Blog kawan

Dokumen

Statistik

INFO

DALAM RANGKA TAHUN BARU MASEHI #2012: BLOG SEDANG DIPERMAK ULANG.

Postmodernisme dan Pendidikan

Written By Informasi singkat tentang saya on Kamis, 20 Desember 2007 | 20.27

Postmodernisme

Sejarahnya:

Awal abad 20. Merupakan suatu aliran alternatif yang menawarkan style karya dan pemaknaan yang keluar dari pakem konservatif dan sebagai bentuk pemikiran yang kontradiktif terhadap peradapan hasil bentukan zaman pencerahan. Postmodernisme ini menekankan untuk kembali pada nilai- nilai lama.

Gagasan Utama:

(1) Skeptisisme terhadap gagasan yang di bawa oleh peradaban modern;

(2) Keyakinan bahwa segala bentuk komunikasi adalah hasil bentukan dari bias-bias cultural;

(3) Pemaknaan dan pengalaman diciptakan oleh individu;

(4) Dominasi media massa;

(5) Globalisasi sebagai bentuk masyarakat yang memiliki pluralitas budaya dan nilai yang saling terhubung.

Tokoh-tokohnya:

(1) Michel Foucault berangkat dari strukturalisme namun pada saat yang sama dia juga menolak (melawan) strukturalisme, dan menyadari bahwa sebuah pengetahuan didefenisikan dan dirubah oleh operasionalisasi sebuah kekuasaan (power) ;

(2) Jean-François Lyotard menekankan pada peran dari naratif dalam kebudayaan manusia, yang dapat membuat suatu perubahan saat memasuki situasi posmodern, dan dia meyakini bahwa suatu kebenaran merupakan hasil kesepakatan, sehingga tidak ada hal yang benar-benar mendasari suatu kebenaran (anti-foundationalist) dan terkenal dengan language games-nya.

(3) Jacques Derrida (1930) terkenal dengan dekonstruksinya. Pada awalnya adalah penemu dan penganut awal dekonstruksi. Dekonstruksi merupakan analisis tekstual yang dapat diterapkan dalam berbagai tulisan, dimana dia menganggap filosofi tidak lebih dari sebuah literatur yang kreatif. Menurutnya filosofi adalah bagian yang paling penting dari sebuah tulisan, tergantung pada sebuah operasionalisasi ekspresi imajinatif

Pengaruh dalam pendidikan:

(1) Implikasi dalam dunia pendidikan adalah bahwa kurikulum tidak dipandang sebagai subjek yang diskret dan disiplin, justru kurikulum itu seharusnya lebih memasukkan isu tentang kekuasaan, sejarah, identitas personal maupun kelompok, situasi politik sebagai dasar dari aksi kolektif daripada hanya berpura-pura bahwa pendidikan tidak ada kaitannya dengan politik. Aliran ini menghubungkan antara materi pendidikan dan proses (makna) dengan perintah masyarakat demokratis (akhir). Contoh konkret: Perguruan Tinggi mulai mengadakan sistem PEMILU untuk memilih Ketua BEM Universitas, adanya mata kuliah-mata kuliah atau dibukanya jurusan-jurusan terkait dengan unsur-unsur politik. Misalnya di Fakultas Psikologi, ada mata kuliah Psikologi Politik, Psikologi Sosial, dan sebagainya, di jenjang SD-SMA ada pelajaran sejarah. Selain itu, mahasiswa sebagai agent of change rata-rata mereka lebih mengenal dunia perpolitikan berangkat dari dunia kampus. Adanya mahasiswa demonstrasi yang memperjuangkan hak rakyat, perjuangan untuk menuntut transparansinya;

(2) Interaksi antara guru dan murid memegang peranan yang penting. Pengaruhnya, saat ini adanya sistem active learning, di mana siswa yang aktif dan guru sebagai fasilitator saja.

(3) Interaksi dua arah mendorong murid untuk dapat mengekspresikan diri dan mengeksplorasi kepercayaan diri mereka. Penciptaan setting serta atmosfer dalam proses belajar mengajar yang kreatif akan mendorong siswa untuk bersikap kritis. SAIMS, SD Kreatif, merupakan contoh dari point ini.

(4) Fokus pada esensi dari suatu materi pelajaran tidak hanya fokus pada garis besar suatu materi. Adanya magang, sistem PBL (Problem Based Learning), mengembangkan budaya diskusi, pembuatan paper yang melibatkan analisis atau karya penelitian ilmiah termasuk program atau metode untuk fokus pada suatu materi.

(5) Lebih memfokuskan pada esensi dibalik makna apa yang telah diterangkan

(6) Didasarkan pada thought of logic, atau teori yang mendasari. Pembuatan karya ilmiah atau menulis jurnal penelitian yang didasarkan pada teori. Jadi seseorang, berbicara tidak hanya sekedar berbicara tanpa berlandaskan teori, penekanan pada teori daripada common sense, adanya ujian ”compre” pada mahasiswa yang akan lulus.

20.27 | 0 komentar | Read More

Islam: Filsafat Timur Tengah

Pengaruh Filosofi Timur memiliki sejarah yang panjang dan selalu berubah. Filsafat timur meliputi empat aliran, yaitu India, China, Jepang, dan Timur Tengah. Adanya perbedaan terjadi karena para ahli filosofi yang memiliki keyakinan dan pemikiran yang berbeda-beda tentang Filosofi Timur. Kebanyakan studi dimulai dari filsafat Barat yaitu Yunani. Filsafat Yunani sebagai sebuah sistem perkembangan pemikiran, yang dimulai dari aba 6 Sama dengan Thales sebagai tokohnya dan kemudian diikuti oleh Phytagoras & Socrates. Pemikiran Yunani lebih banyak menggabungkan antara Cina dengan India. Filsafat Yunani ini, uniknya adalah menekankan pada rasionalias daripada mistik dan supernaturalisme. Jika filsafat Barat cenderung menekankan logika dan materialisme, berbeda halnya dengan filsafat Timur. Filsafat Timur, secara umum lebih menekankan dunia dalam (inner) daripada dunia luar (outer), intuisi daripada sense, dan mistik daripada penemuan ilmiah.


Pada makalah ini, kajian yang akan dikemukakan adalah pada Filsafat Timur Tengah (Middle Eastern Thought) ISLAM. Yang termasuk ke dalam golongan Timur Tengah ini adalah Mesir, Turki, Israel, dan Arab. Area Timur Tengah merupakan daerah yang signifikan dimana daerah ini selalu terjadi konflik, sehingga memiliki pengaruh yang sangat hebat bagi lingkungan di negara sekitar. Para pemikir mengatakan bahwa sejarah yang berasal dari Timur Tengah merupakan gabungan dari peradapan antara wilayah Timur dan Barat.

Islam

Agama Islam merupakan salah satu agama Allah yang dibawa oleh Nabi Muhamad SAW. Nabi Muhammad lahir di Mekah Hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal tahun 570 M (tahun Gajah). Ayahnya, Abdullah meninggal saat Muhammad masih dalam kandungan ibunya, Aminah. Saat bayi, Muhammad disusui dan diasuh oleh Halimah. Usia 5 tahun 1 bulan, Muhammad dikembalikan pada ibunya. Ketika Muhammad masih dirawat Halimah, dua malaikat datang menemui beliau. Keduanya membedah perut beliau dan mengeluarkan segumpal darah berwara hitam dari hai beliau, lalu mereka membasuhnya hingga bersih. Lalu mereka kembalikan seperti semula. Pada usia 6 tahun, ibunya membawa beliau pergi ke kota Yatsrib untuk memperkenalkannya kepada kakek-kakeknya di sana. Selain itu, beliau jug adiajak unutk mengunjungi makam ayahnya. Dalam perjalanan pulang ke Makkah, sang ibu menemui ajalnya di suatu tempat antara Makkah dan Madinah yang bernama al-abwa’. Sepeninggal ibunya, Muhammad diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Usia 8 tahun, kakeknya pun meninggal dunia. Sepeninggal kakeknya, ia tinggal bersama pamannya, Abu Thalib. Usia 9 tahun, beliau diajak sang paman ikut dalam rombongan dagang ke Negeri Syam. Ketika sudah mampu bekerja, beliau bekerja sebagai penggembala kambing.


Usia 40 tahun, Muhammad melakukan uzlah atau menyendiri. Karena waktu itu, Muhammad merasa gelisah menyaksikan sikap jahiliyah kaumnya. Adanya perilaku jahiliyah yang menyembah berhala. Muhammad menyendiri di Gua Hira. Beliau tinggal di sana beberapa malam berturut-turut. Pada tanggal 17 Bulan Ramadhan atau tepatnya tanggal 6 Agustus 610 Masehi, ketika beliau dalam keadaan terjaga dan sadar sepenuhnya, seorang Malaikat datang menyampaikan wahyu Allah. Dialah Malaikat Jibril. Muhammad mendapat wahyu pertama berupa Al-Quran surat Al-Alaq ayat 1-5. Untuk mengembangkan dakwahnya, Muhammad akhirnya melakukan perpindahah (Hijrah0 dari Mekah ke Medinah. Perjalanan atau kisah sejarahnya sangatlah panjang. Dari satu tempat ke tempat yang lain, Muhammad membentuk basis untuk menyebarkan Islam. Muhammad mengatakan bahwa Allah adalah tujuan akhir hidup kita. Al-Qur’an mengatakan bahwa orang muslim memiliki kehidupan pada masa akhir setelah kematiannya, perbuatan yang pernah kita lakukan di bumi akan diadili di akherat nanti. Hasil keadilan tersebut akan menentukan apakah kita akan masuk neraka atau masuk surga.
Inti pokok dari Islam adalah tauhidi, yaitu menyembah kepada Allah dan Muhammad adalah utusannya. Kitab sucinyaadalah Al-Quran. Ada lima dasar dalam Islam:


1. Bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan bersaksi bahwa
Muhammad adalah utusan Allah
2. Mendirikan sholat
3. Menunaikan zakat
4. Berpuasa Ramadhan
5. Naik Haji ke Baitullah bagi yang mampu.


Pengaruh dalam Pendidikan
Seperti yang telah dituliskan di awal, pendidikan di Indonesia saat ini, di saat Indonesia sering mengalami pergantian kurikulum karena tidak jelasnya filsafat pendidikan yang dianut, Islam menawarkan pendidikan alternatif. Salah satu contohnya adalah SAIMS. Sekolah alam ini berbasis pada agama Islam. Sekolah ini, selain mengajarkan ilmu umum juga Islam yag aplikatif. Anak-anak diajak untuk mempraktekkan dan mengaplikasikan langsung. Tidak sekedar teori saja. Model pembelajarannya pun unik. Mereka menggunakan sistem thematic. Yaitu, hari-hari dilalui dengan tema-tema tertentu. Selain itu penerapan joyfull learning semakin membuat para orang tua ingin memasukkan anak-anak mereka ke sekolah ini. Selain itu life skill juga diberikan kepada para siswa di sekolah ini.


SMA IIBS (International Islamic Boarding School Republic of Indonesia). Merupakan salah satu sekolah Internasional yang bernafaskan Islam. Sekolah ini berkonsep boarding school atau sekolah berasrama. IIBS ini mengacu pada sistem internasonal Islam. Sehingga dalam menjalankan pendidikan, SMA ini berpegang pada Al-Quran dan Sunnah Rasul sebagai dasarnya. Hal ini diimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari, dimulai dari jam 04.00, siswa harus berisiap untuk sholat Subuh, dilanjutkan dnegan kajian Bahasa Inggris selama 4 hari per minggu, dan bahasa Arab sebanyak tiga kali per minggu. Proses mata pelajaran akademis dimulai dari Senin-Jumat jam 07.00-15.40. Sementara pad apukul 16.00-18.00 terdapat tiga pilihan aktivitas wajib, yaitu ekstrakurikuler, remedial (untuk siswa yang nilai akademisnya kurang), enrichment (untuk siswa yang nilai akademisnya memuaskan). Sekolah ini juga menerapkan moving class. Kurikulum yang digunakan dilandasi kajian yang terencana, dan terpadu antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan yang diwariskan dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Karena sekolah ini diharapkan dapat melahirkan cendikiawan muslim dengan Islamic Global Mindset.


Al Kausar Boarding School. Sekolah ini juga didasarkan pada prinsip-prinsip Islam. Dasar utama dari pendidikan di sini adalah 3 dimensi keunggulan, yaitu dimensi kepribadian Islami, dimensi penguasaan IPTEK dan dimensi kepemimpinan. Tujuannya melahirkan individu-individu berkepribadian Islami, menguasai IPTEK, terampil dan mandiri. Prestasi yang pernah diraih adalah ketika tahun 2000 sekolah ini hanya menduduki peringkat 28 nasional, Al Kausar melompat jauh pada tahun 2002 ke peringkat 9 nasional. Terakhir, pada Ujian Nasional (UN)tingkat SLTP 2006, sekolah ini menduduki peringkat pertama nasional dengan nilai 28,19 atau rata-rata 9,4. badan Akreditasi Sekolah akhirnya memberikan nilai A (dengan nilai 98,2 dari skala penilaian 100) bagi al Kausar Boarding School ini.


