menangis tak bisa
Ingin marah pun kepada siapa
Hanya senyuman, tertawaan, dan kadang berlaku tak tentu arah
Yang kemudian bisa dilakukan

Terkadang nampak bicara dan bernyanyi sendiri
Eits... Tapi tidak sedang gila
Kadang terlihat seperti sedang memerankan tokoh antagonis
Namun, kok setelah itu nampak lagi rasa tertawa lepas

Sesekali menirukan lagu yang didengarkannya
Dan terkadang nampak lagi menggeleng-gelengkan kepalanya
"Bete! Bete! Bete!"
"Puyeng!Punyeng!Punyeng!"

Ya, itulah kata-kata yang kadang keluar dari mulutnya
Dan kadang lagi, nampak tak ada di tempat duduknya
Karena ternyata ia harus jalan-jalan ke sana kemari
Dan menyapa beberapa orang yang ia temui
Sambil tersenyum ramah dan akrab

Di tengah-tengah kondisi ini pula
Sebuah senyuman seolah serasa memiliki makna yang sama
Yaitu sebuah kesenduan
Kesenduan akan sebuah kondisi dari perjuangan

"Dibalik senyuman ada kesenduan"
Kadang kalimat itulah yang kemudian muncul
Perilaku-perilaku aneh itu pun akhirnya tersimpul
Bahwa, kita semua sedang stress
Stress... stress... dan stress....

Dan sungguh dibalik senyuman ada makna dalam yang berarti
Sesekali pula terlihat di pojok kantor, nampak terlihat memegang sebuah Qur'an kecil
Dan nada ayat-ayat Qur'an pun terlantunkan

Sungguh bekerja adalah perjuangan pula...
Semoga Allah memberikan yang terbaik
Hanya Allah yang Maha membolak-balikkan hati seseorang

Semoga Allah memberikan kesabaran dan kekuatan dalam perjuangan
Kita tidak tahu apa yang terjadi setelah ini
Hidup bertahan atau hidup berpindah

Maaf, bagi readers ini sekedar puisi yang tak beraturan
Yah... namanya saja, nulisnya pas lagi puyeng juga...
20.56 | 0 komentar | Read More

Peran akhwat dalam menjaring massa

Written By Informasi singkat tentang saya on Senin, 28 April 2008 | 12.45

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه ووالاه، أما بعد:


Dakwah seorang da’iyah akan menjadi lebih ringan diterima masyarakat ketika ia dapat membuktikan dirinya sebagai sosok aplikatif dari nilai-nilai Islam. Karena dia dapat menunjukkan sikap-sikap keteladanan yang lebih mudah untuk difahami, diterima, dan diikuti oleh masyarakat. Oleh karena itu syiar bagi da’iyah adalah “Ashlih nafsaki wad’u ghairaki” (perbaikilah dirimu dan serulah selainmu). Syiar ini menunjukkan bahwa hendaknya seorang da’iyah sebelum menyeru kepada orang lain ia sendiri sudah berusaha mengamalkannya. Sehingga seruannya tidak akan diremehkan dan disamping itu ia pun akan dapat memperkaya dan memperkuat seruannya dengan pengalaman dalam mengaplikasikannya.

Ingatlah bahwa da’iyah bukan hanya sekadar juru penerang, penyeru, dan pembawa hidayah tetapi juga sebagai dalil bagi masyarakat dalam berperilaku. Dengan kata lain perilaku da’iyah akan dijadikan sebagai sebuah alasan dan dalil bagi masyarakat dalam mengikutinya. Oleh karena itu da’iyah harus bisa menjadikan dirinya sebagai cermin dan contoh yang baik bagi masyarakat.


Rasulullah SAW bersabda,

“Seorang mukmin itu adalah cermin bagi saudaranya yang beriman.”Itulah sebabnya perilaku baik ataupun buruk dari seorang da’iyah akan menjadi cermin yang memantul pada perilaku masyarakat. Wajarlah jika Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan "tegakkanlah daulah (Islam) di hatimu niscaya ia akan tegak di atas bumimu."


Rasulullah SAW sebagai figur sentral dalam dakwah sejak sebelum masa kerasulannya sudah dipersiapkan menjadi teladan terbaik di tengah-tengah manusia. Sehingga ketika beliau berdakwah sudah memiliki pribadi yang sempurna. Pribadi yang sangat patut dijadikan sebagai contoh terbaik bagi seluruh umat manusia. Allah berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.” (QS.33:21)


Akhwat da’iyah yang dimuliakan Allah
Rasulullah SAW telah mempersiapkan para sahabatnya agar memiliki pribadi teladan yakni Al Syakhshiyah Al Qudwah. Dan seharusnya pribadi tersebut dimiliki oleh setiap da’iyah sebelum melakukan seruan dakwahnya. Pribadi ini mencakup antara “Hablum Minallah dan Hablum Minannas”.


Dalam Hadits riwayat Abdu Na’im dan Baihaki disebutkan bahwa Rasulullah SAW berpesan kepada Muaz Bin Jabal, “Hai Muadz, aku pesankan kepadamu agar bertaqwa kepada Allah, berkata jujur, memenuhi janji, menunaikan amanah, tidak khianat, menjaga hak tetangga, menyayangi anak yatim, berkata lembut, menjaga perdamaian, berbuat kebaikan, menjaga komitmen iman, memahami isi Al Qur’an, mencintai akhirat ………….”


Pribadi da’iyah yang mencerminkan pesan-pesan Rasulullah di atas akan memberikan pengaruh yang besar terhadap masyarakat di sekitarnya. Maka da’iyah yang benar adalah da’iyah yang telah memulai menerapkan nilai-nilai Islam pada dirinya sebelum ia menyerukan nilai itu kepada orang lain.


Akhwat da’iyah yang saya cintai dan hormati
Kita sebagai akhwat diberikan anugerah oleh Allah berupa kelembutan dan kasih sayang yang lebih besar daripada yang diberikan kepada ikhwan. Anugerah ini merupakan modal dan potensi yang menguntungkan dalam merekrut masyarakat ke dalam lingkaran dakwah kita. Merekrut masyarakat harus dilandasi oleh kelembutan dan kasih sayang yang besar. Sehingga kita memiliki kepedulian terhadap permasalahan mereka, baik permasalahan moral maupun materi.
Dengan kepeduliannya kepada masyarakat dai’yah rela mengorbankan jiwa dan hartanya untuk menyelesaikan problematika hidup masyarakat yang ada di lingkungannya. Pengorbanan jiwa bisa dilakukan dengan berlapang dada, mengalah, memaafkan kesalahan, menghormati, menghargai tetangga dan masyarakat di lingkungannya. Allah berfirman, “Maka disebabkan rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras, lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu ……” (QS.3:159)


Sedangkan pengorbanan materi bisa berupa aksi-aksi sosial seperti memberi hadiah, bakti sosial, khitanan massal, santunan anak yatim, pengobatan gratis, pembagian sembako, santunan untuk fakir miskin dan janda, menggalang gerakan orang tua asuh untuk anak-anak fakir miskin dan lain-lain. Untuk melakukan aksi-aksi sosial ini para da’iyah hendaknya pandai membina dan menjalin hubungan dengan para donatur, kerja sama dengan para sponsor, serta pandai menghimpun dan memberdayakan potensi masyarakat.


