Blog kawan

Dokumen

Statistik

INFO

DALAM RANGKA TAHUN BARU MASEHI #2012: BLOG SEDANG DIPERMAK ULANG.

Setelah Sarjana emang mau apa?

Written By Informasi singkat tentang saya on Rabu, 27 Februari 2008 | 18.37

Setelah membaca tulisan yang saya posting dengan judul "Makna Belajar Bagi Orang Dewasa", saya jadi ingat cerita sewaktu saya naik sebuah taxi juga. Waktu itu, sang sopir taxi pun bertanya,

"kuliah mbak?" tanyanya
"iya pak."
"di mana?"
"di unair jurusan psikologi."
"sekarang cari pekerjaan semakin sulit mbak. saya coba nyari-nyari dan masukkan banyak lamaran pekerjaan nggak dipanggil-panggil." katanya sambil terus memandangi arah depan.
"oo... iya pak." jawab saya
"klo nggak ada jaringan atau teman dekat ya susah mbak. nggak bisa."
"iya pak." jawabku. Saya hanya membatin saja, "hmm... berarti saya harus bersyukur ya, hidup menjadi kader dakwah. di mana-mana bisa banyak jaringan. Namun, juga tegrantung usaha dan kerja keras individu juga.

***

Di atas adalah cerita pertama. Cerita berikutnya, ada lagi cerita. Yang mungkin biasa kita dengar dan kita temukan. Beberapa hari lalu sempat berbicang dengan salah seorang teman di kantor, yang baru saja bercerita banyak mengenai yudisiumnya. Dan dia bercerita ada salah satu teman yang sempat ia tanyai.
"Habis lulus mau ke mana mas?" tanyanya.
"Yah... biasa mas, cari pekerjaan."
"Ya klo belum dapat?"
"Yah nggak tahu mas."

***

Cerita lainnya, salah seorang teman saya yang sedang menyemangati saya untuk segera lulus. Yah maklum, kita teman seperjuangan di kampus, seangkatan pula. Dan tiba-tiba dia berkata, "Eh, tapi kamu enak ya As, kamu kan udah kerja. Klo aku kan masih harus cari kerja." bilangnya. Dan, saya hanya tersenyum.

#########################

Beberapa fenomena dan cerita di atas, sedikit saya berfleksi bahwa begitu banyak mahasiswa lulusan sebuah perguruan tinggi (swasta dan negeri), tidak pandang bulu, favorit atau un-favorit, semua sama. Ternyata memang tidak semua dapat rejeki yang baik. Allah memerintahkan manusia untuk berkerja secara baik dan profesional. Bekerja sesuai dengan kemampuan dan bersungguh-sungguh, serta diminta untuk ber-fastabiqul khoirot antar sesama.

Memang tidak salah bahwa salah satu pintu rejeki adalah jaringan, dan jaringan adalah silaturahim. Aa Gym juga pernah memberikan tim luar biasanya bahwa rahasia suksesnya adalah perbanyak silaturahim. Dan memang Rasulullah saw bersabda bahwa kita pun diminta untuk perbanyak silaturahim. Karena salah satu keuntungannya adalah memperluas rejeki. Karena dari silaturahim tersebut, antara satu dengan yang lain, hubungan secara emosional pun terbangun. Sudah bisa ditebak, apabila yang satunya ada kesulitan dan butuh pekerjaan, apalagi orang yang dikenal sudah cukup akrab dengan kita dan paham betul bagaimana kita. Apabila kita bisa mumpuni untuk bekerja (dalam pandangan dia) pastilah tidak tanggung-tanggung kita bisa jadi termasuk orang yang lebih awal ditawari pekerjaan tersebut.

Skill atau kemampuan individu juga sangat berperan dalam penentuan hal ini. Skill dapat ditanam dan dipupuk melalui belajar berorganisasi di tempat kita mengenyam pendidikan. Karena pengalaman berharga yang kita dapatkan di organisasi, tidak kita dapatkan di sekolah atau universitas. Teori mungkin dapat, akan tetapi pengembangan pengalaman di lapangan pastilah tidak kita dapatkan. Dan memang berbeda antara orang yang aktif berorganisasi dengan yang tidak.

Bagaimana cara mengatasi konflik, resolusi konflik, berpikir bijaksana, mengambil keputusan (decision making) perihal strategis, lobying, dan lain sebagainya hanya bisa kita dapatkan dan rasakan ketika kita menjalaninya sendiri. Karena sejatinya semakin kita banyak pengalaman, maka kita pun akan kaya.

Nilai IPK yang kita miliki saat ini, itu pun tidak selalu menjamin masa depan seseorang. Sebuah cerita di kampus saya, Psikologi Unair. Ada salah seorang mahasiswa yang baru lulus sekitar 6 tahun. Nilai IPK nya pun nggak bagus-bagus amat. Bahkan di bawah standart, dan pernah menjadi salah seorang mahasiswa yang masuk ke dalam daftar ancaman DO karena nilai IPK yang didapat. Akan tetap karena pertimbangan pihak dekanat yang seharusnya Fakultas Psikologi itu harus menjadi fakultas yang justru bisa memberi semangat kepada mahasiswanya, yang tidak semangat belajar menjadi semangat, dst, akhirnya si mahasiswa tersebut masih tetap bertahan. Aktivitas di akhir semester yang masih ia geluti adalah ikut ke dalam tim penelitian fakultas.

Didukung kemampuan komunikasi sosialnya yang bagus dengan lingkungan, banyak teman-teman yang menyukainya. Dan alhasil, tidak diduga-duga setelah dia lulus dengan nilai IPK yang kurang memuaskan dan di bawah standart, ternyata beberapa bulan kemudian, ia memberitahukan kepada dosenya bahwa ia diterima kerja di sebuah perusahaan besar dengan jabatan Kepala sebuah departemen. Subhanallah.... memang rejeki tidak diduga-duga ya...

Akhir kata, nilai IPK tidak selalu menjamin kita bisa sukses. Karena IPK bukan segala-galanya. Trend dunia pekerjaan sekarang pun lebih bertanya kepada "apa yang kamu bisa?' bukan "berapa IPK-mu atau dari lulusan universitas mana?". Karena yang ditekankan adalah lebih kepada kapabilitas seseorang dalam menjalankan tugas.

Pengalaman bekerja terlebih dahulu sebelum lulus, ternyata memiliki andil yang cukup besar pula dalam menyumbangkan ilmu yang kita miliki. Bahasa saya, mungkin lebih kepada cara belajar pragmatis. Karena di lapangan, tentu akan banyak persoalan yang dihadapi. Dan tentunya tidak bisa dihadapi dengan teori, teori, dan teori saja. Namun aplikasi dan respon langsung di lapangan. Kematangan dalam hal pengalaman setelah lulus akan menambah kepercayaan diri seseorang justru bisa meningkat lebih baik. Karena dia sudah berpengalaman bekerja sebelum lulus. Serta ilmu yang dimiliki banyak yang sudah didapat dari lapangan (lingkungan nyata) langsung. Selain itu, adanya perbenturan antara teori yang kita miliki dengan persoalan yang kita hadapi di lapangan, justru semakin membuat kita tahu bagaimana kita menerapkan teori dalam konteks lapangan seperti yang pernah kita temui.

Dan memang, pengalaman adalah guru yang terbaik... Saya pernah ingat apa yang dinasihatkan ayah saya kepada saya terkait dengan lulusan sarjana. Ada satu kalimat yang masih sangat saya ingat hingga saat ini, yang kemudian cukup menjadi motivator saya. "
... Yo mosok antara sarjana karo wong sing lulusan SD atau SMA ae podo. Yo kudune dadi wong lulusan sarjana kuwi kudune bedo! Mosok yen lulus SD ae trus kerjone ngerek, trus lulusan sarjana yo ngerek. Kudune sarjana kuwi bisa lebih kreatif dan iso mikir thithik tentang masa depane. Meski misale dodol, dodolane jenenge podo-podone dodolan bakso yo kudu bedo. Lulusan SMA dodolan baksone nggowo grobak, lulusan sarjana yo kudu bedo, misale mbuka toko opo restoran opo piye? ojo podo."
So, setelah lulus dan mendapatkan gelar sarjana, lalu mau apa?
18.37 | 0 komentar | Read More

Ada yang berharga dalam Ketertundaan itu...

Hari-hari penuh aktivitas yang cukup menyita energi dalam tubuh. Marah saja cukup banyak menghabiskan energi. Makanya lebih baik digunakan untuk perbanyak senyum saja. Berbagai aktivitas yang menyita tak ayal terkadang atau sering membuat saya cukup stress. Namun, hanya karena Allah, akhirnya kekuatan untuk selalu ikhlas dan menjalani hari-hari dengan tersenyum pun terus berjalan.

Sudah satu tahun ini, tugas akhir saya belum terselesaikan. Yah, kembali lagi tidak karena yang lain. Akan tetapi karena diri sendiri. Sebuah keputusan pasti ada resikonya dan konsekuensinya, dan setiap konsekuensi harus dijalani. Apabila kita berani dalam menghadapi tantangan hidup dan ingin meraih tangga berikutnya.

Entah kenapa juga satu tahun telah berlalu. Semangat untuk menyelesaikannya naik dan turun. Berbagai ujian dan persoalan strategis yang harus dipikirkan pun datang satu per satu. Organisasi, kantor, maupun yang lainnya. Semua membutuhkan energi yang cukup dan kualitas keimanan yang luar biasa.