Pondok Pesantren Baiturrahman Bandung. Pondok ini, meskipun sebuah pondok ternyata tidak hanya mengajarkan materi-materi agama saja. Para santrinya diberikan materi tentang agribisnis. Salah satu usahanya adalah jamur merang yang mendapat dukungan finansial dari Badan Pengelola Zakat, Infak, dan Sedekah (BP-ZIS) Bank Mandiri senilai Rp 34 juta. Prinsip agama juga menjadi landasan pengajaran kurikulum di sini. Prestasi yang pernah diraih pun seabreg. Pernah menjadi juara pertama tingkat provinsi dalam Lomba Inovasi pembelajaran yang diselenggarakan LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan), Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah Eclipta yang diselenggarakan Unpad, juara II spech contest 2005 yang diselenggarakan STKIP Bale Bandung, dan prestasi lainnya. Visi yang diusung oleh pesantren ini adalah; Pertama, membentuk sosok mukmin yang paripurna, kedua membentuk anak sholeh yang bangga menjadi hamba Allah sehingga selalu menjaga akhlaqul karimah, ketiga membentukanak yang siap juang dan memiliki kemauan serta kemampuan bersaing.

20.22 | 0 komentar | Read More

Nilai Kearifan Lokal Pendidikan Usia Dini

Pendidikan Usia Dini merupakan pendidikan yang kini tengah dikampanye-kan oleh banyak kalangan. Pasalnya usi dini merupakan usia yang rawan akan perkembangan. Anak di usia dini, jika tidak dididik dengan tepat akan memiliki kontribusi yag signifikan dengan perkembangan diri selanjutnya terutama konsep diri dan kesadaran sosial. Termasuk orientasi hidup anak. orientasi hidup perlu ditumbuhkan semenjak dini, sehingga ia belajar menimbang dan menlai. Orientasi yang mengakar semenjak dini inilah yang kit aharapkan menjadi daya penggerak (drivind force) bagi kehidupan kelak. Jika orientasi semenjak sudah bagus, maka masa remaja anak tidak perlu melalui krisis identitas dankeguncangan jiwa. Sebab mereka telah menemukannya sebelum diri itu terasa sangat penting bagi mereka di masa remaja. Dan masa remaja tanpa krisi identitas inilah yang kita kenal sebagai identity foreclosure (Faudzil Adhim dalam Hidayatullah, 2007).

Maka dari itu, perlu adanya sebuah penekanan pendidikan pada aspek atau masa ini. Orang tua atau keluarga sangat berperan dalam pendidikan usia dini ini. Keluarga merupakan lingkungan mikro yang akan memberikan sentuhan pendidikan pertama kali pada diri anak. Kita melihat bahwa perkembangan otak anak usia 1 tahun mencapai 60% adanya. Usia 12 tahun mencapai 100%. Hal ini apabila tidak benar-benar dididik sebaik mungkin, anak akan mengalami kemunduran dalam hal intelektualitas dan perkembangan lainnya termasuk perkembangan bahasa, membaca, dsb. Berdasar penelitian yang dilakukan Hart dan Risley, 1995 dinytaakan bahwa rata-rata jumlah kata yang didengar anak per jam pada keluarga miski hanya sekitar 616 saja. Berbeda dengan keluarga kaya bis amencapai 2.153. Hal ini terkait dengan Status Ekonomi masyarakat juga, sehinggaberpengaruh pada gizi serta sarana untuk mengakses ke jenjang pendidikan anak atau kurangnya pengetahuan tentang anak.
Nilai-nilai kearifan lokal yang bisa diberikan pada anak usia dini ini antara lain:

a. Pemberian pendidikan kepada anak sebaik mungkin. Hal ini dilakukan dalam keluarga tentunya, karena keluarga sebagai lingkup mikro. Ibu memiliki peran yang sangat penting dalam hal ini. Namun, tidak terkecuali ayah sebagai kepala keluarga. Untuk memberikan pendidikan kepada anak, adalah lebih mudah dengan menerapkan nilai-nilai itu kepada diri anak melalui contoh atau teladan pada diri orang tua sendiri. Menurut pre-enlightenment ethics, disebutkan bahwa seseorang dikatakan baik ketika ia memiliki karakter yang baik pula. Nilai exhibit dideskripsikan pada setiap aspek kehidupannya, sebagai contoh anak dilatih untuk merespon nilai yang baik sebagai kebutuhan hidup. Pendidikan berbentuk homeschooling merupakan sarana yang tepat untuk mendidik anak. Sehingga orang tua tidak perlu mempercayakan dan atau/ mengeluarkan uang banyak-banyak untuk memasukkan anaknya ke instansi sekolah. Orang tua dan terutama ibu sangat berperan di sini. Orang tua bisa mendidik anak secara intens sesuai dengan nilai-nilai yang mereka yakini untuk diterapkan pada diri anak.

b. Menurut enligtenment ethics, di mana Kant sebagai tokohnya menyatakan bahwa kita bertanggung jawab untuk pilihan kita dan pilihan kita merupakan moral jika dan hanya jika secara logis ditentukan dari prinsip tugas/kewajiban yang absolut/mutlak. Contohnya adalah larangan untuk mencuri. Nilai kearifan lokal yang bisa diberikan berdasar etika ini adalah bagaimana anak bisa didik untuk tidak berbohong, bersikap jujur, meningkatkan rasa sosial yang tinggi. Seperti yang sudah terjadi pada dunia pertelevisian akhir-akhir ini, adanya tayangan smack down cukup menggemparkan para keluarga. Hal ini, mungkin bisa diberikan pendidikannya kepada anak untuk tidak memukul temannya, misalnya. Karena nanti akan sakit.

c. Pemikiran Utilitarian, mengatakan bahwa tujuan adanya moral etika adalah untuk mencapai kebahagiaan. Contoh pada pemikiran ini adalah kebijakan pendidikan yaitu keputusan untuk menginvestasikan uang pendidikan dalam persiapan kuliah adalah jauh memungkinkan dibandingkan mengalokasikan beberapa jumlah program vocational yang sangat mahal. Terkait dengan pendidikan usia dini, menginvestasikan uang untuk mendidik anak di rumah (homeschooling) dan mungkin rumah akan menjadi lapangan dan tempat corat-coret anak lebih baik daripada harus menyekolahkan anak di instansi pendidikan play group atau TK, misalnya.

d. Nilai kearifan yang lain yang bisa diberikan adalah adanya sikap sosial, spiritualitas, intelektualitas, serta emosional. Semua ini terbungkus dalam sebuah pendidikan yang komprehensif. Mungkin, bagi sebagian orang tua memasukkan anak ke sekolah-sekolah yang memang berkualitas yang mampu mengasah semuanya itu adalah pilihan yang tepat untuk perkembangan anak. Misalnya Play group yang berbasis agama. Pemerintah juga dapat memberikan pelatihan kepada orang tua mengenai cara mendidik anak untuk bisa memuculkan kreativitas serta daya imaginasi anak agar menjadi anak kritis.

e. “Hari Tanpa TV” merupakan berita baru yang akhir-akhir ini dikampanyekan oleh beberapa kalangan. Pendidikan tanpa televisi atau lebih menekankan anak untuk gemar membaca memberikan efek yang positif pada anak. perkembangan pada selanjutnya anak bisa menjadi anak yang percaya diri, kritis, kreatif, memiliki daya imaginasi yang asli (tidak terpengaruh TV yang terkadang ada misi terselubung di dalamnya).

20.16 | 0 komentar | Read More

Epistemologi pendidikan

Pada dasarnya kurikulum adalah sebuah elemen yang juga memiliki peran penting dalam output yang akan dihasilkan dunia pendidikan nantinya. Namun, aplikasi yang benar dan perhatian yang serius akan menjadi bahan kajian serta kritikan ketika konsep kurikulum ini justru tidak seperti apa yang diharapkan. Terlebih menyimpang atau tidak sepenuhnya sesuai kebutuhan peserta didik. Dalam membuat sebuah kurikulum, kita perlu memperhatikan bagaimana kondisi peserta didik itu. Kemudian bagaimana kita menyampaikannya? Apa saja yang sesuai untuk bisa diberikan kepada siswa? Apakah sesuai ataukah tidak? Semuanya itu perlu diberikan sebuah kajian tersendiri. Pada makalah ini, akan diulas terkait dengan kurikulum pendidikan di Indonesi dilihat dari epistemologi.


Epistemologi diperlukan dalam pendidikan antara lain dalam hubungannya dengan penyusunan dasar kurikulum. Pengetahuan apa yang harus diberikan pada anak didik, diajarkan di sekolah dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan dan cara menyempaikannya seperti apa? Semua itu adalah epistemologinya pendidikan. Lahirnya KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) adalah salah satu usaha baik dari pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Baik dari segi kognitif, afektif, dan psikomotor. Di mana pendidikan yang sebelumnya lebih mengarahkan siswa pada aspek kognitif saja. Akan tetapi apa aplikasinya? Munculnya KBK justru membuat kebingungan tersendiri di kalangan para pengajar. Pada peserta didik sebagai subyek pendidikan, mereka menjadi “korban” dari KBK ini. Kejenuhan, kebosanan, merasa tidak ada waktu untuk bermain merupakan reson dari akibat peserta didik yang merasakan kurikulum ini. Pada kenyataannya siswa juga tidak jauh berbeda dengan penerapan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Aspek kognitif yang ditekankan. Secara konseptual, KBK memang diakui bagus. Akan tetapi dalam tataran aplikasi? Masih sangat jauh sekali.


Salah satu contohnya adalah, adanya Ujian Nasional. Ujian Nasional yang diadakan setiap tahunnya menuai kritik dari mereka yang kontra dengan adanya Ujian Nasional. Pasalnya, setiap tahunnya nilai maksimal standart kelulusan UN selalu mengalami kenaikan. Rencananya tahun 2007 ini, nilai standart UN akan dinaikkan menjadi 5.00. Berbagai respon yang dialami siswa beragam. Stress, siswa pandai tidak lulus, membakar gedung sekolahan dsb sebagai upaya menunjukkan ekspresi kekesalan pada diri mereka karena tidak lulus. Mereka yang memiliki keahlian dalam sepak bola atau basket misalnya, dan mengalami kesulitan dala perhitungan, bagaimana dia bisa lulus? Jika kemampuan matematikanya lemah? Di sisi lain prestasi anak terkait dengan basket atau sepak bola membumbung tinggi. Begitu pula dalam tataran Perguruan Tinggi. Artikel yang ditulis Achmad Sjafii dalam Surat Kabar Harian Kompas berjudul “Pengangguran Intelek da Kurikulum PT” cukup membuka mata kita, bahwa ternyata kurikulum (menurut Achmad) yag dibuat Perguruan Tinggi belum mencukupi kebutuhan yang diingikan pasar. Kebanyakan lulusan Perguruan Tinggi lebih berpikiran global daripada tataran teknis.


Melihat kondisi ini, dilihat dari sudut epistemologi adalah seharusnya pengetahuan apa yang harus diberikan kepada anak didik?. Hal ini tentu terkait dengan pengetahuan kita akan kebutuhan yang diperlukan anak didik. Harus mengetahui dan memahami berbagai kemampuan atau kelebihan atau kecerdasan yang dimiliki anak. tidak bisa semua siswa diberlakukan sama. Sebagai contoh perlakuan antara siswa yang memiliki kemampuan intelektualitas tinggi dengan yang standart. Bagi mereka siswa yang memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata justru akan memilih keluar atau tidur daripada mendengarkan guru mengajar karena merasa bosan, ketika guru memberikan materi yang sebenarnya levelnya disampaikan kepada mereka yang memiliki intelektualitas rata-rata. Mereka harus difasilitasi dengan sesuatu yang lebih. Adanya kelas akselerasi yang notebenennya usaha untuk memfasilitasi anak-anak yag seperti ini teryata menuai pro kontra tersendiri pada beberapa kalangan. Adanya aspek kesenjangan sosial dan adanya pembedaan-pembedaan menyebabkan kontranya sistem ini.


