Blog kawan

Dokumen

Statistik

INFO

DALAM RANGKA TAHUN BARU MASEHI #2012: BLOG SEDANG DIPERMAK ULANG.

Sekolah: dari Athena ke Cuernavaca

Written By Informasi singkat tentang saya on Jumat, 25 Januari 2008 | 09.55

Mendengar kata “sekolah” pada umumnya seseorang akan membayangkan suatu tempat dimana orang-orangnya melewatkan sebagian dari masa hidupnya untuk belajar atau mengkaji sesuatu.

Kata itu unmumnya memang diacukan pada suatu system, suatu lembaga, suatu organisasi besar, dengan segenap kelengkapan perangkatnya: sejumlah orang yang belajar dan atau mengajar, sekawanan bangunan gedung, secakupan peralatan, serangkaian kegiatan terjadwal, selingkupan aturan, dan sebagainya, dan seterusnya.

Padahal, dalam bahasa aslinya, yakni kata skhole, scola, scolae atau schola (Latin), kata itu secara harfiah berarti “waktu luang” atau “waktu senggang”. Nah, apa dulunya tak terjadi Si Jan atau Si Jack, yang menyebut kata itu dalam bahasa ibu mereka dengan ejaan school, yakni asal mula kata sekolah dalam bahasa kita sekarang?

Sebenarnya tak ada yang keliru. Pangkal perkaranya bisa dilacak kembali jauh ke belakang ke zaman Yunani Kuno, zaman dan tempat asal-muasal kata tersebut.

Alkisah, orang Yunani tempo dulu bisaanya mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi suatu tempat atau seseorang pandai tertentu untuk mempertanyakan dan mempelajari hal-ikhwal yang mereka rasakan memang perlu dan butuh untuk mereka ketahui. Mereka perlu butuh untuk mereka ketahui. Mereka menyebut kegiatan itu dengan kata atau istilah skhole, scola, scolae atau schola. Keempatnya punya arti sama : “waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar” (leisure devoted to learning).

Lama kelamaan, kebisaaan mengisi waktu luang mempelajari sesuatu itu akhirnya tidak lagi semata-mata jadi kebisaaan kaum lelaki dewasa atau sang ayah dalam susunan keluarga pati masyarakat Yunani Kuno. Kebisaaan itu juga kemudian diberlakukan bagi para putra-putri mereka, terutama anak laki-laki, yang diharapkan nantinya dapat menjadi pengganti sang ayah. Karena desakan perkembangan kehidupan yang kian beragam dan kian menyita waktu, sang ayah dan sang ibu merasa bahwa mereka pun tak lagi punya waktu untuk mengajarkan banyak hal kepada putra-putrinya. Karena itu, mereka kemudian mengisi waktu luang anak-anak mereka dengan cara menyerahkannya pada seseorang yang dianggap tahu atau pandai di suatu tempat dimana mereka juga dulunya pernah ber-skhole. Di tempat itulah anak-anak bisa bermain, berlatih melakukan sesuatu, belajar apa saja yang mereka anggap memang patut untuk dipelajari, sampai tiba saatnya kelak mereka harus pulang kembali ke rumah menjalankan kehidupan orang dewasa sebagaimana lazimnya.

Maka, sejak saat itulah beralih sebagian dari fungsi scola matterna (pengasuhan ibu sampai usia tertentu), yang merupakan proses dan lembaga sosialisasi tertua umat manusia, menjadi scola in loco parentis (lembaga pengasuhan anak pada waktu senggang di luar rumah, sebagai pengganti ayah dan ibu). Itulah pula sebab mengapa lembaga pengasuhan ini kemudian bisaa juga disebut “ibu asuh” atau “ibu yang memberikan ilmu” (alma mater).

Waktu terus berlalu. Para orangtua makin terbisaa saja mempercayakan kepada orang-orang atau lembaga-lembaga pengasuh pengganti mereka di luar rumah tersebut, dalam jangka waktu yang semakin lama dan dengan pola yang semakin teratur pula. Karena makin banyak anak yang harus diasuh, maka mulai pula diperlukan lebih banyak pengasuh yang bersedia meluangkan waktunya secara khusus untuk mengasuh anak-anak di suatu tempat tertentu yang telah disediakan, dengan peraturan yang lebih tertib dan dengan imbalan jasa berupa upah dari para orang tua anak-anak itu.

Adalah seorang John Amos Comenius, melalui mahakaryanya yang kemudian dianggap sebagai fons et erigo nya ilmu pendidikan (tepatnya: teori pengajaran), yakni kitab Didactica Magma, melontarkan gagasan pelembagaan pola proses pengasuhan anak-anak itu secara sistematis dan metodis, terutama karena kenyataan memang adanya keragaman latar belakang dan proses perkembangan anak-anak asuhan tersebut yang memerlukan penanganan khusus.

Melanjutkan tradisi Comenius, adalah seorang berkebangsaan Swiss, Johann Heinrich Pestalozzi, pada abad-18, tampil dengan gagasan yang lebih terinci. Orang ini melangkah lebih jauh dengan mengatur pengelompokan anak-anak asuhannya secara berjenjang, termasuk perjenjangan urutan kegiatan (kemudian disebut “pelajaran”) yang harus mereka lalui secara betahap. Juga pengaturan tentang cara-cara mereka harus melalui pelajaran tersebut pada setiap tahapan menurut batasan-batasan khas dan terbaku. Upaya yang kemudian dikenal dengan nama “Sistem Klasikal Pestalozzi” ini, akhirnya menjadi cikal-bakal pola pengajaran sekolah-sekolah modern yang kita kenal sekarang dengan perjenjangan kelas dan tingkatannya.

Sebegitu jauh, skhole nya masyarakat Yunani Kuno pun menjadi suatu tradisi mendunia dengan berbagai keragaman bentuk pengembangan dan penyesuaiannya di berbagai tempat. Memang, orang-orang Yunani Kuno bukanlah bangsa pertama dan satu-satunya yang memulai tradisi sekolah. Konon, bahkan sebelum Socrates dan muridnya, Plato, menyelenggarakan academia atau lyceum di Athena, bangsa Cina Purba kabarnya juga sudah memulainya pada 2000 tahun sebelum Jesus lahir. Dan, konon, itulah lembaga sekolah tertua di dunia yang pernah diketahui sampai saat ini. Juga, kaum Brahmin India sudah membangun Sekolah-sekolah Veda mereka setengah abad sesudahnya. Sejarah pin mencatat bahwa hamper semua bangsa di dunia ini sesungguhnya memiliki tradisi pola pengasuhan anak dan lembaga peresekolahannya sendiri-sendiri, tentu saja dalam ragam bentuk, sifat dan sebutan yang berbeda-beda.

Pun, nenek moyang kita di Nusantara memiliki tradisi serupa yang diwarisi dari tradisi anak benua India dan kemudian juga dari tradisi jazirah Arab. Tetapi, untuk menjelaskan pengertian sekolah seperti yang kenal dan fahami dalam bentuknya yang umum saat ini, maka akar keberadaan dan alur kesejarahannya yang berpangkal pada zaman dan tradisi Yunani Kuno itulah yang mesti ditelusuri, yang kemudian kita warisi melalui tradisi sekolah-sekolah klonial, berkat kebijaksanaan “politik balas-budi” (etische politiek) kaum sosialis-humanis, Belanda dan Inggris, kala itu.

Ah, kalau begitu, mudah saja menerangkan bagaimana kiranya kata sekolah yang semula cuma berarti pengisian waktu luang, kini bermakna dan mewujudkan diri sebagai suatu sitem kelembagaan pendidikan yang kadangkala dan celakanya sekaligus, diartikan sebagai wujud hakekat pendidikan yang kadangkala dan celakanya sekaligus, diartikan sebagai wujud hakekat pendidikan itu sendiri. Kata itu mestinya memang difahami dalam konteks kesejarahannya sebagai bagian dari keseluruhan perkembangan peradaban umat manusia dimana lembaga itu mewujudkan diri.

Kesadaran kesejarahan kontekstual inilah yang teramat penting untuk memahami hakekat dinamika semua lembaga kemasyarakatan kita, termasuk lembaga sekolah: bagaimana sebenarnya ia mewujud pada saat ini, sebagai hasil dari suatu perjalanan panjang di masa lalu, dank e arah mana mestinya ia ditujukan untuk menghadapi masa depan yang sangat boleh jadi akan berbeda sama sekali.

“..apakah kita sedang bergerak kea rah pendidikan yang diperluas dan menyusun rencana dengan gagasan bahwa perembangan individu adalah suatu praxis, ataukah kita justru sedang menuju kea rah scolae dalam arti kata yang sebenarnya?” (sepenggal kalimat dari salinan naskah Deklarasi Cuernavaca 1971).
Hendra Bagus. W.
Jazakallah pak ya, ngresumke... :)
09.55 | 0 komentar | Read More

Nilai Kuat, Prestasi Didapat

Written By Informasi singkat tentang saya on Kamis, 24 Januari 2008 | 19.24

Selasa, 04 Des 2007
Setiap anak yang baru lahir netral terhadap nilai-nilai. Disadari atau tidak orang tua dan lingkunganlah yang membentuk mereka menjadi pembohong, pemarah, atau segala sifat negatif lainnya.


Saat masih berusia setahun, anak pasti mendapat imunisasi. Ketika dibawa ke rumah sakit, posyandu, atau puskesmas, anak menangkap segala gambaran yang ada di sana. Karena merasa lingkungan tersebut asing, anak bereaksi dan orang tua menenangkan.


"Tenang aja nggak sakit kok" atau "rasanya cuma seperti digigit semut" adalah alasan-alasan yang sering orang tua katakan pada anak. Karena orang tua adalah orang yang dekat dengan mereka, otomatis si anak percaya dengan perkataan tersebut. Namun, perngalaman saat disuntik ternyata sakit. Dan saat itulah anak belajar berbohong.