Akhwat da’iyah yang berbahagia
Dalam kondisi krisis ekonomi ini, masyarakat sangat membutuhkan kepedulian da’iyah untuk menyelesaikan persoalan kebutuhan ekonomi mereka. Maka keteladanan akhwat da’iyah dalam merekrut masyarakat sebagai massa dakwah semakin sempurna ketika sudah dapat memadukan keberadaan kepribadian “Al Syakhshiyah Al Qudwah” yang meliputi hablum minallah dan hablum minannas. Dengan keteladanan yang sempurna tersebut akan menjadi orang yang paling dicintai Allah sebab Rasulullah bersabda, “Orang yang paling dicintai Allah adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain”.


Semoga dengan keteladanan yang sempurna ini, Allah senantiasa memberikan kemudahan, keberkahan, hidayah, keridhaan dan kesuksesan kepada da’iyah seluruhnya. Amin.” Wallahu A’lam

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ - والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

--Seri Taujihat Ri’ayah Ma’nawiyah by kaderisasi PKS--

12.45 | 0 komentar | Read More

1 ons bukan 100 gr

Written By Informasi singkat tentang saya on Selasa, 15 April 2008 | 22.05

PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG.
Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir tahun
lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal.

Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan
satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah.
Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dengan cara menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g.

Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan

SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.
Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini kepada lembaga yang paling berwenang atas system takar-timbang dan ukur di Indonesia, yaitu Direktorat Metrologi. Ternyata, pihak Dir. Metrologi pun telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram.

Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem Internasional
(metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia . Untuk ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan *Ons bukanlah bagian dari sistem metrik* ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan "ons" dan "pound".
Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, ternyata *tidak pernah ada acuan system takar-timbang legal* atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 gram.

Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, *tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus ** Indonesia **.

Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun. Sampai kapan mau dipertahankan ?


BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?
Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan menyesatkan. Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari.

Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1
pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. "Racun" ini sudah tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini. Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin Bagi para guru untuk melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberikan petunjuk resmi.


TANGGUNG JAWAB SIAPA ?
Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak menjadi beban psikologis bagi mereka; *"acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui/ diberlakukan secara internasional, yang menyatakan bahwa :

**1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram."?*

Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ? Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, di negara mana saja selain Indonesia berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram? Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini? Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan *ons yang keliru* ini, sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang pemakaian satuan "ons" dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas).

Sistem baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya system timbangan Indonesia yang konversinya adalah 1 ons *(Depdiknas) * = 100 gram Dan 1 pound * (Depdiknas) * = 500 gram.? Bagaimana "Ons dan Pound *(Depdiknas) *" ini dimasukkan dalam sistem metric yang sudah baku diseluruh dunia? Siapa yang mau pakai?.


HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI.
Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya.

Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan. Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia .

Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan. Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang- Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia. Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi.

Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita harus
dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya, materinya
maupun arah pendidikannya. . Mengejar ketertinggalan dalam hal kualitas SDM
negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat berat. Janganlah malah diperberat dengan *pelajaran sampah* yang justru bakal menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional. Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang Benar sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh dengan tantangan berat.


ACUAN MANA YANG BENAR?
Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford , dll. *(maaf, ini bukan promosi)* menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi. Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian/diary/ agenda yang biasanya diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.
*Salah satu* konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara internasional adalah sistem avoirdupois/ avdp. (baca : averdupoiz).

1 ounce/ons/onza = 28,35 gram *(bukan 100 g.)*
1 pound = 453 gram *(bukan 500 g.)*
1 pound = 16 ounce *(bukan 5 ons)*

Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek? Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum!!!

Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan. (*ini hanya gambaran/ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan, bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)*


KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN - LALU SIAPA ?.
Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan pemerintah, akademis, profesi, bisnis/pedagang, sekolah dan orang tua dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan "ons dan pound yang keliru" dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran sistem timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta *rumus konversi yang benar*. Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan kita, yang bisa mencelakakan/ menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini.


LEMBAR PELENGKAP TAKAR - UKUR - TIMBANG MENGIKUTI SISTEM METRIK
YANG BERLAKU
SEJAK THN *1799*.
*Kuantitas* *Satuan*
*Simbol*
*Keterangan*
Panjang meter m bukan mtr.
Luas meter persegi m2
Isi/volume meter kubik m3
Berat gram g bukan gr.
Takaran liter

1 l = 1000 cm3 (cc)
Suhu/temperature derajat Celcius oC


BEBERAPA SEBUTAN/AWALAN UNTUK FAKTOR PENGALI DALAM SISTEM METRIK
AWALAN FAKTOR PENGALI SIMBOL/SINGKATAN CONTOH PEMAKAIAN
Giga 1.000.000.000 G GHz.
Mega 1.000.000 M MW
kilo 1.000 k km
hecto 100 h ha
deka 10 da dam
deci 0,1 d dm
centi 0,01 c cm
milli 0,001 m ml
micro 0,000.001 *m* mF
dan seterusnya.

Dalam sistem metrik memang dikenal *1 are = 100 m2* khusus untuk ukuran tanah
yang diakui sah secara internasional.
*Untuk satuan ONS yang mengartikan kelipatan 100 g., apalagi POUND yang
mengartikan kelipatan 500 g., tidak pernah ada didalam system metrik maupun
non-metrik/imperial yang pernah diberlakukan sah secara internasional. *

Kiriman dari: Marlinda Sudarma
22.05 | 0 komentar | Read More

Top Markotop vs Jos Gandos

Written By Informasi singkat tentang saya on Sabtu, 12 April 2008 | 11.42

Wacana-wacana tentang nasib ketidakpastian itu telah dilemparkan. Anehnya lagi, bahkan ada yang mengatakan informasi itu sudah pasti dan bukan wacana. Terdengar suara adzan dari masjid sebelah, tanda sholat dhuhur tiba. Namuan, orang-orang yang tengah mengadakan rapat di RSG (Ruang Serba Guna) itu belum keluar juga. Hingga akhirnya tak lama kemudian, semuanya berhamburan keluar. Tak banyak orang memang yang ikut dalam rapat itu. Hanya 10-12 orang saja. Nampak benar wajah-wajah yang berbeda sebelum mereka rapat tadi pagi. Kalimat-kalimat yang mengarah pada salah satu program yang hendak dicancel pun keluar dari para peserta rapat itu. Wajah sang koordinator program nampak tidak seperti biasanya. Meskipun senyum masih nampak di wajahnya.

Entah kenapa dan ada apa, sebelumnya saya pun tidak paham tentang kondisi dan isu yang sedang berkembang. Meskipun demikian, ketika sebuah wacana tengah berkembang, tidak sulit bagi saya untuk kemudian mencari informasi kebenaran dan kejelasannya. Akhirnya setelah beberapa hari bertabayyun, akhirnya informasi pun didapat, dan Insya Allah lebih jelas dan lebih baik.