Siswa yang memiliki kelebihan dalam hal musik atau olahraga dan memiliki kemampuan yang minim dalam hal matematika misalnya, tentu dia akan merasa kesulitan atau bahkan tersiksa dengan adanya pelajaran ini. Kondisi ini sungguh memprihatinkan pada banyak kalangan. Pasalnya salah satu syarat kelulusan siswa untuk Ujian Nasional (UN) ternyata matematika termasuk ke dalam mata pelajaran yang diujikan. Yang perlu dipertanyakan adalah apakah kemudian siswa yang memiliki kelebihan seperti itu padahal memiliki kelebihan dalam hal musik atau olahraga termasuk siswa yang bodoh? Bagaimana bentuk penghargaan atas prestasi yang mereka raih? Sejauh ini dari pemeritah terkait dengan Ujian Nasional ini bisa dibilang mereka mash bersikukuh untuk mempertahankan ini. Wapres Jusuf Kalla mengatakan bahwa perlu adanya penghargaan kepada para siswa yang memiliki prestasi dan belajar keras dan mengabaikan yang malas terkecuali ada upaya lebih keras untuk belajar. Pada dasarnya seorang guru atau pendidik adalah memberikan pengajaran dan pendidikan kepada anak didiknya. Baik moral maupun akademis. Mereka yang tidak bisa menjadi bisa. Mereka yang malas menjadi bersemangat dan termotivasi. Mereka yang tidak percaya diri menjadi percaya diri, dan sebagianya. Jika memanga pernyataan dari Wapres seperti itu, di mana peran guru sebagai pendidik yang sebenarnya???


Dunia pendidikan saat ini tengah “digenggam” oleh penguasa kapitalisme. Dunia pendidikan menjadi sebuah ladang bisnis yang cukup menggiurkan. Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan bantuan-bantuan yang lain belum terlalu cukup untuk melakukan pengembangan dan perubahan dalam pendidikan. Daya kreativitas guru tentu juga sangat berpengaruh dalam hal ini. Pengembangan aspek kognitif tentu tidak cukup untuk mengembangakan potensi siswa secara keseluruhan.


Bagaimana cara memperoleh pengetahuan? Pada dunia pendidikan cara memperoleh pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan justru pada sekolah-sekolah swasta yang pada dasarnya tidak ingin tergantung pada kapitalisme semata. Mereka mendidik anak-anak dengan mengembangkanpotensi yang ada dengan harapan anak-anak bisa berkembangan secara maksimal. Cara tradisional, guru dianggap sebagai pusat segala-galanya. Guru yang paling pandai dan gudang ilmu. Siswa adalah penerima. Cara model sekarang, banyak diantaranya mengembangkan metode active learning untuk memacu kreativitas dan daya inisiatif siswa. Guru hanya sebagai fasiltator saja. Guru mengarahkan siswa. Siswa dapat memperolehnya melalui diskusi, problem based learning (PBL), pergi ke perpustakaan, belajar dengan e-learning (internet), membaca dan sebagainya. Cara-cara seperti ini akan memacu potensi siswa daripada siswa diperlakukan hanya sebagai objek yag pasif saja.


Bagaimana cara menyampaikannya?. Pertanyaan ini terkait dengan kompetensi guru serta metode atau gaya pengajaran yang mereka terapkan. Sebenarnya jaman sekarang ini model ceramah yang bersifat pasif sudahbukan jamannya lagi. Akan tetapi dibeberapa sekolah atau bahkan Pergurun Tinggi sendiri masih memberlakukan sistem pengajaran seperti ini. Salah seorang mahasiswi Unair di sebuah fakultas mengeluh karena ternyata masih ada dosennya yang mengajar dengan cara konvensional seperti ini. Cara penyampaian cukup mempengaruhi motivasi siswa dalam belajar. Salah satu contoh SD Kreatif. SD ini memberikan pengajaran yang unik. Kadang guru memberikan pendidikan dengan outbound, dengan bentuk dongeng atau cerita, atau dengan memberikan pesan moral dan mengajak untuk berpikir rasional (rasional thinking).

20.13 | 3 komentar | Read More

Hidup tak seperti bayangan

Sesungguhnya manusia diciptakan Allah swt hanyalah untuk satu tujuan, yaitu menyembah atau beribadah hanya dan hanya kepada-Nya. Allah menciptakan manusia dan manusia tercipta di dunia ini. Sesungguhnya manusia hidup di dunia ini, tak akan lepas dari satu kata “ujian”.

Mungkin kita berpikir dan membayangkan bahwa hidup adalah seperti perjalanan yang senantiasa diiringi dengan kesenangan semata. Sungguh sebenarnya bukan seperti itu. Manusia senantiasa akan diberikan ujian oleh Allah. Karena dengan ujian ini, akan terlihat mana manusia yang lulus dan berhak mendapatkan gelar “beriman” dan mana yang “fasik” dan mana pula yang “kafir”.


Roda pasti akan berputar. Sepertihalnya roda yang bulat, tidak selamanya kita hidup di dunia ini akan mendapatkan kesenangan selalu. Sebaliknya, bisa jadi kita akan mendapatkan banyak kenangan dari ujian kesedihan. Semuanya berpasang-pasangan.
Ketika kita siap mendapatkan pujian, maka kita harus siap pula mendapatkan celaan. Ketika kita siap mendapatkan penghargaan, maka kita harus siap pula mendapatkan hinaan. Ketika kita siap mendapat sentuhan cinta kasih, maka kita harus siap pula jika suatu saat kita akan mendapatkan tamparan kebencian. Sungguh semua ini diperuntukkan manusia, agar manusia senantiasa kembali kepada-Nya dalam keadaan bersih.


Dua ujian yang biasanya manusia sulit untuk melakukannya adalah, ujian luangnya waktu dan ujian kesenangan. Di saat kita banyak waktu luang, memang senantiasa kita lebih menggunakannya untuk hal-hal yang bias jadi sebenarnya tidak berguna. Sebaliknya ujian kesenangan, tabiat manusia adalah lupa ketika mendapatkan ujian kesenangan. Kecuali orang-orang yang pandai bersyukur dan senantiasa waspada.

20.07 | 0 komentar | Read More

Terpasungnya sebuah kreativitas

Kreativitas merupakan anugerah terindah yang diberikan Yang Maha Penguasa kepada makhluk-Nya yang bernama MANUSIA. Setiap manusia yang diciptakan memiliki berbagai keunikan masing-masing. Adanya perbedaan ini tentunya kita pergunakan untuk bisa saling mempelajari dan menghargai setiap kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri seseorang.

Sebagaimana firman Allah dalam QS.Hujurat:13, bahwa Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku adalah untuk saling mengenal. Tentunya makna mengenal di sini adalah sangat luas. Mengenal hingga mengetahui kelebihan dan keunikan masing-masing individu adalah sebuah keharusan sebenarnya sebagai makhluk Allah yang paling sempurna ini.

Namun, kita sebagai manusia sering gagal dalam memaknai pemahaman setiap perbedaan dan keunikan ini. Kita justru seringkali terjebak pada pemasungan kreativitas itu sendiri. Tidak pada pengembangan kreativitas itu.

Pengembangan dan pembebasan kreativitas, bukan berarti sebuah elemen yang bebas nilai. Semua yang Dia ciptakan tidak ada yang bebas nilai. Semuanya memiliki aturan yang harus ditaati.

Kreativitas, jikalau dikembangkan sesungguhnya semuanya akan kembali pada manusia sendiri. Sudah banyak karya-karya besar berkat pengembangan kreativitas ini. Kreativitas memang anugerah terindah dari Yang Maha Kuasa. But, bukan berarti kita pasif dan pasrah begitu saja. Kreativitas bukanlah seperti baja atai besai yang sulit untuk dibentuk. Tapi, kreativitas di sini _klo boleh saya bilang_ lebih seperti karet yang bersifat elastis. Apakah akan dibentuk bulat, dibentuk kotak, diolor panjang atau justru ditebalkan semuanya bisa. Dan itu semua tergantung dari kita. Karena kita adalah pembentuknya.

Perilaku Kreative
Orang yang hendak menjadikan dirinya kreatif, dia harus berperilaku kreatif pula. Tidak ada orang yang kreatif, akan tetapi dia tidak berperilaku kreatif. Menurut teori medan, bahwa B=f{P,E}. Perilaku kreatif, dipengaruhi oleh person (individu) itu sendiri dan juga lingkungan.

Perilaku kreatif, akan terbentuk jikalau ada usaha dari person yang bersangkutan. Usaha di sini yang perlu dilakukan antara lain terkait dengan motivasi individu, paradigma berpikir, habit/kebiasaan.

Motivasi
Dalam diri individu ada dua macam motivasi. Motivasi internal dan eksternal. Motivasi yang dimaksud di sini adalah, motivasi terkait dengan pengembangan diri individu untuk menjadi orang kreatif.

Paradigma Berpikir
Setiap orang tentu memiliki parasigma yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Orang yang memiliki paradigma berpikir sempit, tentu dia tidak bisa memandang sesuatu secara luas. Orang yang memiliki paradigma, bahwa bekerja harus kaku, terstruktur, pekerjaan yang dikerjakan harus sifatnya top down dan tidak boleh diubah-ubah, biasanya cenderung kaku untuk bisa berkreasi.

Habit/Kebiasaan
Untuk bisa menjadi kreatif, orang harus membiasakan diri berperilaku kreatif. Belajar berpikir kritis tentang suatu hal, melakukan hal yang berbeda dari seperti biasanya, mengambil arah yang tidak sama dengan awalnya.

Selain faktor di atas, faktor Lingkungan juga sangat berpengaruh. Lingkungan yang menuntut untuk terus berkreasi, akan mendorong individu turut belajar berkreasi. Karena, sekali lagi kreativitas bukan baja atau besi yang sulit dibentuk. Sebaliknya, seorang kreatif sekalipun, jikalau dia harus berada di lingkungan yang menuntut untuk tidak kreatif, dia tidak akan mungkin kuat berada dalam kondisi tersebut. Sekalipun kuat, dia akan stress dan bisa jadi kebiasaan kreatifnya akan terpasung.

Faktor Kepemimpinan, sebenarnya juga sangat mempengaruhi seseorang. Kepemimpinan yang otoriter, top down, akan justru lebih banyak menyumbangkan kebiasaan tidak kreatif pada diri anak buahnya.

Kreativitas…
Sebagian besar orang akan memandang orang yang kreatif itu adalah orang yang aneh dan cenderung disingkirkan dari lingkungan yang memang biasanya di lingkungan yang memasung kreativitas itu tadi.

Allah menciptakan setiap manusia adalah untuk berkreasi. Tanpa adanya kreativitas dari manusia tak akan mungkin, teknologi bisa berkembang sampai saat ini. Padahal Allah dalam QS. Ar-Rahman:33 merupakan salah satu ayat yang memerintahkan manusia untuk meningkatkan pengetahuannya dan berkreasi.

Allahua’lam bishowab.

19.58 | 0 komentar | Read More

Hidup kok penuh "taklimat"

Kalimat ini muncul di saat kondisi ruhiyahku mulai menurun, aktivitas mulai banyak. Setiap kali liqo’ sang murobbi pasti tak lupa berkata, “Sebentar dek, ada taklimat. Daripada lupa…” Kalimat taklimat…, taklimat…, itu sepertinya sudah cukup sering nangkring di telingaku. Hingga sebenarnya aku bosan sendiri mendengarnya. Namun, aku sadar kondisi ruhiyahku mulai drop. Tak banyak protes yang kuberikan. Paling hanya kujawab Insya Allah. Itupun kalau tidak ada acara di tempat (kantor/organisasi) lain. Jika ada pun, sontak aku langsung mengatakan, “Mbak, aku ada acara ini e…”. Sekalipun ruhiyahku drop, akupun tetap siaga dan tetap menggunakan akal sehatku untuk tetap berpikir jernih, mana yang lebih membuatku enjoy dan bermanfaat.

Secara pengamatan, taklimat ku maknai sebagai sebuah keharusan untuk bisa menghadirinya. Yah… di sini aku harus belajar berpikir positif lah mengenai taklimat-taklimat yang diberikan. Selain dilihat dari berbagai sudut pandang. Iya juga sih, kalau aku diposisikan menjadi panitia penyelenggara suatu acara dan ternyata tidak ada yang hadir? Yah, mungkin taklimat untuk harus hadir adalah salah satu sarana efektif untuk meminta kader menghadiri acara yang diadakan.

Pikiran taklimat adalah sebuah keharusan untuk hadir, ternyata tidak dimaknai sama oleh slaah seorang akhwat sekamar denganku. Dia memaknai taklimat sebagai sesuatu yang tidak wajib untuk dihadiri menurut dirinya. Hufff… capek deh…. Meski demikian, aku pun harus tetap siaga menggunakan akal sehatku dan tidak begitu mudahnya terpengaruh itu. Karena cukup aku sadari bahwa ketika aku mengikuti makan taklimat versi si akhwat ini, bisa-bisa aku menjadi kacau dan sering tidak menghadiri taklimat yang diberikan sekalipun tidak ada acara lain. Sepintas pemikiran untuk mengikutinya, emang enak. Akan tetapi berbahaya jika menyakini dan kemudian mengikuti. Taklimat, seperti apapun itu, harus kumaknai sebagai perintah untuk wajib dihadiri dengan tetap tidak mengesampingkan kepentingan lain yang lebih mendesak dan penting.