Tanpa disadari, orang tua selalu mengulang-ulang proses berbohong. Sebagai contoh, saat anak diajak berbelanja ke supermarket. Karena tertarik pada sebuah mainan, anak memasukkannya ke keranjang belanja tanpa diketahui ibu. Saat di kasir atau sepulang di rumah, orang tua memberi pengertian pada anak.

"Lain kali, kalau mau mainan bilang mama dulu, nanti pasti dibelikan," adalah perkataan yang sering disampaikan orang tua ke anak. Di lain waktu, saat anak ingin mainan, ia meminta izin seperti permintaan orang tuanya. Dengan berbagai alasan, orang tua mengelak membelikan.


Saat itu pun anak belajar tentang kebohongan. "Harusnya kalau sudah ijin pasti dibelikan. Ini kok tidak?" kira-kira begitu pikir si anak.


Menurut Koordinator Nasional Living Values Education Program Fidelis Elisati Waruwu, nilai kehidupan adalah nilai-nilai yang menghidupkan seseorang. Baik itu membuatnya bertahan hidup ataupun menjadi dewasa. Nilai ini ada pada setiap makhluk. Nilai itu berupa nilai kejujuran, keadilan, penuh kasih sayang, yang dilengkapi potensi bawaan seperti kemampuan berpikir, berasa, dan berperilaku.


"Nilai-nilai negatif dimasukkan ke anak oleh orang tua dan diteruskan selama hidup mereka," kata Fidelis pada peserta Konfrensi Guru Indonesia yang berlangsung pekan lalu, di Jakarta.


Teori Ekologi Bronfenbrenner menyebutkan lima sistem ekologi perkembangan, yaitu mikrosistem, mesosistem, eksosistem, makrosistem, dan kronosistem. Yang termasuk dalam mikrosistem adalah keluarga, teman-teman sebaya, sekolah, dan lingkungan. Dalam mikrosistem inilah terjadi interaksi yang paling langsung dengan agen-agen sosial.


Lingkungan mesosistem meliputi hubungan antara beberapa mikrosistem atau beberapa konteks. "Misalnya hubungan antara pengalaman sekolah dengan pengalaman keluarga atau teman sebaya," kata Fidelis. Eksosistem melibatkan pengalaman individu yang tak memiliki peran aktif di dalamnya. Semisal pengalaman kerja yang mempengaruhi hubungan ibu dan anak.


Makrosistem meliputi kebudayaan dimana individu hidup. Kronosistem meliputi pemolaan peristiwa-peristiwa sepanjang rangkaian kehidupan dan keadaan sosiohistoris. "Maka itu, dalam membangun budaya sekolah berbasis nilai harus mengandalkan komitmen dari semua pihak. Untuk menghadirkan nilai-nilai, seperti penghargaan, toleransi, tanggung jawab, kasih sayang, kedamaian, kejujuran, dan kerendahan hati, haruslah ditekankan dalam setiap interaksi. Baik itu interaksi guru dengan guru, guru dengan murid, dan murid dengan murid di lingkungan sekolah," jelas Fidelis.


Dukung prestasi


Pada dasarnya, lanjut dia, pembangunan budaya nilai itu tidak membutuhkan mata pelajaran khusus atau dimasukkan ke kurikulum. "Bila setiap orang di sekolah itu menghidupi nilai dalam perilakunya, dalam cara bicara, dan berelasi satu dengan lain, maka dengan sendirinya nilai tersebut menghidupi mereka."


Sebagai contoh, untuk menerapkan nilai kerapihan, gurulah yang harus memberi contoh pada anak. "Jika semua guru konsisten berpakaian rapih, saya jamin hanya butuh dua minggu untuk menanamkan nilai tersebut. Anak pasti mengikuti orang-orang yang bisa mereka percaya. Guru mengajarkan berbohong, anak pasti megikuti. Begitupun jika guru mengajarkan disiplin atau nilai-nilai positif" ucapnya.


Hanya saja, lingkungan mesosistem si anak harus mendukung. Caranya, guru bisa memberi pemahaman ke orang tua dan mengajak mereka menerapkan nilaiu yang sama. "Percuma kalau anak rapih di sekolah, tapi di rumah terjadi kondisi yang berbeda. Usaha pihak sekolah harus didukung," ujarnya.


Hal ini tentu tidaklah mudah, karena mengandaikan perubahan pola pikir, pola laku, dan pola rasa masing-masing pihak, terutama kepala sekolah dan guru. Bila guru berubah, maka dengan sendirinya murid juga akan berubah. Maka kunci pembangunan budaya sekolah itu ada pada guru dan kepala sekolah.


Sementara itu, Romy Cahyadi, Direktur ProVisi Education, mengatakan, pendidikan nilai mendukung pencapaian prestasi sekolah. Hal tersebut ia amati berdasarkan pengalaman enam tahun menjadi konsultan pendidikan pada berbagai sekolah negeri dan swasta.


"Sekolah-sekolah berprestasi umumnya memiliki budaya sekolah yang berbasis nilai yang kuat. Sekolah yang tak ada nilai-nila ini hampir selalu prestasi akademiknya buruk," ujar Romy.


Yang tak kalah penting, harus ada refleksi bersama dalam menentukan nilai yang dianut warga sekolah. Setiap lingkungan punya perbedaan norma dan nilai, itupun selalu berubah seiring berkembanganya lingkungan tersebut. Untuk itu, nilai yang ditanamkan haruslah yang bersifat universal semisal penghargaan, tanggung jawab, kerja sama, kerendahan hati, toleransi, kejujuran, dan intergritas.


Budi Winarno

http://www.jurnalnasional.com/?med=Arsip&sec=Pendidikan%20dan%20Kebudayaan&rbrk=&id=25585&datetime=2007-12-04

19.24 | 0 komentar | Read More

Aina antum ya ikhwah....?

Written By Informasi singkat tentang saya on Sabtu, 19 Januari 2008 | 12.14

Jazakallah Pak Gur atas taujihnya...

Sepenggal kalimat hikmah berujar : “sesungguhnya agama ini akan tegak dengan tersedianya umat pembela. Dan wujudnya umat pembela tergantung dari ada dan tiadanya martir da’wah, dan martir da’wah tidak lahir tanpa tarbiyah”. Tarbiyah tidak lapuk karena hujan dan tidak lekang karena panas, sepanjang zaman tarbiyah mampu menunjukkan keampuhannya.

Bukankah Sayyid Qutb satu contoh produk tarbiyah abad kini? Keistiqomahan beliau dijalan da’wah hingga akhir hayatnya di tiang gantungan. Bahkan beliau sempat memberi tausiyah tajam kepada syaikh Azhar sebelum prosesi penggantungan dilakukan. Tatkala syaikh Azhar memberi nasihat bahwa sesungguhnya protokoler hukum gantung hendaknya anda mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illalloh sebelum hukuman dilakukan, beliau mengatakan :”sampai anda juga wahai syaikh ingin menyempurnakan sandiwara ini? Anda makan dengan kalimat Laa Ilaaha Illalloh, dan aku mati demi kalimat tersebut”.

Tarbiyah adalah rahim lahirnya para martir dakwah. Islam sebagai rahmatan lil’alamin tidak akan mampu memberikan kontribusi kebaikannya ketika langkah dan geraknya terhalang tembok kezholiman. Sungguh umat besar yang tidak memiliki dinamika dan daya juang, tidak terlampau bermanfaat bagi datangnya rahmat yang diharapkan. Bukankah ummat Islam pada hari ini banyak dan lebih dari cukup dalam hitungan angka?

Akan tetapi ironi, justru saat mereka memiliki kuantitas cukup besar, justru kualitas mereka tidak diperhitungkan. Jangankan ekspansi kebaikan, mempertahankannya saja kita sudah kewalahan. Tak perlulah kita bertanya kenapa semua ini terjadi karena jawaban itu ada hati kita. Ya… kita sadar umat ini seperti buih terombang-ambing dalam gelombang kedurjanaan.

Kita butuh Sholahudin baru, seorang lelaki kuat perkasa, bermental baja, berfikiran cerdas dan berakhlak mulia. Kita juga butuh Zainab Al Ghazali baru, seorang perempuan tangguh yang tiada duanya. Para pejuang yang dengan segenap jiwa dan raganya akan merubah sejarah peradaban.

Tarbiyah adalah rahim lahirnya pejuang sejati, pejuang yang tak kenal mati, pejuang yang selalu berorientasi pada ridho Ilahi. Buka sekedar teori, bukankah kelahiran sederet manusia besar sekelas sahabat dan generasi sesudahnya cukup menjadi bukti. Sepanjang sejarah kehidupan, manakala tarbiyah hidup ditengah-tengah umat, maka bisa dipastikan umat tersebut akan memiliki jiwa-jiwa kepahlawanan, jiwa yang hidup dan selalu bergerak memutar roda kebaikan.

Mengerti betul kita para muharik dakwah, hari ini kita butuh kader, butuh laki-laki dan perempuan kuat penopang tegaknya kemuliaan. Laki-laki dan perempuan kuat tidak pernah muncul dari dalam bumi atau jatuh dari langit, tapi dia buah karya besar tangan penuh kasih dan cinta para Murobbi

Umat menanti para Murobbi yang akan membangunkan mereka dari keterlenaan, memberikan pencerahan atas kegelapan, melepaskan tali jajahan, yang membuat mereka bergerak bebas menjadi pahlawan baru yang akan dicatat sejarah.

Umat manusia membutuhkan kader yang luapan hatinya menggenangi hati orag-orang disekitarnya, dan dengan luapan robbani itu, mereka dapat menggenangi hati orang-orang disekitar mereka. Maka dengan cara itulah, manusia berubah dari satu keadaan menuju keadaan lain dan keluar dari berbagai kegelapan menuju cahaya. (Hasan Al Banna)

Antumlah ayyuhal ikhwah orang yang diharapkan membawa misi perubahan, karenanya jangan sia-siakan kesempatan. Karena dia tidak akan datang dua kali... Aina antum ya ikhwah....?