Pernyataan ataupun pertanyaan, "gimana mbak skripsinya?", "piye As skripsimu?" merupakan pertanyaan-pertanyaan yang senantiasa mengingatkan dan sebagai semangat untuk segera menyelesaikannya. Dalam ketertundaan ini tentunya tidak boleh ada orang lain yang kita salahkan. Hanya diri sendiri yang patut direnungi dan dievaluasi. Tak pula menyalahkan orang lain, organisasi tempat kita berkarya, kondisi kantor dengan segala tantangannya, maupun menyalahkan kondisi di luar kita. Tidak!

Karena sebuah pelajaran dari salah seorang atasan saya, bahwa ketika kita salah, tak perlu tolah-toleh sana sini untuk mencari kambing hitam. Yah, bener juga! Karena sejatinya semua adalah karena diri sendiri. Sekalipun orang lain yang bisa kita salahkan, namun diri sendiri bukan berarti sama sekali tidak berkontribusi terhadap kesalahan atau kekeliruan yang dilakukan.

Ternyata ada yang berharga...
Yakin bahwa apa-apa yang diberikan Allah pastilah ada manfaat dan pelajarannya. Sekalipun bagi kita menyakitkan. Ternyata ada yang berharga di dalam ketertundaan itu... Dan itu saya rasa mungkin tidak bisa saya dapatkan di manapun, kecuali di sini. Dan mungkin tidak banyak yang saya dapatkan ketika saya tidak menerima tantangan-tantangan itu.

Tidak ada dalam pelajaran atau mata kuliah di kampus sekalipun. Karena kata atasan saya, itu didapan hanya ketika kita yang menjalaninya sendiri. Karena itu berhubungan dengan afeksi, perasaan.

Memang banyak hal yang bisa dilakukan ketika kita sudah selesai dalam satu hal ini, lulus dan diwisuda. Memang benar. Namun, tentu ketertundaan ini akan banyak pelajarannya, selama kita mau mengambilnya. Banyak hal... dan banyak hal....

Dalam sebuah obrolan biasa dengan teman kantor, diceritakan salah seorang teman kantor itu yang ditanya, mau apa setelah lulus? Dan seperti biasa, jawabannya adalah mencari pekerjaan dan belum dapat. Hmm... ketertundaan karena banyak aktivitas dan terutama kerja, tentunya tidak boleh dijadikan legitimasi bagi diri untuk terus kemudian menyalahkan akibat ketertundaan itu. Namun, yang pasti, dalam hidup harus penuh semangat positif. Dan mungkin salah satu semangat itu adalah... Klo hanya untuk mencari kerja setelah lulus, saya mah... belum lulus sudah bekerja. Dan klo buat skripsi hanya sekedar buat dan karena cepat lulus, saya mah... ingin lebih dari itu. Karena ternyata penelitian itu menyenangkan :) plus bisa kasih rekomendasi masukan sebuah solusi untuk sebuah persoalan.

Untuk saudara-saudaraku, kemudahan itu begitu banyak diberikan Allah pada saya. Jangan dan tidak perlu membahas itu. Hanya diri kita sendiri yang biasa menjadi penghalangnya. Dan teruntuk saudara-saudaraku di Psikologi 2003, selamat atas diwisudanya kalian April 2008 besok. Semoga apa yang antum semua dapat jangan asal digunakan dan semoga bisa terus berkarya di tempat lain. Insya Allah saya akan menyusul. Masih banyak yang harus dikontribusikan saat ini.

Jazakumullah atas semangatnya...
Karena...
Dalam ketertundaan itu ada yang berharga bagiku yang tak bisa didapat darimanapun.
13.00 | 2 komentar | Read More

Makna Belajar Bagi Orang Dewasa

Written By Informasi singkat tentang saya on Senin, 25 Februari 2008 | 14.08

[Jakarta, 4 Februari 2003[


"Untuk apa sekolah tinggi, toh akhirnya sama saja, bingung ke mana mencari
pekerjaan yang cocok. Ijazah akademik tidak memberi jaminan
identitas yang segagah gelarnya. Bahkan sudah tidak lagi bisa dihitung dengan
jari jumlah kawan sesama sopir taksi yang bergelar sarjana. Bukankah
hidup itu yang paling pokok adalah memiliki sumber penghasilan yang cukup untuk
menutup pengeluaran dan sisanya ditabung buat warisan, benarkan Pak?".
Begitulah perkataan yang pernah diucapkan oleh seorang sopir taksi dalam suatu pembicaraan santai. Logika dan pertanyaan pembenar sopir taksi itu bisa dijawab benar dan tidak benar.

Kenyataan membuktikan semakin banyak jumlah kaum akademik yang tidak mendapatkan pekerjaan sesuai dengan disiplin ilmu atau gelarnya. Artinya ia menjalani pekerjaan yang semestinya tidak harus dilakukan setelah ia menyandang gelar akademik kebanggaannya. Ambillah contoh jika seorang sarjana pendidikan harus menjadi pedagang es keliling atau seorang sarjana hukum 'mencari' makan dengan menjadi pedagang beras kaki lima. Atau sarjana ekonomi menjadi seorang sopir taksi.

Tidak terdapat bentuk pelanggaran undang-undang apapun jika SPd menjadi penjual es keliling, jika SH menjadi penjual beras kaki lima, atau SE menjadi sopir taksi. Mengapa? Banyak alasan yang mendukungnya, antara lain: 1) mencari pekerjaan sama sulitnya dengan menahan godaan untuk mendapatkan tiket surga; 2) hukumnya halal secara juridis; 3) kebutuhan harian sesaat (short term survival) yang tidak bisa ditunda; 4) pandangan lingkungan yang miring jika sarjana nongkrong di rumah. Dan masih banyak lagi alasan lainnya.

Menjalani pekerjaan yang tidak sesuai dengan disiplin akademik memang sudah menjadi bentuk pemakluman bersama. Persoalan akan muncul ketika pekerjaan tersebut hanya bisa memenuhi sebagian kecil dari motivasi bekerja, misalnya uang saja atau hanya bebas dari asumsi lingkungan yang tidak-tidak. Di sisi lain, menjadi pengalaman kesyukuran hidup ketika ketidakcocokan tersebut membawa anda ke dalam keadaan yang sesungguhnya menjadi kemujuran tak disengaja. Sudah menerima gaji tinggi, simbol status sosial membanggakan, kemudian seluruh potensi mendapat tempat pemberdayaan secara optimal, meskipun pekerjaan itu tidak sesuai dengan latar belakang akademik anda.

Permasalahan timbul ketika individu yang melakoni pekerjaan yang tidak sesuai latar belakang akademiknya dengan motif keterpaksaan semata dalam upaya menghindar tekanan eksternal. Keterpaksaan inilah letak kesalahan yang sebenarnya, bukan bidang atau job title tertentu. Mengapa? Ketika motivasinya hanya terpaksa maka hidup tidak lagi berupa pilihan-pilihan untuk belajar berkembang melainkan kepastian dan kepasrahan. Padahal kepastian dan kepasrahan itu tidak memberinya banyak arti baik material dan non-material. Akan sangat berbeda jika pilihan diarahkan untuk belajar, berubah, dan berkembang.

Definisi Belajar
Salah satu iklan produk terkenal yang anda lihat kira-kira berbunyi, "Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan". Anda pasti sudah memahami maksud tersiratnya. Tanpa harus anda ciptakan, masa tua akan tiba, tetapi untuk menjadi dewasa anda harus menciptakannya. Bagimana anda menciptakannya? Tidak lain hanyalah belajar dengan basis kehidupan menjadi dewasa. Artinya kehidupan ini harus dijadikan materi untuk belajar dari titik keterbatasan tertentu menuju titik kemampuan berikutnya.

Belajar bagi orang dewasa adalah mencari untuk menemukan sesuatu tentang hidup tidak sebagaimana anak-anak yang hanya menerima dan terkadang masih jauh dari isu-isu kehidupan riilnya. Sejumlah definisi atau konsep yang dikemukakan para ahli tentang definisi belajar bagi orang dewasa bisa anda jadikan rujukan, antara lain:

1.Reg Revans (Penggagas Action Learning)

Belajar bagi orang dewasa, menurut Reg Revans (1998) adalah proses menanyakan sesuatu bermula dari pengalaman ketidaktahuan tentang apa yang akan dilakukan karena jawaban yang ditemukan saat itu tidak lagi valid untuk mengatasi situasi yang sedang terjadi. Dengan kata lain, "Learning is experiencing by exploration and discovery".

2. Bob Sadino

Dalam banyak wawancara yang dikutip oleh sejumlah media cetak, Bob Sadino, seorang pakar di bidang agrobisnis, seringkali melontarkan kata-kata pendek tetapi membutuhkan penjelasan yang tidak cukup dibeberkan dalam satu sessi seminar. Kata-kata itu tidak lain adalah: Cukup lakukan saja! Pernyataan tersebut mengandung makna yang dalam dimana belajar merupakan bentuk transformasi visi ke suatu tindakan lalu berakhir dengan achievement.

3. Charles Handy

Dalam bukunya Inside Organization (1999), Charles Handy mengemukakan bahwa siklus belajar orang dewasa diawali dengan mempertanyakan sesuatu dengan kuriositas tinggi; menemukan jawaban-jawaban teoritis; melakukan testing di lapangan; dan terakhir refleksi – sebuah pemahaman mengenai sesuatu yang bekerja dan yang mandul di dalam diri. Thomas Edison, seorang penemu, adalah contoh paling reliable sepanjang zaman. Dikisahkan bahwa secara pendidikan formal akademik, Edison tergolong siswa yang tidak hebat tetapi ia lebih banyak menggunakan waktunya untuk mengunjungi perpustakaan publik karena Edison menemukan sesuatu yang lebih bekerja terhadap hidupnya yang ia tidak dapatkan di bangku sekolah.
Dengan proses belajar di perpustakaan tersebut Edison menemukan pelajaran tentang relaksasi mental. Meski tidak seorang guru pun yang memahamkannya, tetapi naluri Edison tahu bahwa relaksasi mental lah yang membantunya menciptakan temuan-temuan yang tercatat lebih dari 1000 hak paten hingga ia wafat tahun 1931.