Jika, bermasalah dengan enjoy dan tidak enjoy… pernah juga sih. Tapi alhamdulillah sang hati diri sering mengingatkan kepada salah satu hadits Rasulullah saw, bahwa orang mukmin diperintahkan untuk senantiasa memperbaharui niatnya. Kita sebagai mukmin, kita mengaku sebagai aktivis dakwah, sekalipun ruhiyah kita rasa lagi drop seperti apapun itu, akal sehat harus tetap dijalankan. Hati kecil tetap diperhatikan. Batasan-batasan dan aturan-aturan yang sudah digariskan jangan sampai dilanggar dan terlupakan atau bahkan sengaja dilupakan. Karena di saat ruhiyah kita drop itulah sebenarnya titik minimum di mana kita diuji oleh Allah, betapa hati kita sebenarnya memang benar-benar membutuhkan ketenangan, ketentraman, dan makanan agar bisa kembali sensitif terhadap sekitar. Bagaiman kita diuji oleh Allah, bahwa sebenarnya kita butuh Allah dan memang benar-benar hanya mengingat Allah lah, hati akan tenang.

So, enjoy aja dengan taklimat. Kalau hati mulai resah dan reseh dengan taklimat, padahal tidak ada keperluan lain yang sifatnya lebih penting dan mendesak, maka pertanyakanlah ruhiyah kita. Sudah cukup kita beri makankah dia? Dan tidak perlu malu atau segan, ketika kita atau orang lain yang mempertanyakan kualitas ruhiyah kita. Kalau memang drop akui saja, dan justru itu menjadi koreksi bagi diri kita untuk terus menerus berusaha memperbaikinya dan terus meminta nasihat pada orang-orang sholeh.

19.54 | 0 komentar | Read More

Cerita setelah mbantuin qurban

Baru kali ini setelah bergabung dengan temen-temen PLASMA-YDSF (www.ydsf.or.id) aku ikut terjun ke lapangan "mengamankan" pelaksanaan qurban. Yah, meski tidak seribet yang diceritakan oleh kejadian tahun lalu, minimal kontribusi untuk membantu pelaksanaan acara ini ada lah. Daripada tidak sama sekali? dan ngendon di rumah?

Kepalaku sebenarnya terasa berat dan seringkali susah tidur belakangan ini. Entah kenapa, tapi sepertinya terlalu banyak yang kupikirkan, karena Pe-eR-Pe-eR ku masih banyak. Garapan organisasi, kantor, skripsi, dan lainnya. Tapi yah, sebuah konsekuensi lah, ketika seseorang siap dengan lebih dari satu amanah.

Upaya membantu di kegiatan bagi-bagi daging kurban kepada 1.000 tukang becak dan 500 warga sekitar IAIN Sunan Ampel Surabaya minimal cukup membuat syarafku agak-agak rileks. Subhanallah, betapa mereka lebih membutuhkan itu. Kegiatan sempat terhenti sih, di tengah-tengah karena masih harus menunggu jemputan daging dari tempat yang lain. Karena dari 100 ekor kambing hanya 20 ekor kambing yang disembelih di tempat itu. Selebihnya di tempat yang lain.

Suasana langit semakin sore semakin menunjukkan suasana yang mendung. Seorang pengaman diposku dan seorang security IAIN bercerita terkait dengan kejadian yang ada di lapangan.

"Makane mbak, aku iku gak geleme kon mbagi ngene iku yo ngono kuwi lho mbak." kata sang pengaman.

Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan, tapi ungkapan itu terdengar di telingaku di tengah-tengah suara lagu hiburan yang dinyanyikan oleh grub band lokal IAIN. Cerita pun mengalir. Dan ternyata berkeluh kesah mengenai fakta di lapangan terkait dengan pembagian kupon kepada masyarakat. Tiap RT diberikan sebanyak 20 kupon oleh pihak JTV (penyelenggara utama acara), dan diminta masing-masing ketua RT membagikan kepada warganya yang memang membutuhkan. Ternyata, fakta di lapangan ada yang mengeluh tidak diberi kupon padahal dia lebih "miskin" daripada yang diberi.

Indonesia... oh Indonesia...
Meksi bencana di mana-mana, dakwah dilakukan dengan gencar, masih tidak sedikit orang yang belum menggunakan amanahnya dengan baik. Tidak semua memang ketua RT yang begitu. Namun, kasihan juga sih, ketika mendengar cerita itu. Cerita yang sebenarnya sudah menjadi cerita klasik. Tapi apa boleh buat, aku cuman membantu kantor untuk mengamankan berjalannya acara. Memastikan bahwadaging kurban diberikan sesuai dengan jumlah kupon yang ada.

Acara berlangsung cukup lama. Sekitar jam 10.00 pagi sampai jam 15.00. Terlihat langit sudah mendung dan titik-titik hujan sudah pada berjatuhan ingin mendinginkan bumi. Akupun pulang dengan menggunakan "kuda besiku" dengan seorang teman. Meski agak mengantuk, aku harus terus sadar bahwa nyawaku hanya satu dan aku membawa orang.

Allah Kuatkan Fikirku...

19.21 | 0 komentar | Read More

Pembagian, Anjuran dan Hikmah Berkurban

Sebagian generasi terdahulu yang sholeh lebih menyukai membagi kurban menjadi tiga bagian yaitu sebagian untuk diri sendiri, sepertiga untuk hadiah orang-orang mampu dan sepertiga lagi shadaqah untuk fuqara. (Tafsir Ibnu Katsir, 3/300).

Alloh Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya: "Maka makanlah sebagiannya (dan sebagian lagi) berikalah untuk dimakan orang-orang sengsara lagi fakir." (QS: Al-Hajj: 28)
"Maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta." (QS: Al-Hajj: 36).

Anjuran bagi pengorban

Bila seseorang ingin berkurban dan memasuki bulan Dzulhijjah maka baginya agar tidak memotongi mengambil rambut, kuku, atau kulitnya sampai dia penyembelih binatangnya, karena hadits Ummu Salamah Radhiallaahu anha. bahwa Rasululloh ShallAllohu alaihi wasalam bersabda, yang artinya: "Bila masuk hari-hari sepuluh Dzulhijjah sedang seseorang dari kalian hendak berkurban maka dia harus manjaga rambut dan kuku-kukunya." (HR: Ahmad dan Muslim)

Dalam satu lafad lagi, yang artinya: "Maka janganlah dia memotong rambut dan kulit (kuku-kuku) sedikitpun sampai dia berkurban."

Jika seseorang niat berkurban pada pertengahan hari-hari sepuluh itu maka dia menahan hal itu sejak saat niatnya, dan dia tidak berdosa terhadap hal-hal yang terjadi pada saat-saat sebelum niat.

Bagi keluarga yang akan berkurban dibolehkan memotong rambut dari tubuh, kuku atau kulit mereka (sebab larangan ini hanya ditujukan bagi yang berkurban saja dan hanya sunnah untuk dijauhi). Sehingga bila ada kepentingan kesehatan maka boleh memotong.

Hikmah Kurban

  • Menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim yang taat dan tegar melaksanakan kurban atas perintah Alloh Subhanahu wa Ta'ala meskipun harus kehilangan putra satu-satunya yang didambakan (QS: As-Shaf: 102-107)
  • Menegakkan syiar Dinul Islam dengan merayakan Iedul Adhha secara bersamaan dan saling tolong menolong dalam kebaikan(QS.:Al-Hajj: 36) Rasululloh ShallAllohu alaihi wasalam bersabda, yang artinya: "Hari-hari tasyrik adalah hari-hari makan, minum dan dzikir kepada Alloh Azza wajalla." (HR: Muslim dalam Maktashar No. 623)
  • Bersyukur kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala atas nikmat-nikmatNya, maka mengalirkan darah binatang kurban ini termasuk syukur dan ketaatan dengan satu bentuk taqarrub yang khusus (QS: Al-Hajj: 34). Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Alloh Subhanahu wa Ta'ala terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Alloh kepada mereka, maka Ilahmu ialah Ilah Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Alloh). (QS: Al-Hajj: 34)

Di hari-hari itu juga sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal shalih, kebaikan dan kemasyarakatan, seperti bersilaturahmi, berkunjung sanak kerabat, menjaga diri dari rasa iri, dengki, mendongkol maupun amarah, hendaklah menjaga kebersihan hati, menyantuni fakir miskin, anak yatim, orang-orang yang terlilit kekurangan dan kesulitan.

Namun bagi orang yang akan bekurban tidak harus meniru orang yang sedang ihram sampai tidak: memakai minyak wangi, bersetubuh, bercumbu (suami istri), melangsungkan akad nikah, berburu binatang dll. Sebab yang demikian itu tidak ada tuntunan dari Rasululloh ShallAllohu alaihi wasalam. Namun Hendaklah kita menegakkan syiar agama Alloh ini dengan amal shalih, amar ma'ruf dan nahi munkar dengan cara yang penuh hikmah, hendaklah setiap kita menggunakan kemampuan, keahlian, kedudukan dan segala nikmat Alloh Subhanahu wa Ta'ala dengan sesungguhnya bersyukur dalam menegakkan ajaran dan syiar Dienullah Islam.

Semoga Alloh Subhanahu wa Ta'ala senantiasa membimbing kita kepada cinta dan keridhaanNya. Amin.

(Sumber Rujukan: Min Ahkamil Udhiyyah, Asy-Syaikh Al-Utsaimin)

http://www.mediamuslim.info/haji-umroh/pembagian-anjuran-dan-hikmah-berkurban.html

18.54 | 0 komentar | Read More

Anak Muda, Pak Tua, dan Rumah Peradaban

Cerita berkisah percakapan antara seorang anak muda dan seorang pak tua. Anak muda ini melihat ada sebuah rumah yang sudah hampir roboh, dan ia melihat pak tua masih saja memunguti puing-puing genting yang dirasa sudah banyak yang berjatuhan karena retak dan pecah.

Terlihat genting-genting yang menjadi penutup pun pula berjatuhan dan retak,Terlihat tiang-tiang sebagai penyangga pun mulai retak juga dan bahkan ada yang sudah patah,Tidak banyak memang penghuni rumah itu,Tapi dari rumah itu sudah banyak lahir anak-anak yang kini memimpin bangsa.

Melihat semua itu, anak muda bertanya kepada pak tua itu

"Pak, saya tidak punya rumah yang bagus seperti itu. Sepertinya rumah ini nyaman untuk ditempati."

"Nak, seperti yang kau lihat sendiri. Rumah ini sudah mulai roboh."

"Apakah aku diperbolehkan untuk membantumu menegakkan kembali rumah ini?"

"Nak, benarkah apa yang kau ucapkan? Apakah kamu bersemangat ingin membantuku menegakkan rumah ini karena kamu tidak memiliki rumah?"

"Tidak pak. Tidak sekedar itu. Kalau hanya sekedar itu, rumahku luas. Setiap hari aku beratap langit dan beralaskan bumi. Jika hujan, aku berlindung di bawah pohon atau gubuk di sawah atau menumpang tepian rumah orang. Sekedar menghangatkan tubuhku."

"Jadi apa keinginanmu untuk membantuku menegakkan kembali rumah ini?"

"Karena aku melihat rumah ini telah melahirkan banyak sekali pemimpin-pemimpin bangsa. Di sini pula ayahku pernah dilahirkan. Dan kini ia sudah tiada. Hanya satu pesan yang ia tinggalkan, carilah rumah peradaban itu. Mungkin di saat engkau mendapatkan, bisa jadi rumah itu hampir saja roboh, karena penghuninya sudah mulai tak memperhatikan lagi. Karena penghuninya sudah mulai pergi satu per satu dengan melihat rumah itu yang semakin lama semakin tua. Karena penghuninya hanya sedikit orang saja yang bersedia tetap tinggal dan senantiasa menambal sana-sini untuk mempertahankan agar rumah ini tetap berdiri. Meski harus berkorban harta yang mereka miliki, bahkan jiwa sekalipun."

"Nak, sungguh anak muda sepertimu yang seharusnya mengisi setiap ruang kehidupan. Nak, jangan pernah engkau urungkan niatmu untuk membangun sesuatu ketika engkau sudah berucap bahwa engkau akan membangunnya. Jangan pernah engkau berpikir untuk pindah ke tempat lain di saat engkau belum mampu meninggalkan apapun. Jangan pernah berpikir bahwa engkau mengkhianati perjanjian-perjanjian yang ada di dalam rumah ini. Jangan pernah engkau pergi tanpa meninggalkan sesuatu, sekalipun hanya kobaran semangat untuk generasi berikutnya. Sekalipun satu kalimat saja."