Di tengah-tengah perasaan ketidakpastian nasib kita, akhirnya kita pun bersama-sama untuk saling menghibur diri. Lontaran kalimat, "kita harus berubah", "kita harus melakukan perubahan", "kita harus lakukan perjuangan terus", "wis pokoke dijalanke disik ae", "bantu dengan doa", dan sebagainya yang sifatnya menguatkan senantiasa dikeluarkan oleh orang-orang di sekeliling saya dan saya sendiri. Di saat kondisi seperti ini pula, selain saling terus menyemangati, akhirnya kita pun juga saling bercanda.

"Sip.... Top Markotop!" Sebuah kalimat yang keluar dari salah seorang Asdir di kantor. Kalimat ini seringkali dia keluarkan ketika menanggapi sesuatu yang menurut dia oke. "mari rapat karo Markom ae, bahasane pake 'mark...mark'. Yen top iku markotop, berarti yen sip, dadi markisip." Gelakan tawa pun akhirnya keluar di sebuah ruangan kecil, ukuran kurang lebih 5x8 meter itu. Entah kenapa, akhirnya saya pun teringat ibu saya di rumah ketika dia memberikan apresiasi kepada anaknya, dia mengucapkan, "wis... jos iku. Jos gandos selawe loro [sudah...bagus itu. Bagus sekali, dua puluh lima dapet dua_red]". Maksudnya adalah bagus sekali (jos gandos). Maklum waktu dulu, duit dua puluh lima itu masih bisa dipakai buat beli makanan yang cukup. Sepuluh rupiah aja dulu masih dapet makanan ringan. Ya mungkin, setara dengan 100 rupiah lah.

Kalimat-kalimat itu yang kemudian menghiasi kita bersama, di saat kondisi adanya wacana ketidakpastian (meskipun, wacana itu belum tentu benar!). Oke bro! Mau ikut kami saling menghibur diri dengan memberikan apresiasi dengan mengucap, "siiip markisip, top markotop, jos gandos selawe loro". Hehehe....

Tulisan ini dibuat untuk menghibur suasana. Oke Bro!
11.42 | 0 komentar | Read More

Ayo dukung UU ITE {bagian 1}

Written By Informasi singkat tentang saya on Jumat, 04 April 2008 | 11.21

UU ITE, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Setelah disahkan dan dikeluarkan oleh Menkominfo, Muhammad Nuh beberapa waktu lalu tengah menjadi pro dan kontra di berbagai kalangan. Yah, wajar saja. Hal seperti itu sudah menjadi fenomena umum, tidak hanya di Indonesia, di seluruh dunia pun seperti itu. Adalah sudah sunnatullah, ketika ada yang hendak berbuat baik, pasti ada pengganggunya, setan. Entah yang kasat mata atau entah yang bisa dilihat mata alias manusia itu sendiri yang biasanya tengah menjadi pengikut atau kader setan. Bukankah setan adalah makhluk yang mengeluarkan Adam dari surga? Ya dijawab sendiri ya.

Terkait dengan isu di atas, sekali lagi ada yang pro dan kontra. Ada yang pesmisi ada yang optimis. Ketika saya tengah dalam perjalanan pulang menuju kantor setelah dari Sidoarjo, bersama dengan beberapa teman kantor naik mobil, tengah terdiam mendengarkan berita radio di gelombang 100 FM, Suara Surabaya (SS). Tepat waktu itu pembahasannya adalah mengenai bagaimana respon masyarakat terkait dengan UU yang dikeluarkan Menkominfo ini yang melakukan pemblokiran situs porno di internet? Di situ juga tengah dihadirkan Syirikit Syah sebagai pembicaranya.

Dari beberapa penelpon yang masuk, mayoritas menyatakan sepakat dikeluarkannya UU tersebut. Meski, ada juga penelpon yang secara tidak langsung (secara implisit) tidak sepakat dan menyampaikan dengan nada emosi menaik. Mulai dari ibu rumah tangga, pemilik warnet hingga pelaku konsumer VCD atau film porno pun turut berkomentar.

Rasa pesimis lebih diarahkan pada ketidakmungkinan pemerintah melakukan pemblokiran situs porno di internet dalam waktu jangka pendek. Di luar negeri saja, misalnya Amerika atau China, butuh waktu berbulan-bulan untuk melakukan itu. Meski hingga sekarang pun belum sepenuhnya 100% terblokir. Bagaimana tidak, situs porno yang dipajang di internet jumlahnya tidak hanya ratusan atau ribuan, bahkan di atas itu. Banyak sekali. Sehingga tidak mungkin secara bersih 100% semua akan terhapus. Meski demikian, para penelpon pun sepakat dan senang dengan dikeluarkannya UU ini.

Selain itu, bagi pemilik warnet juga sepakat adanya UU ini. Meskipun demikian, pastilah ada para konsumer warnet yang kemudian secara tidak diketahui pemilik warnet akan tetap mengaksesnya. Usaha pemblokiran akan tetap dilakukan, dan usaha-usaha lainnya dalam rangka penyelamatan moral anak bangsa ini.

Rasa optimis, lebih ditujukan kepada, tidak ada yang tidak mungkin apabila Tuhan (ALLAH) berkehendak. Apapun hasilnya, yang penting adalah usaha semaksimalnya dulu. Adalah lebih baik ketika pemerintah sudah berusaha dengan mengeluarkan UU ini daripada tidak sama sekali. Harus terus dilakukan sosialisasi dan usaha-usaha kerja keras lainnya. Selain itu peran masyarakat juga perlu dilibatkan.

Satu hal lagi yang kemudian membuat saya tertarik adalah ketika mendengar seorang penelpon dari salah seorang laki-laki yang merupakan konsumer film porno di atas. Dengan berapi-api, dia menyatakan bahwa, "coba tanya saja, laki-laki di dunia ini hampir 99,9% mereka pasti pernah melihat vcd porno. Saya adalah kolektor film-film seperti itu. Bahkan klo saya sudah bosen, saya kasih ke temen-temen saya itu. Iya, apa yang saya katakan adalah benar. Yang paling saya takutkan adalah membohongi diri saya sendiri. Udah!". Hampir saja telepon mo ditutup sang penyiar, "Lho pak, pak... sebentar. Ini saya mau tanya ini pak. Lalu, bagaimana pendapat bapak dengan dikeluarkannya UU ITE ini? Setuju ataukah tidak?". Dan sang penelpon menjawab, "Jaman sekarang ini, banyak jalan menuju ke Roma. Tidak ada rotan, akar pun jadi. Ya!"

***
Dari apa yang tengah terjadi di atas, bahwa sebenarnya apa yang tengah dilakukan pemerintah merupakan salah satu hal yang patut kita hargai. Upaya penyelematan moral bangsa dengan salah satunya adalah dengan pemblokiran situs porno di internet. Karena internet merupakan salah satu media yang saat ini sudah sangat luas dan mudah diakses. Hingga telkom sendiri tengah ada program pendidikan yang membuka jaringan internet masuk desa. Lhah, apa jadinya klo justru internet bukannya digunakan untuk mendidik anak bangsa, mencerdaskan mereka, tapi justru merusaknya?
Adalah sebuah hal yang harus kita dukung atas dikeluarkannya UU ITE ini. Kontra terhadap UU ini adalah sebuah keniscayaan. Karena di dunia ini tidak ada yang tidak jadi "syetan"nya. Sekalipun manusia sendiri. Hehehe... Ingin berbuat baik pun ada ujiannya.
11.21 | 0 komentar | Read More

Kibarkan Merah Putih, Tentang Privatisasi!!!