(Dirangkum dari berbagai sumber)
12.14 | 0 komentar | Read More

Cerita di tengah cerita tentang konsistensi

Written By Informasi singkat tentang saya on Minggu, 13 Januari 2008 | 07.43

Suasana serasa panas, sekalipun di ruangan itu ada sebuah AC yang menyala. Ruangan sebesar kurang lebih 3x4 meter, dengan AC besar satu buah seolah melupakanku bahwa udara sekitar dingin.

Sesekali orang itu berucap “Itu namanya tidak konsisten. Atas apa yang sudah disepakati.” Saya duduk tepat dihadapannya. Sayapun memperhatikan dengan seksama kalimat tiap kalimat apa yang orang itu bicarakan. Entah berapa kali kata “konsisten” itu keluar dari pembicaraannya. Entahlah, saya tak cukup waktu untuk menghitungnya. Saya hanya mendengarkan dengan seksama dan sesekali saya mengangguk-anggukkan kepala tanda saya sepakat dengannya.

“Seharusnya, klo memang mereka konsisten ketika ada kasus di “sana” (tempat lain) seharusnya bisa diperlakukan yang sama. Saya bisa saja menggugat balik atas perlakuan yang diberikan kepada kita. Kenapa ketika pas kejadian ini dan kebetulan terjadi di sini itu dipermasalahkan? Dan kenapa ketika di “sana” (tempat lain) terjadi pengambilan keputusan sendiri dan itu tidak dipermasalahkan?” Kata orang itu dengan menunjukkan emosi yang terlihat tampak marah, dan sesekali tangannya naik turun seolah seperti seorang guru sekolah yang menerangkan sebuah pelajaran kepada murid-muridnya.

Sekelumit dan sepenggal cerita dari tempat saya bekerja. Meski cerita tak lengkap, apa dan kenapa. Serta apa yang terjadi tidak saya ceritakan di sini. Yang pastinya, banyak pelajaran yang saya dapat dari sebuah kantor kecil tempat saya bekerja. Terutama ketika saya berinteraksi dengan para atasan-atasan, yang notebennya mereka kuanggap sebagai guru atau murobbi di kantor.

Pergaulan saya dengan mereka cukup banyak memberikan inputan yang luar biasa. Membuka mata dan wawasan, serta pengajaran dalam perihal mempertahankan sebuah konsistensi. Sebagai seorang yang pembelajar awal, saya seringkali hanya terdiam, mengamati, membaca, dan kemudian mencerna. Karena itulah saya senang ketika harus mengamati seseorang terutama sewaktu dia berucap dan bertindak.

Pengalaman dan pelajaran itupun akhirnya saya bawa ketika saya aktif di sebuah organisasi mahasiswa yang semuanya adalah Islam dan berharokah tertentu. Dan ternyata, luar biasa. Banyak diantara kader (terutama para penggedenya) entah lupa ataukah sengaja melupakan akan arti sebuah konsistensi. Seolah dan sekelibat pengamatan saya konsistensi didudukkan di bawah sebuah “kepentingan” tertentu. Ironisnya itu diajarkan turun temurun kepada beberapa kader tertentu, yang tentunya tidak semua kader bisa mendapatkan “kunci rahasia” ini. Meskipun, sesekali atau sering saya bisa membaca sinyal-sinyal itu, yang notebennya saya bukanlah orang yang termasuk kader tertentu itu.

Senang saya menjadi pembelajar dan pengamat mereka di arena diskusi dan pengambilan keputusan. Memang, ketika tidak tahu terlebih dahulu konteks pembicaraan dan latar belakangnya, maka akan cenderung terjebak dalam jawaban “iya” saja dan kata “sepakat”. Tanpa banyak berpikir lagi, dan cenderung mengandalkan rasa “ketsiqohan” saja.

Tidak lembaga besar, perusahaan, partai politik. Sebuah organisasi kemahasiswaan saja konsistensi ini seolah mulai disingkirkan. Entah disadari ataukah tidak. Perubahan perkembangan di lapangan memang terkadang atau sering menggoda kita untuk kemudian tidak konsisten dalam bersikap atas apa yang telah disepakati dan dibuat. Namun, sekali lagi saya pikir sikap konsisten itu harus dimiliki oleh setiap kader. Arti konsistensi harus tertancap kuat oleh para kader-kader yang iron stock bagi bangsa ini.

Akan repot jadinya, ketika adanya kepentingan-kepentingan yang tidak terlalu jelas (menurut sebagian orang) terus kemudian menggoda ubahnya konsistensi ini, dan kita menjadi prajuritnya. Sungguh ironis sekali tentunya. Banyak sekali sebenarnya kasus-kasus ketidakkonsistenan dalam pengambilan sebuah sikap ataupun perkataan sekalipun.

Saya teringat akan sebuah diskusi yang saya lakukan dengan seorang al-akh (klo antum membaca ini dan merasa, salam perdamaian ya...). Seketika itu dia mengatakan melalui YM-nya, “sekarang ana tahu who are you...”. Berbalik saya bertanya, “memangnya saya siapa?”. Dan kemudian dia kembali memberikan jawaban, yang sebenarnya saya sendiri tidak menyangkanya. “Antum membolak-balikkan kata-kata ana.”

Diskusi pun akhirnya beralih ke topik ini. Saya coba untuk menceritakan bahwa pelajaran itu saya dapatkan dari kantor. Dan saya mencoba untuk menggiringnya menebak kemana arah pembicaraan saya. Entah memang dia tidak memahami, tidak bisa membaca atau entah dia hanya berpura-pura saja, saya tidak tahu pasti. Namun, ternyata sewaktu saya mencoba untuk terus mempertanyakan “masak antum nggak tahu ke mana juntrungannya?”. Dia pun tidak memberikan respon balik. Saya hanya berpikir, kenapa tidak ada respon balik ya? Yah, mungkin saya nganyelke sewaktu diajak diskusi. Ah biar saja lah...

Disadari ataukah tidak kita mudah sekali berucap dan mungkin lupa untuk dipikirkan konsekuensi dari ucapan itu. Di sini saya teringat lagi, sewaktu saya pergi ke walimahannya seorang teman kantor ke Tulungagung. Kebetulan kita satu mobil dengan seorang ustadh. Ketika ada yang coba berkelakar, sang ustadh pun tiba-tiba berkata, “awakmu iku ngomong ngono wis dipikir durung? Yen ngomong iku dipikir disik ngono lho...”, sontak ustadh itu.

Yah, selayaknya seperti seorang birokrat, berpikir dulu baru bertindak. Sebuah pelajaran berpikir dulu baru bertindak merupakan sebuah pelajaran awal menuju konsistensi itu. Kita harus sadar bahwa kita didengar, diperhatikan, dan dilihat orang. Sadar bahwa setiap yang kita keluarkan akan dilihat oleh orang dan dimintai pembuktiannya. Tidak hanya Allah dan Rasul-Nya saja yang akan melihat. Tapi penduduk bumi pun akan seperti itu.

Yah, kadang saya berpikir, “emang enak mempertahankan konsistensi?”. Berat, sungguh berat. Kalau dalam Al-Qur’an saja mengatakan, kecuali orang-orang yang khusyu’. Rasulullah saw sendiri ketika mendapatkan perintah untuk konsisten, rambut beliau langsung memutih. Saking betapa tidak ringannya bersikap konsisten itu. Allahua’lam bishowab.
07.43 | 0 komentar | Read More

Pilihlah Ladang Gersang daripada Ladang Subur

Teringat akan sebuah cerita dari seorang dosen di fakultas saya. Beliau bercerita pernah beliauanya diundang oleh para guru dalam acara sebuah seminar. Di situ sang dosen pun bertanya, “Bapak-bapak, ibu-ibu, kalau seandainya saya bertanya kepada semuanya, anda pilih yang mana diantara dua kelompok ini. Ada dua kelompok siswa. Kelompok pertama anak-anaknya pandai, berprestasi, mudah diatur, dan penurut. Pokoknya anak-anaknya sudah baik-baik. Kelompok yang kedua, sebaliknya. Anak-anaknya susah di atur, nggak penurut, prestasi rendah. Kira-kira dari dua kelompok ini, bapak ibu guru pilih yang mana? Kelompok pertama atau kelompok kedua?” Tanya sang dosen kepada para guru itu sambil meminta mereka tunjuk jari bagi yang memilih kelompok pertama atau kedua.

Tenryata setelah ditanya, sang dosen pun kaget. Kenapa? Karena hampir semua guru menjawab, mereka memilih kelompok pertama. Sontak kemudian sang dosen berkata, “Kalau seperti itu, bapak ibu bukan guru!” Jawab dengan tegasnya. “Iya, bapak ibu bukan guru.”

Kira-kira dari sini ada yang berpikir dulu, tidak melanjutkan membaca, danmencoba untuk merenungkan. Kira-kira kenapa sang dosen berkata seperti itu dengan tegasnya kepada para peserta (guru-guru)?

Yap, jawabannya adalah mudah saja. Seorang guru adalah seorang pengajar. Seorang guru adalah seorang pendidik. Pendidik dan pengajar adalah mendidik dan mengajari siswa yang semula tidak bisa menjadi bisa. Yang semula tidak bisa membaca, menjadi bisa membaca. Yang semual tidak bisa berhitung, menjadi bisa berhitung, dan seterusnya. “Itulah guru. Pendidik dan pengajar.” Lugasnya.

Dari cerita di sini, saya pun akhirnya teringat lagi. Sebuah cerita tentang pembandingan saya antara pilihan kerja di kantor dengan di tempat kerja yang lain yang notebennya sudah kuat, settle. Saya pernah berkata bahwa, di satu sisi memang enak ketika kita berada di kondisi, lingkungan, organisasi, lembaga, ataupun perusahaan yang notebennya sudah kuat dan baik daripada yang masih perlu perjuangan. Itu wajar bagi setiap orang. Akan tetapi, disadari ataukah tidak sebenarnya kita justru memilih area yang sulit untuk menunjukkan kontribusi kita.