"Pak, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?"

"Silahkan anakku."

"Kenapa orang yang setua engkau masih saja di sini dan malah ingin menegakkan kembali rumah ini? Bukankah seharusnya engkau sudah waktunya untuk pindah dari sini? Karena rumah ini akan runtuh?"

"Hanya semangat baru dan semangat muda seperti engkaulah yang kemudian membuatku betah dan bersabar untuk tetap menegakkan rumah ini. Bukan persoalan apakah aku sudah tua dan engkau masih muda. Tapi yang terpenting adalah semangat yang aku miliki senantiasa semangat baru dan semangat muda. Aku mencoba terus menerus agar semangat mudaku tidak luluh dan hanyut begitu saja oleh terpaan angin."

"Pak, kemana penghuni yang lain? Apakah memang hanya bapak dan dua orang itu saja?"

"Tidak Nak. Sebenarnya dahulu banyak yang menghuni di rumah ini. Namun, seiring dengan perjalanan waktu yang terus berlalu, rumah juga sudah mulai kelihatan kotor, retak, dan sudah tidak indah lagi, sebagian besar mulai meninggalkannya. Diantara mereka ada yang pergi karena ingin membangun rumah peradaban yang baru. Sebagian mereka berpindah ke rumah peradaban yang lain. Sebagiannya lagi masih tetap di sini membantu kembali menegakkan rumah ini."

"Apakah ketika mereka pergi dari sini, meninggalkan sesuatu?"

"Sebagian iya, dan sebagian tidak. Beberapa diantara mereka mengatakan 'Aku harus keluar dari rumah ini, karena sudah waktunya aku keluar dari sini dan turut kembali membantu membangun rumah peradapan di tempat lain. Karena kondisi kalian masih lebih baik dari mereka. '

Dengan meneteskan air mata, beberapa diantara mereka saling berwasiat dan memberi semangat. Beberapa yang lain lagi diantara mereka, ada yang mengatakan, 'Aku harus keluar dari sini, karena rumah ini sudah jelek dan tidak layak pakai. Aku harus mencari tempat berteduh lain agar aku bisa berkarya. Dan sebaiknya kita juga pergi dari sini. Atau kalau tidak, silahkan kalian bangun kembali rumah ini sendiri.' Mereka kemudian pergi begitu saja tanpa kabar dan peninggalan apapun, sekalipun hanya sekedar nasihat ataupun semangat. Dan beberapa terakhir, mereka mengatakan, 'Aku akan turut kalian membangun dan menegakkan kembali rumah peradaban ini. Karena aku menyakini bahwa suatu saat rumah ini akan kembali kokoh dan ramai kembali.

Suatu saat rumah peradaban ini akan dikenal dunia dan menjadi salah satu saksi bahwa rumah ini adalah rumah peradaban yang melahirkan para pemimpin bangsa yang mampu mengangkat dan menegakkan kembali wibawanya di mata bangsa yang lain.

Rumah yang melahirkan para pemimpin bangsa ini harus terus dilestarikan dan ditegakkan. Sekalipun suatu saat nanti aku harus pergi dan tiada lagi di dunia ini. Tapi aku yakin, bahwa akan terus ada generasi penerus setelahku yang mereka tak akan melupakanku. Sekalipun lupa, minimal aku bangga dapat menjadi bagian dari penegakan kembali rumah peradabann ini.' Dan mereka itulah kita bertiga di sini dan sekarang yang anak muda lihat.'

Sragen, 16 September 200722.20 WIB
di sebuah keheningan malam di tengah suara tilawah dari musholla kecil
16.20 | 0 komentar | Read More

Teruslah Berusaha

Ketika perasaan lelah dan letih telah mengiringi fisik dan fikiran ketika, ketika itulah kita akan benar-benar merasakan bahwa kita ingin refreshing sejenak. Semua yang kita rasakan adalah sia-sia manakala kita hanyalah merasa dan merasa. Tiada sikap dan solusi nyata untuk mengatasinya. Letih memang, lelah memang, ketika kita terus bekerja dan ternyata yang lainnya hanyalah melihat saja.
Mungkin sesekali kita merintih "tolonglah saya" meski kita tidak secara langsung meminta bantuan itu. Tapi, terkadang atau sering ternyata orang-orang di lingkungan kita tidak peka. "Tiada kata untuk menyerah". Kata itulah seharusnya yang senantiasa kita ucapkan dan ingat. Agar hari-hari kita tidak melulu dihiasi dengan kata "aduh, aku lelah dan capek. Aku ingin menyudahi semuanya". Justru kalimat inilah yang kemudian akan menambah loyo kita, baik fikiran maupun jasad.

Dalam psikologi, ketika kita berpikir positif thinking dan hari-hari dihiasi dengan penuh semangat, maka akan mempengaruhi kinerja kita, daripada kita hanyalah mengeluh dan mengeluh saja. Ya, memang ketika kita harus mencoba untuk terus berusaha semangat di setiap harinya, pastilah ada saja yang kita rasakan, yaitu kemalasan. Namun, tetap berusaha.Kenapa juga Allah tidak memberikan setumpuk rejeki kepada orang yang Dia ciptakan-Nya dengan begitu saja? Ya, karena Allah hendak melihat kita berusaha dan berusaha. Sehingga kita akan terlihat dan tersaring, mana diantara kita yang memang benar-benar berusaha mana yang tidak. Seperti halnya ungkapan "Siapa cepat dia dapat". Begitu pula yang di sini, siapa terus berusaha, dapatlah yang ia cita-citakan. Belum lagi niatan hanya karena Allah, akan menambah pahala serta mampu meningkatkan hasil yang tidak kita sangka-sangka asalnya.

Teruslah berusaha, bagaimanapun dan apapun keadaannya. Jangan pernah menyerah hanya karena hal-hal sepele. Bisa jadi, ketika kita merasakan lelah dan letih, itu bukanlah ungkapan yang sebenarnya. Akan tetapi syetan yang berbisik kepada kita, agar kita berhenti untuk merasakan nikmatnya bekerja keras.Ketika kita niatkan semuanya karena Allah, kita belanjakan apa yang kita miliki karena Allah, maka yakinlah bahwa hati akan senantiasa damai rasanya. Maka teruslah berusaha sekalipun orang di sekitarmu hanya melihat dan diam tanpa bantuan kepada kita. Karena sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya akan melihat dan mencatat amalan yang kita kerjakan.Teruslah berusaha, jangan pernah menyerah. Sebelum nafas ini terhembus di terakhir kalinya. Di saat malaikat maut mmenjemput dan berbilang, "hari ini adalah hari kematianmu. maka ruhmu akan ku cabut. Amalan tergantung dirimu ketika engkau hidup di dunia".
16.17 | 0 komentar | Read More

Sepeda Motorku...

Teringat benar dalam memoriku, saat kejadian motorku mau hilang. Waktu itu, seperti biasa UKMKI Universitasku mengadakan pelatihan level III. Namanya saja level III, tentu yang ikut adalah orang-orang yang memang sudah mengalami seleksi dari tahapan I dan II. Waktu itu, meskipun aku sudah bukan pengurus organisasi Islam di Universitasku itu, aku mencoba untuk melobi panitianya untuk bisa ikut hadir dalam acara itu. Yang membuatku menarik dalam acara tersebut adalah pada sesi materi pendatangan beberapa elemen gerakan Islam atau biasa mereka menyebutnya dengan istilah Harakah Islamiyah.

Ya, aku memang senang menghadiri sesi yang satu ini. Karena paling tidak menambah referensi pengetahuan bagiku tentang gerakan-gerakan itu. Apalagi sekarang ini semakin bertambah saja gerakan-gerakan Islam sing nggak nggenah. Alhamdulillah dengan melobi panitianya, aku diperbolehkan. Itung-itung ikutan acara bagus, gratis pisan.

Tempat terselenggaranya adalah di fakultas hasil kontrakan. Yah maklumlah, fakultasku kan kecil mungil. Mahasiswanya banyak, jadinya mau nggak mau ya harus cari tempat lain alias ngontrak di tempat lain untuk bisa menampung pada saat pelaksanaan sistem belajar mengajar. Tempatnya kira-kira 10 menit dari kampus asliku. Parkirpun tak ada di sana. Biasanya anak-anak parkir di kampus asli dan mereka harus berjalan menuju ke tempat itu kalau mereka mau kuliah.

Waktu menunjukkan pukul 09.30 WIB. AKu segera berbegas berangkat karena acara dimulai jam 08.00. Berangkat bersama adik kontrakanku. Sesampai di tempat, aku berpikir,
"Ah, ben cedhak, motorku tak parkir di deket sana ajalah".

Gumamku dalam hati saat mengendarai sepeda motor. Sesekali aku berbicara sendiri kalau motorku mau tak parkir di dekat sana aja. Kulihat, "Eh, ternyata kok di dekat tempat itu ada parkiran sepeda motor juga."

Memang sih kulihat di situ ada banyak anak yang sedang main sepbak bola. Usianya remaja. Tapi beragam juga, ada yang seusia SMA, Mahasiswa, dan SMP. Waktu itu, aku tidak berpikir panjang. Yang ada dalam pikiranku adalah, aku bisa segera datang dan ikutan acaranya. Selain itu, toh di situ juga ada sepeda motor. Akhirnya kuparkirlah sepeda motorku di situ. Tanpa berfikir panjang, sepedaku kuparkir di situ dan hanya ku kunci kontak saja.

Masuklah aku mengikuti acara itu. Dan ternyata memang sudah dimulai tapi maih belum lama, karena seperti biasa, terjadi kemoloran acara. Waktu demi waktu aku memperhatikan dengan seksama acara berlangsung. Entah kenapa sekitar jam 10.30 an aku mulai terusik batinku. Ingin rasanya keluar dan melihat motorku. Aku takut ada apa-apa dengan motorku karena belum 1 tahun motor iku ku bawa ke Surabaya.

Waktu terus berjalan, dan akhirnya jam 11.00 tiba. Aku semakin terusik dan merasakn ketidaknyamanan di ruang. Bukan karena udara yang panas, bukan karena AC yang dinyalakan, atau apa, aku hanya teringat bagaimana nasib sepedaku di luar sana. Akhirnya jam 11.30 meskipun adzan dhuhur belum terdengar, aku langsung bersalaman dengan beberapa teman akhwat untuk segera pamit. Termasuk adik kontrakanku yang datang bersamaku tadi. DIa tidak ikut aku pulang karena dia adalah peserta juga dalam acara itu.

Ku langkahkan kaki agak cepat, cepat, dan lari kecil menuruni tangga. Maklumlah tempatnya di lantai 3. Dan motorku di lantai 1. Ketika aku sampai di lantai dua, kulihat ke bawah motorku, dan ternyata tidka kelihatan. Hatiku semakin berdebar-debar saja, bagaimana kalau motorku hilang. Alhamdulillah sesampainya aku dekat tempat motor berjajar itu, ternyata motorku masih ada. Kondisinya sudah sepi memang. Anak-anak yang tadi pagi sepak bola, kini sudah menghilang. Kembali ke rumah masing-masing mungkin atau pergi ke tempat lain.

Astaghfirullah....Aku terkejut dengan tiba-tiba. Ketika aku hendak memasukkan kunci kontakku ke dalam wadah kunci di motor itu. Pasalanya, ternyata kontak kunci motorku sudah dirusak oleh orang entah siapa pelakunya. Kunci kucoba masukkan, tapi tetap tidak bisa. Akhirnya dengan hati yang berdebar-debar dan mulut melantunkan istighfar, motor kucoba tuntun saja. Ya sudah kubawa pulang saja. Aku berpikir bahwa,

"Ya Allah.... Subhanallah, aku tidak tahu Ya Allah, bagian dari diriku sehingga motorku tidak jadi dicuri orang."

Aku yakin bahwa ini sebenarnya motorku hendak dicuri dengan merusak kunci kontakku.

Subhanallah wal hamdulillah....

Aku hanya berdzikir kepada Allah atas kelalaian dan rasa syukurku kepada Allah atas kejadian ini. Subhanlllah, sungguh setiap manusia tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada dirinya 1 detik, 1 menit, 1 jam, atau 1 hari ke depan. Kecurian, kehilangan, bahkan kematian kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi pada diri kita. Bahkan ketika manusia sudah mempersiapkan segala-galanya untuk kemanan sekalipun misalnya, jikalau Allah hendak memberikan pelajaran kepada seorang hamba dengan hilangnya atau rusaknya yang dicintainya maka semua akan terjadi. Tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Ketika Allah sudah berbilang Kun Fa Ya Kun. Jadi, maka jadilah.