Kamis (3/4), kemaren, adalah hari yang hmm... lumayan rada panas.Meski udara nggak begitu panas, tapi suasana kok rada panas. Bukan karena hawa atau AC yang dipanasin, tapi karena informasi yang kita terima ketika berkunjung ke Telkom Divre V Ketintang Surabaya. Tapi kita alhamdulillah masih terus menahan emosi itu.

Kita (KAMMI Surabaya), memang tengah menjadwalkan hari Kamis itu untuk berkunjung ke Telkom. Terkait dengan informasi akan dijual kembalinya Telkom. Kita semua tahu bahwa ketika BUMN diprivatisasi/dijual itu apa akibatnya. INDOSAT adalah salah satunya. Di satu sisi, mungkin kita sebagai penggunanya merasa senang karena tarif relatif rendah, hingga sekarang iklannya 0,00000000001...... dst (pembodohan saja!!!!). Info terbaru adalah terkait dengan permintaanpembukaan KODE AKSES telkom. Kode Akses yang di maksud di sini adalah kode tambahan yang ditambah atau diberikan sebelum kode area. Untuk telkom 017, dan untuk indosat 011. Misalnya, anda punya nomer telpon031-7167XXX. Klo kode akses dibuka/pake kode akses maka akan ditambahi 011317167XXXXXX. or klo telkom017317167XXXXXX.

Dampak dari pembukaan kode akses ini antara lain:

1. Terbukanya ruang privasi seseorang/lembaga/ lainnya.Informasi yang ada akan dengan mudah didengar/diakses begitu saja. Dalam hal ini, Singapura. Sudah tidak ada yang namanya pembicaraan rahasia

2. Dengan mudah dan enaknya Singapura akan mengerukkeuntungan dari apa yang telah telkom bangun selama ini. Ibaratnya telkom yang kelelahan bekerja keras membangun, merawat, dan membangun jaringan-jaringan di pedesaan-pedesaan, tapi mereka yang dengan enaknya mengeruk keuntungan. Selain itu, dengan adanya iklan tarif muraaaaaaaaaaaaaaaah bangettttz (katanya begitu) silahkan di cek sendiri apakah itu benar? yang katanya 0,0000000001. ........ ternyata klo IM3 ketika diwaktu 14 menit 50 detik, mati. Bukan karena salurannya yg eros, tp memang disetting seperti itu.

Klo XL, yang katanya sampe puazzz (klo ga salah gitu ya..), ternyata itungannya adalah di awal bayar, habis itu gratis, habis itu bayarrrrrrrrrrrrr teruuuuuuuuuuuuuus. Sempat digambarkan, ibarat saluran kabel, telkom yang membangun jaringan, merawat dll,, eh ternyata ada yang ambil nyambung kabel di tengah kabel itu. Tanpa dana, tapi dapet keuntungan. Ibarat jalan tol, indosat membangun jalan tol sendiri di dekat jalan tolnya telkom, eh lha kok indosat tiba-tiba nyelonong buat jalan yg menembus jalan tolnya telkom. Gak banyak biaya, tapi keuntungan luar biasa!Klo Telkom sebenarnya memang sudah diprivatisasi seh, cuman sekitar 51% ternyata masih milik pemerintah. Lha kalo di minta semuanya 100%???? Waah, Indonesia bakal punya apa. Ayo rame-rame pake kentongan aja. Hehehe….

Klo apa-apa sudah dimiliki oleh Singapura/negara asing lainnya, lalu apa yang Indonesia punya???? Klo kata temen saya, ya salahnya sendiri pengelolanya gak pinter... Tapek deh... Bangsa yang sekarang sudah mayoritas jadi kemiskinan, kini akan dimiskinkan lagi. Sudah dapet minyak tanah mahal, sulit, gas elpiji juga sama. Belum lagi PLN yang hendak akan diprivatisasi.

Ingat, hati-hati dengan iklan tarif rendah. Rendah diawal adalah itu jebakan!!! Saya ingat ketika PLN menyampaikan bahwa apabila masyaratat beli listrik ke PLN, maka sebenarnya dampaknya adalah untuk masyarakat (dalam itungan jangka panjang). Itung-itungan kasarnya adalah, duit yang dikeluarkan PLN (modal) untuk memangun semuanya itu dengan harga jual yang ditetapkan PLN, maka klo dihitung baru akan kembali sekitar 25 tahun. Jika diprivatisasi, selama 3 tahun saja modal sudah kembali. Padahal kita tahu, berapa lama kontraknya pemerintah dengan asing? selama 30 tahun. So, selama 27 tahun lamanya? duit kita kemana???? ya ke asing to???

So? Kibarkan Merah Putih untuk Indonesiaku.
"Sebenarnya hari ini (3/4) adalah hari setengah tiangbuat telkom" Kata Pak Bowo, Wakil Ketua I DPW SekarTelkom.
10.30 | 0 komentar | Read More

Pendidikan Berbasis Komunitas

Written By Informasi singkat tentang saya on Selasa, 01 April 2008 | 20.49

Oleh: Agus Sjafari

Lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar, menengah hingga pendidikan tinggi, dalam jangka panjang harus menjadi pusat persemaian para lulusan yang memiliki keunggulan kompetitif dalam bersaing dengan lulusan-lulusan lain baik tingkat daerah, nasinal bahkan tingkat internasional. Lembaga pendidikan merupakan investasi negara yang sangat menentukan masa depan negara ini. Dengan demikian negara atau pemerintah jangan sekali-kali menyepelekan dan memarginalkan perkembangan pendidikan.

Persemaian lulusan yang memiliki keunggulan kompetitif yang baik di banyak level itu harus lahir dari komunitas yang memiliki kualitas terbaik dan unggul. Dan, setiap lembaga pendidikan harus memiliki sistem dan komunitas yang kuat untuk dapat melahirkan para lulusan yang berkualitas. Komunitas tersebut terdiri dari unsur-unsur sivitas akademika, antara lain tenaga pengajar, karyawan dan anak didik, bahkan lingkungan yang memiliki keunggulan kompetitif. Komunitas yang memiliki keunggulan kompetitif tersebut tentunya harus dibangun melalui sistem pengelolaan fakultas yang jujur, profesional, memiliki etos kerja yang tinggi, amanah, serta memiliki atmosfer akademis yang unggul.

Konsep pendidikan berbasis komunitas pada dasarnya mengacu kepada konsep pemberdayaan komunitas, yaitu bagaimana membuat komunitas pendidikan menjadi berdaya dan mampu memecahkan persoalan-persoalan pendidikan yang dihadapi untuk memenangkan persaingan dengan dunia luar.