Coba saja kita berpikir sejenak. Ketika kita berada di kondisi yang belum kuat dan penuh perjuangan, memang effortnya cenderung lebih besar, energi besar pun harus dikeluarkan mau tidak mau untuk menopang semuanya. Akan tetapi, justru inilah peluang dan kesempatan besar kita untuk turut bekrontribusi dan mempelrihatkan kontribusi kita di situ. Usaha kecil dan terwujud akan sangat kelihatan penilaian bahwa kita berkontribusi di situ daripada ketika kita berada di kondisi yang sudah kuat. Misalnya saja, dalam pembangunan sebuah masjid, misalnya saja begitu. Masjid belum ada, dan akan diadakan. Akan tetapi dana belum ada, dan harus dicarikan. Ketika berada dalam kondisi ini, sebut saja Fulan mencoba untuk mencarikan dana dengan mengajukan proposal ke sebuah lembaga sosial dan akhirnya diperoleh bantuan. Seratus persen dibantu misalnya.

Dari yang belum ada, menjadi ada. Dari dana yang kekurangan dan belum mencukupi menjadi ada, mencukupi, dan masjid pun jadi. Hingga akhirnya dapat dikembangkan menjadi pusatnya kegiatan masyarakat misalnya. Hal ini tentu akan menjadi catatan sejarah tersendiri bagi fulan. Penilaian kontribusi akan lebih kentara. Daripada, misalnya mencari dana di saat masjid sudah terbentuk. Pencarian dana hanya sampingan saja. Di saat masukan dana dari beberapa donatur atau penyumbang sudah ada misalnya.

Pilihlah ladang yang kering daripada yang subur. Adalah dimaksudkan, bahwa memilih area yang pelru pembangunan dan perjuangan seharusnya dapat disambut dan dimaknai sebagai sebuah ajang peluang besar untuk kita turut menunjukkan kontribusi kita di area itu. Terutama ketika sesuatu yang belum ada itu, kitalah yang mengadakan.

Hmm... inget cerita lain lagi niy. Nggak papa yah, untuk pembaca semoga tambah seneng aja dengan cerita-ceritanya. Saya teringat cerita temen kantor. Mengenai sebuah daerah di Sulawesi (kalau nggak salah, agak lupa-lupa ingat gitu deh...). Daerahya tergolong cukup terpencil. Waktu itu, desa tersebut termasuk dalam daftar daerah yang terkena bencana gempa dalam tekanan yang cukup tinggi. Tim kemanusiaan kantor pun turun ke lapangan dan sampailah ke daerah ini dan memberi bantuan. Dan ternyata, tim kantor kita adalah lembaga yang pertama kali memberikan bantuan dan pertolongan pertama.

Alhasil, setiap kali daerah ini terkena bencana dan mendapatkan bantuan dari lembaga-lembaga lain, pasti mereka mengira dan menganggap lembaga yang membantu mereka itu adalah kantor kita. Sekalipun sebenarnya bukan kita. Subhanallah. Pertolongan dan perjuangan di saat kondisi krisis adalah masa-masa di mana kita akan di kenang. So, jadilah yang pertama di masa-masa krisis ini yah. Jangan terlalu menyesalkan dan justru patah semangat di saat menghadapi ladang yang kering. Petani yang dengan sabarnya mengolah tanah, menanami bibit unggul, menyianginya, dan memupuk akan menuaikan hasil yang memuaskan tentunya, terlepas dari adanya ujian di luar kemampuan manusia.
07.41 | 0 komentar | Read More

Ini adalah ujian untuk konsisten bagimu...

Seorang akhwat yang kebetulan adalah serumah dengan saya. Dia memiliki amanah mengajar para ibu untuk mengaji TPA. Atas namanya, bukan atas nama pribadi, tapi atas nama sebuah partai politik yang sekarang lagi naik daun. Berlambangkan dua bulan sabit dipinggirnya (tebak siapakah itu?). Program pengajaran TPA ibu-ibu ini memang diadakan dalam rangka membantu mereka dalam pencerdasan belajar membaca Al-Qur’an. Ada beberapa orang memang yang mengajar, dan salah satunya adalah teman saya ini. Sebut saja Nunu.

Sudah sekitar dua bulan ini Nunu mengajari para ibu membaca Al-Qur’an. Belajar berawal dari Iqro’ jilid I. Harus sabar memang. Pembelajaran ini bisanya dilaksanakan seminggu satu kali setelah sholat Isya’. Karena rata-rata para ibu ini juga bekerja di pagi atau siang harinya. Rata-rata para pedagang. Pedagang jamu dan pedagang gorengan keliling.

Suatu malam, Nunu bercerita. Dia menceritakan ada salah seorang ibu yang sewaktu Nunu kunjungi sangat senang. Bahkan ketika Nunu bercanda, “Bu, nanti saya pengen belajar masak di sini ya?”. Teryata beberapa hari berikutnya, dapur si ibu ini diperlebar. Dia merasakan kegembiraan diajari membaca dan menyambut candaan Nunu ini dengan kegembiraan dengan memperlebar dapurnya. Luar biasa ya...

Hal ini, ternyata disikapi berbeda oleh Nunu. “Huhh.. aku dadi males aku. Aku dadi kehilangan semangat. Aku kan dadi setiap minggu masak nang kono? Lha piye wong awale kan guyonan tok. Lha kok, aku ndek wingi di telpon, ‘Mbak besok minggu masak di rumah saya ya?’ “ Kata si ibu itu.

Subhanallah. Sebuah peluang yang baik. Teringat akan nasihat seseorang, bahwa kita harus melihat peluang-peluang yang ada dan harus pandai mengambil peluang itu. Berangkat dari sini, saya kemudian mencoba untuk menyampaikan. “Mbak, iku ujian nggo sampeyang mbak. Ujian istiqomah. Lek iso peluangnya gede lho mbak iku. Tapi jujur lek aku gak kuat mbak misale seperti itu. Sewaktu aku ngajar di TPQ iku ae, aku gak kuat. So aku lebih memilih mengundurkan diri. Hehehe...” kataku sambil tersenyum.

Konsistensi, Istiqomah, dan peluang adalah sebuah ujian dan prediksi nyata akan apa yang hendak kita raih dan dapatkan. Peluang yang ada kita raih dengan disertai kekuatan untuk konsisten, istiqomah tentunya akan menghasilkan prediksi yang akurat. Jaminan bahwa apa yang akan kita dapatkan, bisa diperoleh. Namun, sebaliknya apabila peluang ada, tapi kita tidak kuat untuk konsisten, maka bisa jadi peluang itu akan diambil orang lain. Dan kita nantinya mungkin hanya akan menyesali ketika melihat peluang itu diambil oleh orang lain dan akhirnya orang tersebut sukses mengelolanya.
07.39 | 0 komentar | Read More

Ikutlah dalam roda sejarah, maka engkau akan dikenang

Sejenak berpikir dan merenung sewaktu saya masuk aktif menjadi pengurus KAMMI Daerah Surabaya. Saya masuk langsung naik ke KAMMDA. Sedikit banyak menyalahi prosedur sebenarnya. Yang secara konsensus, sebelum aktif di KAMMDA, diharuskan di komisariat dulu. Namun, karena sebelumnya harus aktif di kampus dan ya karena inilah yang terbaik, saya pun menerimanya.

Kondisi kampus yang saya rasakan cenderung “adem ayem” entah kenapa membuat saya seperti semakin tidak betah saja untuk bertahan di sana. Kampus yang saya rasa kurang tantangannya untuk model saya yang menginginkan tempaan yang lebih dari itu. Akhir periode di kampus (meski sebenarnya saya masih diminta di kampus, tapi saya menolaknya), tawaran untuk aktif di KAMMDA pun saya terima. Saya merasakan sebuah kegembiraan tersendiri. Karena saya melihat di KAMMI tantangannya lebih ada daripada kampus yang saya huni sekarang ini.

Bertemu dan bertaaruf dengan model banyak orang di KAMMDA Surabaya ini. Cerita demi cerita, banyak yang mengeluh dan bercerita tentang kisah mereka sewaktu mengikuti roda sejarah di KAMMI terutama komisariat. Beberapa orang mengisahkan dan salah seorang al-akh sempat berucap kepada saya, “anti kan nggak melu sejarah yo ukh.” Ternyata di kesempatan lain waktu kalimat dengan nada yang sama pun keluar kembali.

Ya, saya kadang merasa menyesal ketika saya tidak menjadi bagian roda sejarah dakwah terutama KAMMI. Tidak berangkat dari komisariat, sehingga tidak tahu banyak persoalan-persoalan yang ada di lapangan terkait dengan KAMMI. Yang ada hanyalah cerita-cerita sejarah dari para pelaku sejarahnya. “Kenapa ya saya dulu tidak ikut dalam roda sejarah KAMMI Komisariat? Sayang saya tidak ikut.” Sesekali saya mengatakan itu kepada diri saya sendiri. Akan tetapi saya cukup teringat bahwa, apa yang sudah berlalu ya sudah. Kita ambil pelajarannya saja dan tidak perlu terlalu menyesali itu. Menyesali boleh tapi sewajarnya saja dan kemudian lebih pentingnya lagi adalah kita melakukan gerak yang progresif di kemudian hari dengan waktu dan tempat yang mungkin berbeda.

Atas dasar inilah kemudian saya mencoba untuk menginginkan turut ikut dalam pembangunan sejarah. Bagaimana yang belum ada, diadakan. Yang belum terlaksana, dilaksanakan. Yang mati, dihidupkan. Yang berselisih, didamaikan. Yang terdzolimi, diperjuangkan. Yang keliru, diluruskan.