4. Alvin Toffler

Penulis buku terkenal ini mendifinisikan belajar sebagai proses mempersiapkan cara atau strategi menghadapi situasi baru. Perangkatnya meliputi pemahaman, aplikasi dari metodologi baru, keahlian, sikap dan nilai.

Dari definis-definisi diatas dapatlah diambil kesimpulan bahwa belajar bagi orang dewasa ternyata memiliki berbagai dimensi. Oleh karena itu menjadikan pendidikan (education) sebagai representasi tunggal dari proses belajar tidak jarang meninggalkan warisan mindset yang kurang menguntungkan terutama bagi pihak atau individu yang berkemampuan rata-rata atau minus. Lembaga sekolah, selain menciptakan birokrasi formal yang memberikan stigma bahwa sekolah adalah escalator tunggal yang mahal harganya, juga menunjukkan ketertinggalannya dengan kemajuan yang dicapai oleh dunia luar. Akibatnya timbul gap antara pendidikan dengan tuntutan atau kebutuhan yang ada di masyarakat. Hal inilah yang akhirnya menjadi dasar mengapa pengangguran tidak bisa dihindari lagi. Pendidikan belum sepenuhnya menjadi media yang mampu menterjemahkan makna belajar. Hal ini karena makna belajar yang sesungguhnya adalah melakukan sesuatu, kemudian membebaskan diri dari situasi atau tekanan yang diakibatkan ketidaktahuan. Cara terbaik untuk mempelajari sesuatu adalah dengan melakukannya, seperti yang ditulis oleh Rex dan Carolyin Sikes: "We learn about a city from being there, not from a map or guide book. We learned to walk and talk without reading instructions or following recipes. Learning is doing something, then getting rid of the unwanted parasitic movements".

Aplikasi Belajar
Merujuk pada sekian pandangan tentang belajar bagi orang dewasa, maka yang perlu anda lakukan adalah menjadikannya sebagai konsep hidup personal yang implementatif berdasarkan situasi dan kondisi yang anda hadapi. Konsep tersebut harus diformulasikan ke dalam pemahaman khusus yang anda rasakan bekerja mengubah hidup dan situasi, seperti yang dialami Edison. Guru anda adalah situasi konkrit yang anda alami dengan materinya berupa tantangan. Inilah makna esensial dari petuah yang sering anda dengar bahwa mencari ilmu itu hukumnya wajib. Ilmu yang tidak memiliki relevansi dengan situasi hidup anda oleh karena itu menjadi tidak wajib. Bagaimana anda mendapatkannya? Ikutilah formulasi berikut:

1. Sadari keadaan anda saat ini

Terimalah keadaan atau situasi hidup apapun saat ini dengan penuh kesadaran karena kesadaran itu akan menjadi syarat mutlak untuk menaklukkan segala tantangan yang menghadang. Jika anda menerimanya dengan kepasrahan atau penolakan maka selamanya keadaan atau situasi yang tidak menyenangkan tidak bakal meninggalkan anda. Bahkan lambat laun menciptakan lilitan yang lebih tinggi dari kapasitas anda. Tanpa kesadaran untuk berubah, maka perubahan situasi atau kondisi eksternal hanya memberi anda perubahan dalam waktu singkat dan sisanya anda kembali lagi ke format lama. Bahkan ketika anda naik jabatan mendadak, jabatan tersebut hanya anda rasakan kenikmatannya sebentar lalu anda lupa rasanya.

2. Pahami proses

Salah satu pertanda inti dari orang dewasa adalah pemahamannya terhadap bagaimana dunia konkritnya bekerja. Dengan memahami bagaimana sesuatu bekerja menurut hukum alamnya, maka akan membuat anda menjadi bijak menjalani hidup. Tidak lagi berpikir dengan mood atau menerjang kaidah-kaidah hidup yang benar. Di samping itu, pemahaman tersebut akan menyalurkan energi positif ketika proses sedang anda jalani. Di sinilah yang membedakan apakah anda merasakan tantangan sebagai proses untuk dinikmati atau proses yang anda rasakan dengan kepedihan.

3. Kemana anda akan melangkah

Setiap pekerjaan yang anda lakukan, setiap bidang yang anda geluti, setiap profesi yang anda sandang sebenarnya sudah diciptakan tangga kastanya di dalam. Termasuk seperti yang di alami kawan sopir taksi di atas. Ia boleh menjadi sopir , pedagang beras kaki lima, penjual es keliling selamanya meskipun tetap terbuka lebar peluang untuk menjadi manajer atau direktur bahkan pemegang saham di suatu perusahaan. Tangga kasta itulah yang menjadi simbol status anda. Dengan aplikasi prinsip belajar, maka hidup adalah realisasi gagasan, bukan lagi intimidasi orang atau keadaan. Tetaplah berjuang untuk hidup dengan imajinasi anda bukan hidup di dalam sejarah masa lalu atau jebakan realitas sementara.

Dengan memahami makna belajar diharapkan anda dapat menjalani hidup anda dengan penuh sukacita dan tidak didasarkan atas unsur keterpaksaan dan kepasrahan. Terlepas apapun profesi yang anda geluti, baik yang sesuai dengan latar belakang akademik maupun tidak, kesuksesan anda akan sangat tergantung pada bagaimana anda memahami hal tersebut sebagai suatu proses belajar. Semoga berguna.(jp)

Ubaydillah, AN
14.08 | 0 komentar | Read More

Pendidikan Berbasis Komunitas

[Selasa, 29 Januari 2008]-Lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar, menengah hingga pendidikan tinggi, dalam jangka panjang harus menjadi pusat persemaian para lulusan yang memiliki keunggulan kompetitif dalam bersaing dengan lulusan-lulusan lain baik tingkat daerah, nasinal bahkan tingkat internasional. Lembaga pendidikan merupakan investasi negara yang sangat menentukan masa depan negara ini. Dengan demikian negara atau pemerintah jangan sekali-kali menyepelekan dan memarginalkan perkembangan pendidikan.

Persemaian lulusan yang memiliki keunggulan kompetitif yang baik di banyak level itu harus lahir dari komunitas yang memiliki kualitas terbaik dan unggul. Dan, setiap lembaga pendidikan harus memiliki sistem dan komunitas yang kuat untuk dapat melahirkan para lulusan yang berkualitas. Komunitas tersebut terdiri dari unsur-unsur sivitas akademika, antara lain tenaga pengajar, karyawan dan anak didik, bahkan lingkungan yang memiliki keunggulan kompetitif. Komunitas yang memiliki keunggulan kompetitif tersebut tentunya harus dibangun melalui sistem pengelolaan fakultas yang jujur, profesional, memiliki etos kerja yang tinggi, amanah, serta memiliki atmosfer akademis yang unggul.

Konsep pendidikan berbasis komunitas pada dasarnya mengacu kepada konsep pemberdayaan komunitas, yaitu bagaimana membuat komunitas pendidikan menjadi berdaya dan mampu memecahkan persoalan-persoalan pendidikan yang dihadapi untuk memenangkan persaingan dengan dunia luar.

Pembangunan komunitas pendidikan mensyaratkan sikap demokratis, yakni semua orang yang ada dalam komunitas memiliki hak yang sama untuk memajukan dan memberikan kontribusi terhadap komunitas tersebut, dan adanya kepercayan (trust) di antara anggotanya. Tanpa itu, bangunan komunitas akan hancur, karena kepercayaan merupakan salah satu modal sosial (social capital) yang sangat tinggi dalam membangun kekuatan komunitas pendidikan tersebut.

Pola hubungan kemitraan (partnership) dalam komunitas pendidikan perlu dibangun dengan kuat. Tidak ada dominasi satu di atas yang lainnya, sehingga tidak bersandar pada orang per orang.

Hal lain yang perlu dibangun dalam memperkuat komunitas pendidikan tersebut, tidak lain adalah intensitas komunikasi. Komunitas yang kuat dibangun berdasarkan aliran komunikasi (communication flow) yang lancar dan tidak tersendat-sendat. Kegiatan dalam sebuah organisasi dan komunitas 80% merupakan kegiatan komunikasi. Komunikasi yang macet akan berdampak buruk terhadap komunitas.

Eksistensi sebuah komunitas pendidikan pada dasarnya harus eksis dan selalu survive dalam perkembangan dunia yang selalu berubah. Sebuah komunitas dianggap kuat dan unggul apabila komunitas tersebut mampu bersaing dan terus-menerus menghasilkan SDM yang selalu dibutuhkan oleh pasar. Di samping itu, komunitas tersebut mampu selalu berkarya dan menghasilkan output pendidikan yang bermanfaat bagi lingkungannya.

Agar komunitas pendidikan tersebut mampu memiliki daya saing yang tinggi, terdapat beberapa prinsip dasar yang harus diterapkan oleh komunitas tersebut, antara lain: adaptability (mampu beradaptasi), growth (tumbuh), integrity (memiliki integritas), dan locality (memanfaatkan potensi lokal). Adaptability adalah proses penyesuaian pengelolaan lembaga pendidikan terhadap perubahan-perubahan yang di dalamnya memiliki keunggulan kompetitif yang dibutuhkan oleh lingkungan, baik lokal, nasional maupun internasional. Dalam konteks ini yang sangat dibutuhkan adalah membangun kompetensi pengelola manajemen pengelola pendidikan dengan menggunakan standar-standar yang objektif dan ilmiah.