Pembangunan komunitas pendidikan mensyaratkan sikap demokratis, yakni semua orang yang ada dalam komunitas memiliki hak yang sama untuk memajukan dan memberikan kontribusi terhadap komunitas tersebut, dan adanya kepercayan (trust) di antara anggotanya. Tanpa itu, bangunan komunitas akan hancur, karena kepercayaan merupakan salah satu modal sosial (social capital) yang sangat tinggi dalam membangun kekuatan komunitas pendidikan tersebut.

Pola hubungan kemitraan (partnership) dalam komunitas pendidikan perlu dibangun dengan kuat. Tidak ada dominasi satu di atas yang lainnya, sehingga tidak bersandar pada orang per orang.

Hal lain yang perlu dibangun dalam memperkuat komunitas pendidikan tersebut, tidak lain adalah intensitas komunikasi. Komunitas yang kuat dibangun berdasarkan aliran komunikasi (communication flow) yang lancar dan tidak tersendat-sendat. Kegiatan dalam sebuah organisasi dan komunitas 80% merupakan kegiatan komunikasi. Komunikasi yang macet akan berdampak buruk terhadap komunitas.

Eksistensi sebuah komunitas pendidikan pada dasarnya harus eksis dan selalu survive dalam perkembangan dunia yang selalu berubah. Sebuah komunitas dianggap kuat dan unggul apabila komunitas tersebut mampu bersaing dan terus-menerus menghasilkan SDM yang selalu dibutuhkan oleh pasar. Di samping itu, komunitas tersebut mampu selalu berkarya dan menghasilkan output pendidikan yang bermanfaat bagi lingkungannya.

Agar komunitas pendidikan tersebut mampu memiliki daya saing yang tinggi, terdapat beberapa prinsip dasar yang harus diterapkan oleh komunitas tersebut, antara lain: adaptability (mampu beradaptasi), growth (tumbuh), integrity (memiliki integritas), dan locality (memanfaatkan potensi lokal). Adaptability adalah proses penyesuaian pengelolaan lembaga pendidikan terhadap perubahan-perubahan yang di dalamnya memiliki keunggulan kompetitif yang dibutuhkan oleh lingkungan, baik lokal, nasional maupun internasional. Dalam konteks ini yang sangat dibutuhkan adalah membangun kompetensi pengelola manajemen pengelola pendidikan dengan menggunakan standar-standar yang objektif dan ilmiah.

Pola adaptasi yang perlu dilakukan oleh manajemen pengelola pendidikan adalah selalu melakukan studi komparatif dengan lembaga pengelola pendidikan lain yang lebih maju. Selain itu, membuka diri untuk masukan dari pada stakeholder yang peduli terhadap komunitas pendidikan tersebut.

Sedangkan growth adalah proses memberikan nilai tambah kepada segenap sivitas akademika yang ada di lingkungan komunitas pendidikan. Pertumbuhan dalam hal ini dilakukan dengan meningkatkan kompetensi bagi segenap sivitas akademika di lingkungan komunitas tersebut. Pertumbuhan itu dilihat dari sisi kualitas, yakni memperkuat aspek kompetensi, dan dari sisi kuantitas, yakni meningkatkan kuantitas peserta didik sesuai dengan kebutuhan dari komunitas tersebut.

Integrity adalah sebagai sebuah proses untuk meningkatkan budaya akademis di lingkungan komunitas pendidikan tersebut. Budaya akademis yang dimaksud adalah terjadinya proses transfer of knowledge bagi setiap anggota komunitas tersebut. Kondisi ini tidak hanya terjadi hanya bagi tenaga pengajar dan peserta didik, melainkan juga terjadi bagi karyawan di lingkungan komunitas tersebut.

Budaya akademis yang dibangun dalam komunitas tersebut tidak lain adalah selalu membuat standar yang objektif dalam setiap kegiatan. Budaya akademis tidak lain adalah selalu menggunakan logika berpikir rasional dan memperkecil subjektivitas dalam setiap kegiatan.

Sementara locality adalah proses mengangkat nilai-nilai lokal yang ada di lingkungan komunitas untuk diadaptasikan ke dalam kurikulum yang memiliki nilai jual dan memiliki daya serap yang tinggi bagi masyarakat, baik bagi masyarakat di daerah khususnya maupun masyarakat Indonesia umumnya.

Potensi lokal yang ada di lingkungan komunitas tersebut pada dasarnya sangat banyak yang bernilai dan memiliki nilai jual yang tinggi. Menggali potensi lokal tersebut tidak lain dengan menggunakan proses analisis dan penelitian terhadap kondisi eksternal lingkungan di luar komunitas.

Apabila beberapa prinsip dasar tersebut dapat dilakukan secara baik oleh komunitas, maka komunitas tersebut mampu menciptakan sistem pendidikan yang berkualitas dan memiliki daya saing yang tinggi. (http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=191544)

Penulis adalah dosen FISIP Untirta, peneliti di
The Community Development Institute (CDI), kandidat doktor IPB
20.49 | 0 komentar | Read More

WASPADAI tanggal 1 April!!!

Tiap tanggal 1 April, ada saja orang—terutama anak-anak muda—yang merayakan hari tersebut dengan membuat aneka kejutan atau sesuatu keisengan. April Fools Day, demikian orang Barat menyebut hari tanggal 1 April atau lebih popular disebut sebagai ‘April Mop’. Namun tahukah Anda jika perayaan tersebut sesungguhnya berasal dari sejarah pembantaian tentara Salib terhadap Muslim Spanyol yang memang didahului dengan upaya penipuan? Inilah sejarahnya yang disalin kembali sebagiannya dari buku “Valentine Day, Natal, Happy New Year, April Mop, Halloween: So What?” (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2005)

SEJARAH APRIL MOP

Perayaan April Mop yang selalu diakhiri dengan kegembiraan dan kepuasan itu sesungguhnya berawal dari satu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan. April Mop atau The April’s Fool Day berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487 atau bertepatan dengan 892 H. Sebelum sampai pada tragedi tersebut, ada baiknya menengok sejarah Spanyol dahulu ketika masih di bawah kekuasaan Islam.

Sejak dibebaskan Islam pada abad ke-8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol berangsur-angsur tumbuh menjadi satu negeri yang makmur. Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol, namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar menuju Perancis. Perancis Selatan dengan mudah bisa dibebaskan. Kota Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, dan sebagainya jatuh. Walau sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi kepada suku Goth dan Navaro di daerah sebelah Barat yang berupa pegunungan.

Islam telah menerangi Spanyol. Karena sikap para penguasa Islam begitu baik dan rendah hati, maka banyak orang-orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan hanya beragama Islam, namun mereka sungguh-sungguh mempraktekkan kehidupan secara Islami. Mereka tidak hanya membaca Al-Qur'an tapi juga bertingkah laku berdasarkan Al-Qur'an. Mereka selalu berkata tidak untuk musik, bir, pergaulan bebas, dan segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lamanya.