Saya teringat ceramah dari seorang ustadh besar yang luar biasa, Ustadh Anis Matta, sewaktu beliau mengisi kajian di Masjid Ketintang, Telkom Divre V. Waktu itu beliau menceritakan bahwa, kita harus mulai menulis sejarah. “Sesekali kita bertanya kepada teman kita, suami/istri kita, tetangga kita, tentang pendapatnya mereka tentang kita. Apa pendapat mereka tentang kita ketika kita meninggal kelak? Apa yang mereka kenang dari kita?” Kata sang ustadh dengan semangatnya.

Ya... ya... Menyambung di paragraf sebelumnya, bahwa sebenarnya turut dalam roda sejarah, itu dapat memberikan satu poin dalam hal penulisan sejarah hidup kita. Bahwa kita tahu betul, bagaimana perkembangan organisasi yang kita ikuti. Bagaimana perjuangannya para ikhwah waktu itu termasuk kita mungkin, dan sebagainya. Seharusnya kita menyiapkan dari awal dan meniatkan dari awal untuk siap turut dalam roda sejarah untuk memberikan kontribusi kita. Sehingga kita pun bisa menorehkan kisah cerita sejarah hidup kita. Dengan keinginan berada dalam roda sejarah, sudah barang tentu semangat untuk terus memperjuangkan idealisme-idealisme itu akan tumbuh terus. Allahua’lam bishowab.
07.38 | 0 komentar | Read More

Semoga organisasi ini tidak mengalami gerhana matahari

Siang-siang, panas-panas, sewaktu saya pulang ke Sragen dengan naik kereta eksekutif (karena pas banjir, adanya tinggal itu tok) yang sempat kebablasan hingga turun ke stasiun Solo, saya sempat membeli koran Jawa Pos. Karena di stasiun itu saya harus menunggu jemputan sang kakak. Menarik ketika ada sebuah kolom yang memberitakan elemen gerakan mahasiswa tetua KAMMI, yakni HMI mengadakan seminar yang bertemakan Refleksi Kepemimpinan SBY-JK di sebuah hotel.

Hadir didalamnya Lili, seorang pengamat politik, pihak dari Golkar (saya lupa namanya), dan juga Anas Urbaningrum (Partai Demokrat). Diskusi dan pembicaraan pun berlanjut, alur berita saya baca terus. Yang membuat menarik saya dan kemudian membuat saya ingin menuliskan di sini adalah ketika pengamat politik ini, mengatakan bahwa telah terjadi persaingan di dalam tubuh SBY-JK sendiri, antara keduanya. Masing-masing terkesan berjalan sendiri-sendiri dengan misi menuju 2009. Di mana hal itu, sangat terlihat pada JK.

Hal ini, kemudian disanggah oleh Anas, bahwa di dalam tubuh SBY-JK adalah tidak benar jika ada persaingan internal antara keduanya. Justru keduanya saling menopang. Anas mengibaratkan antara keduanya adalah seperti halnya matahari dan bulan. Keduanya sama-sama bisa bersinar. Hanya saja di sini, sinarnya yang kurang cerah, sehingga tidak terlalu terlihat. Menariknya lagi, adalah hal ini ditanggapi lagi oleh peserta panelis lain (saya lupa lagi niy namanya) bahwa sekalipun demikian, yang namanya matahari dan bulan, sesekali akan terjadi gerhana matahari. Di mana, matahari akan tertutup dan bulan yang akan terlihat nampak lebih cerah. Apalagi gerhana total.

Menarik saya membacanya. Berangkat dari berita itu, saya mencoba untuk membawanya ke dalam dunia organisasi. Terutama yang didalamnya berkecimpung beberapa ikhwah. Jika saya amati, di kampus saya, dari tiga kali periode kepengurusan di BEM, saya melihat gerhana matahari ini terjadi. Dari tiga kali itu, hanya satu kali saja yang memang mataharinya yang lebih cerah dan dia yang menyinari bulannya. Selebihnya gerhana matahari.

Berjalan ke arah ormawa di kampus ataupun ormek, ternyata gerhana ini pun terjadi rupanya. Di mana seorang sekretaris lebih bercahaya daripada sang mataharinya. Ada apakah gerangan?

Dalam tataran departemen atau biro, saya pikir bisa saja sih dipersoalkan, tapi bisa jadi tidak perlu untuk dipersoalkan. Dalam artian, tidak terlalu masalah banget. Akan tetapi, apabila hal ini terjadi pada jajaran pemimpin atas (presiden vs wapres BEM, ketum vs sekum) akan berbahaya ketika terjadi gerhana matahari ini. The second man akan cenderung terlihat lebih daripada the first man. Kadang saya berpikir, saya masih belum begitu memahaminya kenapa justru dibuat begitu? Saya sendiri tidak percaya sebelum mereka diperjuangkan untuk menduduki amanah itu, mereka tidak discreening kemampuannya.

Akan tetapi apabila discreening, kenapa juga justru yang lebih dijadikan presiden atau ketum adalah orang yang ternyata akan ditutupi cahayanya oleh sang bulan? Sampai sekarang pun saya masih mencoba untuk berpikir dan belum menemukan jawaban yang tepat untuk bisa saya beranikan tulis di sini. Memang, selama keduanya dapat saling bersinergi tidak masalah. Akan tetapi sejatinya posisi seorang yang menjadi the first man adalah dialah yang seharusnya bisa menyala cahayanya dan dialah yang kemudian memberikan cahaya itu kepada bulan dan juga yang lainnya. So, hmm... bagaimana ya?
07.37 | 0 komentar | Read More

Kuda hitam itupun berlaga

Sebenarnya kata kuda hitam ini, saya dapatkan dari perkataan seseorang mantan KAMMI yang pernah memberi atribut kepada saya sebagai kuda hitam. Saya ingat betul, bahwa waktu itu saya tidak mengetahui benar apa arti dari kata itu. Usut punya usut ternyata maksudnya adalah hadirnya orang baru yang kemudian dia akan muncul menjadi pemenang.

Hmm... sempat kupikirkan hal itu. Darimana dia bisa mengatakan seperti itu? Dari siapa saja kah orangnya? Karena dia sempat mengatakan dari “arek-arek”. Hmm.. sudahlah, yang pastinya itu menjadikan saya harus evaluasi diri lagi.

Berbicara soal kuda hitam, saya teringat (teringat terus niy...) akan kisahnya seorang sahabat Mus’ab bin Umair. Dalam usianya yang masih sangat muda, dia diutus Rasulullah untuk membuka lahan baru. Berdakwah sendirian dan membinanya. Mus’ab tergolong orang yang baru. Dengan perjuangannya menegakkan cahaya Islam, akhirnya Mus’ab pun berhasil. Hingga akhirnya ia menorehkan sejarah luar biasa dalam kehidupannya. Hingga Rasulullah pun menangis, saat ia wafat. Kain kafan yang menutupinya tak cukup. Kain ditarik ke atas untuk menutupi kepala, kaki terbuka. Sebaliknya, ketika kain ditarik ke bawah untuk menutupi kaki, kepala pun terbuka.

Subhanallah. Perjuangan untuk menjadi seorang yang baru,lalu membuka lahan baru adalah perihal yang luar biasa beratnya. Akankah kita menambah jajaran-jajaran orang yang menjadi kuda hitam itu? Orang baru yang tampil ke pentas, lalu memenangkan pertempuran? Dengan effort, usaha, hamasah, spirit yang dimilikinya, kekuatan visi misinya mampu menghantarkan seseorang dalam sebuah keberhasilan yang luar biasa. Karena untuk memenangkan pertempuran itu butuh sebuah kekuatan, terlepas apakah sendirian ataupun bersama.

Fenomena sosok kuda hitam ini pun, juga bisa kita lihat pada diri SBY, presiden kita saat ini. Profil di publik mungkin belum setenar Gusdur ataupun Megawati. Akan tetapi, ternyata dia mampu hadir dalam pentas politik dan memenangkan pemilu itu dengan bersandingkan JK dari Golkar. Ditunjang dengan hasil psikografi yang memperlihatkan profilnya yang baik, berwibawa, memperhatikan aturan-aturan Jawa banget, religius, tenang, berpikir dulu sebelum bertindak, emosi stabil, menjadikan dirinya memiliki nilai positif. Ditambah lagi wajahnya yang menurut kebanyakan ibu-ibu adalah ganteng (tapek deh...).

Perlu diperhatikan juga bahwa, menjadi seorang sosok kuda hitam tidak serta merta terus kemudian berbangga akan hal itu. Karena tidak salah sih, ungkapan bahwa meraih itu lebih mudah daripada mempertahankan. Sama halnya dengan yang ini. Mempertahankan profil dan image yang positif dan menjajikan di awal inilah yang berat. Karena apa? Ketika seseorang sudah mulai tampil di pentas, seperti iklannya Miss Universe (dari Indonesia) bahwa “semua mata memandangmu”. Sehingga dalam segala sikap, tindakan, ucapan perlu diperhatikan betul-betul, agar tidak kemudian dengan mudahnya masyarakat berbalik memberikan atribut yang negatid. Karena di saat seseorang mendapatkan atribut positif sekali (kuda hitam itu tadi misalnya), lalu dia tidak bisa mempertahankannya, malah justru berbalik arah 180 derajat, maka untuk kembali yang postif diperlukan effort dan cost yang dirasa tidak murah. Allahua’lam bishowab.
07.35 | 0 komentar | Read More

Fokuskan pada kerja, Jangan Citra!

Citra, citra, dan citra. Isu yang sedang menghangat di tubuh KAMMI setahun lalu. Hingga diadakan sebuah loknas yang saya ingat tanggal 23-25 Agustus 2007 lalu. Di satu sisi, saya cukup memprotes dan tidak sepakat sebenarnya, jika yang kita bidik adalah langsung ke citranya sendiri. Memvorsir energi dan tenaga untuk mencitrakan organisasi agar tampil baik dan layak di publik.