Pola adaptasi yang perlu dilakukan oleh manajemen pengelola pendidikan adalah selalu melakukan studi komparatif dengan lembaga pengelola pendidikan lain yang lebih maju. Selain itu, membuka diri untuk masukan dari pada stakeholder yang peduli terhadap komunitas pendidikan tersebut.

Sedangkan growth adalah proses memberikan nilai tambah kepada segenap sivitas akademika yang ada di lingkungan komunitas pendidikan. Pertumbuhan dalam hal ini dilakukan dengan meningkatkan kompetensi bagi segenap sivitas akademika di lingkungan komunitas tersebut. Pertumbuhan itu dilihat dari sisi kualitas, yakni memperkuat aspek kompetensi, dan dari sisi kuantitas, yakni meningkatkan kuantitas peserta didik sesuai dengan kebutuhan dari komunitas tersebut.

Integrity adalah sebagai sebuah proses untuk meningkatkan budaya akademis di lingkungan komunitas pendidikan tersebut. Budaya akademis yang dimaksud adalah terjadinya proses transfer of knowledge bagi setiap anggota komunitas tersebut. Kondisi ini tidak hanya terjadi hanya bagi tenaga pengajar dan peserta didik, melainkan juga terjadi bagi karyawan di lingkungan komunitas tersebut.

Budaya akademis yang dibangun dalam komunitas tersebut tidak lain adalah selalu membuat standar yang objektif dalam setiap kegiatan. Budaya akademis tidak lain adalah selalu menggunakan logika berpikir rasional dan memperkecil subjektivitas dalam setiap kegiatan.

Sementara locality adalah proses mengangkat nilai-nilai lokal yang ada di lingkungan komunitas untuk diadaptasikan ke dalam kurikulum yang memiliki nilai jual dan memiliki daya serap yang tinggi bagi masyarakat, baik bagi masyarakat di daerah khususnya maupun masyarakat Indonesia umumnya.

Potensi lokal yang ada di lingkungan komunitas tersebut pada dasarnya sangat banyak yang bernilai dan memiliki nilai jual yang tinggi. Menggali potensi lokal tersebut tidak lain dengan menggunakan proses analisis dan penelitian terhadap kondisi eksternal lingkungan di luar komunitas.


Agus Sjafari
13.58 | 0 komentar | Read More

Validitas Studi Kasus=Klarifikasi

Written By Informasi singkat tentang saya on Sabtu, 23 Februari 2008 | 13.27

Di tengah-tengah ke-puyeng-an mengerjakan skripsi, akhirnya waktunya saya gunakan untuk menulis blog ini saja. Hmm... kadang suka iri kalau lihat blog tetangga yang suka diupdate dan bagus-bagus tulisannya. Tapi nggak masalah lah, namanya juga orang belajar. Dari perihal sederhana yang bisa ditulis aja.

Skripsi saya mengangkat korban bullying dengan tipe penelitian studi kasus. Menurut Salim, 2001, studi kasus adalah suatu pendekatan untuk mempelajari, menerangkan, atau menginterpretasi suatu kasus dalam konteks secara natural tanpa adanya intervensi dari pihak luar. Ternyata tidak mudah untuk melakukan sebuah penelitian kalau memang baru belajar (makanya belajar terus, biar gampang kerjainnya...). Usut punya usut ternyata kedalaman sebuah hasil penelitian dengan tipe penelitian adalah ketika seorang peneliti itu terus menerus menggali informasi yang terkait dengan subyek. Dan biasanya di studi kasus ini, menggunakan pihak lain yang dekat dan tahu tentang subyek. Significant others namanya. Seperti itu orang psikologi menamainya. Mungkin klo di FISIP, informan namanya.

Melakukan wawancara kepada subyek dan significant others ternyata tidak bisa dilakukan hanya sekali atau dua kali waktu saja. Bahkan bisa beberapa kali. Apalagi sifat penelitian yang studi kasus, sang peneliti musti terlibat masuk kedalamnya. Sehingga dia bisa melakukan observasi secara lebih baik. Dari banyak pengamatan yang dilakukan, penggalian informasi dari subyek, serta significant others tersebut diharapkan data yang akan didapatkan dapat valid dan reliabel. Karena ternyata, sepertihalnya ketika kita mendapatkan sebuah informasi yang perlu mendapatkan klarifikasi, kita masih perlu tabayyun (kroscek) sana-sini untuk mendapatkan kebenaran analisa. Karena sangat besar kemungkinan apa yang dikatakan si "X" tidak terlepas dari persepsi seseorang juga. Sehingga ketika kita hanya mewawancarai subyek tanpa significant others besar kemungkinan, ada beberapa hal yang subyek sembunyikan, atau dihiperbolakan, atau dipersepsikan yang berbeda. Dan hal ini akan mempengaruhi seseorang dalam menafsirkan dan mengolah informasi yang didapat.

Pengalaman dari skripsi dengan studi kasus dan juga persoalan-persoalan kantor serta organisasi yang banyak diperlukan energi untuk kroscek, saya akhirnya berpikir dan lantas mengambil kesimpulan bahwa, validitas studi kasus sama dengan aktivitas kita dalam mengklarifikasi/mengkroscek/men-tabayyun-kan sesuatu informasi atau peristiwa.

Karena di lapangan didapatkan bahwa subyek dan significant others banyak dipengaruhi oleh persepsi yang dibangun oleh masing-masing pihak. Yah, meskipun membuat saya sebagai peneliti agak puyeng tambah maneh filenya rusak dan harus nggarap ulang... Tapi sebuah kesimpulan pelajaran kehidupan telah didapatkan. Dan of course ini adalah sebuah penemuan yang berharga. Dan tentunya bagi si penulis ini. Berharga bagi saya, belum tentu bagi Anda.
13.27 | 0 komentar | Read More

“Mungkin Allah hendak menegur kita mbak.” kata Pak Rukmin

Written By Informasi singkat tentang saya on Rabu, 13 Februari 2008 | 17.21

Rabu (8/2) lalu, banjir bandang kembali menggenangi daerah Situbondo, Jawa Timur. Banjir yang juga meliputi lumpur ini, menutupi hamper semua daerah di Situbondo. Baik desa maupun kota. Kerugian yang ditanggung pun juga tidak sedikit. Hampir mencapai Rp 200 miliar. Hingga Minggu (10/2) lalu, sudah 14 orang yang tewas. Banyak anak-anak yang tidak masuk sekolah karena banjir ini. Meskipun air sudah surut, hingga Selasa (12/2), lumpur yang merupakan hasil endapan banjir ganti menggenangi daerah ini.

***

Prolog berita di atas, sedikit saya uraikan sebagai prolog tulisan yang hendak saya tumpahkan di sini. Pagi hari, sekitar pukul 08.30, saya masuk ke sebuah ruangan kantor yang biasa kita namai RSG (Ruang Serba Guna). Awalnya saya hanya ingin mencari charger Nokia yang kebetulan HP CDMA saya sudah mati, karena drop battrenya.

Di ruangan seluas 2,75 m x 4,5 m itu saya mendapati seorang laki-laki separo baya berbaju coklat muda, dengan berkantong dua di kanan dan di kiri dadanya. Dia adalah Pak Rukmin. Sopir MMS (Medical Mobile Service) milik kantor kita PLASMA-YDSF.

“Lhoh, ada Pak Rukmin.” Tanyaku ketika memasuki ruangan itu.

Dari sepotong pertanyaan itu, saya mendapati charger yang saya cari, dan akhirnya saya pun duduk. Pak Rukmin kemudian bercerita mengenai apa yang dia lalui selama 1 hari ke Situbondo. Kebetulan dia sopir yang mengantarkan bantuan ke Situbondo.

Cerita pun mengalir satu persatu dari peristiwa yang ditemuinya selama mengantarkan bantuan.

“Di sana itu mbak, sebenarnya banjirnya sudah nggak lagi. Airnya itu lho. Tapi gantian lumpur sekarang. Kan sisa dari banjir kemaren itu.” Kata Pak Rukmin sambil memegangi majalah olahraga yang dibacanya.

“Mencapai berapa pak tingginya itu?” tanyaku

“Segini lho mbak.” Sambil menunjukkan tinggi lumpur pada kakinya.

“Jadi nggak ada mbak, kendaraan yang di sana itu bersih. Semuanya wis kotor semua mbak. Mobil saya aja (baca: MMS kantor) kotor sekali. Ada becak kemaren itu, wis nggak rupo becak mbak. Iku ae mari diangkat karena becake wis kayak gitu.” Ungkapnya.

Saya pun terus manggut-manggut, tanda saya memperhatikan cerita demi cerita yang dia katakan. Yang lebih saya salut lagi pada dia adalah ketika dia bercerita mengenai pelajaran yang hendaknya bisa kita ambil melihat kejadian itu semua.

“Seharusnya mbak, ada atau tidaknya banjir, daerah itu memang daerah yang sangat membutuhkan dan memprihatinkan. Dulu aja mbak, yang pas gempa. Kan sama di Situbondo. Kan pernah saya nyopiri bareng sama pejabatnya YDSF ke sana. Rata-rata yang di desa itu kan rumahnya kayu-kayu gitu. Trus sampingnya gedheg* gitu mbak. Trus di situ ada rumah yang bagus, ya tembok gini lah mbak. Lha kok pas gempa, rumah itu yang pertama kali yang kena. Trus yang lain-lainnya, yang rumah kayu itu tadi nggak pa pa.”