Ujian, musibah, dan problematika hidup senantiasa akan selalu menghampiri jiwa kita. Tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali menyerahkan segalanya kepada Allah. Allah akan menguji setiap hamba dengan apa yang dia cintai. Selayaknya Nabi Ibrahim, yang diuji Allah untuk menyembelih anaknya. Semua berlalu begitu saja. Namun, bukan berarti semua berjalan tanpa adanya skenario. Semuanya telah diatur Allah sedemikian rupa sehingga agara manusia itu ingat dan kembali kepada Allah dalam keadaan bersih.

Hanya amal kabaikan, perbanyak shadaqah, dan membantu orang lain karena Allahlah, Insya Allah akan diberikan balasan yang setimpal untuk kita. Allah akan menghindarkan keburukan, penyakit, persoalan besar, atau sejenisnya ketika kita tawadhu' kepada-Nya dengan serendah-rendahnya. Semua berasal dari Allah, dan akan kembali kepada-Nya.

Allahua'lam bisshowab.
16.14 | 0 komentar | Read More

Sebuah Catatan yang Terputus

Setiap apa yang kuhadapi, kelak akan kembali terulang dengan waktu, orang, dan model yang berbeda. Meskipun sebenarnya esensinya sama.

Setiap level ujian yang kita tempu, kelak akan menjadi bekal pelajaran kita di kemudian harinya. Bisa tidaknya kita lulus dalam setiap ujian adalah tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Ujian yang kita anggap sebagai penghalang, dia akan menjadi musuh yang senantiasa mengejar kita.

Ujian yang kita anggap sebagai teman dan sebuah keniscayaan, dia akan menjadi teman akrab bagi hidup kita

Setiap level ujian yang kita lalui, akan mengandung segudang hikmah. Kita akan didewasakan oleh ujian hidup dan konflik yang ada selama kita menyadari bahwa semua pasti akan bisa kita lalui. Karena Allah tidak akan mungkin membebani setiap hamba-Nya.

Sore, kira-kira pukul 16.15 WIB. Aku masih menatap di depan komputer. Mataku terasa lelah sudah. Tidak banyak yang kukerjakan waktu itu. Karena sudah kuselesaikan hari sebelumnya. Kulihat kantor begitu sepi... sepi... Karena 20 orang pada ikut pelatihan semuanya. Hanya beberapa gelintir orang yang ada di kantor.

Waktu terus berjalan, akhirnya aku pun bercakap-cakap dengan salah seorang rekan kerjaku yang sudah menjadi Bapak. Pembicaraan berjalan... berjalan... dan terus berjalan, akhirnya mendekati magrib, kita sudahi. Adzan magrib menggema terdengar dari masjid sebelah. Hanya berjarak dua rumah saja dari kantorku. Karyawan yang lain ternyata kulihat sudha pulang. Tinggallah aku di kantor dan office boy kantor.

Sholat Magrib selesai. Tapi masih ada yang harus kukerjakan malam itu di kantor. Tapi, seperti biasa aku harus membatasi diri, maksimal Isya' aku harus pulang. Tibalah Direktur ke kantor. Ruangannya yang bersebelahan dengan ruangku dan kantor yang mungil, membuatku antara Direktur dan karyawannya dekat. Belum lagi, memang sang Direktur suka tanya-tanya karyawan. Bagaimana anakmu?istrimu?sudah sembuh?gimana skripsimu? dan lain-lain.

Akhirnya kita pun ngobrol. Dari hasil obrolan, akupun berulang kali merenungkan apa yang telah kuobrolkan dan apa yang selama ini telah kulakukan di kantor ini. Belum satu tahun aku bekerja di sini. Tapi subhanallah, aku merasa ada sebuah kepercayaan kepadaku akan amanah yang diberikan. Belum lagi, posisiku cukup strategis terkait dengan SDM. Aku berpikir bahwa apa yang memang baik, aku harus lakukan itu. Kalau aku tidak paham dan bingung atau ada masalah, aku harus terbuka dan men-share-kan pada orang yang tepat termasuk sang Direktur.
Hingga aku pamitan pulang sama Direktur, di perjalanan bahkan sesampainya aku di rumah. AKu berulang kali berpikir. Aku sekarang harus lebih berhati-hati dalam bertindak. Lembagaku adalah lembaga yang akan segera menjadi lembaga yang besar. Aku harus cerdas, aku harus hati-hati dalam melangkah. Bukan jabatan atau uang yang kuutamakan. Akan tetapi bagaimana aku bisa bertindak dengan tepat. Kepercayaan yang sudah diberikan kepadaku menjabat di posisi strategis terkait dengan SDM harus kupertahankan. Apalagi ayahku berpesan, ketika kita sudah dipercayai orang lain, maka jangan sekali-kali kepercayaan itu dikhianati. Itu nasihat bapak yang diberikan kepadaku, entah berapa tahun yang lalu.

Kepercayaan itulah yang menghantarkan aku, belum 6 bulan tepat bekerja sudah ditawarkan untuk bisa tetap bekerja di lembaga ini. Karena saat ini, statusku masih karyawan kontrak. Dan hingga sekarang masih kuberikan jawaban.

Berulang kali aku berpikir, aku sekarang mendapatkan kepercayaan besar di sini. Ruhiyahku yang senantiasa menemaniku di saat aku stress atau tidak. Berulang kali pula aku memohon yang terbaik kepada Allah serta kekuatan kepada-Nya. Berbagai karakter manusia kuhadapi dan kutemukan di sini. Hingga aku merasa bingung, ketika aku berhadapan dan dimintai untuk "membantu menyelesaikan" persoalan di sebuah departemen.

Dengan latar belakangku psikologi, aku berpikir bahwa aku harus mengaplikasikan juga ilmuku di sini. Di saat menangani orang. Kebingunganku dalam mengidentifikasi, apakah orang tersebut benar atau salah atau ada gangguan "something" pada dirinya, masih sulit untuk kideteksi dan kuketahui....

Tidak mudah memang ketika mulai merambah persoalan yang kompleks. Di jalan aku sempat berpikir, ini baru di lembaga yang sekecil ini. Bagaimana para ikhwah yang berada di legislatif atau eksekutif?

Sebuah catatan yang terputus...
16.13 | 0 komentar | Read More

Cinta yang Tak Abadi

Buku "Bahagiakan Diri dengan Satu Istri" membuat penasaran bagiku. Aku ingin tahu sebenarnya apa sih isinya, hingga menjadi bahan pembicaraan hangat di kalangan para kader PKS dan media? Sebuah SMS masuk di HP salah seorang akhwat di sebelah kiriku, ketika aku enak-enaknya mendengarkan diskusi dengan salam seorang anggota DPRD Surabaya.

"Ukh, bukunya Pak Cahyadi jadi pro-kontra yang membahasa poligami. Sampai diberitakan di Jawa Pos hari ini."

Penasaran, esok harinya aku mencoba untuk mencari informasi itu dan kudapatkan. Meski aku sendiri belum membaca buku aslinya, minimal aku mengikuti berita pro-kontra itu.

Aku jadi teringat akan sebuah buku yang ditulis oleh Asma Nadia "catatan hati seorang istri". Sungguh membuatku emosional pada waktu itu. Ketika membaca lembaran-lembaran buku yang merupakan kumpulan kisah nyata dari teman-teman yang pernah dikenal dan curhat kepada Asma Nadia. Pasalnya, separo buku pertama menceritakan kisah-kisah (baca=kasus-kasus) suami yang "ada main" dengan perempuan lain. Ironisnya adalah beberpaa cerita dalam kisah itu adalah ikhwan. Sedangkan separo kedua adalah berita baiknya. Kisah yang menceritakan betapa tulus dan mencintai seorang suami kepada istri-istri mereka hingga ada satu kisah yang sang suami tidak mau menikah lagi setelah istrinya meninggal. Bahkan marah ketika anak-anaknya mencoba untuk mencarikan calon ibu kembali.

"Ibumu tidak ada yang menggantikan."Ikhwah juga manusia. Begitulah biasanya plesetan yang dipake temen-temen. Memang kita semua manusia. Tempatnya salah dan dosa. Kalau orang Jawa bilang, menungso iku menus-menus kakehen duso. Manusia adalah tempatnya salah. Sekali lagi itu adalah benar. Bahkan Rasulullah SAW sendiri pun juga pernah salah. Akan tetapi oleh Allah, Rasulullah diberikan keistimewaan tersendiri yaitu ma'sum. Wajar memang ketika seorang laki-laki tertarik pada perempuan yang cantik. Sebaliknya wajar juga ketika perempuan juga tertarik pada lawan jenisnya karena perihal fisik. Akan tetapi semuanya akan bisa disaring ketika nafsu itu datang. Terutama bagi mereka yang sudah paham bagaimana harus menyaringnya. Tentu orang yang mengetahui dan tidak atau belum mengetahui berbeda.

Wajar memang, ketika berbeda jenis saling tertarik. Karena justru tidak wajar jika tidak tertarik sama sekali, atau bahkan tertarik pada sesama jenisnya sendiri. Akan tetapi, tidak selalu dan melulu rasa ketertarikan (baca=nafsu) dipergunakan seenaknya saja dan diumbar tanpa adanya penyaringan dan pengendalian dari diri kita.

Laki-laki memang pada dasarnya, ketertarikan mereka adalah pada fisik perempuan. Sebaliknya perempuan lebih kepada perilaku atau hati. Namun, semua itu kemudian bisa ditepis dengan adanya pengertian, pemahaman Islam yang benar dan diaplikasikan. Ketika diskusi pro-kontra tentang bukunya Pak Cah berlangsung tiba-tiba ada seorang teman yang bertanya, "Kalau Asri mau nggak kalau dipoligami?"

Setiap perempuan, saya kira mereka tidak mau dipoligami. Akan tetapi memang hanya pada istri-istri tertentu dan suami pilihan yang kemudian bisa melaksanakan poligaminya benar-benar bisa dilaksanakan dengan "adil". Saya teringat juga dengan teman saya yang di UNS, ketika kita masih SMA dulu. Sang akhwat ini bercita-cita menjadi istri kedua alias ingin dipoligami. Subhanallah, ya... karena dia lebih melihat sisi pahalanya.Ketika saya kembali flash back pada bukunya Asma Nadia pada pertengahan awal pertama, saya benar-benar

"ugghhh... gitu ya ikhwan itu?"
Rasa emosi dan geram rasa-rasanya ingin menonjok saja! Tapi untungnya tidak sampai menonjok beneran, karena sudah diredamkan dengan kisah separo kedua buku itu.

Memang cinta tak selamanya abadi, jikalau kita hanya memandang sebelah mata dan menurutkan hawa nafsu kita pada manusia. Cinta abadi dan paling nyata adalah cintanya Allah kepada ciptaan-Nya. Ketika semua didasarkan benar-benar karena Allah dan bukan semata-mata karena nafsu belaka, tentu akan menjadikan kita justru kuat dalam menghadapi segalanya dan juga mudah/ringan.

Persoalan poligami, memang sangat marak pembahasaanya di Indonesia. Apalagi Aa Gym yang berpoligami juga, semakin menambah maraknya Indonesia di tengah-tengah isu akan dilegalkannya aksi-aksi prostitusi.
16.10 | 0 komentar | Read More

Kekuatan Doa Sang Ibu

"Nduk, masmu pergi dari rumah. Ibu ndak ngerti kemana perginya." Sang Ibu dengan nada menangis menelpon sang anak yang berada di luar kota.

"Ada apa Bu? Kemana mas?" tanya sang anak

"Masmu pergi, ndak tahu kemana perginya. Wong kemaren ya ndak ada apa-apa kok. Pergi juga ndak ijin. Ibu pikir, ya dia pergi dolan seperti biasanya. Lha kok bapak sama ibu nunggu sampai malem, ndak pulang-pulang. HP-nya ditelpon juga ndak nyambung nduk." sang ibu menceritakan kepada sang anak dengan nada menahan tangisnya.

"Nggih, ya sudah Bu, nanti saya coba telponkan dia."

Dengan rasa yang penasaran, hati yang sudah tidak karuan memikirkan sang kakak kemana perginya. Sang adik pun segera mencari daftar nama kakaknya di HP Nokia milik kakaknya yang ia tukar dengan HP-nya. Segera ia memncet daftar nama itu dan terdengar suara, "Number you are calling...." Klik. HP langsung dimatikan. Berulang kali sang adik memencet nomor itu, nada HP kembali tidak bisa dihubungi.

"Ada apa dan kemana kakakku Ya Allah... Ada apa lagi dengan dia Ya Allah..." sang adik dengan suara lirih. Tak terasa air mata tiba-tiba mengalir dari kedua matanya tanpa ia sadari.