Selama itu pula kaum kafir yang masih ada di sekeliling Spanyol tanpa kenal lelah terus berupaya membersihkan Islam dari Spanyol, namun mereka selalu gagal. Telah beberapa kali dicoba tapi selalu tidak berhasil. Dikirimlah sejumlah mata-mata untuk mempelajari kelemahan umat Islam di Spanyol. Akhirnya mata-mata itu menemukan cara untuk menaklukkan Islam di Spanyol, yakni pertama-tama harus melemahkan iman mereka dulu dengan jalan serangan pemikiran dan budaya.

Maka mulailah secara diam-diam mereka mengirim alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari ketimbang baca Qur’an. Mereka juga mengirim sejumlah ulama palsu yang kerjanya meniup-niupkan perpecahan di dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil.

Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa dikuasai pasukan Salib. Penyerangan oleh pasukan Salib benar-benar dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang idbantai, juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua, semuanya dihabisi dengan sadis.

Satu persatu daerah di Spanyol jatuh, Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan. Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara Kristen terus mengejar mereka.

Ketika jalan-jalan sudah sepi, tinggal menyisakan ribuan mayat yang bergelimpangan bermandikan genangan darah, tentara Salib mengetahui bahwa banyak Muslim Granada yang masih bersembunyi di rumah-rumah. Dengan lantang tentara Salib itu meneriakkan pengumuman, bahwa para Muslim Granada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar dari Spanyol dengan membawa barang-barang keperluan mereka. “Kapal-kapal yang akan membawa kalian keluar dari Spanyol sudah kami persiapkan di pelabuhan. Kami menjamin keselamatan kalian jika ingin keluar dari Spanyol, setelah ini maka kami tidak lagi memberikan jaminan!” demikian bujuk tentara Salib.

Orang-orang Islam masih curiga dengan tawaran ini. Beberapa dari orang Islam diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah dipersiapkan, maka mereka segera bersiap untuk meninggalkan Granada bersama-sama menuju ke kapal-kapal tersebut. Mereka pun bersiap untuk berlayar.

Keesokan harinya, ribuan penduduk Muslim Granada yang keluar dari rumah-rumahnya dengan membawa seluruh barang-barang keperluannya beriringan jalan menuju pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai tentara Salib bertahan dan terus bersembunyi di rumah-rumahnya. Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, dengan cepat tentara Salib menggeledah rumah-rumah yang telah itinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika para tentara Salib itu membakari rumah-rumah tersebut bersama orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya.

Sedang ribuan umat Islam yang tertahan di pelabuhan hanya bisa terpana ketika tentara Salib juga membakari kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spanyol. Kapal-kapal itu dengan cepat tenggelam. Ribuan umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa karena sama sekali tidak bersenjata. Mereka juga kebanyakan terdiri dari para perempuan dan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Sedang tentara Salib itu telah mengepung mereka dengan pedang terhunus.

Dengan satu teriakan dari pemimpinnya, ribuan tentara Salib itu segera membantai dan menghabisi umat Islam Spanyol tanpa perasaan belas kasihan. Jerit tangis dan takbir membahana. Dengan buas tentara Salib terus membunuhi warga sipil yang sama sekali tidak berdaya.

Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman. Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh dunia Kristen setiap tanggal 1 April sebagai April Mop (The Aprils Fool Day).

Bagi umat Islam April Mop tentu merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari di mana ribuan saudara-saudaranya seiman disembelih dan dibantai oleh tentara Salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, adalah sangat tidak pantas jika ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Sebab dengan ikut merayakan April Mop, sesungguhnya orang-orang Islam itu ikut bergembira dan tertawa atas tragedi tersebut. Siapa pun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka ia sesungguhnya tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, beberapa abad silam.(rizki)


copy paste: www.eramuslim.com

20.42 | 0 komentar | Read More

Berikan GARANSI bahwa "kamu bisa lakukan itu!"

Sebagai aktivis dakwah, selalu saja kita mendapati partner kerja kita yang merasa dan mengatakan. "saya nggak bisa ukhti/akhi?", "saya nggak kafaah ukh/akh?", dan sebagainya sebagai bentuk defense dari sang kader ketika diberikan amanah atau mendapat tugas yang sifatnya "berlebih" atau "sedikit naik tingkat" atau "menantang".

Adalah benar bahwa seorang kader dakwah itu haruslah bisa bekerja secara profesional (itqon) dan sesuai dengan kemampuan, kapabilitas (kafaah). Namun, sebenarnya tidak menutup kemungkinan bahwa organisasi yang kita tempati saat ini merupakan wadah atau ada yang menyebutnya laboratorium uji coba untuk kita belajar. Belajar mendapatkan pengalaman, dan belajar untuk bisa menimba skill-skill yang besar kemungkinan tidak pernah kita dapatkan di Universitas beneran yang kita jalani. Karena skill-skill istimewa ini seringkali justru bisa kita peroleh dari Universitas Organisasi. Dan memang kenyataannya kawan-kawan yang aktif di organisasi pun nampak jelas perbedaannya dengan kawan-kawan yang non-organisatoris.

Oke, kembali pada pembicaraan awal. Seringkali kita mendapati atau bahkan kita sendiri yang merasakan betapa sebuah amanah menjadi leader sebuah organisasi atau staf yang statusnya adalah sebagai peksos V (Pekerja Sosial indiVidual). Dalam hal ini, tak ayal ketika kemudian banyak kader yang merasa lelah sendiri, kaya amal dan pahal sendiri, dan pada akhirnya keluhan-keluhan pun datang. Entah mengarah kepada leader organisasi atau rekan kerjanya.

Bekerja secara profesional sebenarnya sudah bukan isu yang baru lagi untuk kemudian terus kita angkat. Sudah hal lama dan bukan hal baru. Namun, seperti itulah kondisinya bahwa dari dulu hingga sekarang mau tidak mau, mengakui atau tidak memang kita belum sepenuhnya bisa melakukan kerja-kerja da'wah secara profesional. Kalau seperti di iklan tivi, "ya namanya saja berusaha (belajar)".

Pada dasarnya profesional itu lebih mengarah kepada bagaimana seseorang itu bisa melakukan sebuah kerja dakwah atau melakukan tugas-tugasnya dengan amanah, dengan perencanaan dan timing yang jelas dan tepat sasaran, serta dia mampu membedakan antara personal style dengan profession style. Gaya personal dengan gaya profesi (di kerjanya). Terkait dengan hal ini, saya hendak menyinggung sedikit antara keduanya. Diakui atau tidak, banyak di antara kita atau bahkan kita sendiri terlibat dalam ketidaknyamanan bekerja sama dengan seseorang terkait dengan gaya personalnya, sehingga menyebabkan konflik internal yang bisa jadi berakibat berkepanjangan. Dalam hal ini, tentunya kita bisa melihat dan membedakan antara personal style dengan profession style. Bagi orang-orang yang merasa bahwa dirinya tidak terlalu disukai lingkungannya, seharusnya dia mampu menempatkan dirinya antara personal dengan profession style-nya.