“Pas saya ke sana itu, saya tanya lha itu rumahnya siapa? Katanya rumahnya TKW. Kan bayangkan aja mbak. Satu rumah yang bagus di tengah-tengah rumah yang kayu-kayu, gedheg kayak gitu. Lha pas gempa, ya itu pertama kali yang malah kena.”

“O... gitu ya pak.” Kataku

“Dulu yang pas saya sama pejabatnya YDSF itu mbak, di sana itu mbak karena daerahnya itu padas mbak. Nggak ada air. Ada sumur aja itu sampe 100 meter mbak. Nariknya itu nggulung gitu mbak. Lha setelah diangkat, sudah dalem dilihat airnya cuman dikit. Trus mau wudhu mbak airnya itu coklat. Klo orang desa gitu kan biasa ya, karena nggak ada air. Lha kita orang kota kan nggak biasa. Apalagi pak Kadir, levelnya tahu banget ilmunya suci apa nggaknya. Sampe begini mbak, ya sudah pak Kadir mau wudhu apa nggak, ada airnya kayak gitu.” Tandasnya.

Saya masih dengan setianya mendengarkan cerita yang keluar darinya. Karena bagi saya ceritanya sangat menarik, hingga akhirnya saya memutuskan untuk saya tulis di sini.

“Kalau bagi saya ya mbak. Kayak gitu itu seharusnya menjadi perhatian kita. Mungkin Allah itu hendak menginginkan kita, ‘tengoklah saudara-saudaramu yang di sana’. Seharusnya ada banjir ataukah tidak memang daerahnya perlu diberi bantuan mbak. Coba saja mbak. Misalnya, di sana ada banyak yang muslim dan agamanya kuat. Tapi mushollanya cuman satu. Dan itu sudah lama gitu mbak. Bangunan yang bagus kan seharusnya bisa kuat kalau ada tiang penyangga yang ada besinya itu mbak. Paling nggak empat sampai enam lah. Lha ini enggak mbak. Penyangganya ya, tiang biasa, kayu yang sudah jelek gitu. Trus temboknya ya sudah kelihatan tua gitu. Jadi kan klo misale pas ada gempa kemaren ya dia rusak. Lha ini, bagi saya kayaknya Allah itu hendak mengingatkan kepada kita agar menengok ke sana. Eh, di sana lho ada yang membutuhkan. Di sana lho ada yang kekurangan.” Kata Pak Rukmin yang tetap terlihat duduk dengan tegapnya.

***

Yah, Allah tentu tidak akan mungkin memberikan sesuatu yang tidak berguna. Musibah sekalipun itu. Musibah, bencana, sakit merupakan ujian dan peringat yang diberikan Allah kepada makhluknya, agar kembali kepada jalan-Nya yang benar. Peristiwa demi peristiwa yang kita temukan semoga bisa menjadi sebuah cerita tersendiri buat diri kita untuk kemudian tidak kita biarkan begitu saja. Akan tetapi mari kita maknai dan ambil pelajarannya untuk perbaikan diri dan umat.

Allah tentu tidak akan rela ketika ciptaan-Nya dirusak oleh tangan-tangan dzalim yang tidak mau bertanggungjawab. Allah tentu tidak akan rela, ketika hamba-hamba-Nya yang taat dan rajin beribadah kepada-Nya dan miskin, kemudian tidak diperhatikan oleh mereka-mereka yang kaya dan berkecukupan. Cerita di atas merupakan cerita nyata yang dimiliki oleh Pak Rukmin, sopir kantor saya (PLASMA-YDSF). Adalah benar saya kira, apa yang disampaikan Pak Rukmin. Bahwa bisa jadi Allah hendak menegur kita dengan adanya bencana tersebut, bahwa ternyata di sana ada yang masih membutuhkan. Di sana masih ada yang kelebihan, namun tidak peduli dan hidup kaya di tengah-tengah kemiskinan masyarakat. Allahua’lam bishowab.

______________
*gedheg
: dinding yang terbuat dari bambu tua yang dijalin. Biasanya mereka yang hidup di pedesaan dan termasuk ekonomi ke bawah, biasa dinding mereka terbuat dari bambu.
17.21 | 0 komentar | Read More

Realisasi program LM terbesar mencapai Rp 670.000.000

Sebanyak 316 mustahik senilai Rp 670.700.000 mendapatkan bantuan dari Pusat Layanan Sosial Masyarakat (PLASMA-YDSF) melalui program Layanan Mustahik. Program ini memberikan bantuan secara bertahap. Pelaksanaan program mulai tanggal 12-14 Februari 2008. Tanggal 12 Februari 2008 sebanyak 63 orang lembaga, tanggal 13 sebanyak 47 lembaga, dan tanggal 14 sebanyak 150 lembaga.

“Realisasi ini merupakan realisasi terbesar selama kurun waktu LM berdiri “ kata Herman, Koordinator Program LM. Realisasi yang dilakukan memang terbesar, bila dibandingkan periode sebelumnya yang hanya Rp 267.620.000, dengan jumlah penerima bantuan sebanyak 70 lembaga.

Adapun lembaga penerima bantuan yaitu masjid (167) dengan total nilai Rp 334.200.000, lembaga pendidikan (116) dengan total Rp 274.500.000, lembaga yatim (22) sebesar Rp 44.000.000, dan lembaga dakwah (11) sebesar Rp 18.000.000. Bentuk bantuan yang diberikan berupa material dan non-material. Material berupa material bangunan, alat peraga luar dan dalam, mebel, komputer. (as)
16.56 | 0 komentar | Read More

Korea saja bisa, apalagi Indonesia

Written By Informasi singkat tentang saya on Selasa, 12 Februari 2008 | 17.01

Korea Saja Bisa, Apalagi Indonesia
Sabtu, 26 januari 2008 | 02:17 WIB

Koh Young Hun

Tiga puluh tahun yang lalu, saya mendengar dari profesor saya di ruang kelas bahwa Indonesia merupakan negara yang berpotensi tinggi, karena sumber daya alam dan manusianya begitu kaya. Tiga puluh tahun sudah lewat, dan saya sudah menjadi profesor. Saya masih juga mengatakan kepada murid-murid saya bahwa Indonesia negara besar dan berpotensi tinggi dengan alasan yang sama.

Tanggal 19 Desember 2007, rakyat Korea (Korsel) memilih presiden baru, yaitu Lee Myung-bak (biasa disebut MB) yang akan memulai lima tahun masa jabatannya pada 25 Februari mendatang. MB berjanji bahwa dalam masa jabatannya Korea akan lebih maju dengan wawasan 7-4-7, yang berisikan bahwa 7 persen pertumbuhan ekonomi per tahun, 40.000 dollar AS pendapatan per kapita, dan negara ke-7 terbesar dari segi ekonominya (sekarang ke-11 terbesar). Pada hemat saya, Indonesia juga bisa, karena negara ini punya kemampuan.

Ciri utama yang mewarnai negara berkembang, dan merupakan musuh utama yang harus kita kalahkan, ialah kebodohan dan kemalasan yang keduanya adalah cikal bakal yang melahirkan kemiskinan. Karena itu, siapa yang lebih dahulu mampu menghilangkan dua sifat buruk itu,
maka dialah yang akan dengan cepat dapat meraih kemajuan dan kemakmuran bangsanya.

Dalam teori pembangunan, sebagaimana ditulis Steven J Rosen dalam bukunya, The Logic of International Relation, dikenal dua aliran pendapat tentang sebab-sebab keterbelakangan negara-negara berkembang, di mana kedua aliran pendapat itu secara prinsip sangat
berbeda satu dengan yang lain. Dalam hal ini, Indonesia dan Korea memiliki pandangan yang sama, yakni menganut paham tradisional; menganggap bahwa proses pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di sebagian besar negara terhambat akibat rendahnya tingkat produktivitas yang berhubungan erat dengan tingginya kemubaziran dan ketidakefisiensian sosial. Aliran ini berpendapat bahwa keterbelakangan dan kemiskinan mutlak disebabkan faktor-faktor
internal. Istilah Jawa-nya karena salahe dewe.

Adapun aliran yang lain, ialah aliran radikal, memandang kemiskinan dan keterbelakangan suatu negara (terutama negara ketiga) disebabkan oleh kondisi internasional, yakni adanya eksploitasi negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang. Namun, dalam hal ini saya beranggapan bahwa teori ini cenderung selalu mencari kambing hitam. Pepatah Melayu-nya, karena awak tak bisa menari, lantai pula yang disalahkan.

Etos Korea

Kita semua tahu bahwa Korea dalam kurun waktu relatif singkat telah menjelma menjadi masyarakat modern, yaitu masyarakat yang telah mampu melepaskan diri dari ketergantungan pada kehidupan agraris.

Kemajuan Korea ini telah membuat banyak orang berdecak, terpukau seperti melihat keajaiban sebuah mukjizat. Para pakar bertanya-tanya, resep apa gerangan yang telah membuat bangsa yang terubah menjadi negara dan bangsa yang makmur? Sejak awal tahun 1970-an pihak Pemerintah Korea dalam rangka semangat pembangunan nasional telah berusaha membentuk tipe manusia Korea yang memiliki empat kualitas. Pertama, sikap rajin bekerja. Lebih menghargai bekerja secara tuntas betapa pun kecilnya pekerjaan itu, tinimbang pidato
yang muluk-muluk tetapi tiada pelaksanaannya.