Dengan statusnya saya di KAMMDA Surabaya, saya melihat kondisi di Surabaya seperti apa. Berulang kali saya mempertanyakan, entah di batin saya sendiri, di milis, maupun secara lisan sewaktu diskusi. “Apanya yang mau dicitrakan, lha wong kerja aja nggak ada?” tanyaku. Hal ini sempat disanggah oleh seorang al akh. Bahwa “Ya justru itu, humas harus mendorong kerja departemen atau biro lainnya. Klo nggak gitu lalu apa kerjanya humas?” katanya dalam milis. Ya, tidak salah sih sebenarnya al-akh ini berpendapat seperti itu. Saya, yang merupakan orang humas sendiri kemudian juga beprikir ulang lagi. Bahwa ada benarnya humas menjadi motivator bagi departemen atau biro lainnya. Meski sebenarnya energi yang kita miliki waktu itu belumlah cukup. Karena sejatinya itu adalah tugasnya sekum selaku orang yang memiliki wewenang dalam hubungannya dengan internal.

Teringat profilnya teladan kita, Rasulullah saw. Beliau adalah orang yang cukup tercitrakan dengan baik sekali. Jelas saja, skenarionya adalah dari Allah. Terlepas dari itu semua, kita perlu melihat bahwa sesungguhnya citra agung yang ada pada diri Rasulullah, bukanlah dibuat oleh tim khusus yang statusnya mencitrakan Rasulullah ke publik. Akan tetapi, diri Rasulullah tercitrakan dengan baik, adalah karena sikap, perkataan, dan peirlaku beliau yang agung dan mulia. Sehingga dari inilah citra itu terbentuk dengan sendirinya. Karena secara disadari ataukah tidak, citra tergantung dari apa yang kita kerjakan dan lakukan.

Jangan salah, ketika sudah berusaha untuk membentuk citra organisasi itu bisa dikenal sosial dan solutif, tapi ternyata kerja-kerjanya justru demo saja dan kurang solutif. Ya kita akan kalah dan kewalahan. Karena citra yang direncanakan terkalahkan oleh fakta kinerja di lapangan. Ketika kita sudah menentukan dan menyepakati visi, lalu kita konsisten dengan visi itu, hingga akhirnya mengantarkan pada pembuatan program-program kerja yang sesuai dengan visi itu, saya rasa cukup untuk membentuk citra sebuah organisasi.

Jika memang, program yang ada bisa terlaksanakan dengan baik. Jika tidak, ya kita akan menerima hasil citra itu sendiri. Jangan salahkan pula ketika pertanggungjawaban seorang ketumda ditolak dan dianggap tidak ada kerja oleh para komisariat. Meskipun humas tetap berusaha mencitrakan KAMMDA memiliki kinerja baik misalnya. Tentu di sini akan terjadi hal yang bertentangan, paradoks. Humas akan cenderung bisa terkesan membohongi publik, dan menutup-nutupi kekurangan. Memang tugas humas adalah membentuk citra yang positif, bukan negatif. Tapi, saya pikir tidak baik juga ketika memaksakan mencitrakan positif, sementara fakta di lapangan tidak bicara seperti itu. Fakta di lapangan akan lebih valid menunjukkan dan menggambarkan sebuah citra.

So, kenapa kita harus berpusing-pusing ria untuk mengejar citra? Bukankah kita diminta untuk terus bekerja maka Allah dan Rasul-Nya akan melihat kerja kita? Sok, fokuslah pada kerja, jangan citra!
07.32 | 1 komentar | Read More

Pendidikan anak kita, dimulai dari diri kita saat ini

Masih ingat sebuah kisah seorang pemuda yang memakan apel tanpa meminta ijin pada pemiliknya? Oke, bisa kita ulangi lagi kalau terlupa. Dulu kala, ada seorang pemuda yang tengah lapar sewaktu di perjalanan. Dilihat dan didapatkanlah sebuah pohon apel, lalu dia memetik dan akhirnya memakannya. Karena lapar tak tertahankan. Ditengah ia memakan apel itu, dia terdiam sejenak dan ingat. “Apel ini milik siapa?” katanya. “Tidak mungkin apel ini tumbuh di sini, tidak ada empunya.”.

Akhirnya karena komitmennya yang luar biasa, pemuda itu pun menyusuri perjalanan dan bertanya-tanya serta mencari informasi siapa pemilik apel tersebut. Perjalanan jauh telah ditempuh ternyata belum menemukan juga. Singkat cerita, akhirnya pemuda itu menemukan juga si pemilik apel tersebut. Akhirnya, sang pemuda menyampaikan apa maksud kedatangannya. Maksudnya adalah untuk meminta maaf dan meminta perijinan atas buah apel yang telah dimakannya.

Sang pemilik pun menolak. Akhirnya, sang pemilik memberi persyaratan permintaan sang pemuda diterima setelah sang pemuda bekerja untuknya beberapa tahun tanpa dibayar. Setelah bekerjanya selesai, akhirnya sang pemuda meminta kembali persetujuan. Namun, kembali lagi sang pemilik belum mengikhlaskan satu buah apel yang telah dimakannya. Sang pemuda pun diberikan syarat, bahwa dia harus menikahi anak perempuannya yang buta, bisu, dan tuli. Apa mau dikata, karena besarnya komitmennya terhadap Islam, akhirnya pemrintaan sang pemilik pun diterima.

Setelah menikah dan melihat sang istri, sang pemuda pun kaget karena tidak seperti apa yang disampaiakan oleh sang pemilik tersebut. Buta, bisu, dan tuli lebih dimaknai sama sekali terjauh dari maksiat. Akhirnya pernikahan keduanya melahirkan seorang tokoh besar, yaitu Imam Syafi’i.

Dari cerita di atas, kita tentunya bisa belajar mengambil pelajarannya. Salah satu pelajaran yang bisa diambil adalah penciptaan dan pembentukan anak sejak sedini mungkin dan itu dimulai dari diri kita sebelum menikah sekalipun. Dari contoh kisah di atas, komitmen pemuda (sebelum menikah) yang cukup tinggi terhadap Islam, menghasilkan anak yang akhirnya tidak kalah dengan profile sang ayah. Justru lebih besar anaknya.

Masih ada diantara masyarakat kita yang memaknai bahwa pendidikan adalah dimulai ketika mereka sudah bersekolah. Menginjak play group atau TK. Adalah salah ketika kita memaknai seperti itu. Apabila memaknai ketika masih di dalam kandungan, masih bisa diterima lah, tapi kalau harus menunggu masuk usi sekolah, itu yang tidak benar.

Sikap dan amal kita saat ini, terutama yang belum menikah seharusnya patut sangat dipikirkan dan diperhitungkan. Ternyata Allah memerintahkan setiap diri untuk selalu dan senantiasa memperbaiki diri adalah bukan hanya untuk sekedar mengabdi kepada-Nya. Akan tetapi ada efek lain yang kemudian sifatnya kontinum dan itu menguntungkan diri kita sendiri. Perbaikan setiap saat juga bukan hanya untuk mendapatkan istri atau suami yang seperti apa yang kita harapkan. Tidak sependek dan sekedar itu saja. Namun, lebih dari itu terutama dalam menghasilkan dan mendidik anak nantinya.

Pondasi perbaikan diri yang dimiliki setiap diri individu, menjadi modal berharga bagi perkembangan dan pendidikan anak nantinya. Bagaimana harus memperlakukan anak, bagaimana harus menjadi teladan anak, bagaimana harus bersikap kepada anak untuk mengajarkan ajaran Islam yang agung.
07.12 | 0 komentar | Read More

Komitmen???

Written By Informasi singkat tentang saya on Kamis, 10 Januari 2008 | 19.51

Ya akhi... mana komitmen antum?Katanya antum mau memperjuangkan organisasi ini?” terdengar suara seorang ikhwan di sebuah gazebo sebuah kampus.

Seringkali kita mendengar kata komitmen dan kalimat yang mengarah pada tuntutan dari sebuah komitmen seseorang. Bahkan kata ini seringkali dibuat sebagai tuduhan ketika terlihat kinerja seseorang terhadap organisasi ataupun tempat kerja sudah terlihat menurun. Apalagi kondisi dalam keadaan sangat membutuhkan energi yang selalu prima dari setiap aktor pemainnya.

Banyak para ahli mengemukakan arti dari komitmen terhadap organisasi. Armstrong (1991) menyatakan bahwa pengertian komitmen mempunyai ada 3 (tiga) area perasaan atau perilaku terkait dengan perusahaan tempat seseorang bekerja:
  1. Kepercayaan, pada area ini seseorang melakukan penerimaan bahwa organisasi tempat bekerja atau tujuan-tujuan organisasi didalamnya merupakan sebuah nilai yang diyakini kebenarannya.
  2. Keinginan untuk bekerja atau berusaha di dalam organisasi sebagai kontrak hidupnya. Pada konteks ini orang akan memberikan waktu, kesempatan dan kegiatan pribadinya untuk bekerja diorganisasi atau dikorbankan ke organisasi tanpa mengharapkan imbalan personal.
  3. Keinginan untuk bertahan dan menjadi bagian dari organisasi.

Jadi pengertian komitmen lebih dari sekedar menjadi anggota saja, tetapi lebih dari itu orang akan bersedia untuk mengusahakan pada derajat upaya yang tinggi bagi kepentingan organisasi, demi memperlancar mencapai tujuan organisasi.

Berdasarkan definisi-definisi di atas terlihat adanya suatu kesamaan, yaitu bahwa komitmen pada organisasi ditandai dengan bentuk loyalitas dan identifikasi diri terhadap organisasi. Komitmen pada organisasi tidak hanya menyangkut pada kesetiaan karyawan pada organisasi yang bersifat positif tetapi juga melibatkan hubungan yang aktif dengan organisasi, di mana karyawan bersedia atas kemauan sendiri untuk memberikan segala sesuatu yang ada pada dirinya guna membantu merealisasikan tujuan dan kelangsungan organisasi.