Tiba-tiba ia pun teringat akan kakaknya, terakhir kali ia bertemu dengannya. Sewaktu sang kakak menjemputnya pulang dari luar kota. Dengan menggunakan sepeda motor mio milik saudaraku, ia memboncengkan sang adik. Diajaknya mampir ke sebuah warung sate. Tidak banyak pembicaraan memang di situ. Tapi paling tidak pertemuan waktu itu cukup teringat di memori sang adik tentang terakhir kali ketemu sang kakak. Air mata rupa-rupa tak mau dicegah. Seolah dia tsiqoh dan berinisiatif untuk keluar dari kedua matanya, ketika jiwa dan hatinya bersedih. Air mata tidak mau ia tertahan di tubuh saja dan tidak keluar ketika sang hati merasa sedih.

Sang adik terus saja mencoba untuk berulang kali memencet nama kakaknya untuk kembali menelponnya. Kebetulan pulsanya cukup untuk menelpon ke GSM kakaknya yang bernomor mentari itu. Berulang kali, ia tetap tidak bisa menghubungi. Akhirnya, ketika sang adik mendengar suara adanya layanan voice mail, sang adik langsung saja mengikuti petunjuk untuk meninggalkan pesan.

Terdengar suara lirih dari sang adik melalui HP-nya. Dengan nada yang tidak bisa menahan tangisnya, sang adik berkata, "Mas, sampeyan nangendi?Aku adikmu. Nggak kelingan ta karo adikmu? Ndang cepet mulih. Sampeyan nagenda?Bapak Ibu nggoleki."

Setelah, selesai mengakhiri pesannya, HP langsung di klik tanda dimatikan. Di kamar yang luasnya 4x5 meter itu, sang adik lagi-lagi tidak kuat menahan air matanya yang mengalir. Berulang kali ia mengusap pipinya yang basah karena sang air mata tidak mau dibendung dan ditahan untuk tetap berada ditempatnya.

"Ya Allah... ada apa dengan kakakku? Ya Allah kemana dia Ya Allah?" air mata pun bertambah deras mengalir. Ia mencoba untuk tetap bersabar dan menahan air matanya yang mengalir. Sesekali hati dan bibirnya berdzikir pada Sang Pencipta. Sesekali sang adik berdoa dan memohon, semoga orang tuanya diberikan kekuatan dan kesabaran.

Sudah banyak ujian yang Engkau berikan pada keluarga ini Ya Allah.... Mungkin, Engkau memberikan ujian ini, karena kamu lalai kepada-Mu, sehingga Engkau memberikan ujian kembali melalui kakakku kepada keluarga ini. hati sang adik.

******

Hari-hari pun dilewati hanya dengan berdoa dan berdoa. Sholat lail tak pernah dilewatkan, doa-doa robithoh pun tidak dilupakan sang adik. Berharap semoga dia bisa memanggil hati sang kakak melalui doa-doanya kepada Allah. Berulang kali sang adik memohon kepada Rabb-Nya, semoga sang kakak bisa diberikan petunjuk jalan dan hidayah. Meskipun, sang adik tahu betul bahwa hidayah adalah hak Allah. Dan Allah sendiri Yang Maha Tahu siapa yang berhak untuk diberikan-Nya petunjuk dan hidayah. Tapi sang adik tetap mencoba untuk berdoa-berdoa memohon kepada Rabbnya.

"Ya Allah, semoga Engkau memberikan petunjuk dan hidayah kepada kakakku Ya Allah. Semoga Engkau menguatkan keluarga dan orang tua kami dalam menghadapi segala ujian yang ada. Aku yakin, bahwa Engkau tidak akan mungkin memberikan ujian dan beban kepada setiap hamba yang melebihi batas kemampuannya. Semua sudah Engkau ukur. Kepada-Mu kamu semua akan kembali..."

Hari-hari berikutnya pun sang adik lalui dengan penuh ketawadhuan karena dengan adanya ujian pada keluarganya, membuat sang adik semakin merasa bahwa dia di dunia ini tidak memiliki apa-apa. Harta, kedudukan, jabatan, keluarga dan orang yang dicintainya adalah semua akan kembali kepada Yang Maha Memiliki yaitu Allah. Setiap saat, setiap waktu kita harus rela, kuat, sabar, dan menyerahkan semua pada Allah, jikalau ternyata Allah memberikan kita ujian melalui itu semua.

Sang adik sesekali bergeming. "Apakah aku harus malu, ketika aku memiliki kakak yang masih harus diperbaiki seperti itu? Aku adalah seorang aktivis? Tapi itu semua adalah ujian-Nya. Untuk apa aku malu. Itu adalah ladangku juga di keluarga. Dia adalah kakakku. Dan aku adalah adiknya. Untuk apa aku merasa malu? Itu adalah ujian dari Allah untukku?" Berulang kali sang adik bergeming dan membatin.

Sekitar 10 hari sudah, sang ibu telpon. Ternyata belum ada kabar baik dari keluarga, bahwa sang kakak memang belum kembali ke rumah. Hati semakin remuk redam. Sang adik merasa takut, "Ada apa dengan kakakku Ya Allah?"

"Ya sudah Bu, Insya Allah akhir pekan ini tak pulang." kata sang adik.

Akhirnya waktu yang ditentukan pun tiba, sang adik pulang. Di rumah, mulanya sang ibu yang bercerita di dapur sambil membantunya memasak. Dari cerita yang mengalir, rasa-rasanya sang adik semakin tidak kuat untuk menahan air matanya. Namun, ia tahu klo ia tidak mampu membendung air mata, ia takut kalau orang tuanya apalagi ibunya bertambah sedih. Akhirnya sanga dik memilih diam dan hanya berulang kali menggangguk-anggukkan kepala tanda mengerti ketika sang ibu menceritakan kisah sang kakak. Beberpa problem yang ternyata sang adik tidak menyangka jikalau sang kakak sebelum pergi meninggalkan rumah ada sebuah persoalan yang cukup membuat kami semua shock dan benar-benar harus bersabar.

"Innalillaahi wa innaa ilaihi rooji'uuna... Semua berasal dari-Nya dan semua akan kembali kepada-Nya pula." Kalimat ini yang berulang kali diucapkan di bibir dan hati sang adik untuk menguatkan hatinya. Beberapa saat kemudian, sang ayah menyusul dan mendekati kami berdua untuk turut bergabung.

"Yo, kowe nduk, nggak usah terlalu berat-berat mikir soal masmu. Ben bapak karo Ibu sing mikir. Kowe dipikir kuliahmu ae. Nggak usah mikir terlalu berat-berat." Kata sang bapak sambil menguatkan hatinya juga untuk menahan kesedihannya. Sang adik tahu betul bagaimana sang bapak. Meski awalnya Ibu tidak boleh memberitahu sag adik soal ini semua. Karena sang ayah takut jika kuliahnya terganggu karena turut memikirkan hal ini. Terlihat mata sang ayah merah dan terpancar wajah sayu di mukanya. Pertanda betapa dalamnya sang ayah memikirkan sang kakak. Sang adik terus mencoba untuk menahan dan menguatkan hatinya agar bisa tetap berbicara, berkomentar tanpa air mata harus keluar.

*****

Waktu pulang tiba. Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya, sang adik harus kembali lagi ke kota tempat ia kuliah.Hari-hari terus berlalu, doa-doa terus dipanjatkan. Telpon miliknya akhirnya berdering dan dilihatnya terlihat tulisan "My Sweet Home". Sang adik mengangkatnya. Salam terucap dan ternyata Ibunya yang menelponnya.

"Nduk, alhamdulillah, masmu wis mantuk." Kata sang Ibu dengan nada lirih.

"Alhamdulillah..." Jawab sang adik dengan menahan air matanya dari menerima telpon.

"Ibu, setiap malem trus do'a nduk, mugo-mugo anakku ndang mbalik omah. Sing penting waras nduk... Ibu, doa terus nyuwun Sing Kuwoso. Trus akhire pas mase muleh, Bapak terus nakoni. Wis dijawab kabeh, Bapak karo Ibu ono nangkono sisan. Jarena muleh kuwi, kok masmu ngomonge susah pas lungo kuwi. Pengene mulih ae... kelingan ae karo Ibu. Rasa-rasanya pengen ndang mulieh kelingan Ibu, mbuh nggak ngerti pokoke susah, kelingan ae karo Ibu." Jawab sang Ibu.

Setelah pembicaraan selesai, telpon dimatikan, sang adik meneteskan airmatanya dan langsung ia sujud syukur sebagai tanda rasa syukurnya kepada Allah yang telah memulangkan sang kakak ke rumah melalui doa-doa yang ibu panjatkan.

*****

Subhanallah...
Kekuatan doa memang sangat luar biasa.
"Surga ada di bawha telapak kaki Ibu."
"Rasulullah tiga kali memanggil nama Ibu daripada Ayah/Bapak ketika ada seorang sahabat yang menanyakan siapa yang harus paling ia hormati."
"Rasulullah menyediakan karpet permadani yang bagus ketika menyambut seorang perempuan yang dulu pernah menyusuinya."

Betapa kedudukan seorang perempuan/ibu sungguh luar biasa. Terutama sang ibu yang ikhlas cinta kepada anak-anaknya, meskipun sang anak seringkali melukai dirinya. Kekuatan Doalah yang kemudian mengembalikan sang kakak pulang ke rumah. Kekuatan Doa pulalah, yang menghantarkan kemudahan, kekuatan, dan kesabaran dalam menjalani detik demi detik ujian yang manusia jalani.

Kekuatan doa itu...
16.03 | 0 komentar | Read More

Make Life Is Good

Seperti warna pelangi, ada merah, kuning, hijau, biru, dan sebagainya. Kalau saya ingat di waktu SMP dulu, warna dasar itu hanya ada tiga. Merah, Kuning, dan Biru saja. Jika kita melihat gambar di samping, gambar pelangi juga terdiri dari tiga warna dasar itu. Namun, setelah diramu dan warna-warna tersebut dicampur, akan menghasilkan warna-warna yang cantik. Berkali-kali kita akan mengucapkan kalimat tasbih kepada Allah, sebagai tanda syukur dan takjubnya kita pada satu kata "pelangi".

Begitu juga dengan warna-warni yang menghampiri manusia. Setiap manusi, tidak akan pernah terlepas dari yang namanya warna-warna kehidupan. Entah warna itu konflik, masalah, ujian jabatan, keluarga, musibah, kekayaan, keluarga, dan sebagainya. Semua pasti ada warnanya. Dan warna itu tidaklan hanya satu. Seperti pelangi pula, ketika satu warna itu dipadukan dengan warna lain, maka akan menghasilkan warna yang indah. Warna indah yang muncul tergantung si penikmat. Apakah warna-warna baru itu dinikmati dengan tersenyum dan indah ataukah sebaliknya. Semua mengarah kepada persepsi seseorang dalam memandang dan melihatnya.
Setiap persoalan hidup yang kita hadapi tentu dapat kita rasakan sebagai sebagai sebuah kenikmatan tersendiri, jika kita menikmati dan merasakannya sebagai ujian dari Allah dan bentuk kasih sayang-Nya kepada hamba-hambaNya. Sebaliknya, jikalau kita memaknai berbagai persoalan yang kita hadapai adalah karena kita menikmatinya sebagai sebuah bentuk "kekejaman dan ketidakcintaan" Allah kepada hamba, maka itu pulalah yang kita rasakan.
"Allah adalah apa yang hamba persangkakan". Seperti apa Allah itu, kita sendirilah yang mempersepsikan dan menyakininya. Tentu yang dimaksud di sini bukan wujudnya. Akan tetapi bentuk nyata kasih sayang, rahmadnya dan dari ciptaan-Nya. Karena kita tidak bisa dan tidak boleh membayangkan atau mempersikan wujudnya Allah.

Berbagai tekanan hidup, persoalan rumah tangga, permasalahan umat, konflik interpersonal, konflik intrapersonal, dan sebagainya cukup akan membuat kita menghabiskan energi untuk memikirkannya jikalau kita tidak memiliki coping stress yang cukup bagus. Persoalan kecil akan menjadi besar dan menghabiskan energi kita, lalu bisa menghambat kinerja kita akan terjadi ketika kita tidak mampu memiliki kemampuan pertahanan diri untuk menghadapi setiap persoalan yang terjadi. Kepala tiba-tiba pusing, otak sulit konsentrasi dan blank, ditanya tidak nyambung, ditanya ini dijawab itu, merupakan tanda-tanda orang yang stress dalam menghadapi sebuah persoalan.

*****

Let's Make Life is Good.