Kedua, sikap hemat, yang tumbuh sebagai buah dari sikap rajin bekerja tadi. Ketiga, sikap self-help, yang didefinisikan sebagai berusaha mengenali diri sendiri dengan perspektif yang lebih baik, lebih jujur, dan lebih tepat; berusaha mengembangkan sifat mandiri dan rasa percaya diri. Keempat, kooperasi atau kerja sama, cara untuk mencapai tujuan secara efektif dan rasional, dan mempersatukan individu serta masyarakatnya.

Inilah picu laras yang memacu jiwa kerja bangsa Korea. Bila kita perhatikan, keempat butir nilai itu sesungguhnya adalah nilai luhur bangsa Indonesia. Rajin pangkal pandai... dan sedikit bicara
banyak kerja adalah pepatah yang telah mengakar dalam budaya Indonesia.

Adapun nilai self-help, mandiri, sudah lama melekat dalam nilai religi sebagian besar masyarakat Indonesia, karena Tuhan Yang Maha Esa dalam Al Quran menyebutkan bahwa sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu bangsa, kecuali bangsa itu mengubah nasibnya
sendiri. Sedangkan setiap usaha mengubah nasib, baik itu membuahkan hasil ataupun tidak, Islam telah memberinya nilai tambah; digolongkan pada perbuatan ibadah. Sementara sifat yang terakhir, kooperasi, adalah sendi-sendi budaya Indonesia yang amat menonjol. Kooperasi atau gotong royong tetap dipelihara dan dilestarikan.

Burung garuda

Sebagai penutup, saya ingin sedikit mendongeng tentang seekor anak burung garuda yang tertangkap dan dipelihara oleh seorang pemburu. Dari hari ke hari dia hanya bermain di halaman rumah; bersama-sama ayam kampung. Lalu pada suatu hari lewatlah seorang ahli unggas. Sang zoologist itu terkejut.

Ah! pikir sang ahli unggas itu terheran-heran. Sungguh mengherankan burung garuda itu! ujarnya kepada pemburu.

Dia bukan burung garuda lagi. Nenek moyangnya mungkin garuda, tetapi dia kini tidak lebih dari ayam-ayam sayur! balas sang pemburu mantap.

Tidak! Menurutku dia burung garuda, dan memang burung garuda! bantah si ahli unggas itu.

Burung garuda ditangkap, lalu diapungkan ke atas udara. Garuda mengepak, lalu terjatuh.

Betul, kan? ujar si pemburu. Dia bukan garuda lagi!

Kembali si ahli unggas itu menangkap garuda, dan mengapungkannya lagi. Kembali garuda mengepak, lalu turun kembali. Si pemburu kembali mencemooh dan semakin yakin garuda telah berubah menjadi ayam.

Dengan penuh penasaran si ahli unggas memegang burung itu, lalu dengan lembut membelai punggungnya, seraya dengan tegas membisikkan:

Garuda, dalam tubuhmu mengalir darah garuda yang perkasa. Kepakkanlah sayapmu, terbanglah membubung tinggi, lihatlah alam raya yang luas yang amat indah. Terbanglah! Membubunglah! Burung dilepas, dia mengepak. Semula tampak kaku, kemudian tambah mantap, akhirnya garuda melesat membubung tinggi, karena dia memang garuda.

Nah, barangkali cerita ini ada persamaannya dengan bangsa Indonesia. Bukti kejayaan masa lampau telah membuat mata dunia takjub. Borobudur satu bukti karya perkasa. Kini camkanlah bahwa Anda sekalian mampu, Anda punya kemampuan. Korea saja bisa, apalagi Indonesia.

Koh Young Hun Profesor di Program Studi Melayu-Indonesia, Hankuk
University of Foreign Studies, Seoul, Korea

from: heriwe
17.01 | 0 komentar | Read More

Dibuka Lowongan 2.536 Guru Sekolah Negeri di Surabaya

Akan repot jadinya jika Ibu Kota Jawa Timur stok guru masih kurang. Persoalan demi persoalan dalam dunia pendidikan semakin hari semakin bertambah dan tiada henti saja. Anggaran pendidikan yang dijanjikan 20% terpenuhi, ternyata juga sulit untuk direalisasikan para pembuat janji. Al hasil berbagai dampak buruk menimpanya. Salah satunya adalah yang diberitakan di beberapa media massa Jumat (1/2) lalu, bahwa Surabaya kekurangan guru. Tidak tanggung-tanggung, ada 2.536 yang masih diperlukan untuk mencerdaskan anak Indonesia di Surabaya.

Ironis memang bagi sebuah Ibu Kota yang seharusnya mampu menjadi contoh dalam pelaksanaan sistem pendidikan. Kabarnya adanya program wajib belajar pendidikan menengah (Wajar Dikmen) 12 tahun yang dirintis oleh Jatim ini, mendapat sorotan dari pemerintah pusat. Program yang bertujuan untuk membantu siswa dari ekonomi rendah agar bisa menamatkan bangku SMA/SMK cukup mendapat perhatian dari Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo.

Semangat perbaikan melalui program tersebut tentu akan disayangkan, manakala tidak dibarengi dengan peningkatan jumlah guru, kesejahteraan, dan kualitas hidup mereka. Murid banyak, guru kurang. Proses belajar mengajar tentu kurang efektif. Bisa berjalan memang, namun sulit untuk berjalan dengan baik dan efektif dalam proses pengajaran dengan jumlah siswa yang besar.

Kekurangan guru ini, menurut data yang diperoleh dari Dinas Pendidikan Kota Surabaya adalah sebagai berikut:

1 TK Negeri, kekurangan guru= 9
547 SD Negeri, kekurangan guru= 1.523
42 SMP Negeri, kekurangan guru= 474
22 SMA Negeri, kekurangan guru= 92
11 SMK Negeri, kekurangan guru= 437

Kekurangan di atas dihitung berdasarkan rasio 40 siswa per kelas. Rasio tersebut merupakan rasio yang sebenarnya sudah melebihi batas ideal sebuah kelas. Karena seharusnya idealnya adalah antara 20-30 siswa per kelas. Jika menggunakan rasio yang 20-30 siswa per kelas, tentu kekurangannya akan bertambah banyak lagi.

Menurut Ketua Komisi D (Bidang Kesra dan Pendidikan) DPRD Kota Surabaya, Ahmad Jabir, masalah yang memprihatinkan ini tidak lepas dari adanya kebijakan Badan Kepegawaian Nasional (BKN) yang ternyata membatasi pengangkatan pegawai negeri sipil (PNS). Total APBD 2008 yang mencapai Rp 3 triliun lebih ini, ternyata anggaran untuk pendidikan kembali mendapat harga diskon, sehingga anggaran yang dialokasikan hanya sekitar Rp 172 miliar atau 7,2% saja. Terdiskonnya anggaran pendidikan ini, akhirnya turut mempengaruhi jumlah guru yang akan diangkat menjadi PNS.

Sementara ini, Kepala Dinas Pendidikan, Sahudi mengungkapkan bahwa kekurangan guru ini bisa diatasi dengan pengangkatan guru bantu dan guru tidak tetap (GTT). Diknas cukup menyadari akan kekurangan ini, namun menurutnya adanya pengangkatan ini bisa digunakan untuk mengatasi persoalan kekurangan guru. Meskipun, sudah ditambah pun masih kurang. Karena teryata jumlah guru yang kurang ini merupakan akumulasi dari tahun 2006.

Perlu diketahui juga bahwa, apabila pemerintah tidak serius dalam menangani persoalan ini, tentu kualitas pendidikan di Indonesia atau di Surabaya khususnya juga akan mengalami penurunan. Target sertifikasi guru pun yang dilakukan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) terhadap 2,7 juta guru diprediksi mengalami kegagalan. Pasalnya, target yang dicanangkan selama 10 tahun (2005-2015) ini seharusnya bisa mensertifikasi guru tiap tahunnya sebanyak 270.000 guru. Padahal sejak 2005-awal 2008 ternyata baru 380.000 guru yang sudah tersertifikasi. Sisanya masih 2.320.000 guru lagi yang perlu disertifikasi dalam kurun waktu 8 tahun ke depan. (as)

Disarikan dari beberapa sumber media.
http://catatankammi.blogspot.com
16.47 | 0 komentar | Read More

Feminisme dan Pendidikan

Pada hakekatnya, gerakan feminisme adalah isu kaum perempuan kelas menengah yang ingin membebaskan diri dari pekerjaan-pekerjaan rutin rumah tangga. Hal ini tampak dari buku Betty Friedan The Feminine Mystique (1963), yang mencoba untuk mengkampanyekan isu persamaan kekuasaan, dan buku Juliet Mitcher Women’s estate (1971) yang menyatakan bahwa motherhood is slavery (tugas yang diemban para ibu rumah tangga merupakan perbudakan). Bahkan Millet dalam bukunya Sexual Politics mengatakan bahwa lembaga keluarga adalah old age evil (setan tua). Gerakan ini lahir pada era pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Pada saat menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan kulit putih di Eropa. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood. Meskipun para feminisme mempunyai kesadaran yang sama mengenai ketidakadilan gender, menurut Yunahar Ilyas, mereka berbeda pendapat dalam sebab-sebab terjadinya ketidakadilan gender tersebut dan juga dalam target yang akan dicapai dalam perjuangan mereka. Perbedaa perspektif inilah yang kemudian melahirkan empat aliran utama, yaitu feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme Marxis, dan feminisme sosialis.