Berdasarkan pada definisi di atas dapat dilihat bahwa komitmen organisasi itu dijelaskan melalui pada tataran afektif (Allen & Mayer, 1990 yang dikutip oleh Feinstein, 2004) yaitu kepercayaan dan penerimaan orang atas nilai dan tujuan organisasi, sehingga membuat orang itu untuk betah dan tetap ingin bertahan di organisasi. Pada sisi lain ternyata komitmen organisasi juga dapat dijelaskan pada tataran kontinuasi.

Pengertian komitmen organisasi pada tataran kontinuasi adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Murray, Gregoire, & Downey (1991) yaitu dalam bentuk ketidakinginan individu untuk meninggalkan organisasi. Individu tidak ingin keluar organisasi itu dikarenakan takut kehilangan keuntungan yang diperolehnya selama ini, takut tidak mendapatkan gaji sebagaimana yang saat ini didapat, dan takut tidak mendapatkan pekerjaan sebagaimana yang saat ini dijalankan. Ketakutan-ketakutan itulah yang memaksa individu untuk bekerja di perusahaan.

Cara membentuk komitmen
Tidak ada satu pimpinan organisasi manapun yang tidak menginginkan seluruh jajaran anggotanya tidak memiliki komitmen yang kuat terhadap organisasi/perusahaan mereka. Bahkan sampai sejauh ini banyak pimpinan organisasi sedang berusaha menggiatkan peningkatan komitmen anggotanya terhadap organisasi. Menurut Martin dan Nicholls (dalam Armstrong, 1991) menyatakan bahwa ada 3 (tiga) pilar untuk membentuk komitmen seseorang terhadap organisasi, yaitu:
  1. Menciptakan rasa kepemilikan terhadap organisasi, untuk menciptakan kondisi ini orang harus mengidentifikasi dirinya dalam organisasi, untuk mempercayai bahwa ada guna dan manfaatnya bekerja di organisasi, untuk merasakan kenyamanan didalamnya, untuk mendukung nilai-nilai, visi, dan misi organisasi dalam mencapai tujuannya. Salah satu faktor penting dalam menciptakan rasa kepemilikan ini adalah meningkatkan perasaan seluruh anggota organisasi bahwa perusahaan (organisasi) ini adalah benar-benar merupakan “milik” mereka. Kepemilikan ini tidak sekedar dalam bentuk kepemilikan saham saja (meskipun kadangkala ini juga merupakan cara yang cukup membantu), namun lebih berupa meningkatkan kepercayaan di seluruh anggota organisasi bahwa mereka benar-benar (secara jujur) diterima oleh manajemen sebagai bagian dari organisasi. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk itu, mengajak mereka anggota organisasi untuk terlibat memutuskan penciptaan dan pengembangan produk baru, terlibat memutuskan perubahan rancangan kerja dan sebagainya. Bila mereka anggota organisasi merasa terlibat dan semua idenya dipertimbangkan maka muncul perasaan kalau mereka ikut berkontribusi terhadap pencapaian hasil. Apalagi ditambah dengan kepercayaan kalau hasil yang diperoleh organisasi akan kembali pada kesejahteraan mereka pula.
  2. Menciptakan semangat dalam bekerja, cara ini dapat dilakukan dengan lebih mengkonsentrasikan pada pengelolaan faktor-faktor motivasi instrinsik dan menggunakan berbagai cara perancangan pekerjaan. Menciptakan semangat kerja bawahan bisa dengan cara membuat kualitas kepemimpinan yaitu menumbuhkan kemauan manajer dan supervisor untuk memperhatikan sepenuhnya motivasi dan komitmen bawahan melalui pemberian delegasi tanggung jawab dan pendayagunaan ketrampilan bawahan.
  3. Keyakinan dalam manajemen, cara ini mampu dilakukan manakala organisasi benar-benar telah menunjukkan dan mempertahankan kesuksesan. Manajemen yang sukses menunjukkan kepada bawahan bahwa manajemen tahu benar kemana organisasi ini akan dibawa, tahu dengan benar bagaimana cara membawa organisasi mencapai keberhasilannya, bahkan sampai pada kemampuan menterjemahkan rencana ke dalam realitas. Pada konteks ini karyawan akan melihat bagaimana ketegaran dan kekuatan perusahaan dalam mencapai tujuan hingga sukses, kesuksesan inilah yang membawa dampak kebanggaan pada diri karyawan. Apalagi mereka sadar bahwa keterlibatan mereka dalam mencapai kesuksesan itu cukup besar dan sangat dihargai oleh manajemen.

Strategi Komitmen
Selanjutnya menurut Armstrong (1991), ada 10 komponen sebagai sebuah strategi bagi manajemen untuk meningkatkan komitmen anggota terhadap organisasi dalam mencapai tujuannya, yaitu:
  1. Definisikan dan diseminasikan misi dan nilai-nilai organisasi;
  2. Sebarkan tujuan organisasi dengan cara meningkatkan pemahaman tiap orang akan strategi organisasi dan ajak anggota organisasi untuk berpartisipasi dalam menterjemahkan tujuan ke dalam strategi;
  3. Mengajak anggota organisasi untuk terlibat dalam mendefinisikan persoalan dan ikut terlibat dalam pemecahan sampai mereka merasa langkah itu adalah merupakan “milik”nya;
  4. Berikan pola kepemimpinan transformasional yaitu memberikan anggota organisasi inspirasi ide yang mengarah pada masa depan;
  5. Gunakan setiap media komunikasi yang ada untuk menyampaikan pesan secara tepat tentang misi, nilai, dan stratgei organisasi;
  6. Berikan contoh-contoh dan pelatihan yang merupakan perwujudan dari gaya manajemen organisasi dalam meningkatkan keterlibatan dan kerjasama anggota;
  7. Kembangkan proses dan iklim organisasi yang mampu meningkatkan perkembangan ketrampilan orang dalam mencapai tujuan prestasi yang lebih tinggi;
  8. Kenalkan kepada anggota organisasi keuntungan (profit) organisasi dan rencana pencapaian profit untuk tahun-tahuan mendatang;
  9. Gunakan program pelatihan yang ada untuk meningkatkan impresi yang bagus dari karyawan terutama karyawan baru terhadap organisasi;
  10. Gunakan workshop atau jenis pelatihan lainnya untuk mengajak semua orang mendiskusikan isu-isu penting yang dihadapi organisasi dan berikan kesempatan pada mereka untuk memberikan kontribusi ide. Bahkan kalau perlu ambil tindakan terhadap ide-ide yang bagus dari mereka.
19.51 | 0 komentar | Read More

Anak Muda, Pak Tua, dan Rumah Peradaban

Cerita berkisah percakapan antara seorang anak muda dan seorang pak tua. Anak muda ini melihat ada sebuah rumah yang sudah hampir roboh, dan ia melihat pak tua masih saja memunguti puing-puing genting yang dirasa sudah banyak yang berjatuhan karena retak dan pecah.


Terlihat genting-genting yang menjadi penutup pun pula berjatuhan dan retak,
Terlihat tiang-tiang sebagai penyangga pun mulai retak juga dan bahkan ada yang sudah patah,
Tidak banyak memang penghuni rumah itu,
Tapi dari rumah itu sudah banyak lahir anak-anak yang kini memimpin bangsa.

Melihat semua itu, anak muda bertanya kepada pak tua itu
"Pak, saya tidak punya rumah yang bagus seperti itu. Sepertinya rumah ini nyaman untuk ditempati."

"Nak, seperti yang kau lihat sendiri. Rumah ini sudah mulai roboh."

"Apakah aku diperbolehkan untuk membantumu menegakkan kembali rumah ini?"

"Nak, benarkah apa yang kau ucapkan? Apakah kamu bersemangat ingin membantuku menegakkan rumah ini karena kamu tidak memiliki rumah?"

"Tidak pak. Tidak sekedar itu. Kalau hanya sekedar itu, rumahku luas. Setiap hari aku beratap langit dan beralaskan bumi. Jika hujan, aku berlindung di bawah pohon atau gubuk di sawah atau menumpang tepian rumah orang. Sekedar menghangatkan tubuhku."

"Jadi apa keinginanmu untuk membantuku menegakkan kembali rumah ini?"

"Karena aku melihat rumah ini telah melahirkan banyak sekali pemimpin-pemimpin bangsa. Di sini pula ayahku pernah dilahirkan. Dan kini ia sudah tiada. Hanya satu pesan yang ia tinggalkan, carilah rumah peradaban itu. Mungkin di saat engkau mendapatkan, bisa jadi rumah itu hampir saja roboh, karena penghuninya sudah mulai tak memperhatikan lagi. Karena penghuninya sudah mulai pergi satu per satu dengan melihat rumah itu yang semakin lama semakin tua. Karena penghuninya hanya sedikit orang saja yang bersedia tetap tinggal dan senantiasa menambal sana-sini untuk mempertahankan agar rumah ini tetap berdiri. Meski harus berkorban harta yang mereka miliki, bahkan jiwa sekalipun."

"Nak, sungguh anak muda sepertimu yang seharusnya mengisi setiap ruang kehidupan. Nak, jangan pernah engkau urungkan niatmu untuk membangun sesuatu ketika engkau sudah berucap bahwa engkau akan membangunnya. Jangan pernah engkau berpikir untuk pindah ke tempat lain di saat engkau belum mampu meninggalkan apapun. Jangan pernah berpikir bahwa engkau mengkhianati perjanjian-perjanjian yang ada di dalam rumah ini. Jangan pernah engkau pergi tanpa meninggalkan sesuatu, sekalipun hanya kobaran semangat untuk generasi berikutnya. Sekalipun satu kalimat saja."

"Pak, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?"

"Silahkan anakku."

"Kenapa orang yang setua engkau masih saja di sini dan malah ingin menegakkan kembali rumah ini? Bukankah seharusnya engkau sudah waktunya untuk pindah dari sini? Karena rumah ini akan runtuh?"