Kebiasaan untuk bekerja individual bisa jadi menjadi personal style. Akan tetapi ketika dia dihadapkan pada sebuah kondisi bahwa dia harus bekerja sama, hendaknya dia bisa mengadaptasikan diri seperti itu. Karena kita berbicara soal profession. Akan sulit rasanya sebuah tujuan tercapai manakala kader tetap mempertahankan diri berada pada kondisi yang dia inginkan sendiri (bekerja individu apa pun kondisinya).

Selain itu, kita pula mendapati bahwa ketidaksukaan (dislike) terhadap sikap seseorang juga seringkali mempengaruhi diri untuk kemudian juga membenci orang tersebut. Pertanyaannya adalah mampukah kita bersikap membenci sikap seseorang TANPA membenci orangnya? Islam sendiri pun, pendidikan yang diajarkan juga lebih mengarah membenci SIKAP bukan ORANGnya. Bagaimana dengan kita?

Berikan Garansi kepadanya
Dalam melakukan kerja-kerja dakwah, seperti apa yang saya ungkapkan di atas, bahwa tidak jarang kader dakwah menolak sebuah amanah dengan defense, alasan bahwa "saya tidak mampu", "tidak kafaah", dsb. Apabila penyakit ini menjangkiti hampir seluruh kader di sebuah organisasi, adalah sebuah hal yang berbahaya menurut saya. Pun kalau sang kader tetap dipaksa, kemungkinan untuk tidak sepenuh hati melaksanakan amanah besar kemungkinan terjadi karena ketidakpahaman arah gerak yang dibawa organisasi atau sebaliknya, saking semangatnya hingga berjalan tiada arah, hanya menurut pikirannya sendiri saja.

Dalam pandangan saya, pada kasus kejadian seperti ini, ada beberapa hal yang perlu kita diketahui (berdasar pengalaman dan pengamatan), sebagai berikut:

1. Perlunya motor/penggerak/muharrik dalam sebuah organisasi
Adalah sebuah hal yang menurut saya sebuah keharusan dan kewajiban adanya seorang penggerak dalam sebuah organisasi. Ibarat sebuah jam tangan, dia tidak akan bisa berjalan, ketika tidak ada yang mampu menggerakannya, yaitu berupa catu daya, batu batterai. Akan stagnan jadinya ketika sebuah organisasi tidak ada yang menjadi motor dalam organisasi. Bisa jadi ada aktivitas yang dijalani, namun besar kemungkinan akan berjalan seolah tanpa ruh dan hanya rutinitas-rutinitas seperti biasa yang ujung-ujungnya dapat menimbulkan kejumudan dalam bergerak.

Penggerak/muharrik di sini tidak harus leader organisasi tersebut. Bisa orang lain yang bukan leader utama organisasi. Bisa ketua program atau justru staf. Meskipun sebenarnya secara nyata seharusnya (das sollen) adalah pemimpin/leader/qiyadah sebuah organisasi. Karena dia lah yang memegang kepemimpinan itu. Sehingga sudah selayaknyalah seorang pemimpin yang sukses, salah satunya adalah dia mampun membangkitkan motivasi anak buahnya yang sudah nampak terpuruk atau mengalami demotivasi.

Orang-orang yang menjadi penggerak adalah mereka yang biasanya:
a. Pernah mengalami perjuangan yang pahit, sehingga ingin kembali menggugah semangat agar tidak kembali terpuruk. Rasa pahit yang pernah ia jalani, akan menjadi sebuah spirit gerak tersendiri bagi dirinya. Dan biasanya orang-orang seperti ini adalah mereka yang juga terlibat dalam roda sejarah.


b. Paham betul visi, misi, strategi, ancaman, dan peluang keberhasilan yang sedang dan akan menimpa organisasi. Orang yang paham akan visi yang dijalankan, akan nampak sekali konsistensinya dalam memperjuangkan apa yang hendak diraihnya. Program-program yang tidak sesuai visi akan coba diminimalisir dan bahkan dihilangkan sama sekali, karena justru akan tidak sesuai dengan visi yang hendak dicapai.

c. Agresif. Kalau kita amati, kebanyakan dari mereka adalah bersikap agresif. Akan terlihat sekali terutama, para partner yang diajaknya kerjasama kuran atau bahkan tidak tahu dan bingung mengenai arah gerak roda organisasi. Karena mereka yang merasa bingung dsb, justru sedikit banyak memiliki pengaruh terhadap kecepatan transformati menuju arah perubahan organisasi.

d. Memiliki mindset/paradigma positif, membangun, komprehensif, dan transformatif.Paradigma merupakan cara pandang seseorang dalam melakukan sesuatu. Paradigma inilah yang kemudian menghantarkan seseorang dalam menyikapi atau memandang sesuatu. Ketika seseorang memandang dunia itu gelap, maka sekalipun banyak cahaya dan lampu PLN yang bertebaran, dunia tetap saja akan gelap (dalam makna permitsalan). Begitu sebaliknya. Jika memandang dunia itu bercahaya, maka sekalipun dunia itu gelap, dia pun akan melihat celah cahaya itu. Masih ingat dengan setengah isi dan setengah kosong karya Parlindungan Marpaung? Kalau Anda ditanya, Anda pilih mana antara setengah isi dan setengah kosong? Berdasar buku tersebut, setengah isi menunjukkan sikap positif, paradigma positif kita dalam memandang sesuatu. Begitu sebaliknya, setengah kosong menandakan kita lebih melihat sesuatu hal mengarah ke perihal negatif.

2. Sebarkan energi positif seluas-luasnya dan minimalkan energi negatif
Masih ingat firman Allah dalam surah Al-Hujurat: 11 yang berbunyi
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."

Sebarkan energi positif di mana Anda berada. Termasuk didalamnya berucap atau memanggil nama panggilan seseorang sekalpin. Islam sendiri, dalam memanggil mengajarkan untuk memanggil nama yang disenangi. Karena dari hal seperti ini saja, dapat mengundang energi negatif. Sehingga dengan sendirinya akan tercipta lingkungan yang kurang kondusif dalam bekerja. Dari gurauan, ejekan, dan celaan, meskipun menurut beberapa orang adalah hanya "guyon" saja atau sebagai bentuk rasa kedekatan, namun masih tetap saja sebenarnya tidak dibenarkan. Hal seperti ini apabila diulang-ulang dapat menimbulkan apa yang disebut sebagai "bullying" bentuk verbal. Jangka pendek mungkin bisa menimbulkan ketidaknyamanan tadi. Jangka panjang bisa menimbulkan demotivasi, tertekan, tersiksa sendiri dengan hal-hal negatif, bahkan depresi.

3. Berikan garansi pada orang yang kita beri amanah
Menurut Anda bagaimana ketika leader Anda adalah seorang yang otoriter? Tentu sangat tidak sepakat. Bisa jadi demonstrasi karena hal ini. Karena kita sudah bukan jamannya Hitler lagi. Seorang pemimpin otoriter, dalam menjalankan kepemimpinannya cenderung top down perintah/kebijakan yang dikeluarkannya. Menghambat kreativitas anak buahnya dalam berkembang dan berkreasi, hingga nantinya bisa terjerumus ke dalam pendidikan yang tidak mencerdaskan kader. Lain halnya dengan pemimpin yang transformatif. Dia mampu memotivasi dan mendorong anak buahnya dalam melakukan pengembangan dan perubahan sebuah roda organisasi. Dalam setiap perubahan yang hendak dilakukan, tidak ada ceritanya tidak ada yang menolak. Pasti ada yang menolak, di awal-awalnya, resisten, atau apalah bahasa lainnya.