Bidang garap dan isu yang digaungkan oleh gerakan ini cukup banyak. Menurut telaah Kristi Switala, kreator dan editor dari Feminist Theory website, bidang garap feminisme amat luas, mencakup urusan seni dan estetika, antropologi budaya, kesehatan fisik dan psikologis, media komunikasi, sejarah, ekonomi, dan politik. Selain itu bidang hukum dan persamaan hak, termasuk kaum lesbian juga menjadi bidikan mereka. Wacana gender dalam agenda feminisme kontemporer banyak memfokuskan pada persamaan hak, partisipasi perempuan dalam kerja, pendidikan, kebebasan seksual maupun hak reproduksi. Berikut ini akan dikupas terkait dengan pengaruh gerakan ini dalam dunia pendidikan.

Berdasarkan Data Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) 1999-2000 menyebutkan, sebanyak 54% perempuan di Indonesia hanya sempat mengenyam pendidikan SD, 19% lulusan SMP, dan 27% lulusan SMA. Sedangkan yang mengenyam bangku perkuliahan (Perguruan Tinggi) masih sedikit. Adanya pembedaan hak bagi kaum perempuan, mendasari gerakan ini mulai menggarap isu dan gagasan dalam dunia pendidikan.

1. Feminisme Liberal

Feminisme ini menyatakan bahwa kebebasan dan keseimbangan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Dasar perjuangannya adalah menuntut kesempatan dan hak sama bagi setiap individu. Aliran ini dipengaruhi oleh teori struktural fungsionalisme. Aliran ini tidak melihat struktur dan sistem sebagai pokok permasalahan. Menurut aliran ini, ketika ditanyakan ’Mengapa kaum perempuan dalam keadaan terbelakang atau tertinggal?’. Menurut aliran ini, hal ini disebabkan karena kesalahan ”mereka sendiri”. Artinya, ketika sistem sudah memberikan kesempatan yang sama pada laki-laki dan perempuan, tetapi ternyata kaum perempuan tersebut kalah dalam bersaing, maka kaum perempuan itu sendiri yang perlu disalahkan (Narwoko & Suyanto, 2004: 328 dalam buku Sosiologi). Kaum feminisme ini mengusulkan pemecahan masalah ini dengan cara menyiapkan kaum perempuan agar bisa bersaing dalam suatu dunia yang penuh persaingan bebas (Tong, 1983 dalam Ichromi, 1995: 83).

Pengaruh dari adanya gerakan ini dalam pendidikan di Indonesia, antara lain:

- Banyaknya program-program pengembangan perempuan dalam pembangunan (women in developmen), yaitu dengan menyediakan ”program intervensi guna meningkatkan taraf hidup keluarga seperti pendidikan, ketrampilan”, serta ”kebijakan yang dapat meningkatkan kemampuan perempuan sehingga mampu berpartisipasi dalam pembangunan”. Feminisme ini tidak pernah mempersoalkan terjadinya diskriminasi sebagai akibat dari ideologi patriarki (Fakih, 1997 dalam Narwoko&Suyanto, 2004: 328).

- PT. Medco E & P Indonesia, yang memberikan bantuan kredit mikro, terkait dengan pendidikan ketrampilan. Sasarannya dalah kaum perempuan. Alasan ini bukan tanpa sebab. Menurut Frista Yusra dari dividi community development PT.Medco E & P Indonesia, bahwa perempuan memiliki peran dan fungsi yang strategis dalam keluarga. ”Sifat para ibu, jika mereka mendapatkan uang maka seluruhnya digunakan untuk memnuhi kebutuhan rumah tangga. Selain itu, mereka juga berperan dalam pendidikan anak.”

- Banyak diantara kaum perempuan yang kini menapaki jenjang pendidikan tinggi, bahkan sampai Perguruan Tinggi atau bahkan meraih gelar doktoral. Semakin banyaknya jumlah perempuan, semakin banyak pula, kini kaum perempuan mengenyam pendidikan. Terlepas dari ketidakmampuan ekonomi untuk biaya sekolah.

- Banyaknya kesempatan yang tersedia, bagi perempuan yang mau menjemput kesempatan ini, menyebabkan ranah untuk menjadi ilmuwan pun diisi oleh perempuan. Misalnya saja Utami Retno Kadarwati lulusan S-2 di Coastal and Geoscience and Engineering, Kiel University, Jerman. Ia merupakan peneliti dari Indonesia yang bergabung dengan para peneliti dari Australian Antartic Division (AAD) dalam penelitian Heard Island prey Investigation Studies (HIP-PIES), akhir 2003 – Februari 2004 lalu. Hal menunjukkan bahwa tidak ada halangan bagi kaum perempuan untuk menjadi peneliti atau ilmuwan.

- Timbul banyaknya kesadaran dalam masyarakat untuk memasukkan anak ke sekolahnya bahkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi, tidak hanya kepada mereka yang laki-laki tapi juga kaum perempuan.

- Wilayah-wilayah yang dulu sering dipenuhi oleh laki-laki, misalnya Pendidikan Jurusan Teknik, sudah bukan area yang diperuntukkan bagi kaum laki-laki saja. Akan tetapi para perempuan sudah mulai banyak memasuki atau memilih jurusan ini. Misalnya saja Teknik informatika, komputer, dan seterusnya.

2. Feminisme Marxis

Gerakan ini memandang hak kepemilikan pribadi yang diusung kapitalisme adalah penyebab kehancuran. Oleh karena itu mereka berjuang untuk memutuskan hubungan dengan kapitalisme. Mereka menentang keyakinan kaum feminisme radikal yang menyatakan biologi sebagai dasar pembedaan gender. Bagi mereka penindasan perempuan adalah bagian dari penindasan kelas dalam hubungan produksi. Aliran ini beranggapan bahwa patriarki ataupun kaum laki-laki sebagai permasalahan, akan tetapi justru sistem kapitalisme yang menjadi penyebabnya. Sehingga emansipasi perempuan, menurut aliran ini terjadi jika perempuan terlibat dalam produksi dan berhenti mengurus rumah tangga.

Pengaruh dalam pendidikan di Indonesia;

- Banyaknya anak atau siswa didik yang kurang mendapat perhatian dari orang tua. Terutama ibu. Mereka lebih banyak menampakkan dirinya sebagai wanita karier daripada seorang ibu. Peran ibu yang sebenarnya sangat signifikan bagi pendidikan anak dan negara, kini tersisihkan.

3. Feminisme Radikal

Gerakan ini menentang keberadaan institusi keluarga dan sistem patriarki. Sebab semua ini dianggap sebagai pangkal penindasan terhadap perempuan. Para penganut aliran ini, mereka tidak melihat adanya perbedaan antara tujuan personal dan politik, unsur-unsur seksual atau biologis, sehingga dalam melakukan analisis tentang penyebab penindasan terhadap kaum perempuan oleh laki-laki, akar permasalahannya pada jenis kelamin laki-laki itu sendiri beserta ideologi patriarkinya (Amal, 1995 dalam Ichromi, 1995: 93).

Pengaruh dalam dunia pendidikan:

- Salah satu subyek penelitian skripsi Mahasiswi semester akhir Psikologi Unair, yang berjudul Politik Identitas Feminisme di Surabaya, menyatakan bahwa dia tidak akan menikah. Dalam dunia pendidikan, hal ini dapat menyebabkan turunnya kualitas anak serta generasi penerus bangsa. Bayangkan saja, apabila tidak menikah, orang tidak akan memiliki anak. Di mana anak adalah aset bangsa, yang apabila dididik maka akan menjadi generasi yang unggul dan berkualitas. Siapa yang akan menjadi penerus bangsa ini?. Selain itu, secara tidak langsung, ketika lesbian marak hal ini akan memberikan pengaruh pada pendidikan dan perkembangan anak. Di satu sisi, bagus bahwa mereka akan berpikir bahwa perempuan harus sekolah tinggi dan kaya serta mandiri. Karena itu nanti jika sudah mampu tidak perlu menikah akan tetapi di sisi yang lain hal ini akan berakibat buruk pada yang lainnya. Menjadi ketua kelas bukan lagi ”kewajiban” bagi laki-laki. Tapi perempuan pun bisa menjadi ketua kelas. Bahkan terkadang kondisi laki-laki terlihat ”subordinat’ daripada perempuan, terjadilah penghinaan, pelecehan, sikap sombong bahwa ’aku bisa’ terhadap laki-laki. Di lingkungan sekitar saja (kampus Psikologi Unair), pernah penulis dapati cerita, para mahasiswi lebih menganggap remeh dan merendahkan laki-laki, ketika mereka merasa bahwa dirinya bisa. Akibatnya posisi sebagai ”laki-laki’ seperti terambil alih oleh perempuan, dantentu ini akan berakibat kurang baik pada aspek laki-laki terutama psikologisnya.

4. Feminisme Sosialis

Aliran ini mencoba untuk mensintesiskan berbagai perspektif feminisme dengan menyatakan bahwa subordinasi perempuan hanya bisa dijelaskan dengan uraian yang kompleks dan membingungkan. Asumsi yang digunakan gerakan ini adalah bahwa hidup dalam masyarakat yang kapitalis bukan satu-satunya penyebab keterbelakangan perempuan sebagai perempuan (Amal, 1995 dalam Ichrom, 1995: 105). Penganut aliran ini, menerima dan menggunakan prinsip dasar Marxisme dan memperluasnya dengan bidang yang selama ini diabaikan teori Marxis konvensional dengan menggabungkan feminis radikal dan feminis Marxis (Bhasin, 1996: 38).

Secara umum, pengaruhnya dalam pendidikan adalah:

- Mereka meminta adanya kurikulum dalam dunia penddidikan mengenai adanya sosialisasi perbedaan gender.