"Hanya semangat baru dan semangat muda seperti engkaulah yang kemudian membuatku betah dan bersabar untuk tetap menegakkan rumah ini. Bukan persoalan apakah aku sudah tua dan engkau masih muda. Tapi yang terpenting adalah semangat yang aku miliki senantiasa semangat baru dan semangat muda. Aku mencoba terus menerus agar semangat mudaku tidak luluh dan hanyut begitu saja oleh terpaan angin."

"Pak, kemana penghuni yang lain? Apakah memang hanya bapak dan dua orang itu saja?"

"Tidak Nak. Sebenarnya dahulu banyak yang menghuni di rumah ini. Namun, seiring dengan perjalanan waktu yang terus berlalu, rumah juga sudah mulai kelihatan kotor, retak, dan sudah tidak indah lagi, sebagian besar mulai meninggalkannya. Diantara mereka ada yang pergi karena ingin membangun rumah peradaban yang baru. Sebagian mereka berpindah ke rumah peradaban yang lain. Sebagiannya lagi masih tetap di sini membantu kembali menegakkan rumah ini."

"Apakah ketika mereka pergi dari sini, meninggalkan sesuatu?"

"Sebagian iya, dan sebagian tidak. Beberapa diantara mereka mengatakan 'Aku harus keluar dari rumah ini, karena sudah waktunya aku keluar dari sini dan turut kembali membantu membangun rumah peradapan di tempat lain. Karena kondisi kalian masih lebih baik dari mereka.' Dengan meneteskan air mata, beberapa diantara mereka saling berwasiat dan memberi semangat. Beberapa yang lain lagi diantara mereka, ada yang mengatakan, 'Aku harus keluar dari sini, karena rumah ini sudah jelek dan tidak layak pakai. Aku harus mencari tempat berteduh lain agar aku bisa berkarya. Dan sebaiknya kita juga pergi dari sini. Atau kalau tidak, silahkan kalian bangun kembali rumah ini sendiri.' Mereka kemudian pergi begitu saja tanpa kabar dan peninggalan apapun, sekalipun hanya sekedar nasihat ataupun semangat. Dan beberapa terakhir, mereka mengatakan, 'Aku akan turut kalian membangun dan menegakkan kembali rumah peradaban ini. Karena aku menyakini bahwa suatu saat rumah ini akan kembali kokoh dan ramai kembali.

Suatu saat rumah peradaban ini akan dikenal dunia dan menjadi salah satu saksi bahwa rumah ini adalah rumah peradaban yang melahirkan para pemimpin bangsa yang mampu mengangkat dan menegakkan kembali wibawanya di mata bangsa yang lain.
Rumah yang melahirkan para pemimpin bangsa ini harus terus dilestarikan dan ditegakkan. Sekalipun suatu saat nanti aku harus pergi dan tiada lagi di dunia ini. Tapi aku yakin, bahwa akan terus ada generasi penerus setelahku yang mereka tak akan melupakanku. Sekalipun lupa, minimal aku bangga dapat menjadi bagian dari penegakan kembali rumah peradabann ini.' Dan mereka itulah kita bertiga di sini dan sekarang yang anak muda lihat.'


Sragen, 16 September 2007
22.20 WIB
di sebuah keheningan malam di tengah suara tilawah dari musholla kecil
18.43 | 0 komentar | Read More

Aksi Galang Dana KAMMI Surabaya

Nampak langit cerah dan terasa panas di kulit, sinar matahari yang menyinari bumi Surabaya, Sabtu lalu (5/1). Nampak dari kejauhan, beberapa akhwat dengan mengenakan jilbab lebar dan sebagian mengenakan jaket hitam dan biru bertuliskan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia dan SKI FISIP Unair. Ternyata beberapa aktivis mahasiswa yang tergabung dalam KAMMI (Kesatuan Kasatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) dan sebuah Lembaga Dakwah Kampus Unair, menggelar aksi galang dana bencana banjir yang terjadi belakangan ini. Galang dana yang digelar di empat tempat ini, mampu mengumpulkan dana sebesar 4.841.550 rupiah. Adapun empat tempat tersebut adalah sebagai berikut:
1) Perempatan Dharmahusada (FK, depannya RS. Husada Utama) oleh Komisariat Airlangga (akhwat);
2) Pertigaan dekat Hotel Sahid oleh Komisariat Airlangga (ikhwan); 3) Perempatan Prapen oleh Komisariat Sepuluh November;
4) Wonokromo oleh Komisariat Sunan Ampel.

Masing-masing tempat dipimpin oleh koordinator lapangan, di mana koordinator lapangan akan bertanggungjawab pelaporannya pada koordinator utama aksi penggalangan dana ini, yakni Fathur ITS. Koordinator lapangan adalah ketua umum masing-masing komisariat. Yakni Yusup (Airlangga), Agus (IAIN), dan Rosi (ITS).

Aksi pagi hingga sore
Aksi penggalangan dana ini, berbeda-beda waktu pelaksanaannya masing-masing komisariat. Adapun pelaksanaan aksi galang yang dilakukan oleh ITS adalah selama dua hari berturut-turut, yakni Jumat (4/1) mulai pukul 13.00-17.00 WIB dan Sabtu (5/1) pukul 08.00-17.00 WIB. Selebihnya, Airlangga hanya melaksanakannya pada hari Sabtu, mulai pukul 08.00-12.00 WIB, dan IAIN hari Sabtu dan Ahad mulai pukul 08.00-12.00 WIB.

Meski wajah beberapa kader yang turun nampak lelah, namun tak terlihat sedikit pun tidak semangatnya mereka dalam menyodorkan sebuah kardus yang bertemakan aksi galang dana bencana. Sabar menunggu lampu lalu lintas berubah tanda merah. Sewaktu lampu masih hijau, kader dengan sabarnya berdiri, menanti, dan menunggu warna lampu berganti warna merah. Lampu hijau pun berganti merah. Nampak seorang akhwat yang di perempatan Dharmahusada segera menghampiri para pengguna jalan yang tengah berhenti menanti bergantinya tanda lalu lintas. Satu persatu pengendara motor dan mobil pun dihampirinya. Tak patah semangat ketika tidak ada yang memberi, dan tersenyumlah kader sewaktu pengendara motor atau mobil mengulurkan tangannya untuk memberikan donasinya. Sembari berucap “terima kasih pak”, kata seorang akhwat itu.

Nampak juga seorang ikhwan berkacamata yang tengah menyodorkan sebuah kotak kardus berselimutkan kertas koran, dengan tulisan bertemakan galang dana bencana oleh KAMMI dan nampak logo KAMMI ukuran A4 di samping kanan dan kiri kardusnya. Sama dengan kader lainnya, nampak di wajahnya sudah mulai kelelahan. Meski waktu sudah sore hari, alhamdulillah beluma ada tanda-tanda akan hujan turun. Namun, semangat untuk terus menyodorkan kardus kepada para pengendara pun terus dilakukannya.

Tak boleh di Stasiun, di Perempatan pun jadi
Cerita menarik dari salah satu komisariat, yakni komisariat Airlangga. Mula awalnya rencana komisariat ini, hendak menggalang dana di Stasiun Gubeng. Meski tanpa surat, secara lisan diperbolehkan. Namun, karena polisi yang bertugas di lapangan tidak mengijinkan akhirnya terjadi perubahan tempat penggalangan dana. Hari Jumat (4/1), yang hendak turun ke jalan menggalang dana pun batal. Namun, hari Sabtu (5/1) para kader komisariat Airlangga turut turun ke jalan menggalang dana. Tak boleh di stasiun, akhirnya di perempatan pun jadi.

Ancaman kecil itu pun datang
Sore hari, jam di HP menunjukkan pukul 16 lebih. Nampak di seberang jalan sebelah barat perempatan Prapen, terlihat dua orang akhwat yang membawa kardus. Setelah seorang crew humas mendatanginya, cerita kecil pun keluar dari kedua kader akhwat tersebut. Ancaman kecil pun datang menghampiri mereka, di saat mereka menyodorkan kardus-kardusnya untuk aksi galang dana bencana. Ternyata para pencari nafkah jalanan (pembersih mobil yang menggunakan kemoceng) datang menghampiri kedua akhwat tersebut dan mengeluarkan ancaman kecil kepada mereka. Yang pada intinya para pencari nafkah jalanan ini merasa lahannya diambil hari itu.

Mata pun memandang diseberang jalan sebelah pojok Selatan. Nampak kantor polisi, seorang ikhwan berkacamata dengan membawa kardus, dan seorang akhwat di seberang timurnya. Alhamdulillah, ancaman kecil itu pun tidak terjadi. Tidak nampak koordinator lapangan dan koordinator utama yang notebennya adalah kader ITS. Pasalnya, ada kendala dan ujian sendiri yang dihadapi keduanya sehingga membuat kedatangan dan kehadiran ke lapangan pun terlambat.

Dana Disalurkan Langsung
Dana yang telah diperoleh selama dua hari dengan total perolehan sebesar 4.841.550 rupiah akan disalurkan sendiri ke dua tempat. “ Dana ini, nantinya akan disalurkan secara langsung oleh kita (dari KAMMI Surabaya_red) ke dua daerah. Yaitu Bojonegoro dan Lamongan.” Kata Fathur, koordinator utama aksi galang dana.

Dana-dana tersebut akan disalurkan dalam bentuk tunai uang dan bukan dalam bentuk barang ataupun bahan kebutuhan para korban. Karena dari uang tersebut, harapannya dapat dibelikan oleh warga setempat untuk bisa dibelikan kebutuhan-kebutuhan yang memang diperlukan secara langsung oleh para korban banjir di kedua tempat tersebut. (as)


Laporan berita blog KAMMDA Surabaya
www.catatankammi.blogspot.com

18.28 | 0 komentar | Read More