Kalimat itulah yang cukup membuatku terbuka dan akhirnya bisa senantiasa tersenyum ketika menghadapi setiap persoalan yang ada. Ketika harus diamanahi menjadi seorang Pjs Ketua Umum SKI. Yang cukup membuatku tidak bisa tidur dan terasa berat waktu itu. Ketika kondisi para pasukannya mulai bertebaran dan berlarian ke sana ke mari, di saat konflik muncul. Rasa-rasanya tidak kuat kepala menahan itu semua. Di saat harus mengumpulkan sekian orang untuk diadakan gathering dan ternyata kader yang sudah "bagus" menurut persepsiku tidak cepat merespon, cukup membuatku jengkel dan sebel. Tapi subhanallah, tidak ada jalan yang tertutup bagi setiap hamba yang memohon petunjuk-Nya. Di tengah-tengah kesetressan dalam amanah-amanah dakwah, aku pun termenung, perbanyak istighfar dan senantiasa munajat kepada-Nya untuk diberikan kekuatan.

Karena terus teringat akan kisah sahabat Rasul, Umar bin Khottob ketika beliau wafat ketika terbunuh dalam sebuah peperangan oleh seorang Quraisy. Sebelum beliau wafat, kalimat yang ia tanyakan adalah "Apakah rakyatku ada yang menderita karena aku pimpin?" dan salah seorang sahabat menjawab, "Tidak ada.". Da akhirnya beliaupun wafat dengan tersenyum. Karena pasalnya ia tidak meninggal sebagai pemimpin yang "mendzolimi" rakyatnya, akan tetapi ia wafat karena terbunuh oleh seorang musyrik Quraisy. "Ya Allah, aku takut aku sebagai Pjs, nantinya akan mendzolimi mereka. Karena sekarang saja kondisinya begitu tidak menentu."
Belum lagi, berbagai persoalan di amanah lain muncul. Keluarga, curhat-curhatan dari saudara yang megalami kekecewaan, dan sebagainya, semuanya menumpuk di memori dan di otak. Karena Allah pulalah akhirnya otak diberikan insight . Let's Make Life is Goooog! Kalimat itulah yang kemudian membuatku tersenyum kembali dan senantiasa untuk bisa selalu tersenyum dalam keadaan bagaimanapun. Terutama sedih sekalipun. Rasa-rasanya dengan kalimat itu, aku pun menjadi mudah untuk mengangkat kepalaku dan memandang sebuah keoptimisan ke depan.

Setiap manusia tidak akan pernah terlepas dari konflik. Karena konflik adalah sebuah keniscayaan/sunnatullah datang menghampiri setiap manusia yang terlahir di dunia ini. Manusi yang berani, dia akan menjadikan konflik sebagai teman kesehariannya. Terbiasa untuk menghadapai dan menjalin persahabatan dengan konfli. Dan dia justru akan tersenyum dan tersenyum ketika seorang saudara datang dan menyampaikan ada keluh kesah mengenai persoalan yang dihadapi.

Setiap konflik akan mampu melatih kedewasaan kita dalam berpikir. Karena persoalan atau ujian muncul karena termasuk pendidikan hidup dari Allah dengan kurikulum yang tak terbatas. SKS yang tak terhingga, dan nilainya disimpan dan dicatat oleh malaikat. Hanya bisa kita ketahui dan kita lihat hasilnya di akhirat kelak. Karena inilah yang membuat kita penasaran dan seharusnya menaruh keyakinan kuat pada Allah, bahwa hanya kepada-Nya kita semua akan kembali.

Let's Make Life is Good... ^_^
15.56 | 0 komentar | Read More

Jadikan Setiap Diri Lilin Harapan

Perhatikan lilin itu...
Setiap diri lilin akan senantiasa mati untuk menerangi sekelilingnyaA
kan tetapi...
LILIN HARAPAN tak akan pernah seperti itu
Bah kaderisasiIa mampu menerangi dan memberikan harapan-harapan ke sekelilingnya
Seketika itu pula sekelilingnya menjadi terang benderang
Satu persatu lilin akan habis dan mati

Tapi...
Satu persatu pula lilin yang lain akan menyambut estafetnya
Untuk turut menyalakan dirinya dan sekelilingnya...

Ukhti...
Setiap apa yang kita hadapi ana, anti pasti sudah tahu PASTI ADA HIKMAHNYA
Tiada amal yang sia-sia dari setiap apa yang kita lakukan ilallah

Tenang dan tetaplah tersenyumlah manakala kita menapaki bukit-bukit yang terjal
Menapaki hal-hal kecil yang melintas dalam pikiran kita
Melihat saudara-saudara kita satu per satu....
Uhhh... tidak usah diteruskan...

Kala kumerenung...
Jikalau kita hanya berpusat pada keburukan, kelemahan, dan kekurangan
Seolah-olah kita tiada daya dan terpuruk, terpuruk, dan terpuruk saja
Sepertinya kita tidak mampu untuk melangkah dan tiada semangat lagi

Ya seolah-olah seperti itu...
Lupakah kita pada JANJI ALLAH
Bahwa apa yang menimpa kita semuanya sudah diukur
Semuanya sudah disesuakan dengan kemampuan kita
Lupakah kita bahwa ALLAH menciptakan manusia tiada yang sia-sia?
Setiap diri kita punya potensiRenungan di suatu hari

(dari jiwa yang merenung)
15.47 | 0 komentar | Read More

Hikmah dan Psikologi

Written By Informasi singkat tentang saya on Rabu, 19 Desember 2007 | 21.12

Subhanallah...Seharusnya berkali-kali bahkan beribu-ribu seharusnya kita mengucapkan kalimat tasbih ini. Betapa tidak, ketika apa-apa yang menimpa kita semuanya tidaklain dan tidak bukan adalah karena Allah menginginkan kita menjadi baik. Ketika Allah memberikan kita ujian berupa didatangkan sebuah masalah, ternyata di balik itu semua ada sebuah intan permata yang sangat berharga, yang bernama HIKMAH.

Tidak setiap orang bisa mengambil hikmah memang, akan tetapi sebagai manusia yang sadar dan beriman akan yang ghoib, hikmah adalah suatu hal yang bisa mnejadikan diri kita cerdas. Betapa tidak, ketika kita mendapati satu masalah/ujian dan kita bisa mengambil hikmah dibalik itu semua, suatu hari suatu saat ketika kita mendapatkan persoalan yang serupa, maka kita dapat mengantisipasinya lebih dini. Tapi sayang, seringkali kita sebagai manusia terjerumus ke dalam lubang yang sama.Menurut Teori Behavioristik Pavlov, yang menganalogkan perilaku anjing seperti manusia, mengatakan bahwa ketika individu diberikan stimulus maka dia akan langsung memberikan repon.

Hal ini ditentang oleh para tokoh penganut humanistik. Karena hal ini tidak memanusiakan manusia. Begitulah kira-kira bahasanya. Dalam artian, apa, di dalam proses merespon, ternyata manusia tidak selalu langsung. Manusia dianugerahi otak yang kemudian digunakan untuk berpikir. Di dalam otak inilah terjadi proses decoding atau penerjemahan kembali atas stimulus-stimulus yang ada di lingkungan. Stimulus dari lingkungan, diterima panca indera dan kemudian di terima dan diolah di otak. Dari otak inilah kemudian informasi itu di-decoding.sebagai manusia yang berpikir dan dengan begitu banyaknya ramhad yang diberikan Allah kepada manusia, hendaknya kita bersikap seperti dan seharusnya manusia. Dalam artian, secara tidak langsung, bahwa seperti Teori Behavioristik di atas, jikalau kita merespon setiap stimulus yang ada tanpa ada sebuah proses pengolahan dan penyaringan di dalam otak kita maka bisa jadi kita seperti subyeknya Pavlov.

Berbicara hikmah, hikmah adalah salah satu hasil dari pemrosesan informasi di otak kita. Pengambilan hikmah dari lingkungan merupakan upaya manusia untuk melakukan penyaringan informasi berdasarkan experience atau pengalaman yang pernah dialami individu. Berdasarkan pengalaman dan juga bekal pengetahuan manusia akan dunia serta value (aspek aksiologi), maka terjadilah hasil pelajaran yang sangat berharga yang namany HIKMAH.Sekali lagi, kita adalah manusia ciptaan Allah dengan berbagai kelebihan. Allah ciptakan manusia secara sempurna. Mari kita syukuri ciptaan Allah pada diri kita. Barang siapa yang ingin mengenal Allah, maka kenalilah dirinya sendiri.Allahua'lam bishowab.
21.12 | 0 komentar | Read More

Lupakah Bahwa Saya Akhwat dan Antum Ikhwan?

First story

Terdengar suara tertawa terbahak-bahak dari sebelah utara ruang kerjaku. Dan kutengok ternyata, “oh… orang itu”. Tempat dudukku yang lurus dengan pintunya itu tak sulit jikalau melihat teman-teman sekantorku yang mayoritas adalah ikhwah itu kulihat. Kulihat di situ ternyata ada salah seorang ikhwan yang memang belum menikah terlihat sedang bercanda dan tertawa dengan beberapa akhwat yang notebennya juga belum menikah.

Second

Di sebuah acara yang penyelenggaranya ikhwah juga, ternyata tak jauh beda. Suara gelak tawa dan candaan yang menurut saya sudah “terlalu” pun terdengar. Beberapa peserta sempat mengeluh dan bercerita, “kok kayak gitu ya interaksinya?” ada juga yang bilang, “mbak, coba liaten interaksi mereka. Ada yang nggak ghadhul bashar kan?” bilangnya.Makna tundukkan pandangan dalam QS. An-Nisa memang tidak ditafsirkan sekedar menundukkan pandangan dan tidak melihat sama sekali antar lawan jenis. Fenomena di atas hanyalah sepenggal cerita yang pernah saya alami dan lihat. Judul dari tulisan ini pun, saya dapatkan ketika saya termasuk dalam hawa-hawa canda/interaksi yang saya anggap sendiri berlebihan. Alhamdulillah, sang buah hati yang dianugerahkan Allah kepadaku berupa “hati” senantiasa mengingatkan dan memberikan rasa sebagai signal bahwa ini pertanda harus dikurangi intensitasnya atau dihindari sama sekali.

Tak ingin diri menjadi orang munafik dengan mengakui dan menjudgement bahwa mereka kok begitu dan saya nggak pernah melakukan itu. Sebagai manusia biasa dan banyak dosa, saya sendiri juga tak bisa menghindari candaan dan perbincangan yang sifatnya harus tunduk dalam artian secara letter leg. Tidak bisa. Cuman seperti apa yang diajarkan Rasulullah bahwa kita diharuskan bersikap wajar dan jangan berlebihan. Serta apa-apa yang menjadikan hati kita tentram itu adalah hal yang baik. Begitu sebaliknya.

Citra interaksi ikhwan-akhwat yang senantiasa terlihat bahwa hijabnya kuat. Kalau berbicara suka menundukkan pandangan, merupakan citra tersendiri buat kita sebagai para aktivis jamaah ini. Sehingga ketika sebuah citra sudah tersosialisasikan dan terinternalisasi, akan sulit kemudian merubah atribut yang telah melekat. Tentu tidak mudah untuk merubahnya. Baik masyarakat yang berperan sebagai pemerhati maupun bagi kader sendiri. Akan sulit ketika, di organisasi mereka harus menundukkan pandangan (tanpa melihat), hijab kuat, dan sebagainya tiba-tiba mereka dihadapkan pada kondisi yang sebaliknya. Rapat tanpa hijab, berbicara saling berpandangan, dan sebagainya. Akan menjadi shock therapy tersendiri bagi yang mengalaminya. Tapi itulah kondisi yang hadapi. Ketika terjuan di masyarakat, kita tidak bisa menundukkan secara penuh seperti apa yang telah kita lakukan ketika di organisasi.

Sebagai orang yang sudah bekerja, saya kini mencoba untuk menyelami dan memahami. Kenapa mereka seperti itu. Yah, mungkin karena mereka sudah bekerja. Rata-rata, menurut pengamatan saya, orang yang seringkali berinteraksi dengan masyarakat, mereka justru akan terkesan lebih loggar memang. Baik pandangan maupun interaksi. So, bisa jadi kebiasaan itu terbawa ketika di organisasi. Sama-sama sudah bekerja, sudah banyak yang memiliki (baca: menikah), sehingga interaksi mereka terkesan longgar atau cair.

Akan tetapi...Semua harus dilakukan dalam porsi yang wajar. Tidak berlebihan dan terlalu. Karena sesuatu hal yang sifatnya terlalu, tentu akan menjadi tidak baik. Ibadah sekalipun. Begitu juga, ketika kita bercanda dengan lawan jenis. Perlu kita sadari bahwa, memang kita manusia biasa. Tapi kita juga perlu sadari bahwa, kita berbeda. Saya akhwat dan antum adalah ikhwan.
20.30 | 0 komentar | Read More