Penolakan tingkat paling rendah menurut saya adalah kebiasaan penolakan dengan alasan tidak mampu atau tidak bisa.
Seorang pemimpin, dituntut untuk bisa memahami potensi-potensi anak buahnya. Sehingga dia mampu memetakan dan mendelegasikan amanah atau menambah amanah kepada kader tersebut. Dalam dalam hal ini, ketika leader tahu potensi anak buahnya sedangkan anak buahnya merasa tidak bisa misalnya, maka sang penggerak harus bersedia untuk memberikan garansi atau keyakinan bahwa ketika kader tidak akan ditinggal, bahwa kader akan terus dibantu, bahwa kita akan senantiasa terbuka apabila ada kesulitan.
Ibarat seorang anak yang takut untuk naik ke atap rumah dengan menggunakan tangga. Kita sebagai orang dewasa atau partner harus menyakinkan bahwa tangga yang akan dia naiki aman, tangga akan dipegangi selama dia hendak naik, dan akan menunggu di bawah manakala dia sudah sampai di atas, serta siap untuk memberikan bantuan dan siap untuk naik ke atas pula bila dibutuhkan. Jangan sampai, kita "mbujuki" (bahasa Surabaya) pada orang tersebut. Yang katanya akan disupport, tapi tahu-tahu ketika sudah sampai di atas, dengan begitunya yang di bawah agak menjauh dan hanya melihat dan memandang saja. Bagi kader-kader yang memang sudah settle, tidak begitu masalah, namun bagi mereka yang masih perlu bimbingan untuk itu, kurang tepat rasanya.
Sepertihalnya pula ketika Rasulullah memilih Mus'ab bin Umair untuk membuka daerah baru, Umar yang dijadikannya panglima perang dan bukan yang lain. Ini semua semata-mata karena Rasulullah memahami potensi dan kemampuan para jundinya. Begitu juga halnya ketika beliau melarang Abu Dzar untuk jadi gubernur.


4. Tetap hargai karya/hasil kerja yang dilakukan kader apapun bentuknya
Saya teringat sebuah cerita dalam sebuah buku karya Parlindungan Marpaung juga. Ketika itu ada salah seorang anak desa yang selalu diejek teman-temannya di sekolah. Karena ke-desa-annya (ndeso), tidak kaya, miskin, dsb. Hingga suatu saat, sang ibu guru yang sangat ia sukai pun ulang tahun. Di kelas, teman-temanny memberikan hadiah dan selamat kepada sang guru. Setelah teman-temannya selesai memberi ucapan dan hadiah, gantian anak itu pelan-pelan mendekati sang ibu guru. Dia memberikan sebuah kotak kecil. Dengan penuh senyum lembutnya, sang ibu guru membukanya dan ternyata ada sebuah kalung yang sudah tidak baru lagi dan sisa parfum yang nampak masih tinggal separo. Sang guru mengucapkan terima kasih dan memberikan senyuman lembutnya, dia bertanya "kenapa kau memberikan kalung dan parfum ini?". Si anak pun menjawab, "itu adalah kalung dan parfum sisa ibuku yang telah meninggal. Aku ingin ibu guru memakainya." Apa yang terjadi setelah si anak lulus? Hanya karena rasa senang, senyuman tulus, dan apresiasi sang guru, akhirnya itu dijadikan sebuah semangat positif yang luar biasa bagi sang anak.

Setiap kali lulus menempuh jenjang sekolah dia mengirimi surat kepada sang ibu guru yang berisi "ini berkat kalung dan parfum yang ibu mau memakainya." Hingga dia lulus kuliah, si anak masih memberikan surat dengan isi surat yang isinya sama. Apapun hasilnya kita harus menghargainya.

5. Dahulukan apresiasi, baru kritikan dan masukan
Ini terkait dengan nomor sebelumnya. Berikan apresiasi atau penghargaan terlebih dahulu kepada kader terkait dengan hasil kinerjanya. Baru kemudian berikan kritikan dan masukan yang sifatnya membangun dan positif.

6. Arahkan kader untuk memahami potensi yang dimilikinya
Ajak dan arahkan kader untuk bisa memahami potensi apa yang dimiliki. Hal ini dilakukan dalam rangka untuk menguatkan dan memperbaiki kinerja serta mengoptimalkan kerja-kerja dakwan dalam mensukseskan visi yang dimiliki. Jika misalnya seorang kader lebih cenderung suka menulis dan grafis, akan kesulitan apabila dia ditempatkan di departemen kaderisasi misalnya. Banyak kejadian di sekitar kita, di organisasi kita, atau bahkan melanda diri kita sendiri.

Ketika kita tidak mengenal potensi kita ke mana, akhirnya kita pun dengan "seenaknya" akan ditempatkan di jabatan yang bisa jadi kita sendiri kurang "sreg". Sehingga tidak menutup kemungkinan fenomena, "afwan saya tidak bisa/mampu" pun menjamur. Adalah sangat perlu mengetahui potensi masing-masing kader. Kecuali memang bagi kader-kader yang sifat open experience nya bagus. Rasa keingintahuan wawasan barunya tinggi bisa dijadikan sebagai modal awal untuk bisa daturh atau "dipandaikan" di sana-sini. Meskipun sebenarnya ketika tidak tahu potensinya besar kemungkinan belajar mulai dari nol adalah sebuah kemungkinan yang akan terjadi. Paling tidak dengan mengetahui potensi, akan dapat mengakselerasi atau bisa dilakukan loncatan-loncatan gerak.

Sehingga hal ini dapat mendukung seorang kader itu untuk beraktualisasi diri dan menggiring kepada pemaknaan bahwa berorganisasi bukanlah bekerja dan asal melaksanakan program, akan tetapi berorganisasi adalah aset peluang berharga dan tempat untuk berkarya. Sehingga dapat memungkinkan mampu memompa semangat gerak berjamaah yang bisa bersinergi.

7. Budaya saling mengingatkan
"...kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al-'Ashr:3)

Dalam kerja sama dalam dakwah (amal jama'i), sikap saling mengingatkan dan menasihati tentu sudah bukan bahasanya lagi "sebaiknya" yang lebih mengarah kepada saran. Akan tetapi dengan kata "wajib" dan "menjadi keharusan". Perasaan takut untuk berkreasi dan bertindak/ berperilaku tentu dapat terhindar dan kita bisa menjadi nyaman manakala sistem untuk saling mengingatkan ini digalakkan. Sehingga di situ akan tercipta sebuah lingkaran nasihat-menasihati dan saling mengingatkan. Ukhuwan akan terjalin. Sehingga ketakutan kalau salah, kalau dianggap memberontak, nakal, dsb dapat diminimalisir. Lakukan apa yang kamu pahami, jika salah akan ada yang mengingatkan.

Allahua'lam bishowab.
09.08 | 0 komentar | Read More