- Perlunya pemberdayaan perempuan

- Ranah-ranah atau jurusan-jurusan dalam perguruan tinggi rata-rata perempuan bisa masuk atau mengambilnya. Termasuk jurusan teknik.

- Penghilangan diskriminasi gender di dunia pendidikan, terutama dalam hal stereotipe yang biasa berkembang dalam masyarakat. Misalnya, seperti perlakuan yang berbeda antara siswa putra dengan putri.. Laki-laki jika tidak bisa, mereka lebih dipandang bahwa mereka tidak bisa karena malas, dan pada dasarnya laki-laki itu pandai. Sebaliknya, perempuan tidak bisa karena memang pada dasarnya perempuan itu bodoh.

- Perempuan dapat meraih pendidikan setinggi apa yang mereka mau. Bahkan kesempatan untuk mendapatkan beasiswa ke Luar Negeri pun sekarang ini banyak didapat oleh kalangan perempuan.

- Semakin lama, posisi laki-laki akan bisa tersingkir. Baik dalam pendidikan maupun dalam dunia kerja. Yang akhirnya akan menyebabkan, fitrohnya laki-laki sebagai pemimpin akan tergeser oleh perempuan. Dan bisa jadi, laki-laki yang akan menjadi tersubordinat, berada di bawah perempuan.

- Karena gerakan ini feminisme, akan dapat mempengaruhi dan bisa jadi akan memicu munculnya diskriminasi laki-laki dari perempuan serta tentu akan lebih membela dan membenarkan sikap perempuan daripada laki-laki.

16.39 | 0 komentar | Read More

Enam Perusak Ukhuwah

Pada masyarakat Islam, persatuan dan kesatuan atau lebih sering disebut dengan ukhuwah Islamiyah merupakan sesuatu yang sangat penting dan mendasar, apalagi hal ini merupakan salah satu ukuran keimanan yang sejati. Karena itu, ketika Nabi Saw berhijrah ke Madinah, yang pertama dilakukannya adalah Al-Muakhah, yakni mempersaudarakan sahabat dari Makkah atau muhajirin dengan sahabat yang berada di Madinah atau kaum Anshar. Ini berarti, ketika seseorang atau suatu masyarakat beriman, maka seharusnya ukhuwah Islamiyah yang didasari oleh iman menjelma dalam kehidupan sehari-hari, Allah swt. berfirman, Sesungguhnya mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” [QS Al-Hujurat (49):10]

Satu hal yang harus diingat bahwa, ketika ukhuwah islamiyah hendak diperkokoh atau malah sudah kokoh, ada saja upaya orang-orang yang tidak suka terhadap persaudaraan kaum muslimin, mereka berusaha untuk merusak hubungan di antara sesama kaum muslimin dengan menyebarkan fitnah dan berbagai berita bohong. Dalam kehidupan umat Islam, kita akui bahwa ukhuwah Islamiyah belum berwujud secara ideal, namun musuh-musuh umat ini tidak suka bila ukhuwah itu berwujud, mereka terus berusaha menghambatnya. Karena itu, setiap kali ada berita buruk, kita tidak boleh langsung mempercayainya, tapi lakukan tabayyun atau cek dan ricek terlebih dahulu kebenaran berita itu. Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya sehingga kamu akan menyesal atas perbuatanmu itu.” [QS Al-Hujurat (49): 6]

Asbabun nuzul (sebab turunnya ayat) tersebut di atas adalah, suatu ketika Al-Harits datang menghadap Nabi Muhammad saw., beliau mengajaknya masuk Islam, bahkan sesudah masuk Islam ia menyatakan kemauan dan kesanggupannya untuk membayar zakat. Kepada Rasulullah, Al-Harits menyatakan, “Saya akan pulang ke kampung saya untuk mengajak orang untuk masuk Islam dan membayar zakat dan bila sudah sampai waktunya, kirimkanlah utusan untuk mengambilnya.” Namun ketika zakat sudah banyak dikumpulkan dan sudah tiba waktu yang disepakati oleh Rasul, ternyata utusan beliau belum juga datang. Maka Al-Harits beserta rombongan berangkat untuk menyerahkan zakat itu kepada Nabi.

Sementara itu, Rasulullah saw. mengutus Al-Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat, namun di tengah perjalanan hati Al-Walid merasa gentar dan menyampaikan laporan yang tidak benar, yakni Al-Harits tidak mau menyerahkan dana zakat, bahkan ia akan dibunuhnya. Rasulullah tidak langsung begitu saja percaya, beliau pun mengutus lagi beberapa sahabat yang lain untuk menemui Al-Harits. Ketika utusan itu bertemu dengan Al-Harits, ia berkata, “Kami diutus kepadamu.” Al-Harits bertanya, “Mengapa?” Para sahabat menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah telah mengutus Al-Walid bin Uqbah, ia mengatakan bahwa engkau tidak mau menyerahkan zakat bahkan mau membunuhnya.”

Al-Harits menjawab, “Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan sebenar-benarnya, aku tidak melihatnya dan tidak ada yang datang kepadaku.” Maka ketika mereka sampai kepada Nabi saw., beliau pun bertanya, “Apakah benar engkau menahan zakat dan hendak membunuh utusanku?” “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan sebenar-benarnya, aku tidak berbuat demikian.” Maka turunlah ayat itu.

Surat Al Hujurat ayat 6 di atas menggunakan kata naba’ bukan khabar. M. Quraish Shihab dalam bukunya Secercah Cahaya Ilahi halaman 262 membedakan makna dua kata itu. “Kata naba’ menunjukkan berita penting, sedangkan khabar menunjukkan berita secara umum. Al-Qur’an memberi petunjuk bahwa berita yang perlu diperhatikan dan diselidiki adalah berita yang sifatnya penting. Adapun isu-isu ringan, omong kosong, dan berita yang tidak bermanfaat tidak perlu diselidiki, bahkan tidak perlu didengarkan karena hanya akan menyita waktu dan energi.”

Enam Perusak Ukhuwah

Mengingat kedudukan ukhuwah islamiyah yang sedemikian penting, maka memeliharanya menjadi sesuatu yang amat ditekankan. Disamping harus mengecek kebenaran suatu berita buruk yang menyangkut saudara kita yang muslim, ada beberapa hal yang harus kita hindari agar ukhuwah islamiyah bisa tetap terpelihara. Allah swt berfirman, Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan) dan jangan pula wanita wanita-wanita mengolok-olokan wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [QS Al-Hujurat (49): 11-12]

Dari ayat di atas, ada enam hal yang harus kita hindari agar ukhuwah islamiyah tetap terpelihara: Pertama, memperolok-olokan, baik antar individu maupun antar kelompok, baik dengan kata-kata maupun dengan bahasa isyarat karena hal ini dapat menimbulkan rasa sakit hati, kemarahan dan permusuhan. Manakala kita tidak suka diolok-olok, maka janganlah kita memperolok-olok, apalagi belum tentu orang yang kita olok-olok itu lebih buruk dari diri kita. Kedua, mencaci atau menghina orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan, apalagi bila kalimat penghinaan itu bukan sesuatu yang benar. Manusia yang suka menghina berarti merendahkan orang lain, dan iapun akan jatuh martabatnya.

Ketiga, memanggil orang lain dengan panggilan gelar-gelar yang tidak disukai. Kekurangan secara fisik bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk memanggil orang lain dengan keadaan fisiknya itu. Orang yang pendek tidak mesti kita panggil si pendek, orang yang badannya gemuk tidak harus kita panggil dengan si gembrot, begitulah seterusnya karena panggilan-panggilan seperti itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Memanggil orang dengan gelar sifat yang buruk juga tidak dibolehkan meskipun sifat itu memang dimilikinya, misalnya karena si A sering berbohong, maka dipanggillah ia dengan si pembohong, padahal sekarang sifatnya justru sudah jujur tapi gelar si pembohong tetap melekat pada dirinya. Karenanya jangan dipanggil seseorang dengan gelar-gelar yang buruk.

Keempat, berburuk sangka, ini merupakan sikap yang bermula dari iri hati (hasad). Akibatnya ia berburuk sangka bila seseorang mendapatkan kenimatan atau keberhasilan. Sikap seperti harus dicegah karena akan menimbulkan sikap-sikap buruk lainnya yang bisa merusak ukhuwah islamiyah. Kelima, mencari-cari kesalahan orang lain, hal ini karena memang tidak ada perlunya bagi kita, mencari kesalahan diri sendiri lebih baik untuk kita lakukan agar kita bisa memperbaiki diri sendiri. Keenam, bergunjing dengan membicarakan keadaan orang lain yang bila ia ketahui tentu tidak menyukainya, apalagi bila hal itu menyangkut rahasia pribadi seseorang. Manakala kita mengetahui rahasia orang lain yang ia tidak suka bila hal itu diketahui orang lain, maka menjadi amanah bagi kita untuk tidak membicarakannya.

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa ketika ukhuwah islamiyah kita dambakan perwujudannya, maka segala yang bisa merusaknya harus kita hindari. Bila ukhuwah sudah terwujud, yang bisa merasakan manfaatnya bukan hanya sesama kaum muslimin, tapi juga umat manusia dan alam semesta, karena Islam merupakan agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Karenanya mewujudkan ukhuwah Islamiyah merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan ini.


Oleh: Drs. Ahmad Yani
http://www.dakwatuna.com/index.php/alquranul-karim/tafsir-ayat/2007/enam-perusak-ukhuwah/


16.28 | 0 komentar | Read More